Ayat ini datang setelah pembicaraan tentang wahyu dan kitab-kitab-Nya, seolah mengingatkan bahwa sumber pengetahuan sejati hanyalah Allah, Zat yang mengetahui hakikat segala sesuatu. Maka, tidak ada alasan bagi manusia untuk ragu terhadap kebenaran wahyu yang diturunkan-Nya, sebab Dia mengetahui seluruh rahasia alam dan isi hati manusia.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ
Lafazh innallaha(إِنَّ ٱللَّهَ) artinya: sesungguhnya Allah. Lafazh la yakhfa ‘alaihi (لَا يَخْفَى عَلَيْهِ) artinya: tidak tersembunyi baginya. Sedangkan makna syai’un (شَيْءٌ) artinya: sesuatu.
Penggalan ini pada hakikatnya sedang menyatakan betapa luas dan mendalamnya pengetahuan Allah SWT. Ungkapannya bahwa tidak ada sesuatu pun yang ‘tersembunyi’ dari sisi Allah. Semua adalah ciptaan Allah, maka sang Pencipta tentu adalah pihak yang tahu segala sesuatunya.
Mari kita bayangkan sebuah kendaraan bermotor yang diproduksi oleh sebuah pabrikan. Jauh sebelum diproduksi, kendaraan itu sudah dikonsep secara detail dan rinci, bahkan sudah dibuatkan gambar teknisnya secara sangat presisi. Ketika kendaraan itu kemudian diciptakan pertama kali sebagai sebuah prototipe, tentu dilakukan lagi serangkaian uji coba yang kemudian melahirkan berbagai riset dan penyempurnaan di sana-sini. Terakhir, barulah kendaraan itu mulai diproduksi secara massal.
Sebuah kendaraan pastinya terdiri dari ribuan komponen dengan berbagai macam sistem. Semua komponen itu kemudian dirangkai sedemikian rupa dengan cara yang teramat presisi. Pabrik yang memproduksi kendaraan itu tentunya punya catatan yang rinci dan mendetail atas setiap komponen. Begitu juga dengan semua ciptaan Allah, profil detailnya ada di sisi Allah. Pastinya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tidak bisa dipahami oleh manusia itu sendiri.
فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
Lafazh fil ardhi (فِي ٱلْأَرْضِ) artinya: di bumi. Biasanya diterjemahkan sebagai tanah. Namun kali ini lebih tepat diterjemahkan sebagai bumi, dengan beberapa alasan. Yang paling utama adalah bahwa jika diterjemahkan sebagai tanah, maka apa-apa yang ada di laut tidak termasuk. Sedangkan jika diterjemahkan sebagai bumi, maka seluruh permukaan bumi bahkan apa yang terpendam di dalamnya ikut termasuk dalam hitungan.
Makna lafazh fis-sama’i (فِي ٱلسَّمَاءِ) artinya: yang ada di langit. Dalam hal ini, langit mencakup apapun yang selain planet bumi. Lapisan-lapisan atmosfer termasuk dalam kategori planet. Lafazh as-sama’ berasal dari kata as-sumuw (ٱلسُّمُو) yang maknanya: ‘tinggi’. Sehingga apapun yang dirasa tinggi, pantas untuk disebut dengan langit, tanpa membedakan derajat ketinggiannya, apakah tinggi sekali hingga jaraknya tidak terhingga, ataukan ketinggian yang masih belum terlalu jauh. Semuanya bisa masuk dalam kategori tinggi.
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan langit dalam ayat ini tentu saja bukan ruang angkasa di luar planet bumi yang hampa udara dan tidak ada gravitasi. Langit yang dimaksud dalam ayat ini hanya sebatas atmosfer bumi yang sebenarnya masih menjadi bagian dari bumi. Setidaknya masih dalam pengaruh gravitasi bumi, sehingga tidak berpencaran di luar angkasa.
Sebenarnya, langit yang disebut dalam Al-Qur'an ada banyak macamnya, mulai dari langit yang paling jauh seperti sidratil muntaha tempat Nabi SAW menjalankan mi'raj, hingga langit yang dihias dengan bintang-bintang yaitu ruang angkasa yang jarak bentangnya bisa sampai bertahun-tahun cahaya. Sekadar informasi, bahwa bintang yang paling dekat dengan bumi kita berjarak 4 tahun cahaya.