Lafazh a-lam tara (أَلَمْ تَرَ) artinya : tidakkah kamu melihat. Asalnya dari (رَأَى – يَرَى) dan bentuk mashdar-nya adalah ru’yah (رُؤْيَة). Namun kata ru’yah ini punya banyak makna. Kadang bermakna penglihatan secara fisik dengan mata, sebagaimana yang dimaksud dengan istilah ru’yatul hilal (رُؤْيَةُ الهِلاَل), dimana kita mencari penampakan hilal di awal bulan secara kasat mata.
Kadang ru’yah (رُؤْيَة) juga bisa bermakna penglihatan di dalam tidur alias mimpi. Contohnya sebagaimana yang tertuang pada ayat berikut :
إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. (QS. Ash-Shaffat : 102)
Itu adalah mimpi yang dialami Nabi Ibrahim alaihissalam ketika mendapat perintah untuk menyembelih anaknya yang bernama Ismail.
Dan terkadang istilah ru’yah (رُؤْيَة) juga bisa bermakna pemikiran, pendapat, cara pandang, sebagaimana penggalan berikutnya dari penggalan ayat di atas :
فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
Maka fikirkanlah apa pendapatmu. (QS. Ash-Shaffat : 102)
Menurut hemat Penulis, makna ru’yah (رُؤْيَة) di ayat ini nampaknya lebih tepat kalau diartikan hasil pemikiran. Sehingga kalau mau diterjemahkan yang sifatnya lebih presisi secara bahasa menjadi : “Tidak kah kamu merenungkan”.
Kata yuzakkuna (يُزَكُّونَ) berasal dari akar kata (زكى) yang berarti suci, bersih atau murni. Kata ini berbentuk fi'il mudhari' dan merupakan turunan dari bentuk dasar (يَزْكُو ) yang artinya : Dia menyucikan. Kata kerja ini disebut mazid yaitu kata kerja yang ditambahkan mengikuti pola wazan (فَعَّلَ يُفَعِّلُ) untuk menunjukkan intensitas, sehingga maknanya berubah menjadi : menyucikan dengan sungguh-sungguh atau menganggap diri suci.
Kata anfusa-hum (أَنْفُسَهُمْ) merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya nasf (نَفْس) yang artinya : diri-diri mereka sendiri.
Dalam konteks ayat ini, makna (يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ) bukan ‘mensucikan diri’و tetapi: ‘menganggap diri suci’ atau mengaku-ngaku suci, dalam artinya merasa tidak punya dosa, dan mengangkat diri jadi orang suci, padahal faktanya justru bertolak belarang 180 derajat.
Di ayat sebelum ini Allah SWT mengancam kaum Yahudi untuk tidak mengampuni mereka dengan firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya" (QS. An-Nisa: 48)
Sebagian dari mereka ada yang takut ancaman itu dan segera masuk Islam dan menjadi shahabat yang mulia, antara lain Ka’ab Al-Ahbar dan Abdullah bin Salam.
Namun kebanyakan dari orang-orang Yahudi Madinah justru melawan dan membangkang ketika diancam tidak akan diampuni. Mereka malah menjawab dengan seenaknya dengan mengatakan, "Kami bukan termasuk orang-orang musyrik, justru kami adalah orang-orang istimewa di sisi Allah SWT”.
Mereka malah merasa diri mereka suci, umat yang spesial dn jadi edisi khusus Allah. Al-Quran mengkonfirmasi apa yang mereka bangga-banggakan itu dengan menceritakan bahwa salah satu trik dan modus yang sering mereka lakukan adalah mengaku-ngaku sebagai anak Allah yang paling dicintai.
نَحْنُ أبْناءُ اللَّهِ وأحِبّاؤُهُ
Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. (QS. Al-Ma'idah: 18).
Karena merasa jadi anak kesayangan, maka mereka juga meng-klaim bahwa mereka dijamin tidak akan masuk neraka. Ayat lain dalam Al-Quran kemudian mengkonfirmasi apa yang mereka katakan :
لَنْ تَمَسَّنا النّارُ إلّا أيّامًا مَعْدُودَةً
Tidak akan menyentuh kami api neraka kecuali beberapa hari saja. (QS. Al-Baqarah: 80).
Bahkan klaim-klaim ngawur mereka semakin menjadi-jadi dengan mengatakan bahwa yang bisa masuk surga hanya mereka saja. Sedangkan kaum selain mereka, semua masuk neraka.
