Kemenag RI 2019:Sungguh, jika kamu mendapat karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia, “Aduhai, sekiranya aku dahulu bersama mereka, tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung (pula).” Prof. Quraish Shihab:Dan jika kamu benar-benar memperoleh karunia dari Allah, tentulah dia menginginkan, seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang di antara kamu dengan dia: “Aduhai, kiranya aku (dahulu) ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapatkan kemenangan yang sangat besar.” Prof. HAMKA:Akan tetapi, jika kamu mendapatkan suatu kurnia dari Allah, dia akan berkata seolah-olah tidak ada hubungan di antara kamu dan mereka. “Alangkah baiknya jika aku ada bersama mereka, tentu aku pun akan memperoleh keuntungan yang besar.”
Ayat ke-73 ini merupakan kecaman, sekaligus menggambarkan sikap aneh dari orang-orang munafik. Pada saat orang yang beriman gagal, mereka bersyukur, dan pada saat kaum mukminin berhasil, mereka sedih. Ketika itu, mereka mengucapkan kata-kata yang sebenarnya sungguh aneh. Keadaan mereka dan ucapan itu sama dengan ucapan orang yang tidak pernah ada hubungan pergaulan-yang semestinya akrab, harmonis, dan penuh kasih sayang dengan orang-orang yang beriman.
وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ
Kata wa-la-in (وَلَئِنْ) artinya : “dan jika benar-benar”. Kata ashaba-kum (أَصَابَكُمْ) artinya : menimpa kamu. Kata fadhlun (فَضْلٌ) artinya : karunia. Kata minallah (مِنَ اللَّهِ) artinya : dari Allah.
Yang dimaksud dengan karunia dari Allah SWT pada ayat ini tentunya sebagai pembanding dari ayat sebelumnya atau lawan dari kata musibah.
Kalau musibah yang diderita kaum muslimin itu artinya adalah kekalahan dalam perang dan jatuhnya banyak korban yang gugur sebagai syuhada, maka karunia di ayat ini tentunya adalah kemenagan-kemenangan dalam peperangan serta harta rampasan perang alias ghanimah yang berlimpah dan menjadi sumber pemasukan dan kekayaan.
...
Ayat ke-73 ini merupakan kecaman, sekaligus menggambarkan sikap aneh dari orang-orang munafik. Pada saat orang yang beriman gagal, mereka bersyukur, dan pada saat kaum mukminin berhasil, mereka sedih. Ketika itu, mereka mengucapkan kata-kata yang sebenarnya sungguh aneh. Keadaan mereka dan ucapan itu sama dengan ucapan orang yang tidak pernah ada hubungan pergaulan-yang semestinya akrab, harmonis, dan penuh kasih sayang dengan orang-orang yang beriman.
Kata la-yaqulan-na (لَيَقُولَنَّ) artinya : dia pasti akan berkata. Kata ka-an-lam takun (كَأَنْ لَمْ تَكُنْ) artinya : seolah-olah tidak ada hubungan. Kata bainakum (بَيْنَكُمْ) artinya : di antara kamu, yaitu Nabi Muhammad SAW dan para shahabat. Kata wa bainahu (وَبَيْنَهُ) artinya : dan antara dia, yaitu orang munafik. Kata mawaddatun (مَوَدَّةٌ) artinya : kasih sayang.
Banyak mufassir termasuk diantara Al-Alusy dan juga Fakhruddin Ar-Razi yang menjelaskan bahwa penggalan (كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ) merupakan sisipan yang masuk di tengah-tengah kalimat. Kalimat aslinya adalah :
لَيَقُولَنَّ [-]يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ
Mereka pasti berkata : Alangkah baiknya jika Aku bersama mereka.
وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ
Kata wa-la-in (وَلَئِنْ) artinya : “dan jika benar-benar”. Kata ashaba-kum (أَصَابَكُمْ) artinya : menimpa kamu. Kata fadhlun (فَضْلٌ) artinya : karunia. Kata minallah (مِنَ اللَّهِ) artinya : dari Allah.
Yang dimaksud dengan karunia dari Allah SWT pada ayat ini tentunya sebagai pembanding dari ayat sebelumnya atau lawan dari kata musibah.
Kalau musibah yang diderita kaum muslimin itu artinya adalah kekalahan dalam perang dan jatuhnya banyak korban yang gugur sebagai syuhada, maka karunia di ayat ini tentunya adalah kemenagan-kemenangan dalam peperangan serta harta rampasan perang alias ghanimah yang berlimpah dan menjadi sumber pemasukan dan kekayaan.
Kata ya laitani (يَا لَيْتَنِي) artinya : alangkah baiknya. Kata kuntu ma’ahum (كُنْتُ مَعَهُمْ) artinya : aku ada bersama mereka. Kata fa-afuza (فَوْزًا) artinya : tentu aku memenangkan. Kata fauzan (فَوْزًا) artinya : kemenangan. Kata azhima (عَظِيمًا) artinya : yang sangat besar.”
Utuhnya penggalan ini bisa kita pahami bahwa orang-orang munafik itu menyesal juga ketika kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan dapat banyak ghanimah.
Disitulah mereka berkata menyesali : “"Wahai, kiranya aku ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapat kemenangan yang besar”.
Kata la-yaqulan-na (لَيَقُولَنَّ) artinya : dia pasti akan berkata. Kata ka-an-lam takun (كَأَنْ لَمْ تَكُنْ) artinya : seolah-olah tidak ada hubungan. Kata bainakum (بَيْنَكُمْ) artinya : di antara kamu, yaitu Nabi Muhammad SAW dan para shahabat. Kata wa bainahu (وَبَيْنَهُ) artinya : dan antara dia, yaitu orang munafik. Kata mawaddatun (مَوَدَّةٌ) artinya : kasih sayang.
Banyak mufassir termasuk diantara Al-Alusy dan juga Fakhruddin Ar-Razi yang menjelaskan bahwa penggalan (كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ) merupakan sisipan yang masuk di tengah-tengah kalimat. Kalimat aslinya adalah :
لَيَقُولَنَّ [-]يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ
Mereka pasti berkata : Alangkah baiknya jika Aku bersama mereka.
Kata ya laitani (يَا لَيْتَنِي) artinya : alangkah baiknya. Kata kuntu ma’ahum (كُنْتُ مَعَهُمْ) artinya : aku ada bersama mereka. Kata fa-afuza (فَوْزًا) artinya : tentu aku memenangkan. Kata fauzan (فَوْزًا) artinya : kemenangan. Kata azhima (عَظِيمًا) artinya : yang sangat besar.”
Utuhnya penggalan ini bisa kita pahami bahwa orang-orang munafik itu menyesal juga ketika kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan dapat banyak ghanimah.
Disitulah mereka berkata menyesali : “"Wahai, kiranya aku ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapat kemenangan yang besar”.