Sesungguhnya itu (yang menyampaikan berita musuh telah mengumpulkan kekuatan) tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kawan-kawannya (orang-orang munafik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin.
Yang demikian itu tidak lain hanyalah setan yang hendak mempertakut-takuti pengikut pengikutnya. Lantaran itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika memang kamu orang-orang yang beriman.
Lafazh innama (إِنَّمَا) artinya :sesungguhnya hanyalah. Kata dzalikum (ذَٰلِكُمُ) artinya: itu.
Kata asy-syaithanu (الشَّيْطَانُ) artinya adalah setan. akarnya dari kata syatana (شَطَنَ) yang berarti jauh, karena dia jauh dari kebaikan, kebenaran dan perintah Allah. Ada juga yang mengatakan bahwa kata tersebut terambil dari kata terbakar dalam kemarahan, karena memang tercipta dari api.
Kata yukhawwifu (يُخَوِّفُ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yang bermakna : menakut-nakuti. Dalam hal ini yang dimaksud dengan takhwif (تخويف) atau menakut-nakuti tidak ada hubungannya dengan penampakan hantu dalam berbagai versi cerita horor. Sebagai makhluk halus, setan dalam bentuk jin memang punya wujud yang aneh dan menakutkan.
Akan tetapi kalau kita kaitkan ayat ini dengan fakta-fakta pada saat turunnya ayat ini, maka yang dimaksud dengan ‘menakut-nakuti' yang dilakukan oleh setan lebih kepada takut dalam menghadap musuh dalam perang secara fisik.
Kata auliaya’ahu (أَوْلِيَاءَهُ) adalah bentuk jamak dari wali (وَلِيٍّ). Kemenag RI menerjemahkannya menjadi teman-teman setianya. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : kawan-kawannya yaitu maksudnya orang-orang munafik. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : pengikut pengikutnya
Sebenarnya kata wali (وَلِيٍّ) di dalam Al-Quran cukup banyak muncul dan masign-masing punya banyak makna tergantung konteksnya. Lafazh ini tersebar di banyak ayat Al-Quran dengan berbagai macam makna yang boleh jadi masing-masing saling berbeda.
1. Raja Atau Pemimpin
Dalam beberapa ayat bisa bermakna pemimpin dalam arti raja atau pemimpin negara, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini :
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al-Araf : 3)
2. Orang Yang Dekat Hubungan
Kadang ‘wali’ itu bermakna sebagai pihak yang punya kedekatan khusus, seperti sebutan waliyullah atau auliya’ullah pada ayat berikut :
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus : 62)
Sangat tidak mungkin kalau lafazh ‘wali’ di ayat ini kita paksa terjemahkan menjadi : pemimpin Allah. Jelas terlalu kasar dan tidak logis, masak manusia memimpin Allah? Tentu yang dimaksud dengan istilah ‘wali’ disini pastinya bukan pemimpin, tetapi orang-orang yang kedudukannya sangat dekat kepada Allah, yaitu para wali.
3. Bertindak Sebagai Orang Tua
Dan terkadang makna wali dalam Al-Quran juga bisa bermakna sebagai wakil atau yang bertindak sebagai orang tua dari seorang anak kecil yang belum mencapai usia dewasa. Perhatikan ayat berikut ini yang juga merupakan ayat yang paling panjang dalam Al-Quran :
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ
Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (QS. Al-Baqarah : 282)
Wali Bermakna Teman
Namun untuk konteks ayat ini, makna wali yang dimaksud adalah teman-teman dekat atau pengikut. Terjemahan versi Kemenag RI, Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA dengan kompak menyebutkan bahwa ‘auliya’ di ayat ini maknanya bukan pemimpin, tetapi teman-teman. Dalam hal ini yang disebut dengan para wali dari setan tidak lain adalah orang-orang munafikin Madinah, yang sejak beberapa ayat sebelumnya telah menarik perhatian kita dan selalu menjadi objek pembicaraan.
Bagaimana Setan Menakuti Temannya?
Namun apakah anda merasakan ada yang janggal dalam ayat ini? Bagaimana mungkin setan menakuti teman-temannya sendiri? Bukankah yang ditakut-takuti adalah para shahabat nabi yang maju ke medan perang? Lalu kenapa ayat ini malah menyebutkan bahwa setan menakuti-nakuti temannya?
Maksudnya bahwa setan menakuti kamu dengan menggunakan teman-temannya. Sehingga aslinya dalam teks arabnya adalah (ذَلِكُمُ الشَّيْطانُ يُخَوِّفُكم بِأوْلِيائِهِ). Pendapat ini juga sejalan dengan qiraat Ubay bin Ka’ab.
Maka yang melakukan aksi menakut-nakuti pada dasarnya adalah setan. Sedangkan pihak yang coba dibikin takut adalah para shahabat atau kaum muslimin. Hanya saja dalam hal ini, setan meminta bantuan teman-temannya, yaitu orang-orang munafik untuk melancarkan serangan berupa hembusan perasaan takut dan gentar ketika menghadapi orang-orang musyrikin Mekkah.
Lafazh fa-laa takhafu-hum (فَلَا تَخَافُوهُمْ) artinya : maka janganlah kamu takut kepada mereka. Makna wa khafuu-ni (وَخَافُونِ) adalah : takutlah kepada Aku, yaitu takut kepada Allah.
Lafazh in kumtum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya : jika kamu. Kata mukminin (مُؤْمِنِينَ) adalah bentuk jamak dari mukmin, yaitu orang-orang yang beriman.
Maka pesan dari Allah SWT kepada Nabi SAW dan para shahabat jelas dan tegas, yaitu jangan takut kepada mereka. Maksudnya jangan takut kepada lawan dalam Perang Hamraul Asad, walaupun sekilas nampaknya mereka sangat kuat dan besar.
Kalaupun kaum muslimin ingin punya rasa takut, takutnya hanya kepada Allah SWT saja. Jangan takut kepada manusia, apalagi kepada orang-orang kafir yang berposisi sebagai musuh Allah.