| ◀ | Jilid : 8 Juz : 4 | Ali Imran : 188 | ▶ |
Janganlah sekali-kali engkau (siapapun engkau) mengira bahwa orani’-oiang yang bergembira dengan .tpn ikedurhakiiinl yang telah mereka kerjakan d.m mereka mkri dipuji aus perbuatan yang belum merdra kerjakan, maka janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa mereka terlepas dari azab, dan bagi mereka azab yang sangat pedih.
Sekali-kali janganlah engkau sangka orangorang yang bergembira dengan yang mereka lakukan dan senang sekali bila dipuji dalam hal yang tidak pernah mereka kerjakan. Sekali-kali janganlah engkau sangka, bahwa mereka akan terlepas dari adzab. Bahkan untuk mereka adzab yang pedih.
| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-188 ini intinya terlewat pada penegasan bahwa orang-orang Yahudi yang bikin kesal Nabi SAW dan para shahabat dipastikan tidak akan bisa lolos dari siksa api neraka. Memang perbuatan mereka pastinya bikin Nabi SAW marah, kecewa, dan naik pitam. Saat itulah Allah SWT membesarkan hati Nabi SAW dengan memberikan kepastian bahwa tindakan Yahudi itu dipastikan akan dibalas dengan siksa di neraka. Dipastikan mereka tidak akan bisa lolos dari siksa.
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا
Lafazh laa tahsabanna (لَا تَحْسَبَنَّ) artinya : janganlah kamu mengira. Di bagian akhir fi’il ini ketempelan huruf nun (نَّ) yang menjadi penguat atau ta’kid. Sehingga maknanya menjadi : janganlah kamu sekali-kali mengira atau menyangka.
Kata-kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : mereka orang-orang yang. yafrahuna (يَفْرَحُونَ) artinya : bergembira. bimaa atau (بِمَا أَتَوْا) artinya : dengan apa yang mereka bawa atau mereka lakukan.
وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا
Lafazh wa yuhibbuna (وَيُحِبُّونَ) artinya : dan mereka menyukai. Kata an yahmadu (أَنْ يُحْمَدُوا) artinya : dipuji atau disanjung. Kata bima lam (بِمَا لَمْ) artinya : dengan apa yang tidak. Kata yaf’alu (يَفْعَلُوا) artinya mereka kerjakan.
Banyak mufassir yang mengatakan bahwa yang disebutkan sebagai orang yang suka dipuji dengan perbuatan yang tidak mereka kerjakan adalah orang-orang Yahudi. Disebutkan bahwa mereka telah memanipulasi kitab Taurat dengan cara menyelewengkan isi Taurat. Dalam hal ini ada tiga tehnik dalam rangka menyelewengkan Taurat.
Pertama, mengganti kata-kata yang ada dalam kitab Taurat. Sehingga isinya menjadi tercampur-campur dengan apa yang mereka sisipkan. Kalau aslinya Allah melarang ini dan itu, mereka hapus teksnya dan mereka ganti menjadi Allah tidak melarang ini dan itu. Dalam hal ini memang kitab Tauratnya yang mereka preteli dan merka permak.
Kedua, membaca tidak sesuai dengan teksnya. Caranya adalah teks yang asli tidak diubah, tetapi ketika membacanya, mereka baca dengan cara yang berbeda di lisan mereka. Misalnya kalau teksnya tertulis bahwa Allah melarang ini dan itu, lalu lisan mereka membaliknya dan menyebutkan bahwa Allah membolehkan.
Ketiga, penyimpangan dalam tehnik menerjemahkan. Sekedar mengingatkan bahwa Taurat itu kitab berbahasa Ibrani, sedangkan Nabi SAW dan para shahabat bukan orang Yahudi. Jadi setiap dibacakan Taurat, masih dibutuhkan penerjemahan oleh para pendeta Yahudi.
Maka cara mereka menyimpangkan Taurat adalah dengan cara menerjemahkannya dengan cara yang sengaja tidak sejalan dengan teks aslinya.
Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘mereka yang bergembira’ disini adalah kalangan munafikin Madinah. Mereka bergembira karena merasa berhasil memperdaya Nabi SAW dan para shahabat dengan berpura-pura masuk Islam. Sementara hati dan keyakinan mereka bertentangan.
Mereka mengira bahwa tindakan diam-diam mereka itu tidak diketahui oleh Nabi SAW. Padahal ternyata semua track record mereka dibongkar habis oleh Al-Quran.
فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ
Lafazh fa-laa (فَلَا) artinya : maka janganlah. Kata tahsaban-na-hum (تَحْسَبَنَّهُمْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yang maknanya : kamu mengira. Di bagian akhir fi’il ini ketempelan huruf nun (نَّ) yang menjadi penguat atau ta’kid. Kemudian ditambahkan lagi dengan dhamir hum (هُمْ) yang menjadi objek atau maf’ul bihi. Sehingga kalau diterjemahkan lengkap menjadi : “Maka janganlah sekali-kali kamu mengira mereka”.
