Kemenag RI 2019:Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, siapa pun yang bertakwa dan melakukan perbaikan, tidak ada rasa takut menimpa mereka dan tidak (pula) mereka bersedih. Prof. Quraish Shihab:Hai anak-cucu Adam! Jika datang kepada kamu para rasul dari kamu menyampaikan (dan menjelaskan) kepada kamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa bertakwa dan melakukan perbaikan, maka tidak ada rasa takut menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Prof. HAMKA:Wahai, anak-anak Adam! Jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu sendiri yang menceritakan kepada kamu ayat-ayat Kami maka barangsiapa yang bertakwa dan berbuat perbaikan, tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.
Isi pesannya agar mereka bertaqwa dan melakukan perbaikan, meski sifatnya bukan perintah langsung, hanya disebutkan jika mereka bertaqwa dan melakukan ishlah, maka dipastikan ketika menemui ajal maka tidak ada rasa takut menimpa mereka dan tidak pula mereka bersedih.
Hal itu khususnya jika para rasul sudah didatangkan dari kalangan mereka sendiri dan membawa firman suci yaitu ayat-ayat kitab suci dari Allah SWT.
يَا بَنِي آدَمَ
Sapaan ya bani adam (بَنِي آدَمَ) artinya: wahai anak-anak Adam. Sapaan dari Allah ini adalah sapaan yang keempat dari lima sapaan dalam Al-Quran, dimana Allah SWT menyapa seluruh umat manusia dengan gaya khas yaitu disebut dengan : “wahai anak-anak Adam”. Kita sudah membahas penggalan ini beberapa kali sebelumnya.
إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ
Kata imma (إِمَّا) artinya : jika. Asalnya dari in (إِنْ) yang berarti jika atau apabila. Lalu ditambahkan huruf maa (مَا) untuk menguatkan makna syaratnya. Jadi kandungan maknanya bukan sekadar jika, tapi jika benar-benar kelak atau pasti bila suatu saat. Karena maknanya dibuat kuat dan tegas, maka kata kerja setelahnya juga ikut ditegaskan.
Kata ya’tiyanna-kum (يَأْتِيَنَّكُمْ) artinya : pasti mendatangi kamu. Kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari ini diakhiri dengan nun tsaqilah (نّ). Huruf nun ini bukan hiasan kosong tapi mengandung unsur penekanan. Fungsinya untuk menegaskan bahwa peristiwa itu benar-benar akan terjadi, bukan sekadar kemungkinan lemah. Maknanya kira-kira: pasti akan datang kepada kalian.
Jadi kalau diringkas dengan bahasa sehari-hari, struktur ayat itu maknanya seperti ini : ”Jika benar-benar kelak datang kepada kalian petunjuk (dari Allah), maka siapa saja yang bertakwa dan mau memperbaiki diri…”
Ungkapan immaa ya’tiyannakum (إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ) sebenarnya ada bagian kalimat yang tidak dituliskan secara eksplisit, tetapi dipahami secara makna. Dalam ilmu tafsir dan bahasa Arab, ini hal yang sangat biasa. Makna yang “tersembunyi” itu kira-kira begini: ”ketika petunjuk itu datang, maka di antara kalian ada yang bertakwa dan ada yang mendustakan”. Bagian yang ditebalkan itu ada dalam benak tapi tidak ditulis langsung. Namun semua memahami keberadaannya.
Jadi alurnya sebenarnya kalau dibuat lengkap dengan bahasa kita : Jika kelak benar-benar datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka di antara kalian akan ada dua kelompok, ada yang bertakwa, dan ada yang mendustakan. Maka siapa saja yang bertakwa … (lanjut ke akibatnya).”
Nah, bagian “ada yang bertakwa dan ada yang mendustakan” itulah yang disebut dihapus secara lafaz, tapi ada secara makna. Allah langsung menyebut hasil akhirnya saja, yaitu: “maka barang siapa bertakwa karena itulah yang ingin ditekankan.
رُسُلٌ مِنْكُمْ
Kata rusulun (رُسُلٌ) artinya : para rasul utusan. Kata minkum (مِنْكُمْ) artinya : dari kalangan kamu sendiri.
Sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT bahwa yang dijadikan rasul utusan bukan malaikat tetapi manusia. Itupun manusia yang sebenarnya masih bagian dari suatu kaum, dimana pastinya dia lahir dari kaum itu sebagai orang yang dimuliakan, nasabnya baik, riwayatnya bersih, akhlaqnya mulia. Terutama yang paling penting, dia hidup bersama kaumnya dan berkomunikasi dengan bahasa mereka.
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat menjelaskan (ajaran Allah) kepada mereka. (QS. Ibrahim : 4)
Berikut tabel ringkas dan informatif tentang nama para nabi, kaum yang didakwahi, dan bahasa yang mereka gunakan, berdasarkan nash Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan ulama tafsir. Untuk beberapa nabi awal, nama bahasa bersifat perkiraan ilmiah, karena tidak ada nash yang menyebutkannya secara eksplisit.
