Kata laysa (لَيْسَ) artinya: tidaklah. Kata bi (بِي) artinya: pada diriku. Kata dhalalatun (ضَلَالَةٌ) artinya: kesesatan.
Kalimat ini merupakan bantahan tegas atas tuduhan bahwa dirinya berada dalam kesesatan. Kaumnya menuduh dirinya berada dalam kesesatan yang nyata. Padahal, yang sebenarnya nyata, jelas, dan terang justru kesesatan merekalah sendiri, jika diukur dengan timbangan wahyu.
Namun karena standar kebenaran yang mereka gunakan telah terbalik, maka yang benar tampak salah, dan yang salah tampak benar.
Disitulah Nabi Nuh bertahan selama ratusan tahun dalam meyakinkan kaumnya. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa masa dakwah beliau berlangsung sangat lama, jauh melampaui ukuran kesabaran manusia pada umumnya. Lamanya waktu itu menunjukkan bahwa penolakan kaumnya bukan karena kurangnya penjelasan atau bukti, melainkan karena kerasnya sikap dan tertutupnya cara berpikir mereka terhadap kebenaran.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا
Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia tinggal di tengah-tengah mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. (QS. Al-‘Ankabut: 14)
Para mufassir menjelaskan bahwa penyebutan seribu tahun dikurangi lima puluh bukan sekadar cara berhitung, melainkan mengandung penekanan makna (balaghah) yang sangat kuat.
Fakhruddin al-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib [1] menjelaskan bahwa penyebutan angka seribu tahun terlebih dahulu dimaksudkan untuk menonjolkan lamanya masa dakwah Nabi Nuh. Ketika seseorang mendengar kata seribu tahun, yang langsung tertangkap di benak adalah waktu yang amat panjang dan hampir tak terbayangkan. Lalu setelah kesan itu tertanam, barulah dikurangi lima puluh tahun. Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak sekadar menyampaikan angka, tetapi menanamkan rasa beratnya waktu tersebut ke dalam jiwa pembaca. Jika langsung disebut 950 tahun, efek psikologisnya tidak sekuat itu.
Ibn Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim [2] menegaskan bahwa redaksi ayat ini bertujuan menunjukkan luar biasa panjangnya kesabaran Nabi Nuh dalam berdakwah. Angka seribu disebut lebih dulu agar manusia menyadari bahwa yang dihadapi Nabi Nuh bukan penolakan sesaat atau beberapa generasi, melainkan rentang waktu yang nyaris mencakup usia peradaban penuh. Pengurangan lima puluh tahun di akhir kalimat justru memperjelas bahwa masa itu benar-benar dihitung secara nyata, bukan angka simbolik.
Kata wa lakinni (وَلَٰكِنِّي) artinya: akan tetapi aku. Kata rasulun (رَسُولٌ) artinya: seorang utusan. Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata rabbi (رَبِّ) artinya: Tuhan. Kata al-alamina (الْعَالَمِينَ) artinya: seluruh alam.
Banyak disebutkan bahwa Nabi Nuh alaihissalam adalah rasul pertama yang Allah utus, maka itu membawa satu implikasi besar dalam memahami sejarah awal manusia. Artinya, sebelum masa Nabi Nuh, umat manusia belum mengenal konsep kerasulan sebagaimana yang kemudian dikenal dalam sejarah para nabi dan rasul. Wahyu memang sudah ada, tetapi belum hadir sebagai risalah publik yang mengikat sebuah umat.
Sejak Nabi Adam hingga beberapa generasi setelahnya, manusia hidup di atas fitrah tauhid. Mereka mengenal Allah sebagai Tuhan, mengenal nilai benar dan salah secara naluriah, dan menjalani kehidupan dengan bimbingan ilahi yang bersifat personal. Nabi Adam menerima wahyu, namun wahyu tersebut tidak berfungsi sebagai misi dakwah kepada satu komunitas besar.
Sebagian kalangan menyebutkan bahwa Nabi Adam seorang nabi tapi bukan rasul, sehingga kepadanya tidak diturunkan risalah yang lengkap sebagaimana kita umat Nabi Muhamad SAW dapat paket yang lengkap, padat dan berisi. Kalaupun ada wahyu pada masa sebelum Nuh, lebih berfungsi sebagai bimbingan langsung bagi diri dan keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, keadaan manusia mulai berubah. Generasi demi generasi berlalu, jarak dengan sumber wahyu semakin jauh, dan penghormatan terhadap orang-orang saleh berubah arah.
Pada awalnya, penghormatan itu hanya berupa kenangan dan simbol, namun lambat laun simbol-simbol tersebut diberi nilai sakral. Dari sinilah kesyirikan pertama kali muncul di muka bumi. Tauhid yang sebelumnya murni mulai tercampur, dan manusia tidak lagi sekadar lalai, tetapi telah menyimpang dalam keyakinan.
Pada titik inilah Allah mengutus Nabi Nuh alaihissalam sebagai rasul pertama. Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Nuh alaihissalam diutus kepada satu umat dengan tugas menyampaikan wahyu secara terbuka. Sejak saat itu, manusia mulai mengenal konsep kerasulan sebagai misi ilahi yang ditujukan kepada masyarakat, bukan sekadar bimbingan individual.
Dengan diutusnya Nabi Nuh alaihissalam, wahyu samawi tidak lagi hanya hadir sebagai petunjuk pribadi, tetapi sebagai sistem kebenaran yang menuntut sikap, penerimaan, atau penolakan. Konsekuensi iman dan kufur menjadi nyata, bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Inilah pertama kalinya umat manusia menyaksikan hubungan langsung antara penolakan terhadap risalah dan azab kolektif yang diturunkan Allah.
Sejak masa Nabi Nuh alaihissalam, pola kenabian dan kerasulan menjadi jelas dan berulang dalam sejarah. Ketika umat menyimpang, Allah mengutus seorang rasul. Rasul membawa wahyu lalu datanglah keputusan Allah. Semua rasul setelah Nabi Nuh berjalan di atas pola yang sama, hingga akhirnya disempurnakan pada risalah Nabi Muhammad SAW.