لَنْ يَدْخُلَ الجَنَّةَ إلّا مَن كانَ هُودًا أوْ نَصارى
Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.(QS. Al-Baqarah : 111)
Mereka juga membangga-banggakan nasab dan garis keturunan dari leluhur mereka dengan berkata,"Sesungguhnya nenek moyang kami adalah para nabi, sehingga mereka akan memberi syafa’at kepada kami."
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi SAW membawa anak-anak mereka dan berkata: "Wahai Muhammad, apakah anak-anak ini memiliki dosa?" Beliau menjawab: "Tidak." Mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak berbeda dengan mereka; apa yang kami lakukan di malam hari dihapuskan pada siang hari, dan apa yang kami lakukan di siang hari dihapuskan pada malam hari."
Al-Aufi menukil dari Ibnu Abbas yang mengatakan mereka yang mengangkat diri jadi orang suci padahal tidak adalah kalangan orang-orang Yahudi di Madinah. Al-Kalbi menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang Yahudi yang datang kepada Nabi SAW membawa anak-anak mereka. Mereka berkata: "Wahai Muhammad, apakah anak-anak kami ini memiliki dosa?" Beliau menjawab: "Tidak."
Mereka berkata: "Demi Tuhan yang menjadi tempat bersumpah, kami pun seperti mereka; tidak ada dosa yang kami lakukan pada siang hari kecuali dihapuskan pada malam hari, dan tidak ada dosa yang kami lakukan pada malam hari kecuali dihapuskan pada siang hari.
Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata sebagaimana yang tertuang dalam Al-Quran.
نَحْنُ أبْناءُ اللَّهِ وأحِبّاؤُهُ
"Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya"
Serta berkata:
"Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.” (QS. Al-Maidah : 18)
Maka jika kita gabungkan penggalan ini dengan penggalan sebelumnya menjadi (أَلَم تَرَ إِلَى ٱلَّذِینَ یُزَكُّونَ أَنفُسَهُم), maka maksudnya menjadi :
“Lihatlah mereka dan heranilah pengakuan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang suci di hadapan Allah, padahal mereka berada dalam kekufuran dan dosa yang besar!”
Termasuk bagian dari klaim mereka bahwa Allah SWT mereka yakini pasti akan menghapus dosa-dosa mereka, baik yang dilakukan pada malam maupun siang hari. Padahal mustahil bagi seorang kafir untuk diampuni sedikitpun dari kekufuran atau maksiatnya.
Terlapas dari asbabun-nuzulnya, banyak dari ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dasar larangan untuk memuji-muji diri sendiri, bahkan termasuk juga larangan memuji-muji orang lain.
Lafazh bal (بَلِ) adalah (حرف جواب لِلنَّفيِ) yaitu kata jawab untuk penolakan yang berarti : tetapi atau bahkan. Posisinya mabniyyun alas-sukun yaitu dibangun di atas sukun dan tidak memiliki tempat dalam i'rab. Dalam bahasa Nahwu dikatakan : (مبني على السكون لا محل له من الإعراب)
Lafazh Allah (اللَّهُ) adalah mubtada atau subjek yang marfu' dengan tanda rafa'nya berupa dhammah yang tampak di akhir katanya (مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره).
Kata yuzakki (يُزَكِّي) adalah kata kerja dalam bentuk fi'il mudhari' yang marfu', dimana tanda rafa'-nya berupa dhammah muqaddarah pada huruf ya, karena dihalangi dari tampak oleh huruf berat (ضمة مقدرة على الياء منع من ظهورها الثقل). Sedangkan pelakunya atau fa'il-nya adalah dhomir mustatir atau kata ganti yang tersembunyi, yaitu : Allah.
Ungkapan Allahu yuzakki (اللَّهُ يُزَكِّي) berarti Allah SWT memberikan kehormatan dan rekomendasinya. Penekanannya bahwa yang berhak untuk melakukannya hanya Allah SWT saja.
Kata man yasya’ (مَنْ يَشَاءُ) artinya : orang yang Dia kehendaki. Kedudukannya dalam Nahwu menjadi isim maushul atau kata sambung yang dibangun di atas sukun berstatus nashab dan peranannya menjadi objek alias maf'ul-bih. ( اسم موصول مبني على السكون في محل نصب مفعول به)
Urusan penyucian dan pembersihan jiwa hanya ada di tangan Allah, Dialah yang menyucikan siapa pun yang Dia kehendaki, dan hanya orang-orang yang disucikan oleh Allah yang benar-benar suci.