Kemenag RI 2019:Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. ) Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, ) kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan. Prof. Quraish Shihab:Dan tidak ada makhluk melata di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umar-umat t juga) seperti kamu (manusia). Tidak Kami lupakan
sesuatu pun dalam al-Kitab (al-Quran atau LAuh al-Mahfuzh), kemudian hanya kepada Tuhan Pemelihara merekalah, mereka dikumpulkan. Prof. HAMKA:Dan tidak ada makhluk melata di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu (manusia). Tidak Kami lupakan sesuatu pun dalam al-Kitab (al-Qur’an atau Lauh al-Mahfuzh), kemudian hanya kepada Tuhan Pemelihara merekalah mereka dikumpulkan.
Ayat ke-38 dari surat Al-An’am ini menegaskan bahwa semua makhluk hidup di bumi, baik yang melata maupun yang terbang, tidak ada yang luput dari pengaturan Allah. Setiap makhluk memiliki kelompok atau “umat” masing-masing, serupa dengan manusia yang memiliki komunitas dan keteraturan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan keteraturan yang rapi dalam seluruh ciptaan-Nya.
Selain itu Allah SWT juga menekankan bahwa tidak ada sedikit pun yang terlewat dalam Kitab-Nya, baik berupa hukum, petunjuk, atau pengetahuan yang mengatur makhluk hidup. Semua hal tercatat dan terperinci, sehingga tidak ada yang lalai atau diabaikan. Konsep ini menegaskan kesempurnaan dan kepastian wahyu Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia dan keteraturan alam semesta.
Maka semua makhluk yang hidup akan dikumpulkan kembali di hadapan Allah. Tahapan ini mengaitkan kehidupan dunia dengan hari kiamat, di mana setiap makhluk bertanggung jawab atas eksistensinya. Hubungan dengan ayat sebelumnya terlihat jelas: setelah menegaskan keteraturan makhluk hidup dan kesempurnaan catatan Allah, ayat ini menekankan konsekuensi akhir bagi semua makhluk, yaitu dikumpulkan di hadapan Tuhan mereka untuk perhitungan dan pengadilan.
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ
Kata wama (وَمَا) artinya : dan tidak. Huruf wau (و) artinya : dan yang merupakan haruf ‘athf, fungsinya untuk menghubungkan kalimat atau kata dengan sebelumnya. Sedangkan huruf ma (ما) artinya : tidak yang merupakan harfu nafyin, fungsinya untuk menafikan eksistensi sesuatu. Maka keduanya bisa kita terjemahkan menjadi : dan tidak ada.
Kata dabbah (دَابَّةٍ) berasal dari kata kerja دَبَّ – يَدِبُّ yang artinya merayap perlahan, berjalan pelan, atau bergerak di atas permukaan bumi. Maka secara harfiah berarti makhluk yang berjalan atau merayap di atas bumi. Bisa berarti semua makhluk hidup di bumi, khususnya hewan, termasuk manusia. Karena manusia juga berjalan di muka bumi.
وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ
Kata wa-la (وَلَا) artinya : dan tidak juga. Kata thair (طَائِرٍ) artinya : burung. Kata yathiru (يَطِيرُ) artinya : terbang. Kata bi-janahaihi (بِجَنَاحَيْهِ) artinya : dengan kedua sayapnya.
Allah SWT menyebut berbagai jenis hewan, dalam hal ini hanya sebagian dan tidak semuanya. Sebelumnya disebut dengan jenis daabbah yaitu hewan yang melata atau berjalan di daratan. Lalu Allah SWT sebutkan hewan yang terbang dengan menggunakan kedua sayapnya yaitu thair atau burung.
Kalau kita katakan bahwa pembagian ini tidak lengkap, tentu saja memang tidak lengkap. Namun harus kita pahami bahwa ayat ini memang bukan sedang membicarakan pembagian jenis spisies makhluk hidup di muka bumi. Allah SWT hanya menyebut sebagian dari jutaan spesies yang ada. Jangankan semua spesies, bahkan ketika menyebut burung, Allah SWT hanya menyebut yang bisa terbang saja. Burung memang bisa terbang dengan menggunakan kedua sayapnya. Misalnya merpati, elang, burung gereja, burung walet. Sayap mereka berfungsi penuh untuk terbang, baik jarak dekat maupun jauh.
