Kemenag RI 2019:Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga. Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Prof. Quraish Shihab:Maka, ia (setan) menurunkan keduanya (dari ketaatan kepada kedurhakaan) dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah merasakan (buah) pohon (itu), nampaklah bagi keduanya auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Tuhan Pemelihara mereka menyeru mereka berdua: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui (mendekati) pohon itu dan telah Aku firmankan kepada kamu berdua, sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Prof. HAMKA:Maka dia anjurkanlah keduanya dengan tipu daya. Maka setelah keduanya merasai pohon itu terbukalah bagi keduanya kemaluan keduanya dan bergegaslah keduanya menutup atas keduanya dengan daun-daunan surga. Dan menyerulah Tuhan mereka kepada keduanya, “Bukankah telah Aku larang kamu berdua dari pohon itu dan telah Aku katakan kepada kamu berdua sesungguhnya setan itu bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata?”
Akibat mencicipi itu maka tampaklah pada keduanya auratnya. Sehingga terpaksa keduanya mulai beregas segera menutupinya dengan daun-daun di surga.
Saat itulah Allah mengingatkan bahwa mereka sudah dilarang mendekati pohon, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan sudah tahu bahwa setan adalah musuh yang nyata. Namun nasi sudah jadi bubur.
فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ
Huruf fa (فَ) di awal menunjukkan akibat langsung dari rangkaian sebelumnya yang menandai bahwa apa yang terjadi sekarang adalah konsekuensi logis dari tipu daya yang telah dibangun setan tahap demi tahap.
Kata dallaa-humaa (دَلَّاهُمَا) diterjemahkan secara berbeda. Kemenag RI 2019 mengartikannyanya : menjerumuskan. Quraish Shihab menerjemahkan : menurunkan (dari ketaatan kepada kedurhakaan). HAMKA menerjemahkan : menganjurkan.
Kata ini berasal dari akar kata (د ل و) yang pada asalnya berarti menurunkan timba ke dalam sumur. Dari makna dasar ini lahir makna kiasan: menarik seseorang turun sedikit demi sedikit, membuatnya meluncur ke bawah tanpa sadar. Bentuk kata kerja ini menunjukkan bahwa prosesnya tidak mendadak, tetapi perlahan, halus, dan bertahap.
Akhiran -humaa (هُمَا) kembali menegaskan bahwa proses penyesatan itu mengenai keduanya sekaligus, Adam dan Hawa, bukan salah satu saja.
Kata bi-ghuruurin (بِغُرُورٍ) berasal dari kata ghurur, yang berarti tipuan yang dibungkus harapan palsu, janji manis yang menipu, atau gambaran indah yang tidak sesuai kenyataan. Huruf ba (بِ) menunjukkan alat atau cara: penurunan itu dilakukan melalui tipu daya, bukan dengan paksaan.
Jika dirangkai secara harfiah, maknanya adalah: ”Maka ia menurunkan keduanya dengan tipu daya.” Namun jika dirangkai secara makna yang utuh dan hidup : ”Maka setan berhasil menyeret keduanya turun secara perlahan melalui tipu daya dan janji palsu.”
فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ
Kata falamma (فَلَمَّا) adalah zharf zaman yang bermakna ketika atau tatkala. Kata ini sering dipakai untuk menandai titik balik dalam sebuah kisah, yaitu momen ketika sesuatu yang krusial akhirnya terjadi.
Kata dzaaqaa (ذَاقَا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : merasakan atau mengecap. Pemilihan kata ini sangat halus dan bermakna tidak dipakai kata makan, tapi sekedar mencicipi atau merasakan. Jumlahnya pasti sedikit sekali, karena sekadar mencoba, seolah-olah hanya ingin membuktikan kebenaran bisikan setan. Namun justru dari sekadar mencicipi itulah akibat besar terjadi.
Kata asy-syajarah (الشَّجَرَةَ) berarti pohon itu. Ada yang agak janggal ketika Allah menyebut pohon yang dicicipi Adam dan Hawa. Seharusnya buah dan bukan pohonnya yang dicicipi.
Jawabannya silahkan simak ulang pada ayat-ayat sebelumnya, ternyata larangannya sejak awal memang bukan makan buah, melainkan mendekati pohon. Perhatikan (وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ) : “jangan mendekati pohon ini”, bukan “jangan memakan buahnya”. Maka ketika dikatakan “tatkala mereka mencicipi pohon itu”, ayat ini konsisten dengan larangan dan pelanggarannya.
Lantas apakah yang sebenarnya dilarang untuk dimakan dan ternyata di makan oleh Adam, pohon atau buah?
Jawabannya buah, sebab tidak ada ulama yang mengatakan bahwa Adam menggigit kayu atau makan kayu, daun, dahan, ranting atau akar pohon. Begitulah gaya bahasa Arab yang suka menyebut keseluruhan untuk maksud sebagian. Dalam ilmu balaghah seperti ini biasa disebut majaz mursal bi ‘alaqah al-kulliyyah.
بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا
Kata badat (بَدَتْ) adalah kata kerja bentuk fi‘il madhi yang berarti tampak, terlihat, tersingkap setelah sebelumnya tersembunyi.
Kata lahuma (لَهُمَا) berarti kepada mereka berdua. Kata saw-aatu-humaa (سَوْآتُهُمَا) artinya aurat mereka berdua.
Ungkapan ini menimbulkan persepsi di sebagian kalangan bahwa terbukanya aurat itu hanya sebatas pandangan mereka masing-masing. Namun umumnya para ulama mengatakan bahwa aurat masing-masing memang benar-benar terbuka, bukan hanya ilusi atau imaginasi saja. Makanya kemudian mereka menutupinya dengan dedaunan.
