(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(lalah) keturunan, yang sebagiannya adalah dari yang sebagian. Dan, Allah Maha Mendengar, lagi Mengetahui.
Ayat ke-34 ini adalah sambungan langsung dari ayat sebelumnya, bahwa para nabi dan rasul sebagiannya adalah masih satu garis keturunan satu sama lain.
Pesannya bahwa kalau beriman kepada satu nabi, maka wajib juga beriman kepada nabi lainnya, karena mereka satu sama lain saling terkait.
Lafazh dzurriyah (ذُرِّيَّةً) artinya : keturunan alias blood-line. Sedangkan makna ba’dhuha (بَعْضُهَا) artinya : sebagian mereka, dan makna min ba’dh (مِنْ بَعْضٍ) artinya : dari sebagian yang lain.
Penggalan ini menjadi dasar yang qath’i bahwa para nabi dan rasul itu bukan hanya tergabung sebagai sama-sama utusan Allah SWT, namun di antara mereka ternyata juga ada ikatan kekeluargaan. Dan umumnya mereka meminta agar setidaknya mereka diberikan pengikut dari keturunan mereka sendiri.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. (QS. Ar-Rad : 38)
Sebutlah misalnya umat Nabi Adam alaihissalam, maka pengikutnya tidak lain adalah anak keturunannya. Begitu juga Nabi Ibrahim alaihissalam, yang jadi pengikut dan umatnya setidaknya adalah anak keturunannya.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. (QS. Maryam : 58)
Begitu juga nabi Nuh alaihissalam, maka yang jadi pengikutnya paling tidak adalah keturunannya.
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (QS. Al-Isra : 3)
Yang menarik bahwa dalam beberapa kasus, kenabian itu diwariskan secara turun temurun.
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ ۖ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (QS. An-Naml : 16)
يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (QS. Maryam : 6)
Makna as-sami’ (السَّمِيعُ) adalah Maha Mendengar, sedangkan makna al-‘alim (العَلِيمٌ) adalah Maha Mengetahui.
Namun Allah SWT bukan sekedar mendengar, tetapi mampu dan bisa mendengar hal-hal yang tidak bisa didengar oleh makhluk biasa. Sebagaimana juga al-alim (الْعَلِيمُ) artinya sangat mengetahui melebihi semua yang tahu. Maka dalam terjemahannya menjadi : “Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Disebutkan bahwa Allah SWT itu Maha Mendengar sekaligus juga Maha Mengetahui. Ini adalah perpaduan yang saling melengkapi. Sedangkan manusia terkadang hanya bisa mendengar saja, tetapi tidak mengetahui atau tidak memahami apa yang didengarnya.
Hal yang sama juga terjadi pada diri jin atau setan, yaitu disebutkan bahwa mereka suka mencuri dengar berita-berita dari langit. Namun berita yang mereka dengar itu tidak utuh, alias sepotong-sepotong. Intinya, meski bisa mencuri dengar, namun tetap saja mereka tidak mengetahuinya secara mendalam.
إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ
kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (QS. Al-Hijr : 18)
إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (QS. Ash-Shaffat : 10)