Huruf la (لَا) artinya: tidak. Kata tudriku-hu (تُدْرِكُهُ) artinya: dapat menjangkau-Nya. Kata al-abshar (الْأَبْصَارُ) adalah bentuk jamak dari kata tunggal bashar (بَصَرٌ) yang berarti penglihatan atau kemampuan melihat dengan mata. Walaupun kata ini kadang juga digunakan secara kiasan untuk menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan.
Untuk bisa melihat Allah SWT secara langsung memang indera penglihatan mata punya banyak sekali keterbatasan. Bahkan juga tidak bisa digunakan untuk melihat makhluk ghaib seperti malaikat, jin dan ruh. Bahkan pada kenyataannya, mata manusia pun terbatas juga untuk melihat benda yang nyata.
Mata manusia hanya dapat menangkap gelombang cahaya tertentu, yang disebut spektrum tampak. Di luar itu, ada banyak jenis cahaya yang sama sekali tidak bisa ditangkap oleh mata manusia, seperti gelombang inframerah, ultraviolet, sinar X, atau gelombang radio. Padahal semua itu benar-benar ada, tetapi tidak terlihat oleh pandangan mata.
Selain itu, mata juga terbatas oleh jarak dan kondisi cahaya. Objek yang terlalu jauh akan tampak kecil, kabur, atau bahkan hilang sama sekali. Dalam gelap, mata tidak berdaya tanpa bantuan cahaya, karena mekanisme penglihatannya bergantung pada pantulan cahaya dari benda.
Mata pun bisa tertipu, misalnya oleh ilusi optik, fatamorgana, atau pembiasan cahaya di udara dan air. Artinya, penglihatan bukan hanya terbatas, tapi juga tidak selalu akurat.
Maka jika terhadap makhluk yang kasat mata saja pandangan manusia bisa lemah dan keliru, bagaimana mungkin mata dapat menjangkau Dzat Allah SWT yang Maha Ghaib, Maha Agung, dan tidak terikat oleh ruang maupun cahaya?
Benarkah Bisa Melihat Allah di Surga?
Dalam pandangan mazhab aqidah ahlus sunnah wal jama‘ah, termasuk para sahabat, tabi‘in, dan imam empat mazhab ada kesepakatan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah SWT dengan mata kepala mereka di akhirat, tanpa menyerupai makhluk dan tanpa menanyakan “bagaimana”. Imam al-Asy‘ari dan Imam al-Maturidi menegaskan bahwa ru’yatullah itu adalah benar adanya berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits yang sahih.
Sedangkan yang menolak ru’yatullah adalah kelompok Mu‘tazilah dan sebagian kecil kelompok teolog. Alasannya bahwa Allah tidak bisa dilihat karena tidak berupa jasad dan tidak menempati arah. Namun pandangan ini ditolak oleh jumhur ulama, karena dalil Al-Qur’an dan hadits justru menegaskan sebaliknya.
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah : 22–23)
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, al-Tabari, dan al-Qurthubi menafsirkan kata nazhirah (نَاظِرَةٌ) di sini sebagai melihat dengan mata kepala yaitu ru’yah basariyyah dan bukan sekadar intizhar dalam arti menunggu.
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan. (QS. Yunus : 26)
Dalam hadits sahih Muslim, Rasulullah SAW menafsirkan kata ziyadah ini sebagai melihat wajah Allah SWT.
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini; kalian tidak akan berdesak-desakan untuk bisa melihat-Nya. (HR. Bukhari Muslim)
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ
Ketika ahli surga telah masuk surga, Allah berfirman: ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang lebih dari ini?’ Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke surga, dan menjauhkan kami dari neraka?’ Maka Allah menyingkap hijab, lalu mereka tidak diberi nikmat yang lebih mereka sukai daripada melihat Tuhan mereka.” (HR. Muslim)
Huruf wawu (وَ) adalah harfu ‘athf yang menyambungkan penggalan ini dengan penggalan sebelumnya (لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ). Bisa diterjemahkan menjadi : ‘dan’ atau ‘sedangkan’.
