Kemenag RI 2019:Mereka (para penyihir) berkata, “Wahai Musa, engkaukah yang akan melemparkan (lebih dahulu) atau kami yang melemparkan?” Prof. Quraish Shihab:Mereka (para penyihir) berkata: “Wahai Musa! Engkau yang melemparkan (terlebih dahulu), dan bisa (juga) kami yang menjadi pelempar.” Prof. HAMKA:Mereka berkata, “Hai Musa! Engkaukah yang akan melempar kart (lebih dahulu) atau kamikah yang akan terlebih dahulu melemparkan?”
Ayat ke-115 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan momen awal dimulainya “pertarungan” antara Nabi Musa dan para penyihir yang telah dikumpulkan oleh Fir'aun. Setelah seluruh persiapan dilakukan dan para penyihir hadir dengan motivasi yang telah dipupuk oleh janji imbalan dan kedudukan, kini mereka berhadapan langsung dengan Musa di hadapan publik.
Dalam suasana yang penuh ketegangan itu, para penyihir memulai dengan menawarkan pilihan kepada Musa: apakah ia yang akan melempar terlebih dahulu, atau mereka yang akan memulai.
Mereka datang dengan keyakinan atas kemampuan mereka dan dukungan penuh dari kekuasaan Fir‘aun. Pertanyaan itu bukan sekadar etika bertanding, tetapi juga bentuk kesiapan untuk menunjukkan kekuatan mereka di hadapan khalayak.
قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ
Kata qaaluu (قَالُوا) berarti mereka berkata, yaitu para penyihir yang berbicara. Kata yaa musa (يَا مُوسَىٰ) artinya : wahai Musa. Kata immaa (إِمَّا) adalah kata yang menunjukkan pilihan antara dua hal, yaitu : atau A atau B. Huruf an (أَنْ) adalah huruf yang menghubungkan kepada fi’il setelahnya. Kata tulqiya (تُلْقِيَ) berasal dari akar kata (ل ق ي) yang berarti melempar. Dalam bentuk ini menunjukkan fi’il mudhari’ dengan pelaku mukhatab (kamu), yaitu engkau melempar.
Terjemahan Kemenag RI dan Quraish Shihab menggunakan ungkapan “Engkaulah yang akan melemparkan (lebih dahulu)”, , sedangkan HAMKA menerjemahkan dengan kalimat tanya, “engkaukah yang akan melemparkan (lebih dahulu)”.
Ini adalah tantangan untuk mengadu kemampuan dari para penyihir kepada Nabi Musa, yaitu dalam ucapan mereka: “Apakah engkau yang melempar (lebih dahulu) ataukah kami yang menjadi orang-orang yang melempar?” Maksudnya: sebelum engkau.
Ungkapan ini sebenarnya juga sempat diceritakan dalam ayat Quran yang lain:
وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى
Ataukah kami yang pertama kali melempar. (QS. Thaha: 65)
وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ
Huruf wa (وَ) berarti dan, sebagai penghubung dari pilihan sebelumnya. Kata immaa (إِمَّا) kembali menunjukkan pilihan kedua, yaitu atau. Huruf an (أَنْ) berfungsi menghubungkan kepada fi’il setelahnya. Kata nakuuna (نَكُونَ) berasal dari akar kata (ك و ن) yang berarti menjadi. Dalam bentuk ini menunjukkan kami menjadi. Kata nahnu (نَحْنُ) berarti kami. Penyebutan ini berfungsi sebagai penegasan, meskipun sudah terkandung dalam kata sebelumnya. Kata al-mulqiin (الْمُلْقِينَ) berarti orang-orang yang melakukan pelemparan.
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)