Kemenag RI 2019:Sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sesungguhnya kamu (apabila tetap berbuat demikian) tentulah serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di (neraka) Jahanam. Prof. Quraish Shihab:Padahal, sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu (umat Islam) dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan dipermainkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sampai mereka membicarakan pembicaraan selainnya. Sesungguhnya apabila (kamu berbuat) demikian, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir semuanya di (neraka) Jahannam. Prof. HAMKA:Dan sesungguhnya Dia telah turunkan kepada kamu dalam Kitab ini, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah, lalu mereka tidak mempercayainya dan mereka mengolok-olokkannya, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan lainnya. Sesungguhnya, pada waktu itu, kamu sudah seumpama mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang yang munafik dan orang-orang yang kafir di dalam Jahannam semuanya.
Kata wa-qad (وَقَدْ) artinya : dan sungguh. Ini adalah bentuk ta’kid atau penegasan. Sesuatu yang lazim dalam ungkapan-ungkapan bahasa Arab, dimana suatu kalimat di awali dengan ungkapan penegasan.
Kata nazzala (نَزَّلَ) artinya : menurunkan. Dalam hal ini pelakunya adalah kata ganti orang ketiga yaitu : Dia dan maksudnya adalah Allah SWT (ضمير مستتر تقدسره هو). Dan sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa bila Allah SWT menggunakan kata nazzala, maka yang dimaksud adalah Al-Quran yang turunnya sedikit demi sedikit dan berulang-ulang. Sebaliknya, jika menggunakan kata anzala maka konotasinya adalah turun sekaligus. Al-Quran yang turun sekaligus itu adalah ketika Lailatul qadar, yaitu dari sisi Allah SWT ke langit dunia. Sedangkan Al-Quran yang turun sedikit demi sedikit adalah yang turun dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW.
Kata ’alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya : kepada kamu. Dhamir kum itu sebenarnya bermakna banyak dan bukan hanya satu. Boleh jadi para mufassir mengatakan bahwa ayatnya turun kepada Nabi Muhammad SAW seorang, tetapi pesannya memang untuk disampaikan kepada umat manusia.
Kata fil-kitab (فِي الْكِتَابِ) oleh kebanyakan mufassir dimaknai sebagai kitab suci Al-Quran. Mengingat siyaq-nya bahwa ayat itu sedang berbicara kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan yang turun kepada Beliau SAW adalah Al-Quran.
Selain itu kalau diperhatikan, bahwa pesan di dalam Al-Quran yang dimaksud adalah surat Al-An’am ayat 67. Ayat ini turun di Mekkah dimana kaum musyrikin Mekkah seringkali mengolok-olok ayat Al-Quran yang turun.
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (QS. Al-An’am : 67).
أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ
Huruf an (أَنْ) artinya : bahwasanya, sedangkan idza (إِذَا) artinya : jika atau apabila. Kata sami’tum (سَمِعْتُمْ) artinya : kamu mendengar. Kata ayatillah (آيَاتِ اللَّهِ) artinya : ayat-ayat Allah, maksudnya ayat-ayat Al-Quran yang sedang dibacakan.
Sesuai dengan konteks turunnya ayat ini yaitu ketika masih di Mekkah, Nabi SAW setiap kali turun ayat dibawa oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalam, maka Beliau SAW sampaikan kepada orang-orang musyrikin Mekkah. Bahkan beberapa ayat atau surat sejak awal sudah menegaskan dengan ungkapan : ‘katakanlah wahai orang-orang kafir’.
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS. Al-Kafirun : 1-6)
Maka orang-orang kafir itu setiap hari ikut juga mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang turun. Kadang bukan hanya Nabi SAW saja yang membacakan ke hadapan mereka ayat-ayat itu, tetapi para shahabat pun ikut juga membacakan ayat Al-Quran di hadapan mereka.
Sebenarnya buat orang-orang musyrikin Mekkah, ayat Al-Quran itu tidak asing lagi buat mereka. Nyaris semua ayat yang turun mereka tahu, karena memang Nabi SAW selalu rutin membacakan ayat-ayat yang turun.
Dan dari satu sisi, sebenarnya orang-orang musyrikin itu sedikit agak menikmati juga ayat-ayat Al-Quran itu. Sebab ayat itu turun dalam bentuk ungkapan sastra Arab yang tinggi nilainya. Di telinga bangsa Arab, untaian ayat-ayat Al-Quran itu begitu indahnya. Terlepas dari kontennya, mereka sebenarnya sangat mengagumi keindahan bahasanya.
