Kemenag RI 2019:Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. Prof. Quraish Shihab:
Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala kamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Prof. HAMKA:
Tiap-tiap yang bernyawa merasakan mati; sesungguhnya kelak akan disempurnakan balasan kamu pada hari Kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, telah berjayalah dia. Kehidupan dunia ini tidak lain dari benda tipuan.
Prof. Quraish Shihab menukil tafsir Al-Biqa'i menuliskan bahwa ayat ke-186 ini terkait dengan sikap sebagian orang munafik dalam perang Uhud yang menduga dapat menghindar dari kematian, sebagaimana diuraikan dalam ayat-ayat yang lalu juga pada ayat sebelum ini yang membicarakan pembunuhan nabi-nabi.
Di sisi lain, kita juga dapat mengatakan bahwa ayat ini masih berhubungan erat dengan tujuan utama ayat yang lalu, yakni menghibur Rasul SAW yang mendapat tanggapan negatif dari orang-orang Yahudi itu bahwa setiap yang berjiwa siapapun ia, manusia atau makhluk lain, manusia mulia atau hina, akan merasakan mati, yakni mengalaminya. Kemudian, setelah kematiannya, ia akan mendapat balasan baik atau buruk. Semua orang termasuk yang mendustakanmu, wahai Muhammad, akan mendapat sebagian balasan kami sejak kematiannya.
Namun, ketika itu belum semua balasan dan ganjaran diberikan. Karena baru nanti pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala kamu. Barang siapa dijauhkan dengan cepat walau sedikit dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung dengan keuntungan yang pasti. Karena itu, jangan jadikan seluruh perhatian kamu hanya pada kehidupan kini dan sekarang, lihatlah jauh ke depan, karena kehidupan dunia itu bagi yang tidak beriman tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Adapun yang beriman, ia adalah kesenangan yang sekaligus mengantar mencapai kejayaan duniawi dan ukhrawi.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Lafazh kullu (كُلُّ) artinya : setiap atau semua. Kata nafsin (نَفْسٍ) diterjemahkan oleh tiga sumber terjemahan secara sama yaitu : sesuatu yang bernyawa.
Walaupun demikian, dalam banyak ayat terkadang kata nafs (نَفْسٍ) itu bisa bermacam-macam maknanya. Terkadang maknanya hawa nafsu, namun kadang bisa juga bermakna jiwa atau nyawa, atau juga bisa bermakna : diri.
Kata dzaiqatu (ذَائِقَةُ) artinya merasakan, asalnya dari (ذاَقَ – يَذُوقٌ - ذَوْقا) dan kata dzaiq (ذَائِق) itu merupakan isim fa’il-nya, karena nafs itu muanntas, maka disebut dengan dzaiqah (ذَائِقَة). Dan di dalam Kamus Al-Mu’jam Al-Wasith[1] kata dzauq (ذوق) disebutkan maknanya yaitu :
الحاسة التي تُمَيّز بها خواصّ الأجسام الطعمية بوساطة الجهاز الحسّيّ في الفم
Rasa yang mana indera pengecap bisa membedakan dengan menggunakan organ perasa di dalam mulut.
Sedangkan kata al-maut (الْمَوْتِ) artinya kematian. Padahal rasa kematian itu tentu saja bukan rasa di lidah, namun kata ini dipinjam untuk menggambarkan bahwa kematian itu ada rasanya, sebagaimana makanan yang bisa dirasakan di lidah. Sedangkan rasanya bisa berbeda-beda tergantung siapa yang mati.
Buat orang yang matinya penuh dengan keridhaan Allah dan nantinya akan masuk surga, mereka akan merasakan ketenangan, karena kepadanya turun malaikat yang akan menghibur dan memberikan ketenangan, sebagaimana firman Allah SWT :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat : 30)
Sebaliknya buat para pendosa dan mereka yang ingkar kepada Allah, maka rasa kematian itu akan sebegitu beratnya.
