Kemenag RI 2019:Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meskipun kamu berada dalam benteng yang kukuh. Jika mereka (orang-orang munafik) memperoleh suatu kebaikan, mereka berkata, “Ini dari sisi Allah” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka berkata, “Ini dari engkau (Nabi Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Mengapa orang-orang itu hampir tidak memahami pembicaraan? Prof. Quraish Shihab:Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu berada di dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika mereka (orang-orang munafik) memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa bencana, mereka mengatakan: “Ini dari engkau (Nabi Muhammad saw.).” Katakanlah: “Semuanya dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu hampir saja tidak memahami pembicaraan? Prof. HAMKA:Di mana saja kamu berada, kematian akan menemukan kamu, meskipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata, “Ini adalah dari sisi Allah,” tetapi jika mereka ditimpa kesulitan, mereka berkata, “Ini adalah dari sisi engkau.” Katakanlah, “Semua itu dari sisi Allah.” Mengapa kaum itu hampir-hampir tidak memahami perkataan?
Ayat ke-78 ini oleh beberapa kalangan diyakini masih terkait dengan ayat sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya, ada semacam permintaan agar ajal mereka diundur atau diakhirkan dengang ungkapan (لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ), maka di ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa dimana pun kamu berada, maka kematian pasti akan mendapatkan kamu. Bahkan meskipun sudah berupaya menghindarinya, dengan cara masuk ke dalam benteng yang kokoh.
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ
Kata ainama (أَيْنَمَا) artinya : dimanapun. Kata takuunu(تَكُونُوا) artinya : kamu berada. Yang dimaksud dengan kamu disini bisa jadi ada beberapa pihak yang berbeda, sesuai dengan tafsiran para ulama yang ternyata berbeda-beda juga.
Di ayat sebelumnya sudah dijelaskan bahwa yang diajak bicara oleh Allah SWT ada beberapa kemungkinan. Pertama, bisa saja orang muslim para shahabat nabi ridhwanullahi ‘alaihim. Kedua, mereka adalah orang munafikin di Madinah. Ketiga, mereka adalah orang-orang Yahudi.
Kata yudrik-kum (يُدْرِكْكُمُ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, asalnya dari (أدرك - يدرك) dan artinya : mendapatkandalam arti berhasil ketika mengejar. Sedangan dhamir kum (كُمْ) yang menjadi objek atau maf’ul bihi bisa tiga kemungkinannya, yaitu para shahabat, kaum munafikin atau yahudi.
Kata al-mautu (الْمَوْتُ) artinya : kematian. Secara sastra dan kekuatan balaghah, ungkapan ini begitu indah. Sebab kematiandiibaratkan seperti layaknya hewan buas setiap waktu selalu mengejar-ngejar kita. Namun kemanapun kita berlari, pada akhirnya dan ujung-ujungnya semua kita akan berhasil dikejarnya.
Allah SWT di ayat ini menjelaskan bahwa tidak akan ada yang dapat lolos dari kematian. Dan ada beberapa ayat lain yang punya makna senada, antara lain :
Semua yang ada di atasnya fana, sedangkan wajah Tuhanmu akan tetap. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(QS. Ar-Rahman : 26-27)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian (QS. Ali Imran : 185)
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ
Dan tidaklah kami jadikan manusia dari sebelum kamu yang abadi. (QS. Al-Anbiya : 24)
Katakanlah, 'Pelarian tidak akan berguna bagimu jika kamu lari dari kematian atau pembunuhan, dan jika itu terjadi, kamu tidak akan menikmati kehidupan kecuali sebentar saja. (QS. Al-Ahzab: 16)
وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Kata walau (وَلَوْ) artinya : meskipun, bisa juga kita terjemahkan dengan kata walau juga. Sebab kata walau dalam bahasa Arab ini sudah jadi unsur serapan dalam bahasa Indonesia.
Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya : kamu berada di dalam. Kata (بُرُوجٍ) adalah bentuk jamak dari al-burj (البرج) yang dimaknai menjadi benteng.
Sebagian besar ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-buruj adalah benteng-benteng di darat yang dibangun kokoh, karena ini adalah bentuk perlindungan dan pertahanan paling tinggi yang bisa dicapai manusia. Maka, Allah membuat perumpamaan bagi mereka dengan benteng tersebut.
Namun pendapat yang berbeda datang dari Mujahid, Qatadah dan Ibnu Juraij. Keduanya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-buruj adalah istana-istana yang kokoh. Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan: al-buruj adalah benteng-benteng, menara-menara, dan kastil-kastil.
Namun uniknya As-Suddi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-buruj adalah benteng-benteng di langit dunia yang telah dibangun. Beliau berpatokan kepada ayat-ayat lain yang menggunakan kata buruj yang dikaitkan dengan langit.
