| ◀ | Jilid : 5 Juz : 3 | Ali Imran : 7 | ▶ |
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Kemenag RI 2019: Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, ) itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. ) Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.Dia Yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad saw.). Di antara ayat-ayat-(nya) ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an, dan yang lain mutasydbihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh apa (ayat-ayat) yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan kerancuan berpikir serta keraguan di kalangan orang-orang beriman) dan untuk mencari-cari tawil-nya (yang sesuai dengan keratan mereka), padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang orang yang mendalam ilmunya berkata : "Kami beriman dengannya (al-Qur’an), semua dari sisi Tuhan Pemelihara kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan Ulil Albab (orang-orang yang berakal bersih, murni dan cerah).
Dia yang telah menurunkan kepada engkau sebuah kitab, sebagian darinya adalah ayat-ayat yang muhkam, yaitulah ibu dari Kitab, dan yang lain adalah (ayat-ayat) yang mutasyabih. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan maka mereka cari-carilah yang mutasyabih darinya itu, karena hendak membuat fitnah dan karena hendak menakwil. Padahal tidaklah mengetahui akan takwilnya itu melainkan Allah. Dan, orang-orang yang telah mendalam kepadanya ilmu, berkata mereka, "Kami percaya kepadanya, semuanya itu adalah dari sisi Tuhan kami." Dan tidaklah akan mengerti kecuali orang-orang yang mempunyai isi pikiran juga.
| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan cenderung mempermainkan ayat-ayat mutasyabihat, memotong-motong maknanya untuk menimbulkan fitnah, menggiring opini, dan menyesatkan orang lain. Mereka sibuk mencari-cari takwil sesuai hawa nafsu, bukan untuk memahami kebenaran. Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar berilmu dan berhati bersih menerima seluruh isi Al-Qur’an dengan penuh keimanan. Mereka tidak terjebak pada perdebatan yang menyesatkan, melainkan berkata dengan rendah hati, “Kami beriman kepada semuanya; semuanya datang dari sisi Tuhan kami.”
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ
Lafazh huwalladzi (هُوَ الْذِي) artinya: Dialah Tuhan yang, sedangkan makna anzala ‘alaika (أَنزَلَ عَلَيْكَ) artinya: telah menurunkan kepadamu, maksudnya kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan al-kitab (الْكِتَاب) artinya adalah kitab suci Al-Qur'an.
Penting untuk kita sadari bahwa Al-Qur'an tidak turun kepada kita, umat Nabi Muhammad SAW di zaman modern ini. Tetapi diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di masanya, yaitu di abad ke-7 Masehi.
Konsekuensinya, kita tidak bisa menafsirkan setiap ayat Al-Qur'an sesuai dengan selera kita, kecuali kita harus mencocokkannya terlebih dahulu dengan konteks di masa kenabian. Karena Al-Qur'an turun kepada Nabi SAW dan bukan kepada kita. Maka sudut pandang penafsiran seluruh ayat Al-Qur'an harus disesuaikan dengan sudut pandang kehidupan di masa itu. Inilah yang disebut dengan memahami Al-Qur'an sebagaimana yang dipahami oleh Nabi SAW, bukan sesuai dengan selera imajinasi kita secara subjektif.
مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ
Kata muhkam (مُحْكَم) berasal dari kata hakama (حَكَمَ). Salah satu makna dari kata hakama adalah mana’a (مَنْع) yaitu melarang dalam rangka untuk kebaikan. Ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mu'jam Mufradat Alfazh Al-Qur'an menjelaskan bahwa dari kata ini juga bisa berubah menjadi hakamah (حِكْمَة), yang artinya kekang atau kendali yang dipasang di leher binatang.
Orang Arab mengatakan hakamtu ad-dabbah (حَكَمْتُ الدَّابَّةَ), artinya aku melarang binatang itu dengan hikmah. Jika dikatakan ahkamtuha (حَكَمْتُهَا), artinya aku pasang kendali pada binatang itu agar tidak bergerak secara liar.
Dari pengertian ini muncul kata al-hikmah (الكِبْمَة), yaitu kebijaksanaan, karena ia dapat mencegah pemiliknya dari hal-hal yang tidak pantas. Juga muncul kata al-hukm (الحُكْم), yang berarti memisahkan antara dua hal. Isim failnya adalah al-hakim (الحَاكِم), yaitu orang yang mencegah terjadinya kezaliman, memisahkan antara dua pihak yang berperkara, serta memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan antara yang jujur dan bohong.
