Kata wa fiha (وَفِيهَا) artinya: dan di dalamnya, maksudnya di bumi yang sama itu juga. Kata tamutun (تَمُوتُونَ) artinya: kalian mati.
Tanah atau bumi rupanya bukan hanya menjadi tempat bagi manusia untuk hidup, tetapi sekaligus juga menjadi tempat bagi manusia untuk mati. Setidaknya, semua manusia yang mati, maka jasad-jasad mereka akan kembali lagi menjadi tanah.
Bahkan jika dibandingkan antara manusia hidup di atas tanah, justru lebih lama manusia mati di dalam tanah. Kehidupan di dunia hanya sekejap, sementara keberadaan manusia sebagai jasad yang telah kembali ke tanah berlangsung jauh lebih lama.
Manusia paling panjang hidupnya, kalau pun sampai usia sangat lanjut sekitar 70 hingga 80 tahun. Yang mencapai 90 atau 100 tahun itu sudah pengecualian, bahkan dalam sejarah pun jumlahnya sangat sedikit. Mayoritas manusia justru wafat jauh sebelum itu.
Bandingkan dengan usia jasadnya di bumi. Begitu seseorang meninggal, jasadnya kembali ke tanah, menyatu dengan bumi, dan berada di sana ratusan, bahkan ribuan tahun, sampai hari kebangkitan. Kalau dihitung hidup di atas bumi: puluhan tahun, “tinggal” di dalam bumi: waktu yang sangat panjang dan tak terbandingkan. Artinya, manusia jauh lebih lama menjadi bagian dari tanah daripada menjadi makhluk yang berjalan di atasnya.
Al-Qur’an menyebut fakta ini dengan sangat tenang, tanpa dramatisasi, di bumi manusia hidup, dan di bumi pula manusia mati. Seolah ingin mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini hanya fase singkat, sementara kepastian kembali ke tanah adalah sesuatu yang jauh lebih lama dan pasti.
Kesadaran ini mengubah sudut pandang bahwa hidup bukan untuk menetap, dan dunia bukan tujuan akhir, melainkan persinggahan sangat singkat sebelum fase yang jauh lebih panjang.
Kata wa minha (وَمِنْهَا) artinya: dan darinya. Kata tukhrajun (تُخْرَجُونَ) artinya: kalian akan dikeluarkan. Maksudnya dikeluarkan dari kubur alias nanti di hari kebangkitan setelah kiamat kubra terjadi.
Tapi yang jadi pertanyaan, jika bangkit dari kubur baru terjadi setelah kiamat kubra, lantas apakah kuburan-kuburan itu masih utuh? Atau lebih jauh lagi, apakah bumi yang kita pijak ini juga masih ada? Apakah semuanya masih ada tapi memang sudah hancur berantakan akibat kiamat dahsyat, ataukah semua kemudian lenyap menjadi tiada?
Kalau semua lenyap menjadi tiada, bagaimana kita memahami bahwa Al-Quran menceritakan manusia pada bangkit dari kubur? Bukankah beberapa ayat Al-Quran menceritakan peristiwa bangkit dari kubur?
وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
Dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa yang berada di dalam kubur. (QS. Al-Hajj : 7)
يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَىٰ نُصُبٍ يُوفِضُونَ
Pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat, seakan-akan mereka bergegas menuju suatu tujuan. (QS. Al-Ma‘arij : 43)
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dari kubur menuju kepada Tuhan mereka. (QS. Ya-Sin : 51)
خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ
Pandangan mereka tertunduk, mereka keluar dari kubur seperti belalang yang bertebaran. (QS. Al-Qamar : 7)
وَأُخْرِجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
Dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. (QS. Az-Zalzalah : 2)
Sementara ada banyak ayat Al-Quran yang menggambarkan hancurnya bumi, misalnya ayat-ayat berikut :
يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ
Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncang. (QS. Al-Muzzammil : 14)
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
Dan gunung-gunung dijalankan sehingga menjadi seperti fatamorgana. (QS. An-Naba’ : 20)
وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
Dan apabila lautan meluap dan menyala. (QS. At-Takwir : 6)
Begitu juga ada banyak ayat yang menggambarkan betapa kacaunya langit di hari kiamat :
إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انتَثَرَتْ
Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang berhamburan. (QS. Al-Infitar : 1-2)
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ
Apabila matahari digulung. Dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (QS. At-Takwir : 1-2)
Atau jangan-jangan setelah semua alam semesta dihancurkan dan dilenyapkan menjadi ketidaan, Allah SWT kemudian menciptakan ulang semuanya? Apakah kita bisa menarik kesimpulan dari ayat ini :
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ
Pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit. (QS. Ibrahim : 48)
Dalam pandangan para ulama tauhid dan akidah, kiamat dipahami sebagai berakhirnya alam sebagai dunia, yaitu sebagai tempat hidup, ujian, dan amal manusia. Hal ini disepakati dan tidak diperselisihkan. Yang diperdebatkan hanyalah bagaimana bentuk kehancurannya, bukan apakah dunia benar-benar berakhir.
Sebagian ulama berpendapat bahwa alam semesta bisa saja dilenyapkan seluruhnya hingga menjadi ketiadaan, lalu Allah menciptakan kembali alam yang baru. Pendapat ini didasarkan pada kemahakuasaan Allah yang mampu mencipta dan melenyapkan apa pun. Namun pandangan ini dipahami sebagai kemungkinan teologis, bukan kesimpulan pasti dari Al-Qur’an.
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah berpendapat bahwa kehancuran alam pada hari kiamat bukan lenyap total, melainkan runtuhnya sistem dan fungsi dunia. Alam tetap ada, tetapi berubah dan diganti menjadi alam akhirat, sebagaimana isyarat Al-Qur’an bahwa bumi dan langit “diganti”. Artinya, yang berakhir adalah dunia dengan hukum-hukumnya, bukan eksistensi ciptaan secara mutlak.
Kesimpulan yang paling aman dalam akidah adalah bahwa kiamat merupakan perpindahan fase keberadaan: dunia selesai dan akhirat dimulai. Detail teknis apakah alam lenyap lalu diciptakan ulang atau diubah sepenuhnya tidak ditetapkan secara tegas oleh wahyu dan bukan bagian dari keimanan yang wajib dipastikan.