Kemenag RI 2019:Allah tidak menjadikannya (pertolongan itu) kecuali hanya sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu dan agar hatimu tenang karenanya. Tidak ada kemenangan selain dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Prof. Quraish Shihab:
Allah ridak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi kamu, dan supaya tenteram hati kamu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah Yang Maha Perkasa, lagi Malta Bijaksana.
Prof. HAMKA:
Tidaklah Allah menjadikan yang demikian itu, melainkan sebagai berita gembira bagi kamu supaya tenteramlah hati kamu karenanya. Dan tidaklah ada kemenangan, melainkan dari sisi Allah, Yang Mahagagah, lagi Bijaksana.
Setelah menjanjikan turunnya malaikat dalam peperangan, ayat ini mengingatkan kaum muslimin agar tidak menduga kehadiran malaikat yang membantu merupakan sebab kemenangan, melainkan sebagai berita gembira bagi kaum muslimin dan juga agar hati kaum muslimin merasa tenteram.
Adapun kemenangan itu sendiri sumbernya dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ
Lafazh wa-ma-ja’ala-hu (وَمَا جَعَلَهُ) terdiri dari empat unsur yang berbeda, namun seolah menjadi satu kesatuan.
§ Pertama, huruf waw (وَ) huruf ‘athaf yang merupakan penyambung antara ayat ini dan ayat sebelumnya, sehingga menegaskan bahwa antara keduanya merupakan urutan dan bagiannya.
§ Kedua, huruf ma (ما) disebut dengan istilah maa nafiyah, artinya tidak, berfungsi sebagai nafyi alias yang menolak atau menafikan sesuatu.
§ Ketiga, kata kerja berupa fi’il madhi : ja’ala (جَعَلَ) yang maknanya : menjadikan.
§ Keempat, objeknya atau maf’ul bihi berupa kata ganti orang ketiga alias dhamirhu (ـه). Dalam hal ini maksudnya adalah pemberian bala bantuan berupa turunnya para malaikat yang sudah diceritakan pada ayat sebelumnya.
Sedangkan lafaz Allah (الله) atau disebut juga dengan lafzhul-jalalah berkedudukan sebagai pelaku alias fa’ilnya. Sehingga kalau diterjemahkan secara utuh menjadi : “Dan tidaklah Allah menjadikannya (pertolongan itu)”.
Kata illa (إلاَ) menjadi pengecualian atau disebut juga adatul-hashr, diterjemahkan menjadi : kecuali. Sedangkan kata busyra (بُشْرَىٰ) menjadi objek kedua atau maf’ul tsani. Maknanya kabar gembira, sebagaimana ucapan para pelintas gurun pasir ketika menemukan Nabi Yusuf alaihissalam di dasar sumur.
يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ
"Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" (QS. Yusuf : 19)
Kabar gembira itu membahagiakan bahkan bisa juga menjadi sebab kebaikan. Memang belum terjadi karena baru merupakan spoiler atau bocoran saj, namun menggembirakan bahkan bisa menjadi sebab kebaikan. Salah satu bukti bahwa memberi kabar gembira itu menjadi sebab kebaikan adalah ketika Tsuwaibah Al-Aslamiyah dibebaskan dari perbudakan oleh tuannya Abu Lahab, hanya gara-gara dia mengabarkan berita gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bahkan Abu Lahab sendiri pun akhirnya diringankan siksanya di hari Senin.
Sedangkan kata lakum (َكُمْ) artinya bagi kamu, maksudnya kabar gembira bagi kemenangan kaum muslimin.
وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ
Lafazh wa-li tathmainna (وَلِتَطْمَئِنَّ) maknanya : dan agar tenang, lafazh qulubukum (قُلُوبُكُمْ) artinya : hati-hati kamu. Lafazh bihi(بِهِ) artinya: karenanya.
