Kemenag RI 2019:Allah lebih tahu (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi pelindung dan cukuplah Allah menjadi penolong (kamu). Prof. Quraish Shihab:
Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang para musuh kamu. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung dan cukuplah .Allah sebagai Penolong.
Prof. HAMKA:Dan Allah lebih mengetahui siapa musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi Pelindung, dan cukuplah Allah menjadi Penolong.
Ayat ke-45 ini menegaskan bahwa Allah SWT lebih mengenal siapa yang jadi musuh Nabi SAW dan kaum muslimin di masa itu. Tentu bila dikatakan musuh, maksudnya mereka adalah orang-orang yang saat itu sedang dalam posisi bermusuhan, atau setidaknya memusuhi Nabi SAW.
Sementara Nabi SAW sendiri tidak diutus untuk memusuhi siapapun, tidak itu bangsa Arab dan tidak juga Bani Israil. Sebab seorang nabi itu diutus pada dasarnya untuk menjadi rahmat bagi semua pemeluk agama.
Lalu kalau tiba-tiba Allah SWT menyebut suatu kaum itu musuh, tentu harus dipahami bahwa permusuhan itu sifatnya tergantung tempat, waktu, periode, kasus dan tokoh-tokoh tertentu saja. Sifatnya tidak untuk selamanya. Bukan nyaris semua shahabat itu dulunya adalah orang kafir, lalu mereka satu per satu masuk Islam. Sebagian dari mereka ada yang sempat jadi musuh, dalam arti turun ke medan peperangan yang sesungguhnya, angkat senjata dan membunuh banyak shahabat. Tetapi atas kehendak Allah SWT, banyak dari mereka yang kemudian mendapat hidayah dan karuia. Mereka masuk Islam dan akhirnya jadi pejuang Islam sejati.
Tentu saja ketika sudah masuk Islam, mereka tidak lagi disebut sebagai musuh. Memang pernah jadi musuh, tetapi di lain waktu, justru sudah jadi pendukung setia.
Maka pada saat ketika masih jadi musuh, Allah SWT pun tidak lantas memerintahkan kepada nabi-Nya untuk membunuh, memerangi, membinasakan apalagi membungi-hangus. Allah SWT hanya mengatakan cukuplah Allah SWT yang jadi wali dan penolong. Tentang cara dan tekniknya, serahkan semua kepada-Nya. Apakah mereka akan dibumi-hangus dan dilenyapkan, ataukah mereka akan diberi hidayah dan jalan kembali. Semua itu menjadi domain Allah SWT sepenuhnya.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ
Kata wallahu (وَاللَّهُ) artinya : Dan Allah. Kata a’lamu (أَعْلَمُ) artinya : lebih mengetahui. Kata bi-a’da-ikum (بِأَعْدَائِكُمْ) artinya : atas musuh-musuh kamu.
Ini merupakan tasliyah atau upaya Allah SWT untuk membesarkan hati Nabi Muhammad SAW ketika berkecil hati dalam menghadapi orang-orang yang memusuhinya. Ketidaksukaan mereka kepada Nabi SAW memang seringkali membuat ciut hati Beliau SAW. Kadang ada rasa kecewa dan rasa gagal dalam mengemban tugas dan amanah dari Allah SWT.
Maka Allah SWT sebagai Tuhan yang telah membebankan amanah dakwah pun tahu, bahwa utusannya terkadang dirundung rasa sedih dan merasa tidak punya harga diri, ketika diperlakukan dengan sebegitu semena-mena. Mereka yang seharusnya bersyukur karena telah mendapatkan anugerah didatangkan kepada mereka seorang nabi, setelah wahyu samawi sempat terputus ratusan tahun lamanya, bukannya bersyukur dan berbahagia menyambut risalahnya, tetapi malah berlaku kurang ajar, membangkang, tidak tahu diri, sampai memerangi dakwahnya. Kita bisa bayangkan betapa Nabi SAW sakit hati diperlakukan dengan sedemikian kasar. Datang untuk menolong, yang ditolong malah mau membunuh.
Dalam kondisi seperti itulah Allah SWT seringkali menghibur dan membesarkan hati sang Nabi SAW. Ketika Allah SWT menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui keadaan musuh-musuh Nabi SAW, maka itu artinya seperti berkata : “Serahkan semua urusan mereka kepada-Ku, biar Aku yang urus mereka satu per satu. Kamu tenang-tenang saja dan tetap jalankan misi utama”.
Lafazh artinya : dan cukuplah. Kata billahi waliyya (بِاللَّهِ وَلِيًّا) diterjemahkan menjadi Allah SWT yang menjadi pelindung. Lafazh wa-kafa (وَكَفَىٰ) artinya : dan cukuplah. Kata billahi waliyya (بِاللَّهِ نَصِيرًا) diterjemahkan menjadi Allah SWT yang menjadi penolong.
Terulangnya kata wa-kafa (وَكَفَىٰ) artinya bahwa memang benar-benar cukup tidak perlu ada bantuan lain. Kata cukup ini artinya merupakan isyarat bahwa Nabi SAW tidak usah risau bahkan tidak usah sibuk memikirkan bagaimana menghadapi mereka. Seolah-olah Allah SWT menghandle semua hal yang terkait dengan mereka. Biar Allah SWT yang menjadi wali sekaligus Allah SWT juga yang menjadi penolong.
Lantas apa perbedaan antara wali dan penolong?
Pada dasarnya keduanya sama saja, namun ada sedikit perbedaan karakter antara keduanya. Kalau disebut wali, maka posisinya seperti orang tua, yang nalurinya ingin melindungi, menjaga, memelihara, serta merawat. Sedangkan istilah nashira itu diterjemahkan sebagai penolong, nampaknya lebih cenderung pada penjagaan seperti halnya pengawal, tentara dan guardian.
Maka duet karakter wali dan nashir itu ibaratnya perlindungan luar dalam. Ke dalam Allah SWT menjadi wali yang sifatnya ramah, mengayomi dan melindungi, sedangkan keluar yaitu kepada musuh, Allah SWT itu menjadi nashir alias menjadi pengawal atau tentara yang setiap saat bisa menggebuk musuh.