Kemenag RI 2019:Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi. Prof. Quraish Shihab:Apa saja nikmat yang engkau peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami telah mengutusmu (Nabi Muhammad saw.) menjadi rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah menjadi Saksi.
Prof. HAMKA:Apa saja kebaikan yang menimpamu adalah dari Allah, dan apa saja kesulitan yang menimpa kamu adalah dari dirimu sendiri. Kami telah mengutus rasul kepada manusia, dan cukuplah Allah sebagai Penyaksi.
Allah melalui perintah dan larangan-Nya menganjurkan agar manusia mencapai kebaikan dan meraih nikmat-Nya. Karena itu, ditegaskan bahwa setiap nikmat yang diperoleh oleh Muhammad dan semua manusia berasal dari Allah. Dialah yang menganugerahkan kebaikan, sementara setiap bencana yang menimpa adalah akibat dari kesalahan manusia sendiri. Allah mengutus Rasul-Nya hanya sebagai pembawa pesan untuk menyampaikan tuntunan-tuntunan-Nya kepada seluruh umat manusia di mana pun berada, dan bukan sebagai penentu baik atau buruk suatu kejadian. Maka, jika terjadi bencana atau keburukan pada masa Nabi, hal itu tidak membuktikan bahwa beliau bukanlah rasul. Allah sebagai saksi sudah cukup untuk meneguhkan kebenaran kerasulan beliau.
Secara redaksional, ayat ini ditujukan kepada Rasul SAW, tetapi sebenarnya kandungan ayat ini diperuntukkan bagi mereka yang menyangka bahwa keburukan bersumber dari Nabi atau disebabkan oleh kesialan yang menyertainya. Karena mereka hampir tidak memahami pembicaraan ini, sangat wajar jika penjelasan tersebut ditujukan kepada Nabi, meski secara tersirat merupakan bantahan terhadap pandangan mereka. Penjelasan yang ditujukan kepada Nabi ini juga menjadi bukti bahwa meskipun beliau memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan Allah dan ketakwaannya kuat, beliau tetap tidak luput dari ketetapan sunnatullah dan takdir-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak membedakan siapa pun dalam penerapan sunnatullah.
Pada ayat 78, orang-orang munafik menyatakan bahwa kebaikan berasal dari Allah, sementara keburukan berasal dari Nabi Muhammad SAW. Mereka menggunakan kata ‘inda (di sisi) untuk menyamakan Allah dan Rasul dalam hal menjadi sebab, walaupun membedakan dari sisi baik dan buruk. Namun, dalam bantahan pada ayat 79 ini, kata ‘inda tidak digunakan lagi, menunjukkan bahwa kehadiran kebajikan berasal dari Allah, sedangkan awal terjadinya kejahatan berasal dari manusia sendiri. Allah sejak awal menghendaki kebaikan, dan jika manusia berusaha menggapainya, insya Allah itu akan terwujud. Sebaliknya, manusia bertanggung jawab atas kesalahan dan kekeliruannya yang menyebabkan terjadinya kejahatan.
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Kata maa ashabaka (مَا أَصَابَكَ) artinya : apa yang menimpa kamu. Kata min hasanatin (مِنْ حَسَنَةٍ) artinya : dari kebaikan. Kata faminallah (فَمِنَ اللَّهِ) artinya : maka itu dari Allah.
Sebenarnya apa yang tertuang di dalam ayat ini tidak ada bedanya dengan apa yang tertuang dalam ayat sebelumnya, yaitu bahwa semua kebaikan asalnya Allah, sedangkan apa yang buruk itu datangnya dari diri kita sendiri.
Bedanya dengan yang di ayat sebelumnya, pernyataan itu diucapkan oleh kalangan munafikin, sedangkan di ayat ini, pernyataan ini diucapkan dari Allah SWT.
Beda lainnya adalah dalam penggunaan kata. Ketika menceritakan tentang orang-orang munafik, Allah SWT menyisipan kata yaquluu (يقولوا) yang artinya : mereka berkata. Kemudian menggunakan kata min indillah (من عند الله) dan min indika (من عندك). Sedangkan di ayat ini Allah SWT yang langsung menyatakan, bukan perkataan orang-orang munafik. Dan Allah menggunakan kata minallah (من الله) dan min nafsika (من نفسك) tanpa menyebutkan kata min indi (من عند).
Lantas apa bedanya?
Bedanya bahwa di ayat sebelumnya, terjadi perbedaan antara apa yang dikatakan oleh orang-orang munafikin dengan apa yang ada di hati mereka. Seolah-olah apa yang mereka katakan itu hanya manis di bibir saja. Bukan sesuatu yang benar-benar datang dari hati mereka sendiri.
Maka di ayat ini kemudian Allah SWT menyatakan bahwa apa yang secara pura-pura diucapkan oleh orang-orang munafik, justru itu sudah sangat benar. Tinggal orang munafik saja yang tidak beres dalam isi hatinya.
وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
Kata wa ma ashabaka (وَمَا أَصَابَكَ) artinya : sedangkan apa yang menimpa kamu. . Kata min sayyiatin (مِنْ سَيِّئَةٍ) artinya :) artinya : dari kebaikan. Kata faminallah (فَمِنَ اللَّهِ) artinya : maka itu dari Allah.
Allah SWT membenarkan bahwa apapun keburukan atau bencana yang menimpa, maka itu disebabkan oleh kesalahan dirimu sendiri. Meskipun tetap saja semua itu masih bagian dari skenario Allah SWT. Namun penggalan ini nampaknya ingin menegaskan bahwa Allah SWT itu tidak secara tiba-tiba memberi musibah yang sifatnya random. Semua musibah itu ada faktor manusianya.
وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا
Kata wa arsalnaka (وَأَرْسَلْنَاكَ) artinya : dan Kami mengutus engkau, yaitu maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW. Kata linnasi (لِلنَّاسِ) artinya : kepada umat manusia, bukan hanya kepada bangsa Arab saja. Kata rasulan (رَسُولًا) artinya : sebagai rasul.
Ini merupakan penegasan atas keagungan kedudukan Nabi SAW dan posisinya di sisi Tuhannya Yang Mahasuci, setelah sebelumnya menegaskan pembelaan terhadapnya dengan cara yang terbaik. Ayat ini juga merupakan bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa risalah beliau hanya khusus untuk bangsa Arab.
Kata lil-nās (لِلنَّاسِ) bermakna umum mencakup seluruh manusia. Kata ini terkait dengan kata rasūlan yang maknanya sebagai seorang rasul atau utusan resmi yang diajukan untuk menegaskan keumuman, sehingga maknanya menjadi: "Diutus kepada seluruh manusia, bukan hanya kepada sebagian dari mereka, sebagaimana yang mereka sangka."
وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Kata wakafa (وَكَفَىٰ) artinya : dan cukuplah. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : Allah. Kata syahidan (شَهِيدًا) artinya : sebagai saksi.
Ini berarti bahwa cukup hanya Allah SWT saja sebagai saksi atas kerasulanmu, atau atas kebenaran segala yang engkau serukan. Sebab Allah telah menetapkan mukjizat dan menurunkan ayat-ayat yang jelas.
Ada yang menafsirkan maksudnya bahwa Allah menjadi saksi atas hamba-hamba-Nya tentang apa yang mereka kerjakan, baik atau buruk, dan adanya pergantian gaya bahasa (iltifāt) ini bertujuan untuk menambah rasa takut dan kekaguman.