Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah selain Allah, Pencipta langit dan bumi serta Dia memberi makan dan tidak diberi makan, akan aku jadikan sebagai pelindung?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku diperintahkan agar aku menjadi orang pertama yang berserah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): "Apakah (sesuatu) selain Allah itu (wajar) aku jadikan pelindung? (Allah swt.) Pencipta langit dan bumi. Dia memberi makan dan tidak diberi makan." Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya menjadi orang yang pertama berserah diri (kepada Allah swt.), dan janganlah sekali-kali engkau termasuk (golongan) orang-orang musyrik. Prof. HAMKA:Katakanlah, “Adakah yang selain Allah akan aku ambil jadi pemimpin? Pencipta semua langit dan bumi dan Dia yang memberi makan dan bukan Dia yang diberi makan.” Katakanlah, “Sesungguhnya aku disuruh supaya menjadi orang yang mula-mula menyerah diri.” Dan sekali-kali jangan engkau jadi dari golongan orang-orang yang musyrik.
Ayat ke-14 Surah Al-An'am menegaskan prinsip tauhid melalui perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan bahwa Dia tidak akan menjadikan selain Allah sebagai pelindung. Allah SWT dikenalkan sebagai fathir yaitu Pencipta awal langit dan bumi, yang menjadi alasan logis dan spiritual bahwa hanya Dia yang pantas diandalkan dan disembah.
Allah digambarkan sebagai pemberi rezeki yang tidak membutuhkan makan, berbeda dengan sesembahan lain yang lemah dan bergantung. Ini mempertegas bahwa segala bentuk ibadah dan ketergantungan hanya layak ditujukan kepada Zat yang Maha Mandiri dan Maha Memberi.
Penutup ayat memuat perintah kepada Nabi untuk menjadi yang pertama berserah diri dalam kaumnya dan larangan keras untuk tergolong kaum musyrik. Ini memperlihatkan teladan Nabi dalam kepatuhan penuh kepada Allah serta menjadi seruan tegas kepada umat agar menjauhi syirik dan memurnikan penghambaan hanya kepada-Nya.
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Lagi-lagi ini adalah kata perintah dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, untuk berdakwah menyampaikan pesan risalahnya, lewat ungkapan pertanyaan yang bersifat retoris.
Kata a-ghairallahi (أَغَيْرَ اللَّهِ) diartikan : “apakah selain Allah”. Sebenarnya penggalan ini terdiri dari tiga unsur yang berbeda, yaitu :
§Pertama, huruf alif atau disebut dengan hamzah istifham yang sifatnya mengungkapkan sesuatu dalam bentuk pertanyaan. Dalam bahasa Indonesia, maknanya setara dengan “apakah” atau bentuk pertanyaan lainnya.
§Kedua, kata ghaira (غَيْرَ) yang berarti selain atau bukan. Kata ini biasanya digunakan sebagai bentuk pengecualian atau untuk menunjukkan perbandingan dan penyangkalan terhadap sesuatu.
§Ketiga, lafzhul-jalalah yaitu kata Allah (اللَّهِ) dalam bentuk majrur karena didahului oleh kata ghaira yang berfungsi seperti huruf jar.
Kata attakhidzu (أَتَّخِذُ) artinya : aku akan mengambil. Memang itu makna literalnya, namun yang dimaksud bukan mengambil seperti halnya kita mengambil piring dan gelas, melainkan maknanya adalah menjadikan atau memperlakukan.
Kata waliyyan (وَلِيًّا) sebenarnya sudah berkali-kali kita bahas dalam ayat-ayat sebelumnya. Makna dari wali ini ada banyak sekali, diantaranya teman dekat, pemimpin, pelindung. Dalam hal ini Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya sebagai pelindung, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya sebagai pemimpin.
Maksudnya secara utuh sebagaimana dituliskan dalam terjemah Kemenag RI : “Apakah selain Allah aku jadikan sebagai pelindung?”. Kemudian Prof. Quraish Shihab memperhalus lagi dengan redaksi Beliau : "Apakah sesuatu yang selain Allah itu wajar jika aku jadikan pelindung?”
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani menuliskan bahwa yang dimaksud dengan waliyan pada ayat ini adalah Tuhan yang disembah. Dasarnya karena ayat ini merupakan bantahan terhadap orang yang menyeru Nabi SAW :
“Wahai Muhammad, engkau telah meninggalkan agama kaummu, padahal kami mengetahui bahwa yang mendorongmu melakukan itu hanyalah karena kefakiran. Maka kembalilah kepada agama kami, niscaya kami akan mengumpulkan harta untukmu sampai engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami.”
@@@
فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Kata fathir (فَاطِرِ) merupakan ism fa’il dari asalnya fa-tha-ra (فطر). Secara umumnya diterjemahkan menjadi menciptakan. Maka kata fathir artinya secara kasar adalah : Pencipta.
