Lafazh innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : sesugguhnya Allah. Kata la yaghfiru (لَا يَغْفِرُ) artinya : tidak mengampuni. Kata an-yusyraka bihi (أَنْ يُشْرَكَ بِهِ) diterjemahkan menjadi : karena mempersekutukan-Nya.
Kata yusyraka (يُشْرَكَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari majhul atau kata kerja pasif. Asalnya dari (أشْرَكَ - يَشْرِكُ) yang berarti men-syarikat-kan. Syarikat dalam bahasa Indonesia diadaptasi menjadi serikat yang bermakna : perhimpunan. Men-serikat-kan Allah maksudnya adalah menghimpun beberapa tuhan untuk semuanya disembah, termasuk di dalamnya Allah SWT. Ketika Allah SWT disembah bersamaan dengan tuhan-tuhan yang lain, maka tindakan itu disebut : Allah disyarikatkan atau yusyraka bihi (يُشْرَكَ بِهِ).
Ada sebagian kalangan yang menafsirkan ayat ini bahwa dosa syirik itu dosa yang tidak bisa diampuni untuk selama-lamanya, bahkan meskipun yang bersangkutan sudah berusaha untuk minta ampun dan bertaubat nasuha.
Namun kesimpulan ini ternyata bertentangan dengan banyak fakta dan dalil-dalil agama. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Para Shahabat Adalah Mantan Pelaku Syirik
Bukankah hampir semua shahabat nabi Muhammad SAW dulunya para penyembah berhala? Lalu mereka mendapat hidayah, lalu masuk Islam. Kalau pendapat bahwa dosa syirik itu tidak diampuni selama di dunia, maka seharusnya para shahabat nabi itu masuk neraka. Sebab mereka pernah menjadi penyembah berhala.
Ternyata faktanya jelas sekali yaitu bahwa generasi para shahabat itu justru menjadi generasi terbaik dari seluruh rangkaian sejarah umat Islam. Bayangkan, kaum penyembah berhala kemudian dijadikan generasi terbaik, tentu saja lewat proses taubat dan masuk Islam terlebih dahulu.
Kalau orang kafir yang syirik kepada Allah bisa menjadi umat terbaik, maka apalagi kita yang lahir sebagai muslim, tentu lebih memungkinkan lagi. Maka jangan salah paham terhadap pengertian ayat secara sepotong-sepotong, kita perlu memahami lewat tafsir dan penjelasan para ulama.
2. Hadis-hadits Nabawi
Selain itu juga ada penjelasan dari Nabi SAW tentang yang dimaksud dengan orang musyrik yang tidak diampuni dosanya, yaitu mereka yang matinya dalam keadaan syirik.
كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللهُ أَنْ يَغْفِرَهُ، إِلَّا الرَّجُلُ يَمُوتُ كَافِرًا
Semua dosa itu semoga Allah mengampuninya, kecuali orang yang matinya kafir. (HR. Ahmad)
مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ" قُلْتُ: وَإِنَّ زَنَى وإن سرق؟ قال: "وإن زنى وإن سرق
Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa ilaah illallah kemudian dia wafat dalam keadaan seperti itu kecuali dia pasti masuk surga. Aku bertanya,”Walaupun dia berzina dan mencuri?”. Nabi SAW menjawab,”walaupun berzina dan mencuri”. (HR. Ahmad)
مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ
Orang yang mati dan tidak dalam keadaan syirik kepada Allah, maka wajiblah baginya surga. Dan orang yang mati dalam keadaan syirik wajiblah atasnya neraka. (HR. Ahmad)
3. Asbabun Nuzul
Hampir semua kitab tafsir ketika menjelaskan latar belakang ayat ini, semua kompak mengatakan bahwa secara asbabun-nuzul ayat ini masih bicara tentang perilaku Thu’mah bin Al-Ubairiq, tokoh kontroversial yang sudah kita bicarakan berkali-kali di ayat-ayat yang lalu.
Dengan adanya ayat ini maka sudah dipastikan bahwa Thu’mah itu mati dalam keadaan musyrik, alias dalam keadaan kafir setelah sebelumnya pernah memeluk agama Islam lalu murtad.
