Kemenag RI 2019:Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): "Sesungguhnya aku takut pada azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku durhaka pada Tuhan Pemeliharaku." Prof. HAMKA:Katakanlah, “Sesungguhnya, aku takut jika aku mendurhaka kepada Tuhanku akan adzab di hari yang besar.”
Konteks ayat ke-15 dari surat Al-An’am ini adalah dialog Nabi SAW dengan kaum musyrikin yang mengajak kompromi atau menawarkan penyembahan berhala secara bersama-sama.
Maka Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menjawab dengan tegas bahwa menyembah selain Allah adalah kedurhakaan, dan beliau pun takut kepada azab Allah jika melakukan itu.
Ayat ini juga menyisipkan pesan tersamar bahwa siapa pun yang durhaka, akan terancam azab di akhirat nanti.
قُلْ إِنِّي أَخَافُ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan suatu pernyataan.
Kata inni (إِنِّي) artinya : sesungguhnya aku atau aku benar-benar. Kata akhafu (أَخَافُ) artinya : takut.
Allah memerintahkan Nabi SAW untuk menyatakan ketakutannya terhadap azab jika beliau durhaka, tentu bukan karena beliau benar-benar mungkin berbuat durhaka. Sebab beliau SAW sendiri berstatus ma‘shum dalam artian terlindungi dari kemungkinan terjerumus dosa.
Ungkapan ini ditujukan sebagai bentuk pengajaran dan peringatan keras kepada umat manusia, khususnya orang-orang kafir para tokoh utama kaum musyrikin Mekkah yang telah membantah risalah yang Allah SWT turunkan.
إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي
Kata in (إِنْ) artinya : jika. Kata ‘ashaitu (عَصَيْتُ) artinya : aku durhaka, atau membangkang. Kata rabbi (رَبِّي) artinya : Tuhanku.
Sebenarnya kata maksiat itu juga berasal dari kata ini juga. Hanya saja kata maksiat itu di telinga kita lebih terkesan sebagai perbuatan dosa, seperti orang minum khamar, pesta seks, berzina, kumpul kebo, main perempuan, berjudi, makan renten dan bikin rentetan dosa.
Padahal Allah SWT ketika menyebutkan bahwa Fir’aun itu menentang Nabi Musa, yang digunakan adalah istilah yang sama.
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaha : 121)
عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Kata ‘adzaba (عَذَابَ) artinya : azab. Kata yaumin (يَوْمٍ) artinya : hari. Kata ‘azhim (عَظِيمٍ) artinya : yang besar.
Yang dimaksud dengan yaumin adzim (يَوْمٍ عَظِيمٍ) disini adalah hari kiamat. Begitulah para ulama menafsirkannya.
Namun jangan dipahami bahwa siksa yang dimaksud adalah hukuman dalam arti hari kehancuran alam semesta saat kiamat kubra terjadi. Memang Allah SWT menggambarkan huru-hara kiamat dengan dahsyat, misalnya matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, dan unta-unta yang bunting ditinggalkan, binatang-binatang liar dikumpulkan, lautan dijadikan meluap.
Siksa hari kiamat yang dimaksud bukan huru-hara saat alam dihancurkan. Tetapi siksa hari kiamat yang dimaksud justru setelah manusia mati semuanya lalu Allah SWT membangkitkan kembali semua manusia di padang Mahsyar untuk mempertanggung-jawabkan semua amalnya. Lalu sebagian masuk surga dan sebagian masuk neraka. Sebenarnya siksa yang dimaksud adalah siksa yang ada di dalam neraka itu.
Jadi siksa hari yang agung itu lebih tepatnya justru siksa di akhirat, bahkan yang lebih presisi lagi adalah siksa di dalam neraka.