Dalam Al-Qur’an, kita menemukan tiga istilah penting yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai "mencipta", yaitu khalaqa (خلق), ja‘ala (جعل), dan fathara (فطر). Ketiganya memang bisa diterjemahkan sebagai “menciptakan”, namun masing-masing memiliki makna dan nuansa yang berbeda jika dilihat dari sisi bahasa Arab dan konteks penggunaannya dalam wahyu.
Kata khalaqa (خلق) sebagaimana sudah dijelaskan merupakan kata yang paling umum digunakan untuk menggambarkan tindakan mencipta. Maknanya mencipta dari ketiadaan alias dari yang tidak ada. Tiba-tiba benda itu nongol begitu saja, walaupun bisa saja pakai proses yang merupakan sunnatullah.
Kata ja‘ala (جعل) lebih tepat dipahami sebagai mengubah atau menjadikan sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Misalnya Allah SWT menjadikan malam sebagai waktu istirahat. Artinya: malam sudah ada, namun Allah menetapkan fungsinya sebagai saat untuk tenang dan istirahat. Jadi, ja‘ala lebih menunjuk pada proses penataan, pengaturan, atau pengubahan sesuatu yang sudah tersedia menjadi bentuk atau fungsi tertentu.
Kata fathara (فطر) meski juga berarti menciptakan, namun lebih fokus pada titik permulaan dari penciptaan itu sendiri. Allah sebagai yang pertama kali membelah dan memunculkan eksistensi makhluk dari ketiadaan yang mutlak. Maka makna (فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) adalah Tuhan yang mengawali keberadaan langit dan bumi itu secara langsung, tanpa contoh sebelumnya dan bukan hasil tiruan. Ada nilai kepeloporan disitu. Mungkin bisa juga diungkap dengan sebutan Pencipta Awal.
Dari mana kita tahu hal ini?
Dari shahabat yang mulia yaitu Abdullah bin Al-Abbas radhiyallahuanhu. Beliau pernah bercerita tentang kata fathir ini.
ما عَرَفْتُ ”﴿فاطِرِ السَّماواتِ﴾“ حَتّى أتانِي أعْرابِيّانِ يَخْتَصِمانِ في بِئْرٍ، فَقالَ أحَدُهُما: أنا فَطَرْتُها أيِ ابْتَدَأْتُها.
Aku tidak mengetahui makna firman Allah : ‘fathiris-samawat’ sampai datang kepadaku dua orang Arab badui yang sedang berselisih tentang sebuah sumur. Salah satu dari mereka berkata: “Akulah yang faṭartu (memulai/membelah) sumur itu,”
Maksudnya: akulah yang memulainya pertama kali. Ibnu al-Anbari berkata bahwa asal muasal makna kata fathara adalah (شَقُّ الشَّيْءِ عِنْدَ ابْتِدائِهِ) yaitu : membelah sesuatu pada permulaan kejadiannya.
Kata as-samawati (السَّمَاوَاتِ) artinya : langit dalam bentuk jama’, sehingga lebih tepat diterjemahkan menjadi banyak langit atau aneka ragam langit. Kata wal-ardhi (والْأَرْضِ) artinya : dan bumi.
وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ
Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia. Kata yuth‘imu (يُطْعِمُ) artinya : memberi makan. Kata walayuth‘amu (يُطْعَمُ) artinya : dan tidak diberi makan.
Asalnya dari (طعم)yang kemudian ketambahan alif di awal menjadiath’ama – yuth’imu (أَطْعَمَ - يُطْعِمُ) sehingga maknanya berubah menjadi : memberi makan. Sedangkan kalau mau diubah menjadi bentuk pasif yang artinya : diberi makan, maka sebutannya adalah uth’ima – yuth’amu (أُطْعِمَ - يُطْعَمُ).
Sebagian kalangan memaknai kata ini bukan memberi makan atau diberi makan, tetapi menggeserkan maknanya jadi : memberi rizqi dan diberi rizqi. Namun tidak sedikit juga yang memaknainya secara literal, yaitu memberi makan dan diberi makan.
Dengan makna seperti itu, nampaknya ungkapan ini menyasar kepada perilaku aneh bangsa Arab musyrikin terhadap berhala-berhala yang mereka sembah. Anehnya, mereka suka memberi makan berhala yang mereka sembah, seolah-olah hewan ternak yang diperlihara. Mereka memberi sesaji, makanan, bahkan mengolesi berhala-berhala itu dengan darah kurban sebagai bentuk persembahan, seolah-olah berhala itu membutuhkan konsumsi atau nutrisi.
Dalam tradisi Mesir kuno, setiap hari dilakukan ritual pemberian makanan kepada patung-patung dewa di kuil. Makanan itu tidak hanya sebagai simbol penghormatan, tapi dianggap benar-benar dikonsumsi secara spiritual oleh dewa. Setelah ritual selesai, makanan itu biasanya dimakan oleh para imam, tapi sebelumnya dianggap sudah “disantap” secara gaib oleh dewa.
