Ayat ke-10 ini merupakan kelanjutan logis dari ayat sebelumnya. Setelah dijelaskan bahwa pada Hari Kiamat segala rahasia akan terbongkar, ayat ini menggambarkan kondisi manusia pada saat itu. Ini adalah kondisi keputusasaan total. Manusia tidak akan mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan dirinya dari pengadilan Allah.
1. Ketiadaan Kekuatan (قُوَّةٍ)
Kata "quwwah" (قُوَّةٍ) dalam ayat ini berarti kekuatan, kekuasaan, atau kemampuan. Ini mencakup segala bentuk kekuatan yang biasa dimiliki manusia di dunia:
-
Kekuatan Fisik: Pada Hari Kiamat, tubuh manusia akan tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah. Tidak ada lagi kekuatan fisik yang bisa digunakan untuk melawan atau melarikan diri dari hisab (perhitungan amal).
-
Kekuatan Sosial dan Materi: Kekayaan, jabatan, pangkat, atau pengaruh di dunia tidak akan berguna sama sekali. Semua yang dulu dianggap sebagai sumber kekuatan akan menjadi tidak berarti. Manusia akan berdiri sendirian di hadapan Allah.
-
Kekuatan Hujjah atau Alasan: Manusia tidak akan mampu memberikan alasan atau pembelaan yang kuat untuk menutupi keburukan rahasia yang telah diungkap. Segala argumentasi atau pembenaran akan runtuh karena kebenaran mutlak telah ditampakkan.
Ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah yang mutlak. Semua kekuatan yang dahulu dibanggakan akan hilang begitu saja.
2. Ketiadaan Penolong (نَاصِرٍ)
Kata "nāṣir" (نَاصِرٍ) berarti penolong. Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menolong manusia pada hari itu, kecuali dengan izin Allah.
-
Tidak Ada Bantuan dari Siapa Pun: Sahabat, keluarga, atau bahkan para pemimpin yang dahulu diikuti tidak akan dapat memberikan pertolongan sedikit pun. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya sendiri.
-
Tidak Ada Perantara Selain Izin Allah: Ayat ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa syafaat (pertolongan atau pembelaan) yang akan diberikan oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh hanyalah atas izin dan kehendak Allah. Manusia tidak bisa meminta pertolongan kepada siapa pun selain dari-Nya, dan pertolongan dari para pemberi syafaat hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak.
-
Pengadilan yang Adil dan Mutlak: Ayat ini menunjukkan bahwa pengadilan Allah adalah pengadilan yang paling adil, di mana setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Tidak ada ruang untuk intervensi atau nepotisme.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Surah At-Tariq ayat 10 memberikan gambaran yang jelas dan menakutkan tentang kondisi manusia pada Hari Kiamat. Manusia akan benar-benar sendiri, telanjang di hadapan keadilan Allah, tanpa kekuatan untuk membela diri dan tanpa penolong untuk menyelamatkannya. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi setiap individu untuk mempersiapkan diri dengan amal saleh dan niat yang ikhlas, karena pada akhirnya hanya itulah yang akan menjadi bekal dan kekuatan sejati.