Selain itu, ada juga istilah Ihkam al-Kalam (إحكام الكلام) yang bermakna itqanuhu (إتقانه) atau mengokohkannya dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah, dan memisahkan yang lurus dari yang sesat.
Secara keseluruhan, kata al-muhkam adalah perkataan yang kokoh, rapi, indah, dan benar.
Dengan pengertian seperti itulah Allah SWT mensifati Al-Qur'an bahwa keseluruhan ayat-ayatnya adalah muhkamah, seperti diterangkan dalam firman-Nya berikut ini:
الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
"Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan kokoh (uhkimat) serta dijelaskan secara terperinci (fushshilat), yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Hud 11:1)
Secara umum, bisa dikatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an secara keseluruhannya adalah ayat-ayat yang muhkam, dalam arti seluruh ayat-ayat Al-Qur'an itu kokoh, fasih, indah, dan jelas, membedakan antara hak dan batil serta antara yang benar dan dusta. Inilah yang dimaksud dengan al-ihkam al-'am atau muhkam dalam arti umum.
وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
Lafazh wa ukharu (وَآخَرُ) artinya: dan yang lainnya. Maksudnya, di luar ayat-ayat yang muhkamat di atas, sebagian kecil ada yang merupakan ayat mutasyabihat (مُتَشَابِهَات). Lalu, apa makna mutasyabihat di sini?
Secara etimologis, mutasyabihat berasal dari kata syabaha (شَبَهَ) yang artinya kemiripan atau keserupaan. Dari akar kata itu, bisa berubah bentuk menjadi mutasyabih (مُتَشَابِه) yang artinya masih serupa juga. Misalnya, ketika Allah SWT menceritakan tentang buah-buahan di surga yang karakternya saling menyerupai dalam ayat berikut ini:
وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا
“Mereka diberi buah-buahan yang serupa” (QS. Al-Baqarah 2:25).
Dijelaskan bahwa buah-buahan di surga itu satu sama lain serupa warnanya, namun rasa dan hakikatnya tetap berbeda. Dikatakan pula, mutasyabih adalah mutamatsil (sama) dalam perkataan dan keindahan. Jadi, tasyabuh al-kalam adalah kesamaan dan kesesuaian perkataan, karena sebagiannya membetulkan sebagian yang lain.
Dengan pengertian seperti itulah Allah SWT mensifati Al-Quran bahwa sebagian ayat-ayatnya adalah mutasyabihah seperti diterangkan dalam firman-Nya berikut ini:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang…” (QS. Az-Zumar :23).
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Kitab Suci Al-Quran seluruhnya mutasyabih, dalam pengertian ayat-ayatnya satu sama lain saling serupa dalam kesempurnaan dan keindahannya, dan kandungan isinya satu sama lain saling membenarkan. Inilah yang dimaksud dengan at-tasyabuh al-'am atau tasyabuh dalam arti umum.
Dari uraian secara bahasa atau etimologis ini, bisa dikatakan bahwa Al-Quran punya dua sifat yaitu muhkam dan juga mutasyabih. Selama masih dalam pengertian bahasa, muhkam dan mutasyabih adalah dua sifat yang tidak saling bertentangan, sebaliknya justru saling melengkapi.
Makna Muhkam dan Mutasyabih Secara Istilah
Makna muhkam dan mutasyabih secara istilah atau terminologis, maka keduanya menjadi berlawanan satu dengan lainnya. Dan saling bertolak-belakangnya kedua istilah ini juga muncul di dalam ayat Al-Quran.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
“Dia-lah yang menurunkan Al-Quran kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, yaitu pokok-pokok isi Al-Quran. Dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.” (QS. Ali 'Imran :7).
Jelas sekali Al-Quran mempertentangkan makna muhkam dan mutasyabih di dalam ayat ini. Keduanya dua hal yang saling berbeda di dalam ayat ini.
Namun, apa makna muhkam dan mutasyabih yang dimaksud dalam ayat ini, ternyata para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Bisa Diketahui vs Tidak Bisa Diketahui
Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil ataupun tidak. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti ayat yang tidak logis alias bertentangan dengan akal dan sains, wujud fisik Allah SWT, dan juga termasuk di dalamnya terkait dengan huruf-huruf muqatha'ah.
