Ayat ke-8 ini merupakan kelanjutan dan penegasan dari ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang penciptaan manusia dari air mani yang berasal dari tempat yang tersembunyi. Ayat ini menegaskan kembali kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia setelah kematian.
-
Tafsir Kementerian Agama RI: Ayat ini menegaskan bahwa zat yang bisa menciptakan manusia dari air mani yang berasal dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan, tentu saja juga mampu untuk mengembalikan manusia menjadi hidup kembali setelah mati. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang meragukan adanya hari kebangkitan. Logikanya sederhana: jika Allah mampu menciptakan dari ketiadaan dan dari zat yang sederhana, maka mengembalikannya ke bentuk semula jauh lebih mudah.
-
Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah mampu mengembalikan ciptaannya, yaitu manusia, menjadi hidup kembali pada hari kiamat. Penciptaan dari air mani yang hina dan lemah adalah bukti nyata kekuasaan Allah yang mutlak. Maka, tidak ada halangan bagi-Nya untuk menghidupkan kembali jasad yang telah hancur.
-
Tafsir Al-Mishbah (Quraish Shihab): Ayat ini merupakan jawaban atas pertanyaan tersirat: "Jika manusia diciptakan dari air mani, apakah mereka akan mati dan musnah begitu saja?" Jawabannya adalah tidak. Ayat ini menegaskan bahwa Allah memiliki kuasa mutlak untuk membangkitkan kembali manusia dari kematian, sama seperti Dia menciptakan mereka dari air mani. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa kata "mengembalikannya" (رجعه) dalam ayat ini bisa juga berarti mengembalikan air mani itu ke tempat asalnya, yaitu tulang sulbi, setelah dikeluarkan. Namun, makna yang paling kuat dan disepakati adalah mengembalikan manusia ke kehidupan setelah mati.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, tafsir Surah At-Tariq ayat 8 menekankan pada kekuasaan Allah (al-Qadir) yang tidak terbatas. Ayat ini menggunakan proses penciptaan manusia yang ajaib sebagai bukti bahwa Allah memiliki kemampuan untuk membangkitkan mereka kembali pada Hari Kebangkitan. Ini adalah inti dari iman akan akhirat, yang merupakan salah satu rukun iman dalam Islam.