Kata huwa (هُوَ) adalah dhamir atau kata ganti orang ketiga tunggal yang mudzakkar dan berarti : ‘Dia’. Maksudnya adalah Allah SWT.
Kata yudrik (يُدْرِكُ) berasal dari akar kata daraka (دَرَكَ) yang maknanya menjangkau, memahami, atau menguasai. Dalam konteks ayat ini, tidak hanya sekadar fisik menangkap dengan mata, tetapi mencakup segala persepsi, penglihatan, dan pemahaman makhluk. Artinya Allah mengetahui, melihat, dan menguasai segala sesuatu yang dapat dilihat atau ditangkap oleh penglihatan makhluk.
Kata al-abshar (الْأَبْصَارَ) adalah bentuk jamak dari bashar (بَصَرٌ) yang berarti penglihatan atau kemampuan melihat. Dalam ayat ini, maknanya meluas menjadi seluruh penglihatan yang dimiliki makhluk, baik penglihatan lahir (mata) maupun penglihatan batin (hati dan akal).
Jadi, ungkapan (وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ) bisa dipahami menjadi : Dan Dia (Allah) menguasai segala penglihatan, mengetahui dan menjangkau seluruh apa yang terlihat oleh makhluk, baik dengan mata lahir maupun mata hati.”
Ini menegaskan kontras antara keterbatasan manusia dan keagungan Allah. Manusia tidak mampu melihat Allah (لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ), tetapi Allah justru melihat dan mengetahui segala penglihatan manusia tanpa batas.
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya: dan Dia. Kata al-lathif (اللَّطِيفُ) artinya: Yang Maha Halus.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa al-lathafah adalah kebalikan dari al-katsafah alias kekasaran atau kekakuan. Maka yang dimaksud dari kata ini adalah kelembutan. Dimana ketika hal ini diterapkan pada Allah secara hakiki tentu saja jadi mustahil. Tidak mungkin kita mendiskripsikan Allah SWT sebagai benda yang lembut sebagaimana busa atau butir-butir pasir.
Oleh karena itu pasti diperlukan tafsir atau penjelasan yang dapat dibagi menjadi beberapa aspek:
§ Aspek pertama: Yang dimaksud adalah kelembutan Allah dalam ciptaan-Nya, yaitu dalam menyusun tubuh makhluk hidup dari bagian-bagian yang sangat halus, membran tipis, dan saluran sempit yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah.
§ Aspek kedua: Allah Maha Halus dalam memberikan karunia, kasih sayang, dan rahmat.
§ Aspek ketiga: Allah Maha Halus terhadap hamba-hamba-Nya, di mana Dia memuji mereka saat taat, dan memerintahkan mereka bertobat saat bermaksiat, tanpa memutus rahmat-Nya, baik mereka taat maupun durhaka.
§ Aspek keempat: Allah Maha Halus terhadap hamba-hamba-Nya, karena Dia tidak membebani mereka di luar kemampuan mereka, dan memberi mereka nikmat melebihi apa yang mereka pantas terima.
Kata al-khabir (الْخَبِيرُ) berasal dari kata khabar yang berarti ilmu. Maknanya, Allah Maha Halus terhadap hamba-hamba-Nya dengan tetap mengetahui segala sesuatu yang mereka lakukan, termasuk perbuatan dosa dan kecenderungan kepada hal-hal buruk.
Az-Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasyaf[2] mengatakan bahwa kata al-lathif (اللَّطِيفُ) berarti Allah bersifat halus sehingga tidak dapat dijangkau oleh penglihatan, sedangkan al-khabir (الْخَبِيرُ) berarti Allah SWT mengetahui segala yang halus itu. Artinya, Allah menjangkau seluruh penglihatan (يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ) dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, dan ini adalah penafsiran yang baik.