2. Satu Pengertian vs Beberapa Pengertian
Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang memiliki satu pengertian saja dan tidak mengandung banyak pengertian. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat menurut mereka adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian sekaligus. Pendapat ini umumnya sesuai dengan pemahaman para ahli fiqih, yang berasal dari pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu. Lafadz muhkam adalah lafadz yang tak bisa ditakwilkan melainkan hanya satu arah saja. Sedangkan lafadz yang mutasyabbih adalah lafadz yang bisa ditakwilkan dalam beberapa arah, karena masih sama.
3. Diketahui Langsung vs Dikaitkan Ayat Lain
Ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tidak memerlukan lagi keterangan lain. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak dipahami kecuali setelah dikaitkan dengan ayat lain.
Ayat yang muhkamat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib, misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain.
Definisi yang komprehensif yaitu ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah, memiliki satu pengertian saja, dapat diketahui secara langsung, tidak memerlukan lagi keterangan lain. Sedangkan pengertian ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam, tidak dipahami kecuali setelah dikaitkan dengan ayat lain; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib, misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain.
Kalau secara etimologis, muhkam dan mutasyabih disebut sebagai al-ihkam al-'am dan at-tasyabuh al-'am, maka muhkam dan mutasyabih secara terminologis ini disebut sebagai al-ihkam al-khash dan at-tasyabuh al-khash.
Apalagi bila ayat itu diteruskan, yaitu kemudian setelah selesai menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Allah SWT ‘istirahat’ dengan menyebut bersemayam di atas 'Arasy. Kita hanya wajib mengimaninya bahwa Allah SWT itu menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian setelah itu Dia bersemayam di atas 'Arasy. Namun bagaimana kita menjelaskan semua itu, apalagi dikaitkan dengan ilmu pengetahuan modern, jelas kita hanya bisa duduk terdiam dan terpaku tanpa keluar satu pun kata.
Maka inilah contoh nyata sosok ayat yang mutasyabihat, yaitu ayat yang tidak bisa kita pahami secara mudah, logika kita tidak bisa menerimanya. Bahkan meski bisa ditafsirkan enam hari itu menjadi enam masa, lalu bagaimana kita menafsirkan kalimat bahwa Allah bersemayam di Arsy? Sampai di situ kita pun kembali berhenti dan terdiam.
Ayat Mutasyabihat Adalah Ayat-ayat Yang Tidak Logis
Pada bab sebelumnya sudah dijelaskan apa itu ayat mutasyabihat. Ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti ayat yang tidak logis alias bertentangan dengan akal dan sains, wujud fisik Allah SWT, dan juga termasuk di dalamnya terkait dengan huruf-huruf muqatha’ah.
Pada bagian ini kita akan memberikan contohnya secara lebih dalam dan luas. Jujur saja, dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang secara logika sebenarnya banyak tidak masuk akal, tidak logis, dan nyaris seperti dongeng. Apalagi jika dilihat dengan kaca mata sains modern, jelas terkesan bahwa Al-Quran sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
1. Enam Hari Penciptaan
Dalam Al-Quran, Allah SWT berkali-kali mengulang tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari (يومَ ستة). Meski banyak terjemahan modern menyebutkan hal itu, dalam teks aslinya, Allah SWT tidak pernah menggunakan istilah masa, periode, atau pun tahapan. Yang digunakan berulang-ulang adalah enam hari. Perhatikan ayat berikut:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.” (Q.S. Al-A'raf 7:54)
Sampai hari ini kita tidak bisa memahami apa maksudnya Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Bukankah sebelum adanya langit dan bumi, juga berarti belum ada siang dan malam? Sebab kita tahu bahwa siang dan malam itu tercipta ketika sudah ada bumi yang berputar pada porosnya. Sebagian belahan bumi terkena sinar matahari langsung, dan bagian itu dinamakan siang. Sebagian belahan bumi yang membelakangi matahari itulah yang disebut malam. Maka tidak mungkin ada siang dan malam, kecuali sudah ada bumi yang berputar pada porosnya.
