Sebagian mengatakan ayat ini masih merupakan sambungan dari rangkaian ayat-ayat sebelumnya, khususnya kisah sumpah dilawan dengan sumpah, antara keluarga Budail dan dua orang Nasrani, Tamim dan Adi. Pada ayat sebelumnya, Allah SWT menegur mereka yang menggunakan nama-Nya untuk bersumpah palsu dengan ungkapan :
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُواوَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.(QS. Al-Maidah : 108)
Maka ayat ke-109 ini adalah lanjutan dari teguran itu, yaitu mereka diminta untuk takut kepada Allah SWT atas akan datangnya hari akhirat, dimana nanti akan ada pertanyaan kepada para nabi terkait bagaimana umat mereka merespons dakwah mereka. Kaitannya bahwa jika para nabi saja ditanya, apalagi manusia biasa yang pernah bersaksi palsu atau menyembunyikan kebenaran dalam urusan dunia yang remeh.
Namun sebagian ulama lain cenderung menafikan keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, mengingat intisari ayat ini yang sama sekali tidak terkait. Sebab ayat ini malah menceritakan kisah yang bakalannya nanti akan terjadi di hari kiamat, yaitu ketika Allah SWT mengumpulkan para rasul untuk menjawab pertanyaan terkait reaksi masing-masing umat mereka.
Dan rupanya para rasul tidak ada satu pun yang menjawab, mereka hanya mengatakan bahwa mereka tidak punya pengetahuan tentang itu. Yang Maha Tahu hanya Allah SWT sebagai Tuhan yang mengetahui segala yang ghaib.
Dan memang kalau nanti kita telurusi ayat-ayat sesudah ayat ini pun, rasanya memang benar-benar sudah pindah ke topik yang lain dan tidk ada kaitanya dengan kisah Tamim Adi lawan keluarga Budail. Sudah pindah tema terkait kisah Bani Israil secara umum.
Kata yawma (يَوْمَ) artinya : hari, maksudnya kalian harus takut kepada Allah, khususnya akan datang sesuatu pada hari yang dahsyat, maksudnya tidak lain adalah hari kiamat, yaitu hari semua amal manusia akan diperlihatkan dan dimintai pertanggung-jawabannya.
Kata yajma'u (يَجْمَعُ) artinya : mengumpulkan. Kata allahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata ar-rusula (الرُّسُلَ) artinya : para rasul. Para nabi dan rasul yang pernah diutus kepada umat manusia itu jumlahnya cukup banyak, tidak kurang dari 124 ribu orang berdasarkan hadits Abu Dzar ini :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَمْ وَفَى عِدَّةُ الْأَنْبِيَاءِ؟ قَالَ: مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا، الرُّسُلُ مِنْهُمْ ثَلَاثُمِائَةٍ وَخَلَافَةَ عَشَرٍ، جَمٌّ غَفِيرٌ.
Dari Abu Dzar RA, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para nabi?”Beliau menjawab, “Sebanyak seratus dua puluh empat ribu nabi (124.000). Dari mereka, yang menjadi rasul berjumlah tiga ratus tiga belas orang, jumlah yang besar.” (HR. Ahmad dan At-Thabarani)
Kata fayaqulu (فَيَقُولُ) artinya : maka Dia bertanya, yaitu Allah bertanya kepada para rasul itu. Jadi para rasul dikumpulkan untuk dimintai penjelasan atau bercerita tentang apa reaksi dari umat mereka.
Kata madzaa (مَاذَا) artinya : Apa. Kata ujibtum (أُجِبْتُمْ) asalnya dari akar kata (ج و ب) yang berarti : jawab. Kata ini merupakan bentuk pasif atau majhul dari fi’il (أَجَابَ) yang termasuk dalam pola (أَفْعَلَ – يُفْعِلُ). Dalam bentuk majhul, (أَجَابَ) berubah menjadi (أُجِيبَ) yang artinya ‘telah dijawab’.
Kemudian ditambahkan dhamir tum (تُمْ) yang berarti ‘kalian’ yaitu para rasul, sehingga membentuk (أُجِبْتُمْ), yang artinya : kalian diberi jawaban’ atau ‘dijawab kepada kalian’. Dalam konteks ayat, ini merujuk pada pertanyaan Allah kepada para rasul: “Apa yang dijawab oleh umat kalian ketika kalian menyampaikan pesan risalah samawi?”.
Kata qalu (قَالُوا) artinya : mereka menjawab. Yang dimaksud dengan ’mereka’ disini adalah para rasul yang Allah SWT kumpulkan. Yang unik dari kata qalu (قَالُوا) disini dalam bentuk fi’il madhi yang kita tahu menunjukkan peristiwa yang sudah berlalu. Tapi cerita ini belum berlalu bahkan belum terjadi. Sebab peristiwa dikumpulkannya para rasul itu baru akan terjadi nanti setelah kiamat. Uniknya cerita yang datang kepada kita justru menggunakan fi’il madhi, seolah sudah terjadi.