Bahkan tokoh-tokoh seperti Al-Walid bin Al-Mughirah, salah satu penyair besar Arab pada masanya, pernah berkata setelah mendengar ayat Al-Qur'an:
"Demi Allah, sesungguhnya di dalamnya ada manisnya, dan di atasnya ada keindahan. Di bawahnya pun penuh buah, dan ia mengalahkan segala sesuatu namun tidak dapat dikalahkan oleh apa pun."
Komentar ini menunjukkan bahwa bahkan para penentang Nabi SAW sekalipun tidak dapat menyangkal keindahan dan kekuatan bahasa Al-Qur'an. Bagi telinga bangsa Arab, untaian ayat-ayat Al-Qur'an terdengar begitu indah. Terlepas dari isi atau kandungannya, mereka sangat mengagumi keindahan bahasanya yang tidak tertandingi.
يُكْفَرُ بِهَا
Kata yukfaru biha (يُكْفَرُ بِهَا) artinya : diingkarinya. Atau tidak mempercayainya.
Disinilah letak dilemmanya orang-orang Arab musyrikin Mekkah kala itu. Di satu sisi, mereka sangat menikmati keindahan sastra dan berbagai ungkapan dalam Al-Quran. Namun di sisi lain, isi dan kontennya habis-habisan menelikung mereka, aqidah mereka dan gaya hidup mereka.
Bahwa mereka suka menyembah patung yang tidak bisa bicara dan tidak memberikan manfaat atau madharat apa-apa. Bahwa mereka malu kalau mendapat anak perempuan, sehingga mereka benamkan anak tak berdosa itu ke dalam tanah. Bahwa mereka mengarang bebas tentang Allah SWT punya anak perempuan yaitu malaikat. Semuanya diungkapkan oleh Al-Quran. Serasa semua aib mereka ditelanjangi oleh Al-Quran.
Maka reaksi mereka jadi macam-macam. Ada sebagian dari mereka yang lama-lama sadar dan paham bahwa isinya itu pada dasarnya memang benar. Namun kebanyakannya ikut trend serta arus utama yang berkembang saat itu, yaitu mengingkarinya. Maka Allah SWT menyebutkan : yukfaru biha(يُكْفَرُ بِهَا) dingkari atau dipungkiri kebenarannya.
Apalagi sebagian dari ayat-ayat yang turun di masa Mekkah itu juga bicara tentang hal-hal yang sejak awal mereka ingkari, seperti adanya hari kiamat dan kehidupan setelah kematian. Mereka 100% menolak mentah-mentah konsep kehidupan pasca kematian. Al-Quran menceritakan penolakan mereka.
Mereka berkata: "Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (QS. Al-Mukminun : 82)
وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا
Kata wa yustahza’u biha (وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا) artinya : diolok-olok, atau seperti terjemahan Prof. Quraish Shihab : dipermainkan.
Karena mereka tidak berhasil menyanggah lewat argumentasi dan logika akal sehat, maka yang paling mudah adalah lewat ejekan, olok-olok, hinaan, cacian, makian, dan mulut kotor.
Salah satu momen dimana orang-orang kafir mengejek Al-Quran adalah ketika Al-Quran membuat perumpamaan yang dianggap rendah dan hina oleh mereka. Bahwa perumpamaan tentang lemahnya hujjah orang kafir yang diibaratkan seperti lemahnya sarang laba-laba.
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut : 41)
Selain itu Allah SWT juga pernah membuat perumpamaan dengan lalat untuk kasus orang yang kafir yang menentang Allah SWT, tidak mampu menciptakan seekor lalat pun. Dan lalat itu kalau sudah merampas makanan dari seseorang tidak bisa direbut kembali.
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. Al-Hajj : 73)
Dua perumpamaan dari Allah SWT itulah yang kemudian mereka hinakan, dengan mengatakan tidak layak Al-Quran yang katanya kitab suci yang mulia turun dari langit, malah mengurusi hewan kecil macam laba-laba dan lalat.
Namun Allah SWT menjawab bahwa membuat perumpamaan dengan nyamuk pun tidak jadi masalah dan tidak harus membuat Allah SWT merasa malu dengan perumpamaan yang dibuatnya.