Oleh sebagian kalangan ulama modern, ayat tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari kemudian coba dikaitkan dengan tafsir yang maknanya jauh keluar dari makna aslinya. Enam hari itu kemudian dicari-carilah makna lain, sehingga ditemukan makna majazi yaitu masa atau periode. Tentu saja ini hanya penafsiran khusus di masa modern ini saja. Kalau penafsiran di masa klasik, kita masih menemukan para ulama yang meyakini bahwa enam hari itu adalah 6 x 24 jam. Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir kita menemukan upaya penjelasan nama-nama hari yang enam itu. Disebutkan bahwa hari pertama adalah hari Ahad, lalu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan hari keenam itu adalah hari Jumat. Dan di masing-masing hari itu kemudian dijelaskan benda-benda apa saja yang Allah SWT ciptakan. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, tapi berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad:
خَلَقَ اللهُ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ،وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الأَحَدِ،وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ،وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلاَثَاءِ،وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الأَرْبِعَاءِ،وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ،وَخَلَقَ آدَمَ بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ،فِي آخِرِ الْخَلْقِ، فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ،فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ.
“Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu. Menciptakan gunung pada hari Ahad. Menciptakan pepohonan pada hari Senin. Menciptakan makhluk melata di hari Selasa. Menciptakan cahaya di hari Rabu. Dan menebar di bumi makhluk melata di hari Kamis. Menciptakan makhluk terakhir yaitu Nabi Adam alaihissalam pada hari Jumat, yaitu antara Ashar dan malam.” (HR. Ahmad)
Kalau selama ini kita baca terjemahan enam hari tiba-tiba sudah berubah jadi enam masa, ketahuilah bahwa terjemahannya sudah bernuansa tafsiriyah yang disesuaikan dengan logika orang modern sekarang ini. Padahal kitab-kitab tafsir yang sangat muktamad pun masih memuat tafsir yang asli dan original, di mana kita akan sakit perut kalau membacanya.
Lalu ada sebagian ahli tafsir seperti Mujahid dan riwayat Adh-Dhahhak yang konon bersumber dari Ibnu Abbas, mengusulkan bahwa enam hari yang dimaksud itu dikaitkan dengan enam hari di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj: 47)
Upaya ini bisa diacungi jempol dan sebenarnya boleh juga. Tetapi apakah benar bahwa proses penciptaan bumi dan langit itu berarti 6.000 tahun atau 60 abad saja? Padahal kalau kita bandingkan dengan teori terbentuknya alam semesta menurut sains modern, 60 abad itu terlalu singkat. Usia alam semesta ini diperkirakan sekitar 13,7 miliar tahun. Pengukurannya berdasarkan radiasi kosmik memberi waktu pendinginan alam semesta setelah kejadian ledakan dahsyat, dan pengukuran pergeseran merah alam semesta dapat digunakan untuk menghitung mundur umur alam semesta.
2. Matahari Bergerak Mengelilingi Bumi?
Ini tema pertanyaan yang amat panas. Di Eropa abad pertengahan, banyak korban jatuh karena meributkan masalah ini. Pihak gereja memandang bahwa kebenaran itu terletak pada teori Geosentris, di mana bumi ini menjadi pusat edar alam semesta, termasuk matahari, bulan, dan bintang-bintang semuanya. Sedangkan kalangan ahli astronomi seperti Copernicus, Galileo, dan Bruno berpandangan sebaliknya, yaitu bumi bukan pusat edar alam semesta melainkan matahari yang jadi pusat edar. Bumi dan planet-planet lain justru bergerak mengelilingi matahari.
Lalu bagaimana dengan penjelasan Al-Quran? Manakah yang benar dari kedua pendapat itu menurut Al-Quran?
Kalau kita perhatikan beberapa ayat yang bercerita tentang matahari dan perilakunya, memang disebut-sebut bahwa matahari itu aktif bergerak, terbit, terbenam, beredar sesuai garis edarnya. Tidak ada ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa matahari diam di tempatnya sambil dikelilingi oleh bumi dan planet lainnya. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”(QS. Al-Anbiya: 33)
وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍۢ بِأَمْرِهِ
“Matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya.”(QS. Al-A'raf: 54)
وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى
“Dan Allah menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 5)
كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى
“Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.” (QS. Ar-Rad: 2)
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” (QS. Yasin: 38-40)
Maka wajar kalau para ulama di Saudi Arabia seperti Syeikh Bin Baz dan Syeikh Al-Utsaimin dalam fatwa mereka menegaskan bahwa Al-Quran menetapkan bumi sebagai pusat edar matahari dan bulan serta bintang-bintang.
3. Bentuk Bumi Bulat atau Rata?
Di zaman sekarang, yang merupakan zaman pencerahan, para ahli sains telah sepakat menyatakan bahwa bumi yang kita huni ini berbentuk bulat seperti bola. Tidak seperti yang disangkakan orang di masa lalu bahwa bumi kita ini rata seperti meja.