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ
Demi langityang mempunyai gugusan bintang (QS. Al-Buruj : 1)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), (QS. Al-Hijr : 16)
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (QS. Al-Furqan : 61)
Kata musyayyadah (مُشَيَّدَةٍ) diartikan oleh Kemenag RI dan Buya HAMKA sebagai : kokoh. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : tinggi lagi kokoh.
Az-Zajjaj, Al-Qutabi, Makki, Ibnu Qasim serta Ibnu Arabi mengatakan bahwa makna kata musyayyadah adalah ditinggikan. Sedangkan Ikrimah mengatakan bahwa musyayyadah berarti dihiasi. Lalu Qatadah mengatakan bahwa musyayyadah berarti yang diperkokoh.
Penambahan tasydid di atas huruf ya (يّ) menunjukkan pengertian yang lebih kuat. Orang Arab mengatakan shada al-bunyan (شاد البنيان) yang berarti meninggikan bangunan.
An-Naqqash meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna 'fi burujin mushayyadah' adalah 'di istana-istana dari besi.' Ibnu Athiyyah berkata: “Ini bukanlah makna yang ditunjukkan oleh lafaz secara zahir.”
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata tushib-hum (تُصِبْهُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Asalnya dari kata (أَصَابَ - يُصِيْبُ) yang dalam tiga versi terjemahan dimaknai menjadi : memperoleh.
Sebenarnya kalau diterjemahkan menjadi : memperoleh, itu terjemahan yang terasa agak memaksakan diri. Sebab secara struktur bahasa Arab, posisi para shahabat bukan sebagai pelaku, tetapi sebagai objek. Yang jadi pelakunya adalah kata hasanah. Lalu kata kerjanya adalah tushibu.
Kalau secara harfiyah terjemahannya adalah : kebaikan menimpa mereka, atau mungkin yang lebih tepat : melanda mereka. Maka anggaplah Penulis lebih cenderung memaknai kata tushib-hum (تُصِبْهُمْ) artinya : melanda mereka.
Kata hasanah (حَسَنَةٌ) artinya : kebaikan. Bentuk nyatanya bisa saja berupa kemenangan dari peperangan, atau mendapatkan banyak ghanimah, atau bisa juga masuk Islamnya orang-orang kafir yang dulunya jadi dedengkot musuh Islam. Serta berbagai macam nikmat dan anugerah yang Allah berikan dengan berbagai macam cara. Kata hasanah (حَسَنَةٌ) ini posisinya menjadi pelaku alias fa’il. Sedangkan yang jadi objek atau maf’ul bihi adalah dhamirhum (هم).
Kata yaqulun (يَقُولُوا) artinya : mereka berkata, yaitu orang-orang munafik. Kata hadzihi (هَٰذِهِ) artinya : ini, maksudnya semua kebaikan yang Allah SWT berikan ini. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata indillah(عِنْدِ اللَّهِ) artinya : sisi Allah.
Kalau memperhatikan siyaq penggalan ayat ini, maka sulit bagi kita untuk memungkiri bahwa mereka adalah orang-orang munafik. Karena perilaku semacam ini tentu saja tidak layak dilakukan para shahabat nabi radhiyallahuanhum. Sedangkan untuk orang-orang Yahudi, juga kurang tepat. Sebab mereka tidak berada di bawah perintah Nabi SAW, sehingga kesulitan yang mereka alami tidak bisa disebabkan olehnya.
Maka yang lebih logis bahwa yang dimaksud adalah orang-orang munafik. Perilaku mereka itulah yang pas dan cocok dengan ungkapan ayat ini. Jika kaum muslimin mendapatkan kebaikan, seperti kemenangan atas musuh, atau harta rampasan, atau yang lainnya, maka kalangan munafikin akan mengatakan bahwa semua itu terjadi hanya karena kebetulan saja, bukan karena keberkahan mengikuti dan beriman kepadamu.
Prof. Quraisy Syihab mengutipkan pendapat Asy-Sya'rawi tentang apa yang dimaksud dengan : dari sisi Allah, bahwa janganlah kita hanya menduga bahwa kebaikan adalah apa yang Anda nilai baik, dan keburukan adalah yang tidak Anda senangi. Tidak! Yang dianggap keburukan dalam pandangan agama adalah sesuatu yang tidak mendapat ganjaran. Karena itu, yang baik dan yang buruk, semua dari Allah.
Dapat juga dikatakan bahwa semua dari sisi Allah, dalam arti sesuai dengan ketentuan sunnatullah dan takdir-Nya, yaitu hukum-hukum alam dan kemasyarakatan yang ditetapkan-Nya berlaku untuk semua pihak dan semua kelompok. Itu semua baik, tidak ada satu pun yang buruk. Jika ada yang menilainya buruk, itu hanya dari sudut pandang perorangan atau kelompok dan bersifat sementara. Namun, jika dilihat secara menyeluruh, ia adalah sesuatu yang baik. Seperti titik hitam pada satu lukisan, justru merupakan unsur keindahannya.
