Kemenag RI 2019:Jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; dan jika Dia memberikan kebaikan kepadamu, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Dan jika Allah menimpakan kemudharatan (musibah atau bencana) kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia. Dan jika Dia menyentuhkan (menganugerahkan walau sedikit) kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. HAMKA:Dan jika Allah mengenakan engkau dengan suatu bahaya maka tidak seorang pun yang bisa melepaskannya kecuali Dia. Dan jika Dia mengenakan engkau dengan suatu kebaikan maka adalah Dia atas tiap-tiap sesuatu Mahakuasa.
Ayat ke-17 dari surat Al-An’am ini mengandung pesan yang amat penting dan mendalam, yaitu jika Allah SWT sudah ingin menimpakan kemudaratan, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya. Mudharat itu pasti akan terus menguntit kemanapun dan sampai kapan pun.
Kalau pun bisa dihilangkan kemudahratan itu, satu-satunya yang bisa melakukannya hanya Allah SWT saja. Jadi intinya kalau ingin agar tidak ditimpakan kemudharatan, maka semua ada di tangan Allah SWT.
Sebaliknya, jika Allah SWT sudah berkehendak ingin memberikan kebaikan kepada seseroang, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Sebab Allah SWT itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata yamsaska (يَمْسَسْكَ) berasal dari wazan (مَسَّ - يَمَسُّ) yang artinya menyentuh. Yang namanya disentuh sebenarnya tidak terlalu berat bebannya. Akan jauh berbeda dengan diterjang, ditabrak atau pun ditimpakan. Kalau ibarat kendaraan, tidak sampai tabrakan, hanya serempetan saja. Tidak membuat body kendaraan penyok atau ringsek, hanya cat sedikit mengelupas.
Namun dalam terjemahan, Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menggunakan redaksi : menimpakan. Sedangkan Buya HAMKA menggunakan redaksi : mengenakan.
Yang jadi subjek atau pelaku dari kata kerja ini adalah lafaz allahu (اللَّهُ) yaitu Allah SWT. Sedangkan yang menjadi objek atau maf’ul bihi adalah dhamir ka (ك) yang berarti kamu.
Kata bidhurrin (بِضُرٍّ) artinya : dengan suatu kemudaratan. Boleh jadi kemudharatan itu sebenarnya sangat besar dan berat, kalau sampai tertimpa betulan, bisa sangat mencelakakan. Tetapi karena Allah SWT menggunakan istilah : menyentuh, maka boleh jadi posisinya sedikit lebih aman, yaitu hanya serempetan saja.
فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُو
Kata fa-la (فَلَا) artinya : maka tidak ada. Kata kasyif (كَاشِف) adalah bentuk isim fa’il alias pelaku yang berasal dari kata (كَشَفَ – يَكْشِفُ – كَشْفًا). Kata ini secara harfiah berarti menyingkap, membuka, atau menampakkan sesuatu yang sebelumnya tertutup. Namun dalam penggunaan maknawi atau konteks kalimat, kata ini bisa bermakna menghilangkan atau menyingkirkan sesuatu, seperti musibah, kesulitan, atau penderitaan.
Kata lahu (لَهُ) artinya : itu. Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia, yaitu Allah SWT.
Pada dasarnya di hampir semua kehidupan kita, fenomena Allah SWT menjadi kasyif dari berbagai macam madharat itu sudah terjadi dan terus menerus terjadi. Bahkan meskipun tidak kita sadari. Namun karena kita telah terbiasa atau karena bentuknya tidak selalu tampak luar biasa, kita sering tidak menyadarinya.
Contoh sederhana adalah kehidupan kita di bumi tampak begitu biasa, seolah-olah semuanya berjalan dengan sendirinya. Kita bernafas tanpa kesulitan, kulit kita tidak terbakar hanya karena terkena sinar matahari, dan tubuh kita tidak remuk oleh tekanan yang tidak terlihat.
Padahal, jika kita menengok ke luar angkasa, kenyataan yang kita hadapi sungguh mengerikan. Alam semesta adalah tempat yang sangat mematikan bagi kehidupan manusia. Di sana tidak ada oksigen, tidak ada tekanan atmosfer, dan sinar ultraviolet dari matahari menyala dengan kekuatan yang dapat menghancurkan sel-sel tubuh dalam sekejap.
Ruang hampa di luar bumi tidak memberikan perlindungan apapun bagi tubuh manusia. Tanpa alat bantu, paru-paru kita akan kolaps, darah akan mendidih dalam suhu tubuh, dan jaringan tubuh akan mengalami kerusakan fatal hanya dalam hitungan detik.
Namun, semua bahaya itu seperti ditahan dan dicegah dari menjangkau kita. Lapisan atmosfer bumi dengan ketebalan yang telah diukur sangat presisi, berfungsi sebagai pelindung utama.