Namun di abad ketujuh masehi, sains masih amat sederhana. Meski sudah ada yang menyatakan bahwa bumi itu bulat, sains yang dicapai manusia di masa itu belum memasuki era pembuktian secara empiris tentang bulatnya bumi. Maklum karena di masa itu manusia belum mampu membuat pesawat ruang angkasa dan juga satelit yang mengorbit bumi. Bahwa bumi itu bulat masih merupakan teori yang membutuhkan pembuktian empiris.
Dan Al-Quran di masa itu pun juga tidak secara tegas menyebutkan bahwa bumi itu bulat. Justru redaksi Al-Quran seolah-olah membenarkan teori awal bahwa bumi itu rata seperti meja. Setidaknya itulah yang kemudian diyakini oleh banyak mufassir di masa itu berdasarkan ayat-ayat berikut:
ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًا
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap.”(QS. Al-Baqarah: 22)
وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَـٰهَا
“Dan Kami telah menghamparkan bumi.”(QS. Al-Hijr: 19)
Bila kita hidup di masa kenabian dan membaca ayat-ayat di atas, bisa dipastikan kita tidak akan percaya kalau dikatakan bumi itu bulat seperti bola. Sebab ayat-ayat di atas justru secara zhahir lebih mengesankan bahwa bumi itu rata seperti meja. Yang menarik, hari ini masih ada sebagian kalangan yang tetap meyakini bahwa bumi itu rata dan bukan bulat. Di antaranya adalah apa yang difatwakan oleh Syeikh Bin Baz, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan secara umum Komisi Fatwa Saudi Arabia.
4. Bumi dan Langit Ada Tujuh Buah
Kalau kita hidup di abad ketujuh saat Al-Quran diturunkan dan membaca ayat tentang penciptaan tujuh langit dan tujuh bumi, pastilah kesimpulan kita akan bertabrakan dengan sains yang kita kenal sekarang ini.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. (QS. Ath-Thalaq : 12)
Padahal di masa sekarang ini yang kita tahu bumi ini hanya ada satu saja. Kalau ada benda lain mirip bumi, maka itu kita sebut planet yang mengelilingin matahari. Dan jumlahnya bukan tujuh tapi delapan. Merkurius, Venus, Mars, Bumi, Jupiter, Saturnus, dan Uranus. Sedangkan Pluto kemudian dikeluarkan dari keluarga tata surya kita, karena karakternya yang amat berbeda dengan syarat sebuah planet.
Sebagian dari para ulama kemudian ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh bumi lainnya itu sebagai lapisan-lapisan di bawah permukaan bumi. Namun para ahli geologi sepakat bahwa kalau pun ada sekian banyak lapisan bumi, jumlahnya bukan tujuh.
Lagi pula ternyata isi bumi itu bukan tanah yang padat, melainkan cairan yang amat panas. Bumi kita ini sering diibaratkan seperti balon yang diisi dengan air. Kulit luar balon itu teramat tipisnya sehingga seringkali bocor dan isi buminya yang cair itu keluar sebagai magma. Maka sekilas ayat di atas justru bertentangan dengan sains yang kita kenal saat ini. Terkecuali bila kita tafsir-tafsirkan lebih jauh. Sedangkan apa yang dipahami secara seklias, apalagi oleh generasi muslim di masa turunnya Al-Quran, tentu saja amat jauh bertentangan.
Lapisan bumi
Penyebutan langit ada tujuh selalu terulang-ulang di dalam Al-Quran hingga berkali-kali. Mulai dari surat Al-Baqarah hingga juz ke-30 atau Juz Amma.
فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 29)
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. (QS. Al-Isra : 44)
Tentu saja kita di masa sekarang ini kelabakan bagaimana kita menjelakan langit yang katanya ada tujuh itu. Langit yang manakah maksudnya?
Apakah lapisan-lapisan atmosfir itu kah? Tapi jumlah lapisannya bukan tujuh tapi hanya enam saja, yaitu lapisan Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionosfer, dan terakhir lapisan Eksosfer. Kalau kita pakai pembagian ini, maka angkasa luar sama sekali justru tidak termasuk langit.
Lapisan-lapisan atmosfer
Kalau bukan langit, lalu apa jadinya? Padahal banyak sekali ayat yang menyebutkan bahwa luar angkasa itu juga disebut dengan langit. Misalnya ketika Allah SWT menghias langit dengan bintang.
