Kemenag RI 2019:Dialah (Allah) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. ) Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Prof. Quraish Shihab:
Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan (Yang Kuasa dan berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana.
Prof. HAMKA:
Dialah yang memberimu rupa di dalam kandungan-kandungan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Gagah Perkasa, Yang Bijaksana.
Dialah yang membentuk rupa, warna, sifat, dan karakter manusia sebagaimana yang Dia kehendaki, tanpa pilihan dari makhluk itu sendiri. Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bukan hasil kebetulan, melainkan hasil kehendak dan kebijaksanaan Allah yang mengatur sejak awal setiap detil penciptaan.
Dengan menyebut penutup “tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”, ayat ini menegaskan dua sisi sifat Ilahi: al-‘aziz, yang menunjukkan kekuasaan penuh dalam mencipta dan menentukan, serta al-hakim, yang menunjukkan kebijaksanaan sempurna dalam setiap ciptaan-Nya. Maka manusia diajak untuk mengenal Tuhannya melalui dirinya sendiri — dari rahim tempat asalnya, hingga kehidupan yang dijalaninya, semuanya adalah bukti kasih dan kebesaran Allah yang tak terbandingkan.
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ
Lafazh huwalladzi (هُوَ الَّذِي) artinya: Dia-lah yang, sedangkan makna yushawwirukum (يُصَوِّرُكُمْ) artinya: membentuk rupamu. Adapun makna fil arham (فِي ٱلْأرَحَامِ) artinya: di dalam rahim.
Boleh jadi di masa lalu yang terlintas di benak orang-orang ketika dikatakan bahwa Allah SWT membentuk rupa manusia sejak masih di dalam rahim adalah hal yang sulit dibayangkan. Sebab, kata kerja tashwir yang mereka kenal adalah tukang pahat batu yang sedang membuat patung menyerupai makhluk hidup. Namun di masa sekarang ini, apa yang disebut dengan membentuk rupa manusia terasa lebih kongkret dengan ditemukannya DNA.
DNA atau Deoxyribonucleic Acid (Asam Deoksiribonukleat), adalah molekul yang mengandung informasi genetik atau instruksi yang mengendalikan pengembangan, pertumbuhan, fungsi, dan pemeliharaan kehidupan. DNA ditemukan di dalam inti sel dan juga dalam mitokondria sel.
Sedangkan fungsi DNA, menurut para ahli, antara lain adalah:
· Menyimpan Informasi Genetik: DNA menyimpan informasi genetik yang mengode instruksi untuk membentuk dan mengatur fungsi organisme. Ini mencakup instruksi untuk sintesis protein, yang merupakan elemen dasar struktur dan fungsi sel.
· Pengaruh Pewarisan: DNA berperan dalam pewarisan sifat-sifat genetik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses ini melibatkan reproduksi sel seksual dan transfer informasi genetik melalui sel telur dan sperma.
· Pengendalian Aktivitas Sel: DNA juga berperan dalam mengontrol aktivitas sel. Sinyal-sinyal dari lingkungan dan kebutuhan tubuh diintegrasikan dengan instruksi genetik untuk mengatur proses-proses biologis dan menjaga keseimbangan dalam tubuh.
Kode yang tersimpan dalam DNA manusia menyimpan informasi terkait berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk:
· Fisik: DNA menentukan karakteristik fisik seseorang, seperti warna kulit, warna rambut, bentuk mata, dan tinggi badan.
· Kecerdasan: DNA berperan dalam perkembangan otak dan kecerdasan seseorang.
· Kepribadian: DNA juga berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang.
· Penyakit: DNA dapat menyimpan informasi terkait potensi penyakit yang akan menimpa seseorang.
كَيْفَ يَشَاءُ
Lafazh kaifa yasya’ (كَیْفَ یَشَاءُ) artinya: sebagaimana yang Dia kehendaki. Maksudnya akan jadi seperti apa nantinya bayi yang di dalam rahim itu sepenuhnya adalah kehendak Allah SWT.
Namun di zaman kemajuan teknologi sekarang, kode-kode genetik dalam DNA sudah mulai bisa direkayasa. Istilahnya adalah rekayasa genetika, yaitu proses mengubah DNA makhluk hidup untuk tujuan tertentu.
Salah satu metode rekayasa genetika yang paling populer adalah CRISPR-Cas9. CRISPR-Cas9 adalah sistem kekebalan alami bakteri yang dapat digunakan untuk memotong DNA pada lokasi tertentu. Sistem ini telah digunakan untuk mengedit DNA manusia untuk berbagai tujuan, termasuk:
· Mengobati penyakit
· Menciptakan tanaman yang lebih tahan penyakit
· Menciptakan hewan yang lebih produktif
Namun, teknologi rekayasa genetika ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Misalnya, teknologi ini masih belum terlalu akurat dan dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Selain itu, penggunaan teknologi ini juga menimbulkan berbagai dilema etika, seperti apakah manusia boleh mengubah kode DNA manusia untuk tujuan tertentu.
)لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(
Lafazh laa ilaha illa huwa (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ) berarti tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Dia. Tentu yang dimaksud tidak lain adalah Allah SWT. Ungkapan laa ilaaha illa huwa (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ) inilah yang kemudian menjadi dasar keimanan umat Nabi Muhammad SAW, bahkan dijadikan dasar pedoman dan ukuran, apakah seseorang dianggap matinya dalam keadaan beriman atau tidak. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW:
Orang yang di akhir perkataannya : tiada Tuahn selain Allah, maka dia masuk surga (HR. Muslim)
Yang perlu diperhatikan adalah bagian yang menyebutkan: "آخِرُ كَلَامِهِ" yaitu perkataan akhirnya. Tidak mengapa seseorang itu pernah jadi orang kafir, yang penting bagian akhirnya dia beriman. Dan yang dimaksud bagian akhir adalah ketika dia meninggal dunia.
Al-Qurtubi menyebutkan bahwa lafazh ini terdiri dari dua unsur, yaitu pengingkaran dan penetapan. Lafazh laa ilaha (لَا إِلَهَ) adalah bentuk nafyi atau pengingkaran, lalu illa huwa (إِلَّا هُوَ) adalah penetapan atau itsbat.
Lafazh al-‘aziz (الْعَزِيزُ) oleh Ath-Thabari di dalam tafsirnya dijelaskan sebagai berikut:
Sesungguhnya Engkau wahai Tuhan, Engkaulah al-‘aziz yang teramat kuat dan tidak bisa dilemahkan oleh apapun. Dengan menyebut betapa Allah SWT itu dengan segala ke-‘aziz-annya, maka mohon laksanakan apa-apa yang kami mintakan dan kami permohonkan.
Di dalam versi terjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Indonesia, al-‘aziz ini diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi: “Maha Perkasa”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi: ‘Mahagagah”.
Lafazh al-hakim (الْحَكِيمُ) dalam terjemahan sering dimaknai dengan: Maha Bijaksana. Sementara Ath-Thabari dalam tafsirnya menuliskan sebagai berikut: