Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, hai Ulul Alb?b (orang-orang yang berakal bersih, murni dan cerdas), supaya kamu mendapat keberuntungan.” Prof. HAMKA:Katakanlah: Tidaklah sama barang yang buruk dengan yang baik walaupun engkau tercengang oleh banyaknya yang buruk. Maka, takwalah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai pikiran, supaya kamu beroleh kejayaan.
Ayat ke-100 ini masih dalam rangka menguatkan mental Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi fakta pahit di lapangan, dimana kebaikan itu sepertinya kalah dengan keburukan, karena yang nampak di mata sepertinya lebih banyak yang buruk.
Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.”
قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakan. Ini adalah perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau menyampaikan kebenaran ini dengan jelas dan tegas, sekaligus penegasan bahwa kebenaran harus disuarakan, meskipun bertentangan dengan kebiasaan, budaya, atau selera manusia.
Kata layastawiartinya : tidak sama. Kata ini menegaskan bahwa antara dua hal yang akan disebutkan tidak sebanding, tidak selevel, dan tidak bisa disamakan, baik dari segi hakikat maupun akibatnya.
Kata al-khabitsu (الْخَبِيثُ) artinya : yang buruk, yaitu segala sesuatu yang buruk, kotor, menjijikkan, baik secara fisik maupun maknawi seperti perilaku, makanan, perkataan, perbuatan, niat.
Kata wath-thayyibu (وَالطَّيِّبُ) artinya : dan yang baik, yaitu segala sesuatu yang baik, bersih, halal, menyenangkan, dan diridhai Allah, baik dalam bentuk lahiriah maupun batiniah.
Al-Mawardi menyebutkan dalam An-Nukat wa Al-’Uuyun[1] tiga pendapat yang berbeda terkait hal ini, yaitu :
§Pertama : bahwa (الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ) maksudnya adalah yang halal dan yang haram, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan.
§Kedua : bahwa (الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ) maksudnya adalah orang mukmin dan orang kafir, sebagaimana dikatakan oleh As-Suddi.
§Ketiga : bahwa (الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ) maksudnya adalah segala yang terkait dengan keburukan dan yang kebaikan.
Namun Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2] menegaskan bahwa lafaz dalam ayat ini bersifat umum dan mencakup seluruh hal baik penghasilan, amal perbuatan, manusia, ilmu pengetahuan dan selainnya.
Maka segala yang buruk dari semua itu tidak akan membawa keberuntungan, tidak akan memberi hasil yang baik, dan tidak akan berakhir dengan akibat yang terpuji, meskipun banyak jumlahnya. Sedangkan yang baik meskipun sedikit tetap bermanfaat dan indah akibatnya.
[2]Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ
Kata walaw (وَلَوْ) artinya : walaupun. Kata a‘jabaka (أَعْجَبَكَ) makna kata ini memang bisa saja menyenangkanmu, namun dalam konteks ayat ini, sebenarnya bukan berarti menyenangkan hatimu dalam arti positif.
Tetapi maknanya adalah menarik perhatianmu, atau membuatmu takjub, atau bisa juga berarti mengejutkanmu, atau membuatmu terkesan. Namun semua dalam konteks yang negatif atau penuh peringatan.
Jadi terjemahan yang lebih hati-hati adalah: "meskipun banyaknya yang buruk itu menarik perhatianmu atau membuatmu takjub." Bukan: "...meskipun banyaknya yang buruk itu menyenangkan hatimu."
Kata katsratu (كَثْرَةُ) artinya : banyaknya. Kata al-khabitsi (الْخَبِيثِ) artinya : yang buruk.
Sebagian ulama memandang bahwa yang dimaksud dengan al-khabitsi dan ath-thayyib (الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ) adalah dalam kaitan harta benda. Salah satunya apa yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[1]. Beliau menjelaskan bahwa harta yang sedikit namun halal dan bermanfaat lebih baik daripada banyak yang haram dan merugikan. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits:
مَا قَلَّ وكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُر وألْهَى
"Yang sedikit tetapi cukup itu lebih baik daripada yang banyak tetapi mengalihkan (dari ketaatan)."
Abul-Qasim al-Baghawi dalam kitab Mu‘jam-nya menuliskan sebuah riwayat.
“Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah agar Dia memberiku harta.” Nabi SAW bersabda: "Sedikit yang bisa kamu syukuri lebih baik daripada banyak yang tidak mampu kamu tanggung."
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)
فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Kata fattaquu (فَاتَّقُوا) adalah fi’il amr yang merupakan perintah, asalnya dari (اِتَّقَى - يَتَّقِي)yang maknanya cukup luas, bisa berarti : ‘takutlah’, atau bisa juga berarti : ‘jagalah’ atau juga bisa : ‘bertaqwalah’. Kata allaaha (اللَّهَ) artinya : kepada Allah.