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, (QS. Ash-Shaffat : 6)
Tempat dimana ada bintang-bintang itu jelas bukan di salah satu atmosfir yang ada enam itu. Tapi letaknya jauh sekali di luar angkasa lepas.
Kawakib itu bentuk jama’ dari kaukab (كوكب) yang dalam bahasa Arab sebenarnya beda dengan bintang. Kaukab itu planet sedangkan bintang itu nujum.
Jarak planet terdekat dari bumi adalah Venus yang diperkirakan jaraknya sekitar 0,28 AU ketika berada di titik terdekatnya. Sedangkan jarak terjauh yang bisa dihasilkan keduanya adalah 1,72 AU, hampir dua kali jarak Bumi dengan Matahari. Memang nanti ada juga ilmuwan yang menyebutkan bahwa planet terdekat dengan bumi bukan Venus melainkan Merkurius. Namun lepas dari perbedaan itu, tetap saja baik Venus atau pun Merkurius posisinya bukan di salah satu atmosfir kita.
Lalu kalau tujuh langit itu bukan lapisan-lapisan yang merupakan atmosfir kita, apa makna tujuh langit itu? Apakah kita mau sebut planet-planet yang ada di sekitaran keluarga tata surya atau solar system?
Tentu tidak cocok juga. Pertama, jumlah planet anggota tata surya bukan tujuh tapi delapan. Kedua, kalau planet-planet itu kita paksa sebagai penjelasan tentang tujuh langit, lalu bagaimana dengan awan hujan yang mengandung air itu? Apakah jadi bukan termasuk salah satu dari langit? Padahal tegas sekali Al-Quran menyebut bahwa hujan diturunkan dari langit.
وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. (QS. Al-Baqarah : 22)
5. Langit Diangkat ke Atas Tanpa Tiang
Kalau kita membaca ayat-ayat terkait dengan langit di dalam Al-Quran, maka kita akan mendapat beberapanya menyebukat bahwa langit itu ditinggikan.
Istilah ditinggikan itu sebenarnya terjemahan saja. Namun kalau kita lihat istilah aslinya dalam bahasa Arab, Allah SWT menggunakan kata rafa’’a (رفع) yang makna aslinya adalah mengangkat ke atas. Dan dalam ayat lain juga sering diterjemahkan sebagai mengangkat.
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat. (QS. Ar-Rad : 2)
Kementerian Agama RI ketika menerjemahkan ayat ini menggunakan istilah meninggikan. Tidak keliru memang, namun kata rafa’a itu makna aslinya adalah mengangkat atau menaikkan. Dan mengangkat atau menaikkan itu adalah memindahkan sesuatu yang asalnya berada di bawah lalu diangkat dan dinaikkan ke atas. Sebagaimana penjelasan Al-Quran tentang Nabi Isa ‘alaihissalam ketika diselamatkan dari kejaran musuh. Beliau pun diangkat ke langit.
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa : 158)
Di ayat lain kita menemukan kata rafa’a yang bermakna menaikkan.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. (QS. Fathir : 10)
Padahal dalam sains dan sains modern, yang kita tahu langit itu tidak berasal dari bumi yang diangkat atau dinaikkan ke atas. Seolah-olah langit itu semacam atap rumah yang disangga dengan tiang-tiang. Karena langit itu sebenarnya bukan seperti atap suatu bangunan yang harus disangga. Langit di dalam Al-Quran bisa saja bermakna atmosfir tempat dimana ada awan hujan, namun juga bisa bermakna luar angkasa yang pada dasarnya adalah ruang hampa. Namun yang mana saja dari penyebutan langit, tidak ada satu pun langit yang berupa atap atau kanopi sehingga harus disangga dengan tiang.
Sedangkan Al-Quran malah secara tegas menyebut bahwa langit itu adalah atap sebagaimana atap rumah yang kita kenal.
وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا
Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara. (QS. Al-Anbiya : 32)
Memang para ilmuwan muslim hari ini kemudian menerjemahkan istilah atap itu secara majaz. Langit yang dimaksud dibatasi menjadi atmosfir saja, sedangkan luar angkasa dalam hal ini tidak diikutkan. Lalu atmosfir inilah yang dijelaskan punya fungsi mirip seperti atap suatu rumah, yaitu melindungi. Sebab atmosfer kita ini memang banyak berfungsi untuk melindungi bumi dari terpaan dari luar angkasa, seperti menyerap sinar sinar ultra violt dari matahari sehingga kadarnya menjadi sangat rendah, atau meluruhkan meteor yang tersedot gravitasi sehingga habis terbakar sebelum menyentuh permukaan bumi.