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. (QS. Al-Baqarah : 26)
Terkadang ejekan-ejekan orang kafir kepada Al-Quran justru berbalik terkena kepada mereka sendiri. Pernah suatu ketika Al-Quran menantang orang-orang Arab, khususnya para pujangga mereka untuk membuat satu surat yang keindahan bahasanya bisa mengungguli Al-Quran. Ini memang tantangan yang sifatnya terbuka dari Al-Quran. Jangan hanya bisa mengejek, tetapi coba ditantang balik, apakah kalian bisa bikin yang lebih indah dari ayat Al-Quran.
Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (AlQur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(QS. Al-Baqarah : 24)
Rupanya pancingan ini berhasil, umpan yang Allah SWT tebarkan itu dimakan oleh mereka. Lalu berembuk lah para pujanga kelas atas untuk membuat surat tandingan. Karena Allah SWT pernah menurunkan surat Al-Fiil yang bermakna Gajah, sehingga mendapatkan begitu banyak decak kagum kaum musyrikin penduduk Mekkah.
Sebab peristiwa Mekkah mau dirobohkan oleh tentara bergajah itu memang fenomenal sekali dan begitu membekas di hati penduduknya. Mereka bangga sekali dengan kejadian datangnya burung Ababil yang membuat pasukan bergajah itu ibarat daun-daun yang termakan ulat.
Maka mereka pun ingin menggubah karya sastra yang kira-kira bisa membonceng kepopuleran surat Al-Fiil itu. Lalu setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya dirilis lah satu surat yang telah mereka kerjakan siang malam. Dan berikut ini adalah teks liriknya :
Wahai kodok! Berkumandanglah seperti engkau berkumandang. Separuhmu di air dan separuhmu di lumpur. Engkau tidak mengeruhkan air, dan tidak pula menghalangi orang yang minum.
Begitu mendengar surat bikinan mereka, justru mereka sendiri yang tertawa terbahak-bahak. Karena ternyata isinya sepenuhnya hanya lawakan saja. Alih-alih mendapatkan tepuk tangan dan decak kagum, semua masyarakat Mekkah yang mendengarnya malah mentertawakan. Sebenarnya mereka menterwakan diri mereka sendiri, karena tidak becus bikin kitab suci.
Mereka menghina Al-Quran karena membuat perumpamaan dengan al-ankabut atau laba-laba dan ba’udhah atau lalat, ternyata mereka sendiri malah bicara tentang dhif’dha’ alias sang kodok. Dan begitu dilihat isinya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan mereka. Semata-mata hanya bicara tentang ‘sang kodok’.
فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ
Kata fala taq’udu (فَلَا تَقْعُدُوا) artinya : maka janganlah kamu duduk. Kata ma’ahum (مَعَهُمْ) artinya : bersama dengan mereka.
Ini adalah perintah yang langsung datang dari Allah SWT. Perintahnya adalah jangan duduk bersama mereka. Artinya, memang bukan melawan atau berdebat. Jangan diladeni dan jangan ditanggapi, tapi tinggal pergi saja.
Sebab semakin kita duduk bersama mereka, akan semakin banyak kita mendengar ejekan-ejekan keluar dari mulut kotor mereka. Dan memang akan terus menerus mengejek tanpa henti. Akan ada begitu banyak lagi ejekan-ejekan mengalir deras. Maka solusinya sederhana sekali, yaitu jangan temani mereka, jangan ladeni, jangan tanggapi juga.
Sebagian ulama memaknai bahwa larangan untuk tidak duduk bersama mereka adalah larangan membacakan ayat-ayat Al-Quran di hadapan mereka. Sebab setiap kali ayat-ayat Al-Quran dibacakan di hadapan mereka, sering kali mereka tidak mau mendengarkan, tetapi malah mengejak dengan berbagai ekspresi. Ada yang berteriak-teriak, atau malah menyanyi-nyayi atau pun bikin kebisingan, sehingga ayat-ayat Al-Quran seperti terhinakan.
Maka berhentilah dari membacakan ayat Al-Quran di hadapan orang-orang yang hanya akan menghinakan al-Quran.
حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ
Kata hatta (حَتَّىٰ) artinya : sehingga, atau sampai batas. Kata yakhudhu (يَخُوضُوا) artinya : mereka memasuki.
