Ayat ke-99 ini kembali lagi menegaskan apa yang sudah disampaikan di ayat sebelumnya, yaitu bahwa kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan saja. Adapun kemudian ada yang mau beriman atau pun tidak mau beriman, itu adalah urusan Allah SWT.
Maka penggalan ini menjadi semacam bentuk penguatan spirit yang intinya bagaimana Allah SWT mengisi kekosongan hati nabi-Nya. Sebab biar bagaimana pun juga, Nabi SAW juga manusia biasa. Kadang secara mental ada masa-masa krisis yang diakibatkan oleh ulah kaum kafir yang jadi musuhnya.
Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia mengetahui apa pun yang dinampakkan dan apa pun yang kamu sembunyikan. Yang bisa saja berarti siapa yang keimanannya benar atau imannya hanya pura-pura, semua itu sudah Allah SWT ketahui luar dalam.
Kata maa (مَا) artinya : tidak ada. Kata ‘ala (عَلَى) artinya : atas. Kata rasuuli (الرَّسُولِ) artinya : Rasul. Kata illal (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata al-balaaghu (الْبَلَاغُ) artinya : penyampaian.
Pasangan huruf maa dan illa (مَا ... إِلَّا) adalah gaya khas bahasa Arab untuk membatasi, yang disebut dengan hashr (حصر). Intinya menegaskan bahwa selain menyampaikan, tidak ada lagi yang dibebankan kepada Rasul.
Penggalan ini merupakan cara mengukap sebuah pesan dengan gaya litotes, yaitu pengingkaran tapi untuk penegasan. Cirinya bukan sekadar menyebut bahwa tugas Rasul adalah menyampaikan, tapi menyatakan bahwa selain itu bukan beban beliau, yang memperkuat kesan pembatasan dan ketegasan.
Ungkapan ini menjadi bentuk penguatan mental bagi siapa pun yang merasa gagal setelah berusaha. Dasarnya karena kesuksesan itu bukan semata-mata karena kehebatan diri. Sebaliknya, kegagalan itu juga beban pribadi, tetapi bagian dari takdir dan kehendak ilahi.
Kata wallahu (وَاللَّهُ) artinya : dan Allah. Kata ya‘lamu (يَعْلَمُ) artinya : mengetahui. Ini adalah pernyataan ilmu Allah yang mutlak dan menyeluruh, bahwa tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Kata ma tubduna (مَا تُبْدُونَ) artinya : apapun yang kamu nampakkan. Maksudnya adalah segala hal yang dilakukan atau dikatakan secara lahiriah, seperti ucapan, sikap, dan penampilan yang bisa dilihat orang.
Kata wa-ma taktumun (وَمَا تَكْتُمُونَ) artinya : dan apapun yang kamu sembunyikan. Ini mencakup niat, perasaan, pikiran, dan motivasi tersembunyi yang tidak diketahui manusia lain, tetapi diketahui secara sempurna oleh Allah.
Setelah disebutkan bahwa tugas Rasul hanya menyampaikan, maka ditegaskan bahwa urusan penerimaan, penolakan, ketulusan, dan kemunafikan kalian — semuanya akan Allah nilai dan ketahui. Jadi, Rasul tidak perlu menilai isi hati, karena Allah yang tahu apa yang disembunyikan dalam dada.
Ayat ini mengajarkan dua hal besar. Pertama, bahwa batas tugasnya adalah menyampaikan, bukan menghakimi. Kedua, bahwa hanya Allah saja lah yang menilai manusia secara sempurna, karena Dia tahu apa yang tampak maupun yang tersembunyi.
Seolah Allah SWT ingin menegaskan, "Wahai Muhammad, jangan engkau risau jika dakwahmu ditolak, karena engkau tidak dibebani hidayah”. Juga menegaskan kepada umat manusia, ”Wahai manusia, jangan bermain-main dengan iman dan penolakan — karena Allah tahu isi hatimu."