NABI
KAUM
BAHASA
Adam
Manusia awal / keturunannya
Bahasa pertama manusia (tidak ditegaskan nash; diperselisihkan)
Nuh
Kaum Nuh
Bahasa kuno pra-Semitik (tidak ditegaskan nash)
Hud
Kaum ‘Ād
Arab kuno
Shalih
Kaum Tsamūd
Arab kuno
Ibrahim
Kaum Babilonia & Kanaan
Semitik kuno (Akkadia / Aram awal)
Luth
Kaum Sodom
Semitik (bahasa Kanaan)
Ismail
Arab Makkah (Jurhum)
Arab
Ishaq
Bani Israil awal
Ibrani awal
Yaqub
Bani Israil
Ibrani
Yusuf
Mesir kuno
Mesir kuno (dan Ibrani)
Ayyub
Kaumnya di Syam
Aram
Syuaib
Madyan
Arab
Musa
Bani Israil
Ibrani
Harun
Bani Israil
Ibrani
Dawud
Bani Israil
Ibrani
Sulaiman
Bani Israil
Ibrani
Ilyas
Bani Israil
Ibrani
Yunus
Penduduk Ninawa
Aram
Zakariya
Bani Israil
Ibrani
Yahya
Bani Israil
Ibrani
Isa
Bani Israil
Aram / Suryani
Muhammad
Quraisy & manusia seluruhnya
Arab
check
يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي
Kata yaqushshuna (يَقُصُّونَ) diterjemahkan oleh Kemenang RI dan Buya HAMKA menjadi : menceritakan. Sedangkan Quraish Shihab menerjemahkannya : menyampaikan (dan menjelaskan). Kata ’alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya : kepada kamu.
Kata aayaati (آيَاتِي) artinya : ayat-ayat-Ku, maksudnya wahyu kitab suci dan risalah dari Allah SWT.
Kata yaqushshuna (يَقُصُّونَ) tidak harus dipahami secara sempit sebagai bercerita saja. Maknanya bisa membaca ayat-ayat Allah, menyampaikannya, menuturkannya dengan lisan, atau menjelaskannya secara runtut.
Bahkan bisa juga bermakna menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya, sehingga pesan Allah tersampaikan secara utuh dan berkesinambungan. Ada pula kemungkinan maknanya adalah menampakkan dan memperlihatkan kebenaran ayat-ayat itu kepada manusia.
Semua makna ini masih masuk akal, karena sebenarnya kata qashsh (قصّ) secara asal bukan berarti cerita dalam pengertian modern, tetapi mengikuti jejak secara berurutan. Seperti orang yang menelusuri bekas telapak kaki di pasir untuk mengetahui ke mana arah seseorang berjalan. Dari makna dasar inilah lahir pengertian cerita, karena cerita yang baik itu mengikuti peristiwa satu demi satu secara runtut, tidak meloncat-loncat.
Karena itu, ketika Al-Qur’an mengatakan para rasul yaqussuuna ‘alaykum ayati (يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي), maksudnya adalah: para rasul menyampaikan ayat-ayat Allah secara berurutan, jelas, dan terarah, sehingga manusia bisa mengikuti maksudnya dan sampai pada kebenaran. Makna ini sejalan dengan ayat lain yang menyebutkan bahwa para rasul datang untuk membacakan ayat-ayat Tuhan kepada kaumnya.
Dan sebenarnya, semua makna tadi bisa digabung sekaligus. Artinya, kata itu sengaja dipakai karena luas dan kaya makna: membaca, menyampaikan, menjelaskan, menyambung, dan menampakkan kebenaran, semuanya tercakup.
فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ
Kata faman (فَمَنِ) artinya : maka siapa, atau maka orang yang. Kata ittaqa (اتَّقَىٰ) artinya : bertaqwa. Sedangkan wa ashlaha (وَأَصْلَحَ) artinya : memperbaiki diri, atau berbuat perbaikan.
Menurut Ibnu Abbas, kata ittaqa (اتَّقَىٰ) bermakna menjaga diri dari syirik dan maksiat, sedangkan ashlaha (أَصْلَحَ) bermakna memperbaiki amal setelah sebelumnya rusak. Jadi ayat ini mencakup orang yang meninggalkan keburukan masa lalu, kemudian menggantinya dengan ketaatan.
Mujahid menyebutkan bahwa ittaqa (اتَّقَىٰ) berarti mengikuti perintah Allah, sedangkan ashlaha (أَصْلَحَ) berarti konsisten dalam ketaatan dan tidak kembali kepada keburukan. Perbaikan bukan hanya taubat sesaat, tetapi keteguhan sikap setelah menerima petunjuk.
Qatadah mengatakan bahwa ittaqa (اتَّقَىٰ) adalah takut kepada Allah dalam perkara yang tersembunyi maupun yang tampak, sedangkan ashlaha (أَصْلَحَ) adalah memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Sementara itu, Ath-Thabari menjelaskan bahwa frasa ini menunjukkan dua sisi agama yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, takwa sebagai penjagaan diri dari larangan Allah SWT. Kedua, islah sebagai pelaksanaan perintah Allah secara nyata. Maka ayat ini menegaskan bahwa keselamatan tidak cukup dengan meninggalkan dosa saja, tetapi harus disertai amal perbaikan.
Banyak ulama juga menekankan bahwa penggabungan dua kata ini sengaja, karena taqwa tanpa islah bisa melahirkan kesalehan pasif. Sebaliknya, islah tanpa takwa bisa melahirkan kebaikan tanpa landasan iman.
فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kata fala khaufun (فَلَا خَوْفٌ) artinya : tidak ada rasa takut. Kata alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : atas mereka. Kata wala hum (وَلَا هُمْ) artinya : dan mereka tidak. Kata yahzanun (يَحْزَنُونَ) artinya : bersedih.
Ibnu Abbas menegaskan bahwa : ’tidak ada rasa takut atas mereka’ itu berarti mereka tidak takut terhadap apa yang akan mereka hadapi di masa depan, terutama perkara akhirat seperti kematian, alam kubur, dan hari kebangkitan.
Sedangkan jika dikatakan : ’dan mereka tidak bersedih’ berarti tidak menyesali apa yang telah mereka tinggalkan di dunia, karena mereka telah memilih jalan yang benar.