Lapisan atmosfer bumi juga menahan tekanan agar tetap stabil di sekitar satu atmosfer agar cukup untuk menjaga tubuh manusia tetap utuh dan organ-organ bekerja normal.
Oksigen tersedia dalam kadar yang cukup, jika kurang maka bisa menyebabkan kita pingsan, namun jika berlebih akan membakar tubuh.
Lapisan ozon di stratosfer menyaring sinar ultraviolet dari matahari, membiarkan cukup cahaya masuk untuk kehidupan dan fotosintesis, tetapi menahan sinar yang mematikan dari masuk langsung ke permukaan bumi.
Medan magnet bumi juga berperan besar dalam membelokkan partikel-partikel bermuatan tinggi dari matahari, yang jika sampai ke permukaan akan membuat bumi tidak lebih dari sebuah bola mati seperti Mars.
Semua keseimbangan ini bukan hasil kebetulan, melainkan perlindungan yang terus-menerus dari Allah SWT. Tanpa kita sadari, setiap hari kita diselamatkan dari kematian massal oleh sistem yang diciptakan dan dijaga oleh-Nya.
Udara yang kita hirup, suhu yang tetap dalam rentang nyaman, dan sinar matahari yang menghangatkan tanpa membakar, semua itu pada hakikatnya adalah bentuk kasyf alias penyingkapan dan pencegahan Allah terhadap segala mudarat.
Jika bukan karena Dia yang menjadi kasyif dari segala keburukan itu, tidak akan ada makhluk hidup yang mampu bertahan barang sekejap pun di muka bumi ini. Begitu besar kasih sayang-Nya, bahkan ketika kita lalai atau tidak menyadarinya, Dia tetap menjaga.
Sistem Imun Tubuh Manusia
Penulis ingin tambah lagi contoh bagaimana Allah SWT telah amat banyak memberikan kita perlindungan. Kali ini kita bicara tentang sistem imun pada tubuh yang bekerja siang dan malam tanpa kita sadari.
Sistem imun ini bertugas menjaga agar tubuh tetap terlindungi dari serangan benda-benda asing seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Bahkan ketika kita tidak merasa sakit, sistem imun tetap aktif, memantau dan memeriksa setiap sel, memastikan tidak ada ancaman tersembunyi.
Di dalam tubuh, sistem imun terdiri dari berbagai komponen seperti sel-sel khusus seperti sel darah putih, antibodi, dan jaringan limfatik, yang bekerja sama secara kompleks. Ketika sebuah mikroba mencoba masuk, sistem imun akan langsung mengenalinya sebagai benda asing dan meluncurkan serangan.
Ada yang bertugas mendeteksi, ada yang menyerang langsung, ada pula yang mengingat musuh itu agar jika datang lagi, tubuh bisa bereaksi lebih cepat.
Secara menakjubkan sistem ini bahkan bisa membedakan mana yang bagian dari tubuh kita dan mana yang bukan. Bila terjadi kesalahan sedikit saja dalam identifikasi ini, bisa timbul penyakit autoimun, di mana tubuh justru menyerang dirinya sendiri.
Sepanjang hidup kita sistem imun sangat jarang salah. Bisa diibaratkan seperti tentara yang tak tidur, dengan kecerdasan yang luar biasa.
@@@
وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata yamsaska (يَمْسَسْكَ) artinya : menimpamu. Kata bikhayrin (بِخَيْرٍ) artinya : dengan suatu kebaikan.
Bentuk fisik dari kebaikan itu bisa bermacam-macam. Meskipun umumnya kebaikan itu tidak jauh-jauh dari luasnya rejeki, memiliki banyak harta kekayaan dan juga segala macam kenikmatan duniawi.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (QS. Al-‘Adiyat: 8)
Ayat tentang orang yang menjelang kematian dan punya harta diperintah untuk bikin wasiat, juga menggunakan istilah : khair
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika dia meninggalkan harta yang banyak untuk berwasiat.” (QS Al-Baqarah: 180)
Ibn Jarir ath-Thabari dan al-Qurthubi menegaskan bahwa khair di sini adalah al-mal (المال), yaitu harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang saat akan meninggal.
فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kata fa-huwa (فَهُوَ) artinya : maka Dia. Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya : atas. Kata kulli (كُلِّ) artinya : segala. Kata syay’in (شَيْءٍ) artinya : sesuatu. Kata qadir (قَدِيرٌ) artinya : Mahakuasa.
Biasanya ungkapan bahwa Allah SWT itu Maha Kuasa atas segala sesuatu diungkapkan untuk menggambarkan betapa hal yang secara wajar dianggap tidak mungkin, maka menjadi mungkin dan benar-benar terjadi.
