Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 44 Juz : 22 | Fathir : 31
Fathir 35 : 31
Mushaf Madinah | hal. 438 | Mushaf Kemenag RI

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ

Kemenag RI 2019: Apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu Kitab Suci (Al-Qur’an), itulah yang benar yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

Prof. Quraish Shihab:

Prof. HAMKA:

TAFSIR AL-MAHFUZH
وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

Kata wa maa min ilahin (وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ) artinya : "dan tidak ada satu pun tuhan". Ini adalah bentuk penyangkalan yang sangat menekankan ketidakberadaan secara total. Penggalan ini sebenarnya terdiri dari empat unsur, yaitu :

§  Pertama : huruf wa (وَ) merupakan huruf ‘athf yang berfungsi menyambungkan

§  Kedua : huruf ma (ما) yang merupakan huruf nafyi yaitu peniadaan atau penyangkalan.

§  Ketiga : huruf min (مِنْ) merupakan huruf zaidah yang menjadi penguat dari penyangkalan. Posisinya diletakkan sebelum isim nakirah untuk menekankan makna tidak ada sama sekali.

§  Keempat  : kata ilahin (إله) merupakan ism majrūr karena terletak setelah min, yang artinya tuhan.

Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata ilahun wahid (إِلَٰهٌ وَاحِدٌ) artinya : Tuhan Yang Satu. Maksudnya adalah Allah SWT.

Bedanya dengan ungkapan laa ilaha illallah (لا إله إلا الله) bahwa kalimat ini berbentuk berita atau khabar, namun bukan deklarasi.

***

*) Tafsir Al-Mahfuzh ini merujuk kepada kitab tafsir utama (tersedia 32 tafsir).
🔐