Kata wa man (وَمَنْ) artinya : siapa pun yang. Kata yusyrik (يُشْرِكْ) artinya : mempersekutukan. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : Allah. Kata fa qad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh. Kata dhalla (ضَلَّ) artinya : telah tersesat. Kata dhalalan (ضَلَالًا) artinya : ketersesatan. Kata ba’ida (بَعِيدًا) artinya : yang jauh.
Benar sekali bahwa syirik itu secara harfiyah bermakna menyekutukan Allah. Namun kalau kita kembali kepada ‘urf kala Al-Quran diturunkan di masanya, yang dimaksud dengan ‘melakukan perbuatan syirik’ adalah memeluk agama syirik, yaitu agama yang dianut oleh orang-orang kafir Mekkah. Mereka selain menyembah Allah SWT, menyembah begitu banyak berhala.
Maka istilah syirik kemudian identik sebagai nama dari genre agama-agama di luar Islam yang punya ciri menyembah banyak tuhan. Kita sebut saja dengan agama politeis. Sementara agama Islam yang dibawa oleh Nabi SAW serta para nabi sepanjang sejarah justru menjadi antitesis-nya. Agama para nabi itu kita sebut dengan agama monoteis. Tokoh besar pembawa ajaran monoteis tidak lain adalah Nabi Ibrahim alaihissalam, yang disebut sebagai ayah dari para nabi atau abul-anbiya’.
1. Mesopotamia: Peradaban Sumeria, Akkadia, dan Babylonia
Peradaban Mesopotamia awal, seperti Sumeria dan Akkadia, memiliki banyak dewa yang dikaitkan dengan kekuatan alam dan aktivitas manusia.
Dewa-dewa utama termasuk Anu (dewa langit), Enlil (dewa angin dan udara), Ea/Enki (dewa air dan kebijaksanaan), serta Inanna/Ishtar (dewi cinta dan perang). Raja Hammurabi (1792–1750 SM) menetapkan hukum dalam "Kode Hammurabi," yang mencerminkan pengaruh agama politeis. Marduk menjadi dewa utama di Babylonia.
2. Mesir Kuno
Agama Mesir Kuno melibatkan banyak dewa yang diasosiasikan dengan elemen alam dan kehidupan setelah mati. Dewa utama termasuk Ra (dewa matahari), Osiris (dewa kematian dan kebangkitan), Isis (dewi kesuburan), dan Horus (dewa langit). Sedangkan Firaun dianggap sebagai perwujudan dewa di bumi.
3. Yunani Kuno
Agama Yunani politeis memiliki dewa-dewa yang tinggal di Gunung Olympus. Dewa-dewa utama termasuk Zeus sebagai raja para dewa dan dewa langit. Lalu ada istri Zeus yang benama Hera sebagai ratunya para dewa. Mereka punya anak-anak yang juga menjadi dewa, diantaranya adalah Poseidon sebagai dewa laut, Athena sebagai dewi kebijaksanaan dan perang, Apollo sebagai dewa matahari dan seni, dan Aphrodite sebagai dewi cinta.
4. Romawi Kuno
Agama Romawi sangat dipengaruhi oleh politeisme Yunani, tetapi dewa-dewa diberi nama Latin. Contohnya, ada Jupiter yaitu Zeus, Juno yaitu Hera, Mars yaitu Ares, Venus yaitu Aphrodite, dan Mercurius yaitu Hermes.
Kaisar Romawi sendiri kadang dipuja sebagai dewa setelah kematiannya. Sementara masyarakat mengadakan upacara dan pengorbanan di kuil-kuil untuk memohon restu dewa.
5. India Kuno
Politeisme India sangat beragam dan berkembang sejak zaman Weda (1500–500 SM). Agama Hindu memiliki ribuan dewa, yang paling populer adalah Brahma sebagai pencipta, Vishnu sebagai pemelihara, dan Shiva sebagai penghancur. Mereka bertiga-tigaan itu dikenal sebagai Trimurti.
Selain itu ada Dewi seperti Saraswati sebagai dewi kebijaksanaan, Dewi Lakshmi sebagai dewi kemakmuran, dan Durga sebagai pelindung, yang sama-sama sangat dihormati.
6. Tiongkok Kuno
Politeisme di Tiongkok mencakup pemujaan roh leluhur, dewa-dewa alam, dan konsep Taoisme serta Buddhisme. Dewa tertinggi dalam kepercayaan awal adalah Shangdi yaitu dewa langit. Dewi Mazu dihormati sebagai pelindung para pelaut.
