Kemenag RI 2019:Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Prof. Quraish Shihab:Dan Dia-lah yang menjadikan kamu para khalifah (di) bumi dan Dia meninggikan (derajat) sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk menguji kamu melalui apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara kamu sangat cepat pembalasan-(Nya), dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih.” Prof. HAMKA:Dan Dialah yang telah menjadikan kamu khalifah bumi dan telah Dia angkatkan setengah kamu atas yang setengah beberapa derajat. Untuk menguji kamu pada apa-apa yang telah Dia datangkan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan engkau itu sangat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.
Semua itu untuk menguji apakah tetap beriman atau tidak. Jika tidak beriman maka akan cepat dapat hukuman-Nya. Namun khusus buat umat Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak langsung menghukum dengan cepat, melainkan ditunda dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Semua itu karena pada dasarnya Allah SWT itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya : dan Dialah. Maksudnya adalah Allah SWT, sebagai Tuhan menjadi raja dari semua raja dan pemilik semua kerajaan.
Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata ja‘alakum (جَعَلَكُمْ) artinya : Dia menjadikan kalian. Kata khala’ifa (خَلَائِفَ) kata ini merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu khalifah. Akar katanya berasal dari tiga huruf yaitu (خلف) yang punya beberapa makna dasar, antara lain : datang setelah, menggantikan, atau berada di belakang.
Lalu dari makna dasar ini lahir beberapa pengertian turunan yang saling berkaitan, bisa bermakna mengganti sesuatu yang telah berlalu, seperti satu generasi menggantikan generasi sebelumnya. Juga bisa bermakna saling menggantikan, yaitu sebagian datang setelah sebagian yang lain secara berurutan dan teratur. Firman Allah SWT :
Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (QS. Al-Anam : 133)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, (QS. Maryam : 59)
Maka yang dimaksud dengan para khalifah di Al-Quran bukan para penguasa atau para raja, melainkan artinya para pengganti
Kata al-ardhi (الْأَرْضِ) artinya : bumi.
Kita sebagai kaum muslimin di Indonesia, setiap kali mendengar istilah khalifah, langsung membayangkan sebuah kepemimpinan dan kekuasaan secara politis. Memang tidak sepenuhnya keliru, namun jika kita kembali ke masa-masa Al-Quran diturunkan, jelas tidak kita temukan istilah khalifah dengan makna kekuasaan. Buktinya Nabi SAW tidak pernah disebut sebagai khalifah, padahal Beliau SAW menjadi pemimpin Madinah selama kurun waktu 10 tahun. Selama kurun yang panjang itu tidak pernah ada seorang pun yang menyebut Beliau SAW sebagai khalifah.
Tahukah anda kenapa Beliau SAW tidak disebut khalifah?
Karena istilah khalifah itu sendiri artinya memang bukan penguasa, begitu juga dengan khilafah itu artinya bukan pemerintahan. Setidaknya untuk masa-masa kenabian. Istilah khalifah itu sendiri baru muncul ketika Nabi SAW wafat lalu Abu Bakar menggantikan posisi Beliau. Maka disematkanlah sebutan bagi Abu Bakar yaitu pengganti Rasulullah, alias khalifatu rasulillah.
Ketika dua tahun kemudian Abu Bakar wafat lalu digantikan oleh Umar bin Al-Khattab, maka Beliau disebut dengan : khalifatu khalifati rasulillah, yaitu pengganti dari penggantinya Rasulullah SAW. Maka jelas sekali bahwa istilah khalifah itu artinya bukan pemimpin atau penguasa, melainkan artinya adalah : pengganti.
Maka ketika Allah SWT menyebut diri-Nya menjadikan kalian sebagai khalaifa, jangan dulu langsung dipahami bahwa Allah SWT menjadikan kalian sebagai pemimpin atau sebagai penguasa. Tapi yang lebih tepat konteksnya adalah sebagai para pengganti.
Tapi kemudian kita bertanya lagi, kalau Allah SWT menjadikan kalian sebagai pengganti, sebenarnya menggantikan siapa?
Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-’Uyun[1] menyatakan bahwa setiap kali suatu generasi berlalu, generasi setelahnya datang menggantikannya. Maka satu umat menjadi penerus bagi umat-umat yang telah lalu.
Sedangkan Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[2] menjelaskan bahwa maksud Allah menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi, sehingga umatnya menggantikan umat-umat sebelumnya.
وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ
Kata wa rafa‘a (وَرَفَعَ) artinya : dan Dia meninggikan. Kata ba‘dhakum (بَعْضَكُمْ) artinya : sebagian kalian. Kata fauqa (فَوْقَ) artinya : di atas. Kata ba‘dhin (بَعْضٍ) artinya : sebagian yang lain. Kata darajatin (دَرَجَاتٍ) artinya : beberapa tingkatan.
