Kemenag RI 2019:Seandainya engkau (Nabi Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, dan kami menjadi orang-orang mukmin.” Prof. Quraish Shihab:Dan jika seandainya engkau (Nabi Muhammad saw.) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, (tentulah engkau akan menyaksikan peristiwa dahsyat; dan ketika itu mereka menyadari dosa-dosa mereka) maka mereka berkata: "Aduhail Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Pemelihara kami, dan kami (akan) termasuk golongan orang-orang mukmin." Prof. HAMKA:Dan alangkah hebat kalau engkau lihat
tatkala mereka diberdirikan di pinggir neraka
lalu mereka berkata, “Wahai kiranya, alangkah
baiknya jika kami dikembalikan supaya kami
tidak mendustakan (lagi) akan ayat-ayat Tuhan
kami dan jadilah kami daripada orang-orang
yang beriman.”
Ayat ke-27 dari Surat Al-An’am ini lagi-lagi berisi penguatan mental Nabi SAW, dimana Allah SWT meminta Nabi SAW untuk membayangkan bagaimana akhir kesudahan musuh-musuhnya itu di akhirat nanti.
Digambarkan mereka itu nantinya akan merengek minta dikembalikan lagi ke dunia dan ingin sekali menjadi orang yang beriman.
وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ
Kata walaw (وَلَوْ) artinya : dan sekiranya. Kata ini adalah bentuk pengandaian atas sesuatu yang belum terjadi atau sulit dipercaya.
Kata taroo (تَرَىٰ) artinya : kamu melihat. Kamu yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW.
Kata idz (إِذْ) artinya : ketika. Kata wuqifuu (وُقِفُوا) artinya : mereka dihadapkan atau mereka ditahan atau mereka diberdirikan secara pasif. Maksudnya mereka dihadapkan. Kata ‘alan-naari (عَلَى النَّارِ) artinya : di atas neraka.
Ibnu ‘Atiyyah menyebutkan bahwa ucapan ﴿وُقِفُوا عَلَى النَّارِ﴾ dapat dimaknai dengan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama bahwa maknanya adalah mereka masuk ke dalamnya, sehingga berdiri di atasnya itu berarti di dalamnya. Kemungkinan kedua bahwa mereka menghadapinya dan menatapnya, tanpa masuk.
Mereka berdiri di hadapan neraka, tidak bisa mundur atau menghindar, sehingga merasakan panik, takut, dan putus asa, karena api neraka sangat panas, menjulang, dan siap membakar mereka. Dalam tafsir disebutkan, mereka mungkin tercekam oleh rasa menyesal karena tidak mempercayai Allah dan Rasul-Nya di dunia.
Maka saat itulah mereka akan memohon kepada Allah untuk diberi kesempatan kembali ke dunia, berharap bisa memperbaiki diri, tapi doa mereka tidak dikabulkan. Ada yang saling menyalahkan satu sama lain, merasa seharusnya mereka diberi peringatan yang lebih jelas atau kesempatan yang lebih lama.
فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ
Kata faqaaluu (فَقَالُوا) artinya : maka mereka berkata. Kata yaa laitanaa (يَا لَيْتَنَا) artinya : wahai, seandainya kami. Kata nuraddu (نُرَدُّ) artinya : dikembalikan. Maksudnya dikembalikan lagi ke dunia.
Tentu tidak mungkin karena pada waktu itu dunia yang fana seperti yang kita sekarang berada di dalamnya ini sudah lewat dan berlalu.
Kalaupun dia dikembalikan lagi, itu artinya secara teknis waktu diputar ulang lagi ke masa sebelumnya. Dan hal itu tidak masuk akal alias tidak mungkin.
Kalaupun misalnya atas dasar kekuasaan Allah SWT dimungkinkan ada orang yang bisa bolak-balik melakukan perjalanan ke masa lalu dan ke masa depan, tentu tidak akan diberlakukan kepada mereka. Lalu apakah ada isyarat terkait perjalanan menembus waktu ke depan dan ke belakang?
Penulis kadang suka berpikir ketika Nabi Muhammad SAW pada malam mi’raj, ada disebutkan Beliau SAW diajak melihat ke dalam surga dan neraka. Tentu secara logika tidak mungkin terjadi, karena meski kita meyakini surga dan neraka sudah diciptakan, namun pada saat itu belum ada isinya. Padahal Nabi SAW bercerita dengan sangat detailnya dengan orang-orang yang ada di dalamnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
‘Aku diperlihatkan surga dan Aku lihat bahwa mayoritas penghuninya orang-orang miskin; kemudian diperlihatkan pula neraka. Aku lihat mayoritas penghuninya adalah para wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka secara nalar, inilah perjalanan menembus waktu ke masa depan, ketika sudah terjadi hari kiamat, sudah lewat masa orang dibangkitkan dari kuburnya untuk dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk diperlihatkan amal-amal mereka. Setelah itu barulah orang-orang dimasukkan ke dalam surga atau neraka.
Kalau Nabi SAW melihat mereka secara nyata real time, berarti Beliau bukan hanya diperjalankan menembus jarak tetapi juga menembus waktu ke masa depan.
وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا
Kata walaa nukadzdziba (وَلَا نُكَذِّبَ) artinya : dan tidak mendustakan. Kata bi-aayaati rabbinaa (بِآيَاتِ رَبِّنَا) artinya : ayat-ayat Tuhan kami.
Tentu sudah terlambat kalau ingin bisa hidup di dunia dengan tidak mendustakan ayat-ayat Allah SWT. Seharusnya ketika masih di dunia mereka membenarkan semua ayat yang Allah SWT turunkan.
Sebagian kalangan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat disini tidak lain adalah ayat-ayat Al-Quran. Namun sebagian lain mengatakan maksudnya lebih luas dari Al-Quran, yaitu tanda-tanda kebenaran agama, seperti mukjizat Nabi Muhammad SAW.
Abu Su’ud dalam tafsirnya menuliskan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah ayat Al-Quran, khususnya terkait kabar tentang alam akhirat dan siksa neraka.
وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Kata wanakuuna (وَنَكُونَ) artinya : dan kami menjadi. Kata minal-mu’miniin (مِنَ الْمُؤْمِنِينَ) artinya : termasuk orang-orang yang beriman.
Maksudnya mereka ketika sudah di dalam neraka barulah menyesali diri dan ingin dikembalikan lagi ke dunia untuk menjadi orang-orang beriman sebagai pengikut Nabi SAW.