Seandainya engkau melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah-wajah dan punggung-punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa yang membakar”.(QS. Al-Anfal : 50)
Seandainya saja engkau melihat pada waktu orang-orang zalim itu (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sembari berkata), “Keluarkanlah nyawamu!”. (QS. Al-An’am : 93)
Penggalan ayat ini menegaskan bahwa semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan ayat ini sejalan dengan ayat lainnya yaitu :
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman : 26-27)
Menarik untuk kita kutipkan disini apa yang dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab terkait makna semua yang bernyawa akan merasakan kematian. Di dalam tafsir Al-Misbah[2] dituliskan bahwa Allah menggunakan kata dza'iqah untuk kematian yang diterjemahkan dengan merasakan atau mencicipi kematian. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa ia adalah mukadimah dari sesuatu. Bukankah, jika Anda mencicipi sesuatu, Anda mengetahui sekelumit rasanya untuk kemudian setelah dirasakan atau dicicipi ia dimakan dalam kadar yang lebih banyak dari apa yang dicicipi itu?
Sakit yang dirasakan dalam kematian atau kenikmatannya adalah bagian kecil dari kepedihan dan nikmat yang akan dirasakan. Untuk diketahui bahwa bagi orang mukmin mati adalah nikmat karena sesaat sebelum datangnya kematian malaikat datang menunjukkan tempatnya di surga.
Lafazh wa-inna-ma (وَإِنَّمَا) artinya : sesungguhnya hanyalah. Kata tuwaffauna (تُوَفَّوْنَ) artinya : kamu ditunaikan. Kata ujurakum (أُجُورَكُمْ) artinya : pahala-pahala kalian. Kata yaumal-qiyamah (يَوْمَ الْقِيَامَةِ) artinya : pada hari kiamat.
Maksud penggalan ini bahwa pahala-pahala atas semua amal kebaikan kamu wahai Muhammad dan umatnya, baru akan ditunaikan atau dilaksanakan nanti pada hari kiamat.
Namun demikian, bukan berarti orang-orang yang beramal shalih tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia. Sebab yang dimaksud dengan tuwaffauna (تُوَفَّوْنَ) bukan sekedar membalas atau menunaikan, melainkan menyempurnakan pemberian balasan secara sepenuhnya. Berarti kalau untuk balasan yang sifatnya duniawi tetap akan menerima, meski tidak atau belum sepenuhnya.
Ibaratnya untuk di dunia ini memang sudah sebagian balasan pahala kebaikan sudah diberikan, namun baru hanya mendapatkan bonus-bonus kecil saja, belum balasan yang sesungguhnya dalam arti yang sempurna.
Demikian juga setelah kematian di alam barzakh, sebenarnya buat orang-orang yang shalih dan calon-calon penghuni surga pasca kiamat terjadi nanti, merekapun sudah mendapatkan berbagai kenikmatan yang merupakan muqaddimah. Maka sudah benar ketika Nabi SAW bersabda :
Lafazh fa-man (فَمَنْ) artinya : maka orang yang. Kata zuhziha (زُحْزِحَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi majhul, yang bermakna : dijauhkan atau dihindarkan. Kata zuhziha (زُحْزِحَ) ini sebenarnya adalah bentuk pengulangan dari kata zaha (زَحّ) yang berarti menarik dengan cepat. Kata ‘anin-nari (عَنِ النَّارِ) artinya : dari neraka.
Dalam sebuah hadis disebutkan betapa berharganya tempat di surga, meskipun hanya kecil dan sempit. Tempat itu jauh lebih berharga dari pada dunia dan seisinya.
لَمَوْضِعُ سَوْطِ أحَدِكم في الجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيا وما فِيها
Tempat sekecil cambuk seseorang di surga lebih baik dari dunia dan segala isinya.
Kemudian Nabi SAW membaca ayat ini.
Prof Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah[1] menerangkan bahwa apabila sesuatu ditarik dengan cepat, yang ditarik itu tidak dapat terlalu menjauh dari tempatnya sernula. Ini berarti bahwa yang bersangkutan belurn terlalu menjauh dari neraka, kendati dernikian yang bersangkutan telah dinilai beruntung karena kejauhan, walau sedikit dari neraka, telah rnengantarnya masuk ke surga. Seperti diketahui, di akhirat nanti hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.
Tentu saja, yang hanya tersingkir sedikit dari neraka baru rnerneroleh surga yang paling rendah tingkatannya. Bahwa yang bersangkutan ditarik dengan cepat, mengisyaratkan bahwa neraka itu demikian panas sehingga yang menarik untuk rnenyelamatkan yang bersangkutan tidak mampu berlama-lama, dia hanya menariknya dengan cepat.
Maksud penggalan ini bahwa nanti akan ada orang yang dijauhkan dari neraka sehingga dia tidak akan terbakar atau tidak mendapatkan siksa neraka, yaitu orang-orang beriman.