6. Matahari Terbenam di Laut Berlumpur Hitam?
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا
Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. (QS. Al-Kahfi : 86)
Zhahir ayat ini membingungkan sekali. Bagaimana mungkin ayat ini menyubutkan bahwa matahari terbenam ke dalam laut yang berlupur dan berwarna hitam? Matahari kok bisa terbenam ke dalam laut? Memangnya berapa ukuran besarnya matahari sampai bisa terbenam masuk ke dalam luat?
7. Gunung Diletakkan dan Jadi Pasak
Di dalam Al-Quran ada disebutkan tentang gunung yang diletakkan atau dilemparkan.
وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ
Dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh. (QS. Qaf : 7)
Padahal dalam ilmu sains, khususnya geologi atau vulkanologi, keberadaan gunung itu bukan sesuatu yang diletakkan, apalagi ditancapkan seperti pasak.
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
Dan gunung-gunung sebagai pasak?, (QS. An-Naba : 7)
Dalam ilmu geologi dan vulkanologi modern yang kita kenal saat ini, terbentuknya gunung-gunung dari daya dorong inti dan cairan di dalam bumi yang amat kuat ke atas, sehingga membuat permukaan bumi jadi berbenjol-benjol yaitu membuntuk gunung. Kadang dorongan magma di dalam bumi membentuk gunung yang mana di puncaknya terdapat kawah magma.
Namun kalau kita hidup di abad ketujuh saat belum ada ilmu penetahuan dan sains seperti sekarang ini, kalau kita membaca ayat di atas, maka wajarlah kalau kita membayangkan diciptakannya gunung itu mirip kue onde-onde yang ditempeli wijen yang punya pasak menancap ke dalam bumi. Kesannya gunung itu bukan lah bagian dari bumi, namun sesuatu yang didatangkan dari luar.
8. Gunung Mencegah Gempa Bumi?
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng Bumi). Beberapa ayat Al-Quran mengatakan Allah menciptakan gunung untuk mencegah gempa bumi.
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar bumi itu tidak goncang bersama mereka” (QS. Al-Anbiya’ : 31).
وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (QS. An-Nahl : 15)
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman : 10)
Bila benar gunung-gunung dapat menahan terjadinya gempa bumi, mengapa ada banyak gempa bumi di Indonesia, negara di mana terdapat banyak gunung?
9. Gunung Bergerak Seperti Awan
Beberapa kalangan menafsirkan ayat tentang gunung yang terlihat diam, padahal bergerak seperti bergeraknya awan, lalu mengaitkannya dengan pergeseran lempeng-lempeng bumi atau disebut plate dalam bahasa Inggirs.
Ilustrasi Beberapa Lempemg Bumi
Padahal meski pergeseran lempeng-lempeng bumi memang itu nyata ada, namun kalau diukur jarak pergeserannya yang amat sangat sedikit, hanya sekian milimeter dalam hitungan tahun, maka pergeseran itu menjadi tidak ada artinya alias terabaikan.
Yang pasti pergeseran lempeng-lempeng itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pergerakan awan. Awan bergerak dengan sangat cepat, secepat angin bertiup. Kita tidak bisa bayangkan seandainya gunung bergerak secepat awan bergerak, maka yang terjadi adalah kiamat kubra.
Dan setelah dicek lebih dalam lagi, ternyata ayat itu memang sedang bercerita tentang hari kiamat. Bisa kita ketahui dari ayat sebelumnya. Ini disebut dengan munasabah dalam ilmu tafsir.
10. Besi Diturunkan?
Al-Quran juga berbicara tentang besi, dimana ayatnya menyebutkan bahwa besi itu diturunkan. Seolah-olah besi itu unsur asing di luar bumi, mungkin bagian dari benda-benda langit yang dijatuhkan.
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
Dan Kami turunkan besi, padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia. (QS. Al-Hadid : 25)
Padahal dalam ilmu metalurgi modern saat ini, kita kenal bahwa besi (Ferum) itu terbuat dari bijih besi yang terdapat di dalam kandungan tanah. Bukan sesuatu yang turun dari atas.
