Kata hum (هُمْ) sebenarnya adalah kata ganti atau disebut juga dhamir yang artinya : mereka. Dalam struktur kalimat, kedudukannya menjadi mubtada’. Sedangkan yang menjadi khabarnya adalah kata darajatun (دَرَجَاتٌ) yang artinya : beberapa derajat. Lafazh ‘indallah (عِنْدَ اللَّهِ) artinya : di sisi Allah.
Namun siapakah yang dimaksud dengan mereka di ayat ini?
Kalau kita kaitkan dengan ayat sebelumnya, memang ada dua kemungkinan, karena memang di ayat itu Allah SWT membicarakan dua kelompok manusia. Pertama, mereka yang mencari keridhaan Allah. Kedua, mereka yang kembali dengan membawa murka dari Allah dan ditempatkan di dalam jahannam.
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah para penghuni neraka jahannam, karena itulah yang terakhir disebutkan. Dan memang para penghuni neraka jahannam itu ternyata tidak berada dalam satu level derajat.
Namun sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa mereka justru adalah orang-orang yang di surga. Sebab di ayat disebutkan bahwa mereka di sisi Allah. Pesan yang terbetik di benak kita kalau ada orang berada di sisi Allah, berarti dia berada dalam kebaikan dan surga.
Namun sebenarnya baik neraka atau pun surga memang terdiri dari banyak derajat dan bukan hanya satu derajat. Orang yang beriman itu masuk surga, namun kalau dilihat dari amalnya, boleh jadi ada yang punya amal begitu banyak, sebaliknya mungkin juga ada yang amalnya terbatas. Tentu menjadi tidak adil apabila mereka ditempatkan pada derajat yang sama, tentu harus dibedakan tempatnya.
Ini berarti kita sepakat bahwa bahkan di surga sekalipun memang ada kelas-kelasnya. Hanya saja berbeda dengan kelas-kelas di dunia yang ditetapkan berdasarkan keturunan atau harta kekayaan, di surga kelas-kelasnya disesuaikan dengan amal pahala yang mereka miliki.
Begitu juga dengan neraka, jangan dikira neraka itu satu level. Neraka pun juga ada kelas-kelasnya, mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Sebab kekafiran itu sendiri pun punya tingkatan yang berbeda-beda. Betapa banyak orang kafir yang baik akhlaqnya di dunia ini, dan betapa banyak orang kafir yang dosanya segudang. Tentu sangat tidak adil bila dua jenis orang kafir ini disamakan levelnya di dalam neraka. Mereka harus dipisahkan jenis siksaan nerakanya.
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) artinya : dan Allah. Sedangkan lafazh bashir (بَصِيرٌ) maknanya : Maha melihat, namun para ulama di antaranya Al-Khattabi mengatakan yang dimaksud dengan melihat bukan sekedar melihat tetapi bermakna al-‘alim (العَالِم) yaitu melihat dalam arti mengetahui. Selain itu Al-Khatabi juga memaknai bashir dengan mubshir (مُبْصِر), yaitu Allah juga menciptakan makhluk-makhluk yang dapat melihat.
Sebagian ulama lain mengatakan bahwa kata bashir itu bermakna khabir (خَبِيْر) yang berarti pakar atau sangat ahli di suatu bidang. Misalnya kita menyebut fulan itu pakar di bidang kedokteran, maka sebutannya khabirun bith-thibb (خبير بالطب) maksudnya sangat mengerti dan paham betul urusan kedokteran.
Orang yang pakar sekali di bidang matematika disebut khabirun fir-riyadhiyyat (خبير في الرياضيات) maksudnya sangat paham seluk-belum matematika.
Orang yang pakar di bidang fiqih disebut dengan khabirun fil fiqhi (خبير في الفقه) maksudnya adalah paham secara mendalam lika-liku di bidang ilmu fiqih, dan begitu seterusnya.
Dengan memaknai khabir sebagai pakar yang sangat mengerti seluk beluk di atas, maka bila dikaitkan dengan lafazh bi-ma ya’malun (بِمَا يَعْمَلُونَ) maknanya jadi tepat yaitu Allah SWT pakar dan sangat paham segala seluk-beluk dan lika-liku dari apa yang mereka kerjakan.
Lafazh bi-ma (بِمَا) bermakna : “atas apa”, sedangkan lafazh ta’maluna (تَعْمَلُونَ) makna lahiriyahnya adalah : “kamu melakukan”. Namun ada makna yang lebih dalam terkandung di dalamnya yaitu bahwa ibadah dan amal yang kamu lakukan betapa pun kecilnya dan meski tidak nampak secara kasat mata namun tetap akan terlihat oleh Allah SWT.
Dan ini sejalan dengan ayat lain dalam surat Az-Zilzal ketika Allah SWT mengumpakan amal yang kecil dengan sebutan dzarrah karena saking kecilnya.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zilzal : 7-8)
Kedua ayat itu sama-sama menegaskan bahwa amal-amal kita seberapa pun kecilnya, pastilah Allah akan tetap melihatnya. Hanya bedanya dalam pilihan diksinya, antara melihat dengan menggunakan kata : bashara (بَصَرَ) dengan melihat dengan kata : yaro (يَرَى).