Kata wa udkhila (وَأُدْخِلَ) artinya : dan dimasukkan. Kata al-jannata (الْجَنَّةَ) artinya : surga. Umumnya para ulama mengatakan bahwa dijauhkan dari neraka itu berarti dimasukkan ke surga. Artinya di akhirat nanti hanya ada satu dari dua pilihan, yaitu masuk neraka atau masuk surga. Kalau tidak masuk neraka tentu masuk surga.
Namun ada juga kalangan tertentu yang berasmsi bahwa ayat ini menjadi dasar bahwa seorang yang dijauhkan dari neraka itu tidak secara otomatis masuk ke surga. Nampaknya mereka punya pendapat adanya sebuah celah netral antara surga dan neraka yang sebagian kalangan menyebutnya dengan sebutan : manzilatun baina manzilatain.
Ungkapan fa-qad faaz (فَقَدْ فَازَ) dimaknai secara berbeda-beda diksi oleh tiga sumber kita. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “kemenangan”. Lalu Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “beruntung”. Dan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “berjaya”.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa maknanya adalah bahagia dan selamat.
Asal kata al-fauz (الفَوْز) adalah mencapai keinginan. Sebagian orang menafsirkannya dengan tambahan bahwa dia beruntung dengan keselamatan dan mencapai tujuan. Dan secara umum, yaitu beruntung dengan segala yang diinginkan.
Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi SAW bersabda:
Barang siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah dia meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah dia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Penyebutan masuk surga setelah dijauhkan dari neraka karena tidak selalu berarti bahwa dijauhkan dari neraka pasti masuk surga, seperti yang tampak jelas.
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
Lafazh wa ma (وَمَا) artinya : dan tidak lah. Kata al-yahatu (الْحَيَاةُ) artinya : kehidupan. Kata ad-dunya (الدُّنْيَا) artinya : dunia. Maksudnya kehidupan di alam dunia.
Kata ‘dunia’ dalam hal ini punya banyak konotasi yang saling berbeda. Kalau dalam teks Al-Quran, kata dunia itu mengacu kepada periode kehidupan sekarang ini. Lawannya adalah periode berikutnya yaitu kehidupan akhirat.
Namun dalam bahasa kita sekarang, kata ‘dunia’ dimaknai sebagai area yang lebih luas dari sebuah negara, bahkan banyak negara dan wilayah. Maka ada istilah kejuaraan atau pertandingan tingkat dunia, itu maksudnya adalah pertandingan antar negara atau bersifat international. Maksudnya bukan alam dunia, melainkan pertandingan yang melibatkan banyak negara.
Begitu juga dengan istilah ‘perang dunia’ atau world war. Pengertiannya adalah perang yang melibatkan begitu banyak negara, levelnya bukan lagi satu dua negara, melainkan banyak negara alias tingkat dunia internasional.
Lafazh illa (إِلَّا) artinya : tidak lain hanyalah. Kata mata’u (مَتَاعُ) artinya kenikmatan. Sedangkan kata al-ghurur (الْغُرُورِ) artinya menurut kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab adalah sesuatu yang memperdaya, sedangkan Buya HAMKA memaknainya sebagai benda tipuan.
Dikatakan bahwa kenikmatan dunia itu hanya memperdaya, karena sifatnya hanya imagnatif lagian juga hanya bersifat sementara. Diibaratkan bahwa kenikmatan yang kita dapat selama masih hidup di dunia ini seperti orang yang sedang bermimpi indah, sekilas dia menikmati apa yang dia sukai dalam mimpinya itu.
Tapi pas lagi enak-enaknya bermimpi, tiba-tiba terbangun dan sadar dari tidur. Ternyata semua itu hanya kesenangan yang tidak nyata. Ternyata semua itu hanya mimpi belaka, dia sudah harus kembali ke alam nyata.
Begitu juga dengan kenikmatan hidup di dunia ini, mungkin buat sebagian orang terasa begitu indah, sehingga dia ingin berlama-lama menikmatinya. Namun begitu, ada waktunya untuk bangun dari tidur, ada waktunya untuk meninggalkan alam dunia ini dan berpindah ke alam lain, yaitu lewat pintu gerbang kematian.
Perpindahan dari alam dunia yang diibaratkan hanya kehidupan dalam mimpi, kepada kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang sesunngguhnya nanti di akhirat, khususnya di dalam surga, dimana kenikmatannya benar-benar kenikmatan yang realistis, nyata dan bersifat kekal untuk selamanya.