Kata la ‘ilma lana (لَا عِلْمَ لَنَا) artinya : tidak ada ilmu pada kami. Atau bisa juga dipahami bahwa jawaban mereka adalah : ”kami tidak tahu”.
Jawaban ini bikin penasaran kita. Sebab para rasul itu hidup bersama dengan masing-masing umat mereka. Apa reaksi dan perlakuan dari umatnya pastilah mereka mengalami langsung. Banyak yang disiksa, ditindas, bahkan tidak sedikit yang matinya malah dibunuh. Intinya bahwa para rasul itu tahu semua yang dikerjakan oleh umatnya sebagaimana juga disebutkan dalam ayat lain :
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
Maka bagaimana apabila Kami mendatangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka," (QS. An-Nisa’ : 41)
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang tengah (adil), supaya kamu menjadi saksi atas manusia dan supaya Rasul menjadi saksi atas kamu. (QS. Al-Baqarah [2]: 143)
Tetapi kenapa mereka tidak cerita apa adanya dan bahkan menjawab bahwa mereka tidak tahu? Maksudnya bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi?
Ada beberapa aliternatif jawaban yang dikemukakan oleh para ulama terkait dengan masalah ini. Salah satunya menjelaskan bahwa gara-gara kedahsyatan hari kiamat, sehingga selevel para rasul pun sampai sebegitu gemetarannya hingga terlupa apa yang pernah mereka alami dahulu ketika diperlakukan oleh umat masing-masing.
Namun penjelasannya ini malah menimbulkan masalah baru, yaitu bukankah para rasul itu sendiri tidak mengalami peristiwa hari kiamat yang dahsyat itu? Jadi bagaimana mereka sampai bisa ketakutan lalu lupa kejadian di masa lalu?
لا يَحْزُنُهُمُ الفَزَعُ الأكْبَرُ
Mereka tidak bersedih hati terhadap ketakutan yang paling besar.(QS. Al-Anbiyā’ : 103)
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ ضاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ
(Wajah-wajah) pada hari itu berseri-seri, tersenyum dan gembira. (QS. ‘Abasa : 38)
ولا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ ولا هم يَحْزَنُونَ
Tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.(QS. Al-Baqarah : 62)
Maka ada juga yang berpendapat bahwa mereka tidak menjawab bukan berarti mereka tidak tahu. Toh, pertanyaannya pun juga bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Pertanyaannya lebih merupakan gaya bahasa kelas elit, dimana seolah-olah Allah SWT bertanya, padahal sebenarnya sedang memberikan penekanan. Maka jawabannya pun tidak perlu dideskripsikan, cukup dengan ucapan seperti itu. Gaya bahasa seperti itu dalam Al-Qur’an memang sering digunakan untuk memberi tekanan, menegur, atau menggugah kesadaran, bukan untuk benar-benar meminta jawaban. Ini dikenal dalam ilmu balaghah sebagai istifham taubikhi yaitu pertanyaan bernada teguran atau taqri’i (cercaan).
Selain itu ada juga jawaban lain, yaitu pertanyaan ini terkait dengan apa yang dilakukan oleh umat masing-masing setelah mereka meninggal dunia. Tentu saja mereka tidak tahu, makanya jawabannya adalah : laa ’ilma lana (لَا عِلْمَ لَنَا) : tidak ada pengetahuan pada kami. Dengan jawaban ini, kita mendapat kesan bahwa para rasul itu lepas tanggung-jawab atas perilaku sesat umatnya sepeninggal mereka.
Kalau bisa kita ambil perbandingan dengan pejabat yang dimintai pertanggung-jawaban atas masalah yang kemudian timbul, mereka mengelak bahwa kejadian itu terjadi bukan di masa jabatan mereka, tetapi setelah masa jabatan habis dan di bawah pimpinan pejabat penerusnya. Pejabat itu cuci tangan tidak mau dimintai tanggung-jawab.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib[1] menukilkan pendapat dari Ibnu Abbas bahwa para rasul itu hanya menjawab, “Kami tidak memiliki ilmu”, karena sebenarnya yang ditanyakan jauh lebih dalam, bukan sekedar apa reaksi mereka, tetapi sampai ke level kenapa mereka ingkari risalah yang dibawa oleh masing-masing rasul.
Maka sampai di level ini, tentu sudah bukan lagi kewenangan para rasul. Yang bisa menjawab hanya Allah SWT saja, karena Allah SWT yang memberi mereka hidayah dan tidak memberi hidayah.