Lafazh bi-mafazatin (بِمَفَازَةٍ) diartikan menjadi : lolos, luput, selamat atau terlepas. Kata minal-adzab (مِنَ الْعَذَابِ) artinya : dari siksa.
Penggalan ini nampaknya ingin menegaskan bahwa mereka dipastikan tidak akan bisa lolos dari jeratan siksa yang sudah Allah SWT tetapkan sejak masih di dunia.
Dengan memastikan bahwa mereka tidak akan lolos dari siksa Allah, nampaknya Allah SWT ingin membesarkan hati Nabi SAW yang dirundung kesedihan dan kekedewaan demi mengetahui ulah lawan-lawannya.
وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Lafazh wa lahum (وَلَهُمْ) artinya : dan bagi mereka, maskudnya mereka mendapatkan nanti di akhirat. Kata adzabun alim (عَذَابٌ أَلِيمٌ) artinya siksa yang pedih.
Ini adalah ancaman yang sifatnya baru akan terjadi setelah mereka berada di alam akhirat, yaitu setelah mereka nanti mengalami masa kematian di dunia.
Dikatakan siksaan yang pedih, berarti ini adalah bentuk siksaan yang paling umum di neraka, yaitu umumnya dibakar kulitnya agar merasakan sakitnya secara terus menerus. Kalau pun kulitnya sudah gosong dan tidak bisa lagi meraskan sakit, maka Allah SWT akan menggantinya dengan kulit yang baru, semata-mata hanya agar bisa terus menerus merasakan sakitnya dibakar. Dasarnya adalah firman Allah SWT berikut :
كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. (QS. An-Nisa : 56)
Menarik untuk kita perhatikan sabda Nabi SAW terkait dengan panasnya api neraka jahannam dibandingkan dengan api di dunia saat ini :
نَارُكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ
Api kalian ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka Jahannam. (HR. Muslim)
Bentuk-bentuk Siksaan bagi Penghuni Neraka
Di dalam Al-Quran kita temukan berbagai macam tehnik siksaan yang menyakitkan, antara lain ayat-ayat berikut ini:
تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ
"Api neraka itu membakar muka mereka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat" (QS. Al-Mu’minun : 104).
يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu". (QS. At-Taubah : 35)
Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: "
وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ تَشْوِيهُ النَّارِ فَتَقْلِصُ شَفَتُهُ الْعُلْيَا حَتَّى تَبْلُغَ وَسَطَ رَأْسِهِ، وَتَسْتَرْخِي شَفَتُهُ السُّفْلَى حَتَّى تَضْرِبَ سُرَّتَهُ.
Mereka dalam keadaan cacat, api neraka merusak wajah mereka sehingga bibir atas mereka terangkat hingga mencapai tengah kepala mereka, dan bibir bawah mereka turun hingga mengenai pusar mereka." (HARI. Ahmad).
Di antara siksaan bagi penghuni neraka adalah mereka diseret di atas wajah mereka:
يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ
"Pada hari mereka diseret ke dalam neraka di atas wajah mereka (dikatakan kepada mereka): 'Rasakanlah sentuhan neraka Saqar'" (QS. Al-Qamar : 48)
Orang yang bunuh diri berada di neraka. Nabi SAW bersabda:
منْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأْ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِداً مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَداً، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِسُمٍّ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِداً مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَداً، وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِداً مُخَلَّداً فِيهَا أَبَداً.
"Barang siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besinya berada di tangannya dan menusuk perutnya di neraka Jahannam, kekal selamanya di dalamnya. Dan barang siapa yang bunuh diri dengan racun, maka racunnya berada di tangannya dan ia meminumnya di neraka Jahannam, kekal selamanya di dalamnya. Dan barang siapa yang menjatuhkan dari gunung dan bunuh diri, maka ia jatuh di neraka Jahannam, kekal selamanya di dalamnya."
Di antara penghuni neraka, ada yang berputar-putar di neraka dan menyeret ususnya seperti dalam Shahih dari Usamah bin Zaid, dan hadis:
وَرَأَيْتُ أَبَا ثُمَامَةَ عَمْرَو بنَ مَالِكٍ يَجُرُّ قُصْبَهُ في النَّارِ
Aku melihat Abu Tsumamah Amr bin Malik menyeret ususnya di neraka. (HR. Muslim).
Di antara penghuni neraka, ada yang dilemparkan ke tempat yang sempit sehingga tidak bisa bergerak karena sempitnya. Allah SWT berfirman:
وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا
"Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit dari neraka dalam keadaan dibelenggu, mereka di sana berteriak-teriak meminta kebinasaan" (QS. Al-Furqan : 13).