Kata ya (يَا) artinya : wahai. Ini merupakan penegasan kepada yang sedang diajak berbicara, yang disebut dengan harfu munada (حرف منادى). Yang diajak bicara adalah ulilal-albaabi (أُولِي الْأَلْبَابِ) yang diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Buya HAMKA sebagai orang yang berakal. Namun Prof Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : orang-orang yang berakal bersih, murni dan cerah.
Istilah ulilal-albaabi (أُولِي الْأَلْبَابِ) ini terdiri dari dua kata, yaitu ulii (أُولِي) yang artinya : orang-orang yang memiliki, dengan kata al-albaabi (الْأَلْبَابِ) artinya secara harfiyah adalah : orang yang punya albab.
Kata albab sendiri adalah bentuk jama’ dari bentuk tunggalnya yaitu lub (اللُّبُّ) yang sering digunakan untuk menyebutkan bagian yang paling dalam dari sesuatu, misalnya hati manusia. Bagian terdalamnya biasa disebut dengan lubbu qalb (لُّبُّ القَلْب) yang terjemahannya sangat mirip yaitu : lubuk hati. Lubuk itu adalah bagian yang paling dalam, bisa juga dimaknai palung kalau untuk menyebut laut yang terdalam.
Maka secara harfiyah, ulul-albab(أُولو الْأَلْبَابِ) adalah penyebutan untuk orang-orang yang punya banyak kedalaman, khususnya dalam menggunakan akal, logika dan pemikirannnya.
Pada masa turunnya Al-Qur’an ketika Nabi SAW masih hidup, sebutan ulul albab tentunya bukanlah gelar formal, melainkan predikat moral dan intelektual. Maka, yang dimaksud ulul albāb dalam konteks saat itu adalah kaum mukminin para shahabat yang berpikir jernih dan tulus menerima kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang mau mendengar ayat-ayat Allah, lalu merenunginya, dan menyimpulkan kebenaran dari wahyu, bukan berdasarkan hawa nafsu. Di antaranya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Bilal, Salman, Abu Dzar, Abdullah bin Mas‘ud, dan banyak sahabat lainnya.
Selain itu sebutan ulul-albab juga tepat untuk menyebut kalangan Ahli kitab yang objektif dan berpikir lurus, seperti Abdullah bin Salam, seorang Rabbi Yahudi yang masuk Islam. Atau bisa juga An-Najasyi, yaitu raja negeri Habasyah. Mungkin juga beberapa pendeta Kristen dari Najran yang mendengar Al-Qur’an dan berkata bahwa itu selaras dengan kitab mereka.
Sebutan ini juga bisa saja terkait dengan orang-orang Arab berakal lurus yang tadinya musyrik, lalu masuk Islam setelah merenung. Misalnya Umar bin Khattab yang masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan merenungkannya. Atau bisa juga seperti Khalid bin Walid yang mengakui secara logis bahwa Islam adalah kebenaran.
Penggalan terakhir ayat ini adalah perintah untuk takut atau bertaqwa kepada Allah. Kemudian Allah SWT menyapa dengan sebutan : ulul albab, yang maknanya orang-orang yang cerdas, punya ilmu dan pengetahuan yang luas serta mendalam.
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
Kata la‘allakum (لَعَلَّكُمْ) artinya : agar kamu. secara harfiah artinya “agar, semoga, mudah-mudahan”. Dalam Al-Qur'an, kata ini sering dipakai untuk menunjukkan tujuan, harapan, atau hasil yang diinginkan.
Kata tuflihuun (تُفْلِحُونَ) artinya : beruntung, atau makna yang berdekatan adalah berhasil, menang, dan selamat. Jadi ungkapan la’allakum tuflihun (لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ) bermakna : "Agar kalian memperoleh keberutungan."
Penutup ini nampaknya sangat kuat relasinya dengan kondisi orang beriman yang Allah SWT sebut bahwa mereka itu orang-orang yang beruntung.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (QS. Al-Mu’minun : 1)
Orang yang beriman dikatakan beruntung karena dijanjikan akhir hidup yang mulia, yaitu ampunan, ridha Allah, dan surga. Inilah puncak keberuntungan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia. Di samping itu, ukuran keberuntungan menurut Al-Qur’an bukanlah harta, kedudukan, atau kekuasaan duniawi, melainkan siapa yang dicintai dan diridhai Allah.
Di sisi lain, orang-orang kafir sering disebut-sebut sebagai orang yang merugi, salah satunya dalam ayat berikut :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-’Ashr : 1-3)