Kemenag RI 2019:Demikian itu disebabkan bahwa mereka berkata, “Api neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja.” Mereka teperdaya dalam agamanya oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Prof. Quraish Shihab:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka berkata: “Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Dan apa yang dahulu mereka ada-adakan telah memperdaya mereka dalam agama mereka.
Prof. HAMKA:
Yang demikian karena mereka berkata, "Sekali-kali kami tidak akan disentuh oleh apl neraka, melainkan beberapa hari saja. Karena mereka telah dltipu dalam hal agama mereka, oleh karangan-karangan (pemimpin-pemimpin) mereka.
Lafazh tamassa (تَمَسَّ) artinya menyentuh. Sebenarnya ada satu lagi istilah yang maknanya berdekatan, yaitu lamasa (لَمَسَ) dan juga dimaknai menyentuh sebagaimana tertuang dalam ayat berikut ini :
Atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). (QS. An-Nisa : 43)
Secara fiqih perbedaannya adalah lamasa itu menyentuh dengan rasa, oleh karena itu maka dalam mazhab Maliki, sentuhan kulit dengan wanita yang bukan mahram (لمس المرأة الأجنبية) termasuk membatalkan wudhu’ apabila muncul syahwat.[1]
Lafazh an-naaru (النَّارُ) maknanya api, namun yang dimaksud adalah api yang ada di dalam neraka di akhirat nanti, bahkan neraka itu sendiri disebut sebagai an-nar. Dalam hal ini untuk ungkapan ‘disentuh api’ memang selalu digunakan lafazh massa, seperti yang tertuang dalam surat An-Nur berikut :
Lafazh ayyaman (أَيَّامًا) merupakan bentuk jamak dari hari, setidaknya di atas dari dua hari, bisa tiga hari, empat hari dan seterusnya.
Sedangkan lafazh ma’dudat (مَعْدُودَاتٍ) maknanya : bilangan yang sedikit. Asalnya dari ‘adad (عّدّد) yang artinya bilangan, namun digunakan untuk menyebutkan jumlah yang sedikit karena bisa dihitung secara sederhana. Sehingga maknanya menjadi : “beberapa hari yang sedikit”.
Klaim Bani Israil bahwa diri mereka tidak tersentuh api neraka kecuali beberapa hari saja muncul pula di ayat lain, yaitu surat Al-Baqarah :
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja". (QS. Al-Baqarah : 80)
Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada sedikit perbedaan yaitu lafazh ma’dudah (مَعْدُودَة) di dalam surat Al-Baqarah menggunakan bentuk tunggal, sedangkan di ayat ini menggunakan bentuk jamak (معدودات).
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah hari yang disebut dengan sedikit atau ma’dudaat itu. Ada yang bilang jumlahnya 7 hari dan ada yang bilang 40 hari. Rinciannya sebagai berikut :
Mereka yang mengatakan lamanya 7 hari diantaranya Mujahid dan satu riwayat lewat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Dasarnya karena menurut mereka usia alam semesta ini tujuh ribu tahun dan manusia akan diadzab selama satu hari untuk setiap hitungan seribu tahun, sehingga paling lama diadzab dalam neraka hanya 7 hari saja.
Sedangkan mereka yang mengatakan lamanya 40 hari mendasarkan pendapatnya sebagaimana disebutkan oleh Muqatil, yaitu bahwa leluhur Bani Israil di masa kenabian Musa selama 40 hari sempat menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Oleh karena itu mereka pun disiksa selama 40 hari itu saja.
Ibnu Abbas menambahkan bahwa di tengah Bani Israil berkembang mitos bahwa luas bentangan neraka Jahannam itu sejauh perjalanan 40 tahun, namun mereka mengaku bahwa perjalanan satu tahun bisa mereka tempuh dalam sehari. Sehingga hanya dalam waktu 40 hari mereka sudah keluar dari neraka Jahannam.
Al-Hasan dan Abu Al-‘Aliyah menyebutkan bahwa Bani Israil mengklaim bahwa Allah SWT berjanji kepada mereka tidak lebih dari 40 hari dibakar di neraka, setelah itu pasti akan dikeluarkan. Klaim yang terakhir inilah yang nampaknya dibantah langsung dalam lafazh selanjutnya.
وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Lafazh gharra (غَرَّ) artinya : memperdaya atau menipu, dhamir hum (هُم) menjadi maf’ul bihi alias jadi objek yang artinya adalah diri mereka. Lalu yang menjadi pelaku tipu dayanya sendiri adalah : maa kanu yaftarun (مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ) yang artinya : apa yang mereka ada-adakan atau mereka karang-karang sendiri.
Rupanya salah satu penyakit yang melanda kalangan Yahudi di masa kenabian adalah suka mengarang-ngarang sendiri masalah agama, padahal Allah SWT sama sekali tidak pernah membenarkannya.
Ternyata perilaku semacam ini dimotori oleh para pemuka agama mereka, entah itu pendeta atau pun para rahibnya. Mentang-mentang mereka punya kedudukan yang tinggi dan untouchable, maka dengan seenaknya mereka bicara atas nama Allah dan kitab suci.
Sebagian ulama diantaranya Mujahid mengatakan bahwa yang mereka karang-karang sendiri itu adalah keyakinan mereka bahwa kalau pun mereka melakukan dosa tertentu, mereka hanya akan merasakan api neraka sebentar saja, yaitu hanya beberapa hari saja.
Sedangkan menurut Qatadah, yang mereka karang itu adalah keyakinan yang mereka tanamkan bahwa mereka adalah anak-anak Allah SWT dan orang-orang yang Allah SWT cintai. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini :