Kemenag RI 2019:Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” Prof. Quraish Shihab:Keduanya berkata: “Tuhan Pemelihara kami, kami telah menganiaya diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi." Prof. HAMKA:Keduanya menjawab, “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami dan jika tidaklah Engkau ampuni kami dan Engkau rahmati kami. Sesungguhnya jadilah kami dari orang-orang yang rugi.”
Keduanya mengakui bahwa mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Untuk itu mereka meminta agar Allah SWT mengampuni apa yang telah dengan lalai mereka lakukan. Bukan hanya itu saja, mereka pun sekaligus juga memohon agar Allah SWT merahmati mereka. Sebab jika tidak ada ampunan dan rahmat, niscaya rugilah mereka.
Nampak sekali bahwa Allah SWT memberi contoh teladan, bahwa yang penting dari orang yang bersalah itu bukan kesalahannya, tetapi bagaimana dia keluar dari kesalahan dengan jalan yang benar, yaitu mengaku salah dan minta ampun.
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
Kata qalaa (قَالَا) artinya : mereka berdua berkata, maksudnya Nabi Adam dan istrinya melafadzkan doa pertaubatan dan permohonan ampunan dari Allah SWT.
Kata rabbana (رَبَّنَا) artinya : wahai Tuhan Kami. Ini adalah salah satu etika dalam berdoa, yaitu menyapa Allah SWT dengan ucapan yang mengandung pengakuan atas ketuhanan Allah sekaligus menyiratkan penghambaan diri kepada-Nya.
Kata zhalamna (ظَلَمْنَا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : kami telah berlaku zalim. Kata anfusana (أَنْفُسَنَا) artinya : diri kami.
Allah SWT seakan mengajarkan kepada kita bahwa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang bersalah adalah mengakui kesalahan, bukan malah mencari-cari alasan atas kesalahan, apalagi sampai mencari-cari kambing hitam.
Ketika iblis diusir dari surga, seharusnya dia mohon ampun dan mengakui kesalahannya, tetapi yang terjadi malah dia mencari alasan yang sekiranya membenarkan tindakannya, yaitu mencoba beradu logika kepada Allah dengan membandingkan bahan baku penciptaan antara dirinya dan Adam. Boleh jadi dengan cara itu iblis merasa lebih pintar dan lebih benar daripada kebijakan Allah SWT.
Disinilah kekeliruan Iblis, bukannya mengaku bersalah dan minta ampun, tetapi malah mencoba mendebat Allah SWT. Maka akibatnya dia langsung diusir dari surga.
Berbeda jauh dengan Adam, meski juga melakukan kesalahan, tetapi dia langsung mengakui kesalahan, sekaligus juga meminta ampun dan mohon diberikan rahmat dari Allah SWT. Inilah sikap yang seharusnya dilakukan oleh siapa pun yang terlanjur bersalah, yaitu mengakui kesalahan dan minta ampun, bukan malah menantang berdebat.
Bahkan meskipun sebenarnya dia tidak salah, tetapi mengakui dulu kesalahan itu jauh lebih tangguh dan jauh lebih terhormat ketimbang mencari kambing hitam.
وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
Kata wa in (وَإِنْ) artinya: dan jika. Ini adalah huruf penghubung yang mengandung makna pengandaian (syarth), menunjukkan kerendahan hati dan ketergantungan penuh kepada keputusan Allah SWT. Kata lam (لَمْ) adalah huruf nafi yang berfungsi menafikan fi’il mudhari‘ dan mengubah maknanya menjadi lampau, menunjukkan sesuatu yang belum atau tidak terjadi.
Kata taghfir (تَغْفِرْ) adalah fi’il mudhari‘ yang artinya: Engkau mengampuni. Pengampunan di sini bermakna menutupi dosa dan tidak membukanya kepada makhluk, sekaligus tidak menghukumnya. Kata lana (لَنَا) artinya: kepada kami. Ini menunjukkan bahwa permohonan ampunan tersebut bersifat kolektif, Nabi Adam dan istrinya sama-sama mengakui kesalahan dan sama-sama berharap ampunan Allah SWT.
Kata wa tarhamna (وَتَرْحَمْنَا) artinya: dan Engkau merahmati kami. Rahmat di sini bukan sekadar ampunan, tetapi juga limpahan kasih sayang Allah berupa penerimaan taubat, kebaikan setelah dosa, serta perlindungan dari akibat buruk kesalahan yang telah dilakukan.
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Kata la-nakunan-na(لَنَكُونَنَّ) tersusun dari lam taukid dan nun taukid tsaqilah, yang berfungsi menegaskan makna dengan sangat kuat. Artinya: sungguh kami benar-benar akan menjadi. Penegasan ini menunjukkan keyakinan penuh Nabi Adam dan istrinya terhadap akibat buruk jika tidak mendapat ampunan dan rahmat dari Allah SWT.
Kata min(مِنَ) artinya: termasuk dari. Ini menunjukkan posisi atau golongan, bukan sekadar keadaan sesaat. Kata al-khasirin(الْخَاسِرِينَ) artinya: orang-orang yang merugi. Kerugian di sini bukan sekadar kerugian materi, tetapi kerugian hakiki, yaitu kehilangan rahmat Allah, tersingkir dari kedekatan dengan-Nya, dan terjatuh dalam kebinasaan di dunia dan akhirat.
Ungkapan ini menunjukkan pengakuan sadar bahwa tanpa ampunan dan rahmat Allah SWT, manusia pasti berada dalam posisi rugi, karena tidak ada keselamatan dan keberuntungan kecuali dengan karunia-Nya.