Salah satu kunci sukses dalam berperang menghadapi musuh adalah ketenangan hati dan kemantaban mental, serta kekokohan jiwa. Itu merupakan kunci utama kememangan, walaupun secara di atas kertas, jumlah pasukan terbatas, begitu juga persenjataan dan perbekalan. Tapi ketika jiwa-jiwa pasukan muslimin itu tenang, maka kemenangan sudah di depan mata, hanya tinggal meraihnya saja.
Sebaliknya, bila mental sudah ciut, rasa takut sudah melanda seluruh jiwa, mental tidak siap, muncul horor dimana-mana, Takut mati, takut tertangkap, takut disiksa, takun nanti anak dan istri jadi tawanan, secara sederet rasa takut yang melanda, maka semua itu dipastikan akan jadi faktor kekalahan pasukan lawan.
Bahkan meskipun secara jumlah personal lebih besar, secara persenjataan jauh lebih modern dan lebih banyak, secara dan dan keuangan lebih besar anggarannya, namun semua itu tidak ada gunanya bila mentalnya hancur.
Dan salah satu rahasia kemenagan perang-perang yang Nabi SAW jalankan memang berada pada titik mental ini.
وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
Lafazh wa ma (وَمَا) artinya : dan tidaklah. Lafazh an-nashru (النَّصْرُ) artinya : kemenangan. Lafazh illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Dan lafazh min indillah (مِنْ عِنْدِ اللَّهِ) artinya : dari Allah.
Kemenangan itu datangnya bukan semata dari faktor kekuatan pasukan, melainkan pada akhirnya merupakan hadiah, anugerah dan hibah dari Allah SWT.
Kalau dibuatkan grafik jumlah peserta perang yang pernah diikuti oleh Nabi SAW, hampir semuanya tidak ada yang seimbang. Jumlah pasukan muslimin selalu lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah personil musuh-musuhnya yang kafir.
Namun demikian, kegagalan demi kegagalan selalu menjadi langganan pasukan kafir. Sementara di sisi kaum muslimin, sukse demi sukses terus menerus didapat di hampir semua peperangan. Sukses di dunia karena mendapatkan harta rampasan perang. Lalu sukses di akhirat karean dijamin masuk surga.
الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Lafazh al-aziz (الْعَزِيزِ) artinya : Yang Maha Perkasa. Lafazh al-hakim (الْحَكِيمِ) artinya : Maha Bijaksana.
Dengan sifat Allah SWT yang Maha Perkasa, maka perang-perang Nabi SAW itu umumnya sukses dan Nabi menjadi pemenangnya. Meski secara penampakannya, pasukan muslimin itu sedikit, sederhana, miskin, banyak kekuarangan disana-sini, namun di sisi Allah SWT, justru pasukan muslimin itu sangat kuat.
Sebab Allah SWT selalu memerintahkan para malaikat-Nya untuk ikut serta dalam banyak peperangan yang Nabi SAW jalankan. Kalau diperlukan, pasukan cadangan dari langit bisa diturunkan. Dan disitu kita jadi tahu, betapa Maha Gagah Perksanya Allah SWT dalam urusan perang. Pasukannya bukan hanya manusia, tetapi juga para malaikat yang merupakan makhluk unik.
Yang menarik dalam penggalan penutup ini, disebutkan dua sifat Allah SWT yang secara teknis saling bertentangan, yaitu setelah menyebut bahwa Allah SWT Maha Gagah Perkasa, ternyata dipadukan dengan sifat Allah SWT yang lain, yaitu Allah SWT Maha Bijaksana.
Biasanya gagah perkasa itu tidak bijaksana. Begitu juga bijaksana itu umumnya menrontokkan sikap gagah perkasa. Namun kedua hal yang berseberangan kutub itu justru berpadu. Bahwa di balik Allah SWT yang Maha Gagah Perkasa, ada sifat Allah SWT yang Maha Bijaksana.
Bukan perkara yang mudah untuk memadukan kedua sifat yang saling berlawanan, namun bagi Allah SWT hal itu mudah sekali. Makanya kita temukan penggalan ayat yang unik sekali, yaitu Allah SWT Yang Maha Gagah Perksana namun sekaligus juga Maha Bijaksana.