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata tushib-hum (تُصِبْهُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Asalnya dari kata (أَصَابَ - يُصِيْبُ) yang dalam tiga versi terjemahan dimaknai menjadi : memperoleh.
Kata sayyiatun (سَيِّئَةٌ) artinya tidak disepakati oleh tiga sumber terjemah kita. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : keburukan, sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : bencana. Lalu Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : kesulitan.
Bentuk nyatanya bisa saja berupakekalahan dalam perang, atau luka-luka. Termasuk juga bila saudara-saudara mereka yang muslim dan masih tertahan di Mekkah dianiaya oleh para pemuka kaum musyrikin.
Kata yaqulun (يَقُولُوا) artinya : mereka berkata, yaitu orang-orang munafik. Kata hadzihi (هَٰذِهِ) artinya : ini, maksudnya semua kebaikan yang Allah SWT berikan ini. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata indika(عِنْدِك) artinya : sisi kamu. Maksudnya semua musibah yang terjadi, gara-gara kesalahan Nabi Muhammad SAW dan para shahabat.
Kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, orang munafik komentari bahwa itu datangnya dari Allah. Namun sebaliknya, jika kaum muslimin tertimpa keburukan, seperti kekalahan, atau kelaparan yang berat, atau kesulitan lainnya, mereka berkata, "Ini disebabkan olehmu karena buruknya keputusanmu,"
Ada juga yang mengatakan, "Ini karena kesialanmu atas kami," sebagaimana dikatakan oleh Az-Zajjaj dan yang lainnya.
Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menukilkan pendapat para ulama tentang makna dan pengertian dua istilah yaitu hasanah dan sayyiah. Menurutnya terdapat tiga penafsiran:
§Pertama: bahwa kata as-sayyiah itu maksudnya kemiskinan dan kata al-hasanah artinya kelapangan.
§Kedua : bahwa al-hasanah artinya kesuburan. Sedangkan as-sayyiah itu artinya kekeringan. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah.
§Ketiga: bahwa al-hasanah itu artinya kemenangan dan kata as-sayyiah itu artinya kekalahan. Ini adalah pendapat Al-Hasan dan Ibnu Zaid.
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Kata kullun (كُلٌّ) artinya semua. Maksudnya adakah itu hasanah atau kebaikan ataupun sayyiah atau keburukan, bencana atau kesulitanو maka semua itu datangnya tentu dari Allah SWT
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata indillah(عِنْدِ اللَّهِ) artinya : sisi Allah.
Penggalan ini adalah penjelasan dari Allah SWT bahwa kebaikan dan keburukan, kemaslahatan dan kemudaratan adalah ciptaan-Nya dan berasal dari-Nya. Tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada pencipta atau pembuat selain Dia.
Maknanya adalah: Katakanlah, wahai Muhammad, kepada mereka: "Perkara ini bukan seperti yang kalian sangka bahwa itu dari sisi diriku atau dari sisi selainku, melainkan semuanya dari sisi Allah."
Qatadah berkata: "Nikmat dan musibah adalah dari sisi Allah." Ibnu Zaid berkata: "Kemenangan dan kekalahan (juga dari sisi-Nya)." Ibnu Abbas berkata: "Keburukan dan kebaikan semuanya dari sisi Allah."
Muhammad Thahir Ibn 'Asyur dalam menafsirkan ayat ini menulis bahwa setiap peristiwa yang terjadi pasti memiliki: a) pihak yang menyebabkan terjadinya; b) sebab-sebab yang mengantarkan terjadinya; dan c) tanda-tanda serta dampak-dampaknya.
Ketiga hal ini tidak mungkin terlepas dari satu peristiwa, baik yang terjadi disengaja, tidak disengaja, terpaksa, maupun atas kehendak seseorang. Allah SWT-lah yang menentukan manfaat dan mudarat dari setiap peristiwa berdasarkan pengetahuan dan takdir/pengaturan-Nya, dan Dia pula yang menciptakan sebab-sebabnya.
Kata fa-maa-li (فَمَالِ) : artinya : maka mengapa. Kata ha-ula-i (هَٰؤُلَاءِ) artinya : mereka. Kata al-qaumi (الْقَوْمِ) artinya : kaum. Yang dimaksud adalah orang-orang munafik di Madinah.
Kata laa yakaaduna (لَا يَكَادُونَ) artinya : hampir atau nyaris. Kata yafqahuna (يَفْقَهُونَ) artinya : memahami. Kata haditsa (حَدِيثًا) artinya : pembicaraan. Orang-orang munafik itu disebut sebagai orang yang nyaris tidak bisa diberi nasehat, karena mereka seperti orang yang tidak bisa memahami perkataan.