Kata fi haditsin (فِي حَدِيثٍ) artinya : dalam pembicaraan, atau bisa juga dimaknai sebagai : tema, topik, pembahasan, atau judul, ruang lingkup.
Kata ghairihi (غَيْرِهِ) artinya : yang lainnya. Maksudnya pembicaraan yang temanya tidak mengejek atau mengolok-olok ayat-ayat Al-Quran.
Pesan Allah SWT adalah jangan duduk bersama mereka, selagi mereka menghina Al-Quran. Tetapi jika mereka sudah pindah ke tema lain yang tidak menghina Al-Quran, maka silahkan duduk bersama meraka. Mungkin perlu bicara bisnis, usaha, dagang, atau pun hal-hal yang sifatnya keduniaan yang lain.
Penggalan ayat ini juga sedikit banyak mengandung pesan, bahwa kita diperintah untuk menghormati Al-Quran. Jangan sampai Al-Quran diposisikan rendah seperti tidak dihiraukan. Dibacakan tetapi tidak ada yang memperhatikan, maka itu juga salah satu bentuk ekpresi yang bersifat merendahkan.
Pilihannya adalah kalau pada mau mendengarkan, maka silahkan bacakan Al-Quran, tetapi kalau tidak mau mendenarkan, sebaiknya jangan dibacakan. Sebab kalau kita paknakan juga, maka kita sendiri lah yang sebenarnya sedang merendahkan Al-Quran, karena Al-Quran dibiarkan begitu saja dikumandangkan tanpa ada yang mendengarkan.
Di beberapa masjid, biasa dilantunkan tilawah Al-Quran oleh imam masjid. Jamaah yang sudah datang terlebih dahulu pun duduk rapi mengisi shaf-shaf terdepan. Lalu sambil menunggu datangnya waktu shalat, imam membacakan ayat-ayat Al-Quran. Maka para jamaah yang hadir mendengarkan bacaan itu.
Cara seperti itu disebut dengan tasmi’ yaitu memperdengarkan ayat-ayat Al-Quran. Ini merupakan salah satu tehnik yang unik. Jamaah tidak usah membaca Al-Quran sendiri-sendiri, cukup mereka menyimak saja. Namun mereka tetap mendapatkan pahala bacaan Al-Quran yang dibacakan oleh imam.
Sebenarnya budaya ini sangat baik, sebab jamaah mendapatkan banyak keutamaan.
§ Pertama, mereka mendapatkan pahala beri’tikaf, yaitu datang dan duduk di masjid sebelum waktunya.
§ Kedua, mereka mendapatkan pahala dari mendengarkan bacaan Al-Quran sang imam.
§ Ketiga, mendengarkan Al-Quran itu juga merupakan bagian dari perilaku Nabi SAW di masa hidupnya. Beliau pernah meminta para shahabat untuk membacakan Al-Quran.
§ Keempat, mereka bisa mendapatkan cara membaca Al-Quran yang benar dari imam mereka.
Namun sayangnya budaya yang sudah bagus ini tidak sepenuhnya tersalurkan dengan benar. Kalau di Mesir ada majelis tasmi’ di berbagai masjid, maka di Indonesia tidak ada tasmi’nya. Walaupun setiap menjelang waktu shalat terdengar kumandang bacaan Al-Quran, tetapi sama sekali tidak termasuk tasmi’, karena hanya diputar rekamannya saja. Tidak ada yang baca dan parahnya lagi juga tidak ada yang duduk mendengarkan.
Yang ada hanya berisik ayat Al-Quran dilantunkan pakai pengeras suara dari menara masjid. Namun karena dianggap sudah seperti itu budayanya, maka dianggap sah-sah saja.
Yang jadi persoalan adalah : apa hukum memutar kaset rekaman bacaan ayat Al-Quran dengan suara keras, padahal tidak ada yang mendengarkan juga? Apakah ini tidak termasuk merendahkan Al-Quran? Bukankah perintahnya adalah : kalau dibacakan ayat-ayat Al-Quran, maka perhatikan dan dengarkan.
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Araf : 204)
Bahkan di masjid-masjid kita ini, begitu petugas menyalakan pengeras dan menyetel suara rekamana bacaan Al-Quran, dia sendiri pun tidak mengengarkan, bahkan malah ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama jamaah. Mari kita renungkan secara perlahan-lahan dan hati-hati, apakah kita sudah memberikan kepada Al-Quran posisi yang mulia dengan cara seperti ini?
إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ
Kata innakum (إِنَّكُمْ) artinya : sesungguhnya kamu. Kata idzan () artinya : jika begitu atau jika tetap menemani mereka dalam majelis yang mengejek ayat-ayat Al-Quran.
Kata mitslahum (إِذًا) artinya : seperti mereka. Maksudnya kamu sama saja juga ikut mengejek dan mengolok-olok Al-Quran.
Penggalan ayat ini menegaskan adanya hubungan sebab akibat yang sangat erat. Kita tidak mau orang kafir mengejek ayat Al-Quran. Maka kita tidak boleh jadi pemicu dari apa yang mereka lakukan. Dan selama kita masih menemani mereka, mereka akan terus mengejek. Maka cara yang paling baik adalah berhenti dari menemani mereka.
Penulis memandang bahwa istilah ‘menemani’ juga punya makna yang luas, bukan sekedar menemani. Tetapi duduk bersama mereka sambil membacakan ayat-ayat Al-Quran, alias mendakwahi mereka. Ketika mereka menerima dakwah dan tidak menentang, silahkan teruskan. Tetapi kalau reaksi mereka negatif, tidak suka, bahkan sudah mulai mengejek dan mengolok-olok ayat Al-Quran, sebaiknya sudahi saja. Toh tidak akan berguna juga. Mereka tidak akan beriman kepada Al-Quran, bahkan malah akan semakin jauh.
Memang awalnya ketika Nabi SAW baru saja diangkat menjadi utusan Allah, Beliau SAW semangat sekali berdakwah, sehingga tidak membedakan mana yang efektif dan tidak efektik. Maka dikisahkan pernah suatu hari, para sahabat Nabi SAW bermusyawarah untuk menentukan siapa yang berani membacakan Al-Quran secara terang-terangan di hadapan kaum musyrikin Mekah, yang saat itu sangat memusuhi Islam. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahuanhu kemudian menawarkan diri meskipun ia menyadari resikonya. Para sahabat lain sempat meragukan keberanian Ibnu Mas'ud karena tubuhnya yang kecil dan lemah, namun ia bersikeras.
Ibnu Mas'ud pun pergi ke dekat Ka'bah dan mulai membacakan surat Ar-Rahman dengan suara lantang. Suara merdunya menarik perhatian orang-orang Quraisy, namun ketika mereka menyadari bahwa yang dibaca adalah Al-Qur'an, mereka segera menyerangnya.
Ibnu Mas'ud dipukuli tanpa ampun oleh kaum musyrikin hingga wajahnya terluka. Namun, meskipun dalam kondisi terluka, beliau tetap melanjutkan membaca Al-Quran. Setelah kembali kepada Rasulullah SAW dan para sahabat, mereka bertanya apakah ia kapok untuk melakukannya lagi. Ibnu Mas'ud menjawab dengan penuh keberanian:
"Demi Allah, aku akan kembali melakukannya lagi besok jika kalian mengizinkan."
Keberanian Ibnu Mas'ud ini menunjukkan betapa kuat imannya dan kecintaannya terhadap Al-Qur'an. Namun tentu saja Nabi SAW dan para shahabat tidak lagi mengizinkan. Apalagi sejak turun ayat ini, kalau mereka tidak terima, ya sudah lah jangan main paksa.
Kata innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : sesungguhnya Allah. Kata jami’ (جَامِعُ) artinya : yang menghimpun. Kata al-munafiqin (الْمُنَافِقِينَ) artinya : orang-orang munafik. Kata wal-kafirin (وَالْكَافِرِينَ) artinya : dan orang-orang kafir.
Kata fi jahannama (فِي جَهَنَّمَ) artinya : dalam neraka jahannam. Kata jami’an (جَمِيعًا) artinya : semuanya atau bersama-sama.
Penggalan yang jadi penutup ini menegaskan bahwa pada akhirnya orang-orang munafikin itu masuk neraka jahannam juga. Bahkan ditegaskan mereka bersama-sama dengan orang-orang kafir. Maksudnya di sisi Allah SWT, sebenarnya mereka kafir tulen, sama sekali tidak ada pengaruhnya penampakan mereka di dunia, yang berpura-pura menjadi kaum muslimin.