Walaupun kalau kita teliti lebih dalam, ada banyak juga jenis hewan yang masih disebut dengan ’burung’ atau unggas, punya sayap, tetapi sayapnya tidak bisa digunakan untuk terbang.
Ayam, bebek, kalkun, burung unta, kiwi, penguin dan sejenisnya, mereka tetap disebut burung karena memiliki ciri khas unggas, yaitu bertelur, bersayap, berbulu, berparuh. Tetapi sayapnya tidak digunakan untuk terbang. Bukannya tidak punya sayap, tetapi sayapnya terlalu kecil, seperti burung unta dan kiwi, ada yang beradaptasi untuk berenang seperti penguin, atau memang hanya digunakan untuk membantu keseimbangan saat berlari atau melompat seperti ayam dan kalkun.
Maka sekali lagi ayat ini bukan sedang membuat peta jenis-jenis spisies, tetapi hanya menyebutkan satu dua sampel saja.
إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali, yang merupakan harfu istithna’, dimana fungsinya untuk menunjukkan pengecualian.
Kata umam (أُمَمٌ) adalah bentuk jamak dari kata bentuk tunggalnya yaitu umat. Bisa juga kita maknai sebagai kelompok-kelompok, atau bangsa-bangsa. Kata amtsalukum (أَمْثَالُكُمْ) artinya : seperti kalian.
Penggalan ini menunjukkan bahwa hewan melata di bumi dan juga burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya juga punya bangsa, kaum dan umat juga. Memiliki susunan sosial seperti manusia. Mereka memiliki bentuk kehidupan sosial, cara berinteraksi, serta sistem keberlangsungan hidup yang Allah tetapkan bagi mereka.
1. Masyarakat Lebah
Lebah adalah contoh klasik makhluk sosial yang teratur. Dalam satu koloni terdapat ratu lebah yang bertugas bertelur, lebah pekerja yang seluruhnya betina dan mengurus semua pekerjaan, mencari nektar, menjaga sarang, memberi makan larva, dan memproduksi madu, serta lebah jantan yang fungsinya terbatas pada mengawini ratu.
Mereka hidup dengan sistem kerja sama yang sangat disiplin. Setiap lebah tahu tugasnya dan bekerja demi kepentingan koloni, bukan individu. Menariknya, surat ke-16 dari Al-Qur’an bernama surat Lebah yaitu surat An-Nahl.
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.(QS. An-Nahl ayat 68–69)
2. Masyarakat Semut
Semut juga hidup dalam koloni besar dengan pembagian peran yang jelas. Ada ratu semut yang berfungsi bertelur, semut pekerja yang bertugas mencari makan, merawat anak, dan membangun sarang, serta semut prajurit yang menjaga koloni dari serangan musuh. Semut dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang canggih menggunakan feromon untuk memberi tahu jalur makanan atau bahaya.
Kisah semut bahkan diabadikan dalam Al-Quran, yaitu ketika Nabi Sulaiman mendengar seekor semut memberi peringatan kepada kawannya agar masuk ke sarang supaya tidak terinjak pasukan. Ini menunjukkan semut memiliki bentuk komunikasi dan kepemimpinan dalam masyarakatnya.
Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. (QS. An-Naml : 18–19)
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
Huruf ma (مَا) artinya : tidak atau bisa juga berarti : apa, namun yang ini merupakan merupakan harfu nafyi, jadi artinya : tidak. Kata farrathna (فَرَّطْنَا) artinya : kami lalaikan atau kami menelantarkan, atau kami meninggalkan. Maksudnya Allah menyatakan bahwa diri-Nya tidak pernah lalai atau meninggalkan sesuatu.