Setiap generasi punya prestasi mereka masing-masing, tidak terkecuali Bani Israil dan kaum muslimin. Di masanya, Bani Israil itu memang Allah SWT unggulkan dari bangsa-bangsa lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh alam. (QS. Al-Baqarah : 47)
Begitu berlalu masa kejayaan Bani Israil, maka Allah SWT meninggikan derajat orang-orang Arab, lewat datangnya kenabian Muhammad SAW kepada mereka. Allah SWT berfirman :
Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Padahal sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu‘ah : 2)
Setelah masa keutamaan Bani Israil berlalu, Allah meninggikan derajat kaum Arab yang ummi dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW dari kalangan mereka. Dan memang begitulah umat manusia Allah SWT pergilirkan satu per satu.
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Dan itulah hari-hari yang Kami pergilirkan diantara manusia. (QS. Ali Imran : 140)
لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
Kata li-yabluwa-kum (لِيَبْلُوَكُمْ) artinya : agar Dia menguji kalian. Kata fi (فِي) artinya : dalam. Kata ma (مَا) artinya : apa yang. Kata atakum (آتَاكُمْ) artinya : Dia telah berikan kepada kalian.
Setiap generasi Allah SWT datangkan para nabi dan rasul beserta kitab suci masing-masing. Lantas ada yang menerimanya dan ada banyak yang menolaknya. Semua itu ternyata merupakan batu ujian dari Allah SWT. Apakah mereka akan beriman dan apakah mereka akan kufur dan durhaka.
إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ
Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata rabbaka (رَبَّكَ) artinya : Tuhanmu. Kata sari‘u (سَرِيعُ) artinya : sangat cepat. Kata al-‘iqabi (الْعِقَابِ) artinya : hukuman.
Sebagian mufasir, seperti Ibn Jarir ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[3] menjelaskan bahwa istilah sari’ul-‘iqab (سَرِيعُ الْعِقَابِ) itu bahwa Allah tidak terhalang oleh apa pun ketika hendak menjatuhkan hukuman. Jika waktu hukuman itu ditetapkan sekarang, maka ia terjadi sekarang. Namun jika ditangguhkan, maka penangguhan itu pun atas hikmah, bukan karena ketidakmampuan. Jadi istilah cepat di sini menunjukkan kekuasaan mutlak, bukan tergesa-gesa.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[4] menjelaskan bahwa kecepatan hukuman Allah tidak harus selalu di dunia. Bisa jadi hukuman itu datang di dunia, atau ditunda sampai akhirat, atau dicicil dalam bentuk musibah, kegelisahan, dan kehinaan. Namun, ketika waktunya tiba, hukuman itu pasti dan tak dapat dihindari, serta tidak memerlukan proses panjang sebagaimana hukuman manusia.
Sedangkan Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[5] memberikan analisis yang lebih filosofis, bahwa “cepat” bukanlah sifat waktu, karena Allah tidak terikat oleh waktu. Yang dimaksud adalah bahwa antara kehendak Allah dan terjadinya hukuman tidak ada jeda penghalang. Jika Allah berkehendak, maka hukuman terjadi tanpa sebab-sebab tambahan.
Ungkapan bahwa Allah SWT Maha cepat dalam hukuman-Nya mungkin membuat kita jadi bertanya-tanya : apa maksudnya? Apakah hukuman yang cepat itu maksudnya begitu bikin kesalahan langsung dijatuhi hukuman saat itu juga?
Menurut hemat Penulis, kalau masalah ini dikaitkan dengan sejarah berbagai umat terdahulu, memang pemahaman seperti ini rasanya tidak terlalu keliru. Karena setiap kali mereka mendurhai para nabi mereka, memang mereka langsung dibinasakan.
وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Kata wa innahu (وَإِنَّهُ) artinya : dan sungguh Dia. Kata la-ghafurun (لَغَفُورٌ) artinya : benar-benar Maha Pengampun. Kata rahimun (رَحِيمٌ) artinya : Maha Penyayang.
Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin Allah SWT menyatakan diri-Nya Maha cepat dalam menghukum, lalu tiba-tiba menyatakan anti-tesisnya, yaitu benar-benar Maha Pengampun sekaligus juga Maha Rahim?
Menurut hemat Penulis justru itu wajar, bukan berarti penggalan ini saling bertentangan, justru disitulah keunikannya. Allah SWT itu cepat sekali menghukum, yaitu jika bicara tentang umat terdahulu. Sedangkan untuk umat Nabi Muhammad SAW, yang lebih ditonjolkan sisi lainnya, yaitu Maha Pengampun dan Maha Rahim.