Begitu juga dalam agama-agama lokal India kuno, maupun dalam agama Hindu sampai sekarang, persembahan makanan yang disebut prasadam atau naivedyam diberikan kepada dewa. Makanan itu didoakan terlebih dahulu, lalu diletakkan di altar. Setelah “dipersembahkan”, makanan itu baru dibagikan kembali kepada umat sebagai makanan suci, karena diyakini telah disentuh oleh anugerah dewa.
Dalam kebudayaan Aztec dan Inca di benua Amerika, pemberian makanan juga menjadi bagian penting dalam upacara keagamaan. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, mereka mempersembahkan darah atau tubuh manusia, karena dianggap sebagai “makanan” paling berharga bagi para dewa.
Jadi wajar jika dalam kebudayaan Arab Jahiliyah ada praktik mempersembahkan makanan kepada berhala-berhala itu. Tapi yang unik dari bangsa Arab ini mereka suka membikin patung dan berhala dari bahan makanan. Padahal biasanya dari batu, kayu atau logam. Entah dapat inspirasi dari mana. Yang jelas kita menemukan atsar dari ‘Umar bin al-Khaththab, yang mengenang masa jahiliyahnya.
Celaka engkau wahai ‘Umar! Dahulu aku memiliki sesembahan dari kurma ‘ajwah. Aku menyembahnya, lalu ketika aku lapar, aku memakannya. Setelah masuk Islam dan mengingat hal itu, aku menangis karena kebodohanku sendiri.
Riwayat ini disebut dalam berbagai kitab, seperti dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala karya al-Ẓahabi, juga dikutip oleh beberapa ahli sejarah dan penafsir.
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Kata inni (إِنِّي) artinya : sesungguhnya aku. Kata umirtu (أُمِرْتُ) artinya : diperintahkan. Kata an (أَنْ) artinya : bahwa. Kata akuna (أَكُونَ) artinya : aku menjadi. Kata awwala (أَوَّلَ) artinya : orang pertama. Kata man (مَنْ) artinya : orang yang. Kata aslama (أَسْلَمَ) artinya : berserah diri.
Kata awwala (أَوَّلَ) memang secara literal bermakna orang yang pertama, yaitu sebagai pelopor yang paling depan.Lalu banyak mufassir yang mengaitkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang pertama memeluk agama Islam, setidaknya untuk ukuran zaman dan generasinya.
Banyak ulama yang menyebutkan bahwa kata asalama (أَسْلَمَ) maknanya secara harfiyah yaitu masuk agama Islam dan memeluknya. Namun banyak juga yang memaknainya sebagai berserah diri kepada Allah SWT, dalam artinya patuh, tunduk, taat kepada segala ketentuan dan kehendak Allah SWT, khususnya dalam urusan hukum dan syariat.
وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Kata wa la (وَلَا) artinya : dan janganlah. Kata takunanna (تَكُونَنَّ) asalnya dari kata (كَان – يَكُون - كُن) yang artinya : menjadi. Lalu ketambahan huruf nun taukid yang menempel di belakangnya, sehingga menambah tekanan pada nilai larangannya. Kadang diterjemahkan menjadi : “jangan sekali-kali kamu menjadi”. Bisa juga diungkap dengan cara lain menjadi : “jangan sampai”, atau “pokoknya jangan banget”.
Kata min (مِنَ) artinya : dari atau termasuk. Kata al-musyrikin (الْمُشْرِكِينَ) artinya : orang-orang musyrik.
Secara harfiyah, istilah musyrikin adalah bentuk isim fa’il darikata kerja (أَشْرَكَ - يُشْرِكُ). Makna kata ini adalah menjadikan beberapa pihak menjadi satu syarikah atau bersekutu. Dalam dunia bisnis, ada istilah syarikahatau syirkah, yaitu kerjasama antara dua pihak atau lebih dalam kepemilikan usaha yang menguntungkan.
Bentuk isim fa’il-nya adalah (مُشْرِك), lalu karena jumlahnya banyak, menjadi (مُشْرِكِين). Jadi orang yang musyrik adalah orang yang menjadikan banyak objek sebagai Tuhan atau pihak yang dia sembah. Ini adalah logika orang jahiliyah, yaitu menyembah tuhan yang banyak. Sebab kalau Tuhan hanya satu, menurut logika sederhana mereka, dianggap kurang kuat.
Padahal secara logika, kalau memang tuhan-tuhan kurang kuat jika sendiri, kenapa harus disembah. Itu menandakan yang mereka pertuhankan itu pada dasarnya bukan tuhan. Kalau benar-benar tuhan, maka tidak perlu kerja sama saling meringankan satu sama lain.
Namun begitu lah logika yang amat awam dan terlalu primitif dari kalangan kaum bodoh, ketika bikin teori tentang Tuhan pun, teorinya terasa amat sangat kelas bawah sekali.