Nabi Muhammad SAW dahulu mengawali hidup sebagai orang yang miskin, yatim dan tidak punya apa-apa. Namun kemudian Allah SWT mengangkat derajatnya:
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Dan Dia mendapati engkau dalam keadaan miskin, lalu Dia memberi kecukupan.(QS. Ad-Dhuha: 8)
Abdurrahman bin Auf yang datang ke Madinah sebagai muhajirin tanpa harta, namun menjadi kaya raya karena Allah berkahi usahanya. Ia berkata: “Tunjukkan aku pasar!” Lalu dia berdagang dan Allah berkahi. Dari tidak punya apa-apa menjadi hartawan karena taufik dan qudrah Allah.
Jazirah Arab, selama berabad-abad dikenal sebagai wilayah yang sangat gersang, tandus, dan mayoritas hanya terdiri dari gurun pasir. Tidak ada sungai besar, tidak ada hutan lebat, tanahnya tidak subur, dan secara geografis dianggap tidak menarik oleh bangsa-bangsa penjajah seperti Inggris, Prancis, maupun Portugis. Mereka lebih tertarik ke wilayah-wilayah yang kaya rempah (seperti Asia Tenggara), subur (seperti Mesir dan Mesopotamia), atau strategis secara pelayaran dan dagang (seperti India dan Afrika Timur).
Namun, setelah ditemukannya cadangan minyak bumi yang sangat besar di bawah padang pasirnya pada abad ke-20, status Jazirah Arab berubah drastis. Negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar yang sebelumnya termasuk negara miskin dan terbelakang secara ekonomi, dalam waktu singkat menjadi negara kaya raya. Infrastruktur mereka berkembang pesat, kota-kota megah muncul di tengah padang pasir, dan kekayaan negara meningkat luar biasa.
Ini menjadi salah satu contoh nyata dari firman Allah:
فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Sesuatu yang secara logika mustahil, seperti tanah gersang dan miskin berubah menjadi pusat kekayaan dunia, menjadi sangat mungkin jika Allah menghendakinya. Inilah manifestasi kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Allah Mahakuasa menjadikan orang miskin menjadi cukup dan bahkan pemimpin agung.
Kata idzaa (إِذَا) artinya : apabila. Kata hadlara (حَضَرَ) artinya : mendatangi. Kata ahadakumul-maut (أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ) artinya : salah seorang dari kalian (oleh) kematian.
Dalam kasus asli yang menjadi asbabun-nuzulnya, orang yang menghadapi kematian adalah Budail bin Abu Maryam, mantan budak yang telah dimerdekakan Amr bin Ash. Budail melakukan perjalanan dagang ke Syam bersama dua orang Nasrani, yakni Tamim ad-Dari dan saudaranya Adi bin Badaa’. Ketika mereka sampai di Syam, Budail jatuh sakit, dan merasa bahwa kematiannya sudah dekat.
Yang unik dari penggalan ini adalah bagaimana Al-Qur’an menggambarkan kematian seolah-olah ia adalah makhluk hidup yang datang dan hadir di hadapan manusia. Secara logika, kita memahami bahwa manusialah yang mendekati kematian, bukan sebaliknya. Tetapi dalam ayat ini, kematian digambarkan seakan datang menghampiri manusia.
Ini adalah bentuk gaya bahasa personifikasi yang membangkitkan kesadaran yang mendalam bahwa ajal bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan hadir di sekitar kita dan bisa mengetuk pintu siapa saja kapan pun.
Kata kerja yang digunakan adalah hadhara (حَضَرَ) yang dalam bahasa Arab bukan sekadar berarti ‘datang’, tetapi ‘hadir’ secara langsung, nyata, dan dekat. Ini menggambarkan kondisi dimana kematian sudah tidak jauh, bahkan sudah masuk ke ruang kehidupan seseorang.
Kata ini biasanya digunakan untuk sesuatu yang benar-benar sudah ada di hadapan mata, bukan sekadar menuju. Maka, penggunaan kata ini memberi nuansa bahwa saat kematian itu datang, ia benar-benar telah berada di sisi manusia — sangat dekat, tidak bisa dihindari, dan menandai dimulainya detik-detik akhir.
Pemilihan kata ahadakum (أَحَدَكُم) yang berarti : ‘salah seorang dari kalian’, juga menarik. Al-Quran tidak berbicara secara umum dengan mengatakan ‘apabila maut datang kepada kalian’, melainkan menyasarnya secara individu. Dengan demikian, setiap pembaca merasa bahwa ayat ini ditujukan langsung kepadanya secara pribadi.
Ini bukan tentang orang lain, tapi tentang diriku, tentang kita masing-masing. Ini menciptakan dampak psikologis yang kuat karena mengarahkan perhatian pembaca kepada kenyataan bahwa kematian adalah urusan yang sangat personal dan tidak bisa diwakilkan.