7. Afrika Kuno
Masyarakat Afrika memiliki kepercayaan politeis lokal yang mencakup dewa-dewa alam, roh leluhur, dan roh penjaga. Suku Yoruba di Afrika Barat menyembah Orisha seperti Olorun atau dewa langit, Ogun sebagai dewa besi dan perang, dan Yemoja sebagai dewi air.
8. Amerika Tengah dan Selatan
Suku Maya dan Aztec menyembah dewa-dewa yang berkaitan dengan pertanian, matahari, dan hujan. Huitzilopochtli adalah dewa matahari dan perang menjadi dewa utama bangsa Aztec.
Selain itu juga ada peradaban Inca yang juga menyembah Inti, sang dewa matahari dan meyakini kaisar sebagai anak dewa matahari.
Politeisme telah menjadi bentuk kepercayaan yang universal dalam sejarah awal manusia. Setiap peradaban memiliki cara unik untuk memahami dan memuja kekuatan alam semesta melalui dewa-dewa mereka. Kepercayaan ini tidak hanya mengatur aspek spiritual, tetapi juga mempengaruhi hukum, budaya, dan struktur sosial masyarakat. Seiring perkembangan zaman, politeisme perlahan tergeser oleh agama-agama monoteistik, tetapi jejaknya masih bertahan dalam tradisi dan budaya hingga kini.
9. Berhala Bangsa Arab
Hubal : Salah satu berhala utama adalah Hubal, yang ditempatkan di dalam Ka'bah. Hubal dianggap sebagai dewa tertinggi oleh suku Quraisy dan dipercaya memiliki kekuatan untuk memberikan keputusan dan keberuntungan dalam hidup.
Patung Hubal terbuat dari batu akik merah berbentuk manusia, dan tangan patung tersebut memegang tujuh anak panah yang digunakan untuk ramalan dan pengundian. Cerita mengenai Hubal bermula dari seorang tokoh bernama Amr bin Luhay yang memperkenalkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab dengan membawa berhala ini ke Ka'bah.
Al-Laat : Selain Hubal, ada pula berhala Al-Lat yang disembah oleh suku Tsaqif di Thaif. Al-Lat dianggap sebagai dewi kesuburan dan keberuntungan. Para penyembahnya meyakini bahwa Al-Lat dapat memberikan makanan dan rezeki yang melimpah.
Patung Al-Lat terbuat dari batu putih besar dan dipuja sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Ketika Makkah ditaklukkan oleh umat Islam, Khalid bin Walid ditugaskan untuk menghancurkan patung Al-Lat yang merupakan salah satu berhala utama bagi bangsa Arab saat itu.
Al-Uzza : Berhala lainnya adalah Al-Uzza, yang diyakini sebagai dewi kekuatan dan perlindungan. Al-Uzza dihormati sebagai dewi yang paling kuat di antara berhala-berhala lainnya, dan sering dikaitkan dengan simbol bintang dan kekuatan kosmis.
Banyak suku Arab sebelum berperang akan memuja Al-Uzza agar mendapatkan perlindungan dan kemenangan. Ketika Nabi Muhammad SAW dan pasukannya menaklukkan Makkah, berhala Al-Uzza dihancurkan oleh Khalid bin Walid, sesuai dengan perintah Nabi untuk memusnahkan segala bentuk penyembahan berhala.
Manat : Ini adalah berhala yang disembah oleh suku-suku yang berada di antara Makkah dan Madinah, terutama oleh suku Aus dan Khazraj di Yatsrib (Madinah). Manat dipercaya sebagai dewi nasib dan takdir, yang dianggap menentukan baik buruknya nasib seseorang.
Patung Manat terbuat dari batu hitam besar dan dipuja oleh orang-orang yang ingin memperoleh keberuntungan dalam hidup. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan penghancuran patung Manat setelah Islam berkembang di wilayah tersebut.
Tiga nama berhala di atas, yaitu Al-Laat, Al-Uzza dan Manat disebutkan dalam Al-Quran sebagai berikut :
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian. (QS. An-Najm : 19-20)
Isaf dan Na'ilah : selain berhala-berhala di atas, bangsa Arab juga mengenal dua berhala kecil bernama Isaf dan Na'ilah, yang ditempatkan di dekat Ka'bah.
