Kemenag RI 2019:Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. Prof. Quraish Shihab:Maka, ketika mereka mengabaikan apa yang diperingatkan kepada mereka dengannya, Kami membukakan pintu-pintu segala sesuatu (yang berkaitan dengan kesenangan duniawi) untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka seketika itu mereka terdiam berputus asa. Prof. HAMKA:Maka tatkala mereka telah lupa apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami bukakanlah untuk mereka pintu-pintu dari tiap-tiap sesuatu. Sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka itu, Kami siksa lah mereka dengan sekonyong-konyong. Tiba-tiba, mereka pun merasa kecewa.
Ayat ke-44 ini menjelaskan hal yang cukup unik, yaitu ketika suatu kaum mengabaikan peringatan Allah, alih-alih mereka dihukum, justru kepada mereka dibukakan pintu-pintu rejeki, diberi kelapangan rezeki, dianugerahkan berbagai kesenangan serta beragam kenikmatan.
Namun ternyata semua itu bukan berarti keridaan Allah, melainkan justru menjadi jebakan. Sebab saat mereka sedang gembira dan terlena dengan semua yang diberikan, Allah menurunkan azab secara tiba-tiba. Akibatnya, mereka terdiam tak berdaya dan putus asa.
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ
Kata falamma(فَلَمَّا) : artinya : maka ketika, terdiri dari huruf fa (فَ) yang artinya: maka. Kemudian lammaa (لَمَّا) artinya: ketika, yang merupakan zharf zaman yaitu keterangan waktu yang menunjukkan saat tertentu, biasanya digunakan untuk peristiwa lampau yang memicu akibat.
Kata nasuu (نَسُوا) artinya: mereka telah melupakan. Kata ini dipakai bukan sekadar lupa ingatan, tapi melupakan dengan sengaja, yakni berpaling dari peringatan Allah.
Kata maadzukkiruu bihi (مَا ذُكِّرُوا بِهِ) artinya: apa yang mereka telah diingatkan dengannya, yaitu diingatkan dengan peringatan dari Allah, juga seluruh bentuk peringatan, baik berupa ayat, nasihat, atau azab peringatan, yang sayangnya setelah itu malah mereka abaikan.
Penggalan ini menjelaskan bahwa ketika kaum kafir berpaling dan melupakan peringatan Allah yang telah jelas disampaikan kepada mereka, maka terjadilah konsekuensi yang berat setelahnya. Ini menunjukkan pola berulang: lupa terhadap peringatan sama dengan menutup pintu hidayah.
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ
Kata fatahna (فَتَحْنَا) artinya : Kami bukakan, yang dimaksud dengan Kami tidak lain adalah Allah SWT. Kata alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : bagi mereka atau untuk mereka. Kata abwaba (أَبْوَابَ) merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal bab, yang berarti pintu-pintu. Bukan hanya satu pintu tapi banyak pintu. Ini menggambarkan bahwa Allah SWT memberikan mereka kebaikan dalam jumlah yang amat besar dan banyak jumlahnya.
Kata kulla syai-in (كُلِّ شَيْءٍ) artinya : segala sesuatu.
Yang dimaksud adalah berbagai macam anugerah dan nikmat dari Allah SWT, baik berupa nikmat kesehatan, kelapangan rezeki, ketenangan batin, keamanan, serta berbagai macam yang menjadi keinginan dan hajat kebutuhan mereka.
Dengan kata lain, Allah SWT jadikan hidup mereka makmur, serba berkecukupan, rejeki lancar mengalir datang dengan sendirinya, sejahtera dan bahagia.
Namun semua itu diberikan bukan karena Allah SWT ridha dengan mereka. Justru sebaliknya, banyak dari perilaku mereka yang sangat bertentangan dengan nikmat yang Allah SWT berikan.
Itulah yang dinamakan istidraj, yaitu proses dibiarkan dalam kesenangan padahal sebenarnya sedang menuju kepada kebinasaan. Hanya saja kebinasaan itu sengaja sedang ditangguhkan.
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. (QS. Al-Araf : 182)
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. (QS. Al-Qalam : 44)
حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا
Kata hatta (حَتَّىٰ) artinya : sehingga. Kata idza farihu (إِذَا فَرِحُوا) artinya: ketika mereka bergembira. Kata bima uutu (بِمَا أُوتُوا) artinya : dengan apa yang diberikan kepada mereka.
Maksudnya ketika mereka mengira bahwa penderitaan yang menimpa mereka bukanlah bentuk balasan dari Allah. Lalu ketika Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan, mereka pun menyangka bahwa itu semua karena mereka memang pantas menerimanya. Saat itulah tampak bahwa hati mereka telah mengeras dan mati, serta tidak ada lagi harapan untuk bisa tersadar melalui cara apapun. Maka Allah pun tiba-tiba menimpakan azab kepada mereka tanpa mereka sadari.
Al-Hasan mengatakan bahwa dalam ayat ini terdapat makar Allah terhadap kaum itu. Rasulullah SAW bersabda:
Apabila engkau melihat Allah tetap memberikan (kenikmatan) meskipun manusia bergelimang maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah Ta‘ala.
أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Kata akhadzna-hum (أَخَذْنَاهُمْ) artinya : kami timpakan kepada mereka. Kata baghtatan (بَغْتَةً) artinya : secara mendadak, atau secara tiba-tiba. Kata afaidza-hum (فَإِذَا هُمْ) artinya : maka tiba-tiba mereka. Kata mublisun (مُبْلِسُونَ) artinya : mereka terdiam putus asa.
Maksudnya adalah mereka berputus asa dari segala kebaikan. Al-Farra’ mengatakan bawah mublisun (مُبْلِسُونَ) adalah orang-orang yang telah terputus harapannya. Karena itu, orang yang terdiam setelah kehabisan alasan dalam debat dikatakan qad ablasa (قد أبلس) yaitu telah terdiam putus asa. Sedangkan Az-Zajjaj mengatakan bahwa mublisun (مُبْلِسُونَ) adalah orang yang sangat menyesal dan berduka.
Kata iblas (إبلاس) dalam bahasa bisa bermakna putus asa dari keselamatan ketika ditimpa kebinasaan, bisa juga bermakna terputus hujjah sehingga tidak mampu menjawab. Selain itu bisa juga bermakna kebingungan karena tertimpa musibah.
Nama iblis (إبليس) ternyata memang ada kaitannya dengan kata mublisun (مُبْلِسُونَ), asalnya dari akar kata balasa (بَلَسَ) yang berarti putus asa atau kehilangan harapan. Iblis dinamakan demikian karena ia telah berputus asa dari rahmat Allah setelah membangkang perintah-Nya untuk sujud kepada Nabi Adam alaihissalam.