Kata fil-kitab (فِي الْكِتَابِ) artinya : di dalam kitab. Kata ini bermakna harfiyahnya adalah : “catatan, kitab suci, dokumen”. Kata min syai’ (مِنْ شَيْءٍ) makna harfiyahnyaadalah : dari sesuatu. Ungkapan yang lazim dalam Bahasa Indonesia adalah : sesuatu pun.
Sebagian ulama memaknai kata al-kitab (الْكِتَابِ) di ayat ini sebagai Al-Quran Al-Karim, yang isinya sangat lengkap, tidak ada yang luput dari ayat Al-Quran. Mereka meyakini bahwa isi kandungan Al-Qur’an memuat semua hal penting yang dibutuhkan sebagai pedoman hidup: akidah, ibadah, hukum, petunjuk akhlak, kisah umat terdahulu, hingga kabar tentang masa depan.
Dengan kata lain, tidak ada kebutuhan pokok manusia dalam urusan agama yang luput dari kandungan Al-Qur’an. ‘Atha’ meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:
ما تَرَكْنا مِن شَيْءٍ إلّا وقَدْ بَيَّنّاهُ لَكم
“Kami tidak meninggalkan sesuatu pun kecuali telah Kami jelaskan kepada kalian.”
Pendapat ini juga didukung dengan ayat yang lain :
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS. An-Nahl: 89),
Namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa makna al-kitab (الْكِتَابِ) di ayat ini bukan Al-Quran, melainkan Lauhil Mahfzuzh. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Qatadah dan Ibnu Zaid. Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:
ما تَرَكْنا شَيْئًا إلّا وقَدْ كَتَبْناهُ في أُمِّ الكِتابِ
“Kami tidak meninggalkan sesuatu pun kecuali telah Kami tuliskan di Ummul Kitab.”
Mereka yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa semua takdir sudah tercatat dan ditetapkan oleh Allah di Lauh Mahfuzh sejak awal, dan tidak akan berubah sampai hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi SAW :
جَفَّ القَلَمُ بِما هو كائِنٌ إلى يَوْمِ القِيامَةِ
Pena telah kering dengan (menuliskan) apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.
Adapun Al-Quran jika dikatakan lengkap tanpa ada sedikitpun yang tidak termuat, justru malah bermasalah. Sebab jika memang sudah lengkap, lantas kenapa harus ada hadits nabi? Bukankah justru Nabi SAW sendiri yang bertanya kepada Muadz bin Jabal,”Jika tidak kamu dapati di dalam kitabullah, dengan apa kamu putuskan perkara?”. Maka Muadz menjawab,”dengan sunnah Rasulullah SAW”.
Bahkan Nabi SAW kembali bertanya,”Jika tidak kamu dapati di dalam sunnah Rasulullah SAW, dengan apa kamu putuskan perkara?”. Maka Muadz pun menjawab,”Aku akan berijtihad dengan pendapatku namun aku berhati-hati”.
Maka kata al-kitab di ayat ini akan lebih tepat jika dimaknai sebagai Lauhil Mahfuzh, yang isinya tentang surat taqdir dari segala sesuatu di dunia ini, bukan Al-Quran yang jumlah ayatnya hanya 6.235 saja.
ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : “kemudian” yang merupakan harfu ‘athf dan fungsinya sebagai penghubung urutan waktu. Makna harfiyahnya adalah lalu, atau sesudah itu, digunakan untuk menunjukkan tahapan berikut dalam peristiwa atau kejadian yang dijelaskan.
Kata ila (إِلَىٰ) artinya : kepada. Kata rabbihim (رَبِّهِمْ) artinya : Tuhan mereka. Kata yuhsyarun (يُحْشَرُونَ) artinya : dikumpulkan atau dihimpun. Inilah yang dimaksud dengan Padang Mahsyar, yaitu ketika seluruh manusia yang telah mati dihidupkan kembali dan mereka dikumpulkan semuanya untuk diadili oleh Allah SWT.