Menurut legenda, mereka adalah sepasang kekasih yang melakukan perbuatan maksiat di dekat Ka'bah dan kemudian dikutuk menjadi batu. Suku Quraisy kemudian mulai menyembah berhala ini dan meyakini bahwa mereka memiliki kekuatan magis. Patung Isaf dan Na'ilah diletakkan di atas bukit Shafa dan Marwah, dua tempat yang dianggap suci bagi umat Islam.
10. Berhala Umat Nabi Nuh
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa´, yaghuts, ya´uq dan nasr". (QS. Nuh : 23)
Umat Nabi Nuh punya lima berhala yang disebutkan dalam ayat ini yaitu Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Masing-masing punya peranan.
Pertama : Wadd adalah salah satu berhala yang disembah oleh suku Arab, khususnya oleh suku 'Aad. Wadd dipercaya sebagai dewa cinta dan persahabatan. Dewa ini sering dipuja oleh orang-orang yang ingin mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan dalam hubungan sosial mereka. Wadd dipercaya memiliki kemampuan untuk mempererat hubungan antar manusia dan membawa kedamaian serta persahabatan. Patung Wadd terbuat dari batu, dan sering ditempatkan di tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral.
Pada masa Nabi Nuh, Wadd dipercayai oleh masyarakat untuk memberi berkah dalam hal cinta dan kedamaian, tetapi setelah Islam datang, berhala ini dihancurkan sebagai simbol kemusyrikan.
Kedua : Suwwa' adalah berhala yang disembah oleh sebagian masyarakat Arab kuno, terutama oleh suku Hudhail. Suwwa' dipercaya sebagai dewi yang memberikan keberuntungan dan kekuatan. Masyarakat pada masa itu menganggap Suwwa' sebagai simbol kekuatan fisik dan perlindungan. Mereka yang menyembah Suwwa' berharap mendapatkan perlindungan dalam peperangan atau kesulitan hidup. Seperti halnya Wadd, patung Suwwa' juga terbuat dari batu dan ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap suci.
Berhala ini, bersama dengan berhala lainnya yang disebutkan dalam ayat tersebut, merupakan bagian dari sistem kepercayaan yang mengedepankan kekuatan alam dan kekuatan magis sebagai penyelamat dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga : Yaghuts adalah berhala yang disembah oleh suku Arab, terutama oleh suku Himyar di Yaman. Yaghuts dipercayai sebagai dewa yang berhubungan dengan perlindungan dalam perjalanan dan kesuksesan dalam perdagangan. Masyarakat yang menyembah Yaghuts berharap agar perjalanan mereka diberkati dan aman dari segala bahaya.
Yaghuts dipercaya memberi kekuatan dan keberuntungan dalam bisnis dan perjalanan, serta melindungi mereka dari bahaya dan kegagalan. Patung Yaghuts biasanya terbuat dari batu atau logam, dan disembah oleh orang-orang yang membutuhkan perlindungan dalam kehidupan mereka.
Keempat : Ya'uq adalah berhala yang disembah oleh suku Arab, terutama oleh suku Murad di daerah sekitar Yaman. Ya'uq dianggap sebagai dewa kekuatan yang dapat memberikan kesuksesan dalam kehidupan, terutama dalam hal kekayaan dan kemakmuran.
Masyarakat yang menyembah Ya'uq berharap untuk memperoleh rezeki yang melimpah dan kemakmuran dalam kehidupan. Ya'uq sering dikaitkan dengan kesuburan dan kelimpahan hasil pertanian serta keberhasilan dalam perdagangan. Seperti berhala-berhala lainnya, patung Ya'uq dibuat dari batu atau logam dan ditempatkan di tempat-tempat suci.
Kelima : Nasr adalah berhala yang disembah oleh suku Arab, terutama oleh suku Kalb. Nasr dipercayai sebagai dewa yang memberikan keberhasilan dalam peperangan dan kemenangan dalam pertempuran. Berhala ini dipuja oleh para pejuang yang ingin memperoleh kekuatan dan kemenangan dalam pertempuran.
Nasr sering digambarkan sebagai simbol kekuatan militer dan perlindungan dalam peperangan. Patung Nasr biasanya terbuat dari batu dan ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap penting dan sakral.