Kata wa-bi kufrihim (وَبِكُفْرِهِمْ) artinya : dan disebabkan karena kafirnya mereka.
Kata wa qaulihim ‘ala (وَقَوْلِهِمْ) artinya : dan perkataan mereka terkait. Sebenarnya bukan perkataan, melainkan lebih tepatnya tuduhan. Kata nanti diteruskan dengan ungkapan buhtanan.
Kata maryam (مَرْيَمَ) mengacu kepada wanita mulia, puteri Imran, keponakan dari Nabi Zakaria. Nama wanita ini diabadikan dalam Al-Quran menjadi nama salah satu surat, yaitu surat ke-19 disebut dengan surat Maryam. Ayahanda dari Maryam ini bernama Imran, yang namanya juga diabadikan dalam Al-Quran menjadi nama surat yang ke-3 yaitu surat Ali Imran. Ayah dan puterinya masing-masing jadi nama surat dalam Al-Quran.
Maryam Wanita Mulia
Posisi Maryam adalah wanita suci yang sejak lama ditunggu-tunggu kelahirannya, sampai Imran dan istrinya bernadzar akan menjadikannya abdi dan pelayan Allah di dalam Baitul Maqdis.
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Ali Imran : 35)
Namun karena yang lahir ternyata bayi perempuan, maka jadilah Maryam wanita pertama yang menjadi pelayan di rumah Allah dari jenis kelamin perempuan.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Maka tatkala isteri ´Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk". (QS. Ai Imran : 36)
Maryam Punya Karamah
Kalau kejadian luar biasa yang terjadi pada diri nabi dan rasul disebut dengan mukjizat, maka kepada orang-orang mulia dan shalih waliyullah, namanya karamah. Dan pada diri Maryam terjadi banyak kejadian langka, yang bahkan Nabi Zakaria sendiri sebagai seorang nabi, heran menyaksikan banyak kejadian dan karamah pada diri Maryam.
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
Maryam Wanita Terpilih
Maryam adalah wanita yang Allah SWT sebut sebagai wanita pilihan. Bahkan didatangi oleh malaikat sekelas Malaikat Jibril alaihissalam. Padahal biasanya Jibril tidak mendatangi manusia kecuali dia adalah nabi utusan Allah.
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Uniknya lagi, Maryam mendapatkan perintah dari Allah SWT lewat malaikat Jibril alaihissalam.
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku´lah bersama orang-orang yang ruku´.
Pendapat Bahwa Maryam Adalah Nabi
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari[1] bahwa telah dinukil dari Al-Asy’ari bahwa di kalangan perempuan terdapat beberapa nabi wanita.
Ibn Hazm kemudian membatasi mereka pada enam orang: Hawa, Sarah, Hajar, ibu Musa, Asiyah, dan Maryam.
Ibnu Hajar juga mendahului perkataannya ini dengan menyebutkan bahwa Abu Ubaidah berpendapat berdasarkan firman Allah sebagai bukti bahwa Maryam adalah seorang nabiyyah
"Sesungguhnya Allah telah memilihmu..." (QS Ali Imran: 42)
Ketika membahas ayat 42 dari surat Ali Imran ini, Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[2] menyebutkan bahwa Maryam adalah seorang nabi perempuan.
وَالصَّحِيحُ أَنَّ مَرْيَمَ نَبِيَّةٌ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيْهَا بِوَاسِطَةِ الْمَلَكِ كَمَا أَوْحَى إِلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ حَسْبَ مَا تَقَدَّمَ
Dan yang benar adalah bahwa Maryam adalah seorang nabi perempuan, karena Allah SWT telah menurunkan wahyu kepadanya melalui perantaraan malaikat, sebagaimana Dia mewahyukan kepada para nabi lainnya.