Dalam banyak penjelasan ulama, Adam dan Hawa sebelum maksiat tidak telanjang dalam keadaan hina, tetapi berada dalam perlindungan dan karamah khusus dari Allah. Aurat mereka tertutup bukan semata oleh benda fisik, melainkan oleh penutup ilahi yang disebut dengan berbagai istilah: sitr, nur, karamah, atau libas min Allah. Selama berada dalam ketaatan, mereka layak menerima penutup itu.
Ketika maksiat terjadi, yang pertama kali dicabut bukan surga, bukan kehidupan, dan bukan rahmat Allah, tetapi kelayakan untuk tetap berada dalam kondisi kemuliaan tersebut. Maka terbukanya aurat bukan sekadar kulit terlihat, tetapi tanda bahwa pakaian surga, apa pun hakikatnya, sudah tidak pantas lagi mereka kenakan.
Kata thafiqaa (طَفِقَا) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi : mulai, sedangkan HAMKA menerjemahkannya dengan : bergegas. Ini adalah kata kerja fi‘il madhi yang bermakna mulai melakukan sesuatu dan terus melakukannya. Dalam bahasa Arab, kata ini sering dipakai untuk menunjukkan tindakan spontan yang berulang, dilakukan karena dorongan kuat dari dalam diri, bukan karena perintah luar. Ini memberi kesan reaksi refleks, bukan tindakan yang direncanakan.
Kata yakhshifaani (يَخْصِفَانِ) berasal dari akar kata (خ ص ف) yang berarti menambal, menempelkan sesuatu di atas sesuatu yang lain secara bertumpuk. Maknanya bukan sekadar menutup, tetapi menutup dengan cara darurat, menempelkan lapisan demi lapisan karena tidak ada penutup yang layak.
Kata ‘alaihimaa (عَلَيْهِمَا) berarti di atas mereka berdua. Ungkapan ini menunjukkan bahwa daun-daun itu ditempelkan langsung pada tubuh, sebagai penutup fisik yang mendesak. Huruf min (مِنْ) artinya : dari sebagian. Fungsinya sebagai min at-tab‘idh. Kata waraqi (وَرَقِ) berarti daun. Kata al-jannah (الْجَنَّةِ) berarti surga.
Penulis membayangkan tentara yang melanggar dan dipecat dari kesatuan, maka pangkatnya dilepas, bahkan seragamnya pun dipreteli. Dia tidak berhak lagi menengenakan tanda pangkat dan seragam kebanggaan itu, mengingat statusnya sudah bukan lagi tentara aktif.
Untuk itu dia akan memakai pakaian sipil sebagaimana umumnya pakaian yang dikenal masyarakat kebanyakan.
Kata wa nada huma (وَنَادَاهُمَا) : maka memanggil mereka. Kata rabbuhuma (رَبُّهُمَا) artinya : tuhan mereka, yaitu Allah SWT.
Kata a-lam (أَلَمْ) adalah gabungan dari hamzah istifham dan lam nafyi, yaitu pertanyaan yang bernada penegasan. Maknanya kurang lebih: ”bukankah?”. Kata anhakumaa (أَنْهَكُمَا) artinya : aku sudah melarang kamu berdua.
Kata ‘an tilkuma (عَنْ تِلْكُمَا) adalah kata tunjuk untuk yang itu, dengan jarak makna agak jauh. Pemilihan kata ini memberi kesan bahwa pohon itu sudah jelas dikenal, sudah ditentukan sebelumnya dan bukan sesuatu yang samar atau baru muncul belakangan. Kata asy-syajarah (الشَّجَرَةِ) berarti pohon itu.
Jika dirangkai secara harfiah, maknanya adalah : ”Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu?”
Kata wa aqul (وَأَقُلْ) artinya : Aku telah berkata. Kata lakumaa (لَكُمَا) artinya kepada kalian berdua.
Huruf inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya, memberi makna kepastian dan penekanan kuat bahwa asy-syaithan (الشَّيْطَانَ) yaitu setan. Kata lakumaa (لَكُمَا) kembali diulang, artinya bagi kalian berdua.
Kata ‘aduwwun (عَدُوٌّ) berarti musuh. Kata mubin (مُبِينٌ) berarti jelas, nyata, terang-terangan. Sejak awal mula nabi yang pertama yaitu Adam, sudah ada musuhnya yaitu Iblis. Nabi-nabi berikutnya pun dipastikan ada musuh alaminya.
Itu semua merupakan bagian dari keseimbangan, sebagaimana keseimbangan alam dalam ekologi ciptaan Allah. Allah menciptakan makhluk hidup saling bergantung satu sama lain, dan setiap makhluk memiliki peran serta lawan alaminya, yaitu predator atau pengimbang populasi agar sistem kehidupan tetap stabil.
Contohnya singa memangsa rusa, tetapi keberadaannya menjaga agar populasi rusa tidak berlebihan. Jika singa hilang, rusa berkembang tanpa kendali, merusak vegetasi, dan ekosistem menjadi tidak seimbang. Hal yang sama terjadi pada ular dan tikus. Ular adalah predator alami tikus. Jika ular punah, populasi tikus melonjak, menyebabkan kerusakan tanaman dan wabah penyakit.
Burung elang memangsa ular kecil, menjaga keseimbangan rantai makanan. Ikan besar mengendalikan populasi ikan kecil agar tidak menghabiskan plankton secara berlebihan. Semua hubungan ini menunjukkan bahwa mekanisme keseimbangan alias mizan dari Allah SWT.