Jumhur Ulama Menolak Adanya Nabi Wanita
Jumhur ulama khusunya mazhab ahlussunnah wal jamaah tidak menerima konsep nabi perempuan. Mereka mengatakan bahwa Al-Quran sendiri yang secara langsung menegaskan bahwa nabi itu hanya dari kalangan laki-laki saja.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. (QS. Yusuf : 109)
Kata buhtanan (بُهْتَانًا) artinya : tuduhan. Kata azhima (عَظِيمًا) artinya : yang besar.
Kata ini diterjemahkan dengan kedusataan yang besar lagi tidak masuk akal. Terambil dari kata bahata (بهت), yang maknanya mengherankan. Tuduhan atau ucapan yang tidak benar sering kali menjadikan yang dituduh atau orang yang mendengarnya terheran-heran, karena bagaimana mungkin si penuduh begitu berani dan tega mengucapkannya. Maryam yang dikenal sebagai manusia suci, hidup di biara, memiliki aneka keistimewaan ruhani sejak kecilnya, diperlihara dan dididik oleh seorang nabi suci yaitu Nabi Zakariyya.
Bagaimana mungkin dituduh sebagai wanita yang melakukan perbuatan keji, yakni berzina? Sungguh, ucapan ini adalah buhtan, kebohongan keji yang sangat tidak masuk akal.
Islam Yahudi dan Kristen Terkait Maryam
Islam dan Al-Quran 100% memposisikan Maryam sebagai wanita yang teramat mulia, sampai ada sebagian ulama yang menganggapnya seperti nabi. Sementara 180 derajatnya kebalikannya dengan orang-orang Yahudi. Mereka sangat benci kepada Maryam. Wanita suci dan mulia itu dijatuhkan tuduhan yang amat keji, yaitu sebagai wanita pelacur yang melahirkan anak haram.
Beberapa teks dalam tradisi Yahudi, terutama Talmud Babilonia menyebutkan tuduhan bahwa Nabi Isa atau Yesus adalah anak dari hubungan terlarang antara Maryam dan seorang pria bernama Pandera. Dalam kitab Talmud Sanhedrin 106a, Maryam disebut sebagai wanita yang memiliki hubungan tidak sah.
Tuduhan ini bermotif politis dan teologis. Orang-orang Yahudi yang menentang Nabi Isa tidak dapat menerima klaimnya sebagai utusan Allah atau sebagai Mesias yang dijanjikan. Oleh karena itu, mereka mencari cara untuk merusak reputasinya dengan menyerang asal-usul dan kehormatan ibunya.
Lain Islam, lain Yahudi, maka lain pula Kristen. Tentu Kristen membela Maryam, tetapi pembelaannya justru melewati batas. Dalam tradisi Kristen, Maryam dihormati sebagai Theotokos (Ibu Tuhan) dan dipandang sebagai wanita suci yang melahirkan Yesus melalui mukjizat.
Dalam tradisi Katolik dan Ortodoks, Maria dihormati melalui berbagai doa seperti "Ave Maria" dan "Doa Rosario", serta diadakan festival-festival yang merayakan kehidupannya. Penghormatan ini tidak sampai pada tingkat penyembahan, yang hanya diperuntukkan bagi Tuhan saja (Allah). Dalam teologi Katolik, ada perbedaan antara penghormatan (veneration) dan penyembahan (adoration). Penyembahan hanya diberikan kepada Allah, sedangkan Maria dihormati sebagai ibu yang dipilih oleh Tuhan.
Beberapa gereja Kristen, seperti Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur, memiliki doktrin yang mengajarkan tentang Maria sebagai Perawan Abadi (Ever-Virgin) dan Bunda Gereja. Namun, mereka tidak menganggap Maria sebagai Tuhan atau menyembahnya. Maria dianggap sebagai contoh teladan bagi umat Kristiani dalam ketaatan dan kesucian.
Beberapa denominasi Kristen Protestan menentang penghormatan berlebihan terhadap Maria, menganggapnya sebagai tindakan yang mengarah pada penyembahan berhala. Mereka lebih menekankan bahwa hanya Yesus Kristus yang layak disembah dan dihormati.