11. Air Mani Dari Tulang Sulbi?
Di dalam Al-Quran kita membaca ayat yang menyebutkan bahwa air mani itu asalnya dari tulang shulbi laki-laki dan tulang dada wanita. Ayatnya sebagai berikut :
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. (QS. Ath-Thariq : 5-7)
Padahal dalam ilmu biologi modern, yang kita tahu bahwa air mani atau sperma laki-laki itu diproduksi di dalam buah zakar, sedangkan sel telur atau ovum wanita terbentuk di dalam rahim.
Namun Al-Quran menyebutkan bahwa air mani itu keluar dari tulang. Air mani laki-laki keluar dari tulang shulbi dan air mani perempuan dari tulang dada wanita. Yang kita tahu bahwa isi tulang itu sumsum, bukan air mani.
Sementara di masa Rasulullah SAW sendiri saat itu sudah dikenal pengkebirian baik manusia atau hewan, yaitu dengan cara memotong buah zakar. Secara tidak langsung, sains manusia saat itu sudah mengakui bahwa sperma laki-laki sumbernya adalah buah zakarnya. Dan bukan isi dari tulang manusia
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
Lafazh fa ammalladzīna (فَأَمَّا الَّذِينَ) artinya: adapun mereka yang, lafazh fī qulūbihim (فِي قُلُوبِهِمْ) artinya: di dalam hati mereka, dan istilah kata zaighun (زَيْغٌ) diartikan menjadi: punya kecenderungan kepada kesesatan.
Penggalan ini menceritakan tentang orang-orang yang di dalam hatinya sudah ada kecenderungan kepada kesesatan. Dan disinilah inti permasalahannya, yaitu ketika di dalam hati seseorang sudah tertanam motivasi yang keliru yaitu motivasi untuk mencari kesesatan, maka ke mana pun kakinya melangkah, pastinya akan terus sesat.
Sebaliknya, kalau dari awal motivasinya ingin mendapat petunjuk, maka tentu saja Allah SWT akan memberinya petunjuk. Oleh karena itu para ulama mengatakan bukan berarti kita tidak boleh membedah ayat mutasyabihat, tetapi semua harus dikembalikan dulu kepada hatinya. Karena niatnya sejak awal sudah bermasalah, maka membedah ayat mutasyabihat hanya sekadar perantaraan saja. Benih-benih kesesatannya sudah ada sejak awal mula.
Sebaliknya, ketika sejak awal niatnya bersih, ditambah dengan metodologi yang benar, maka membedah ayat mutasyabihat bukan hal yang mutlak terlarang.
فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ
Lafazh fa yattabi‘una (فَيَتَّبِعُونَ) artinya: maka mereka mengikuti. Maknanya bisa lebih luas lagi, yaitu membahas dan mempermasalahkan. Lebih spesifiknya, menjadikan ayat-ayat mutasyabihat sebagai sumber dari kegoyahan iman yang menjadi bibit awal atas pengingkaran terhadap kebenaran Al-Qur’an.
Lafazh ma tasyabaha minhu (مَا تَشَابَهَ مِنْهُ) artinya: ayat-ayat yang berstatus sebagai mutasyabihat.
Kalau kita kaitkan dengan contoh ayat-ayat mutasyabihat di atas, yaitu tentang ketidakcocokan ayat-ayat terkait sains dengan fakta sains sesungguhnya, maka mereka yang dalam hatinya sudah ada kecenderungan untuk sesat akan menjadikan ayat-ayat sains itu sebagai batu loncatan pertama untuk mengingkari dan menolak iman kepada Al-Qur’an.
Tuduhannya adalah bahwa ayat-ayat di dalam Al-Qur’an itu nyata-nyata sangat bertentangan dengan fakta kebenaran secara sains.
ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
Lafazh ibtigha’a (ٱبْتِغَاءَ) artinya: bertujuan untuk mendapatkan, atau bisa juga dimaknai sebagai mencari dan menemukan. Sedangkan makna al-fitnah (ٱلْفِتْنَةِ) oleh Kemenag RI tidak diterjemahkan, hanya dituliskan apa adanya yaitu fitnah.
Sementara Prof. Quraish Shihab menyisipkan penjelasan tentang fitnah di dalam kurung, yaitu: (kekacauan dan kerancuan berpikir serta keraguan di kalangan orang-orang beriman).
Adapun lafazh ibtigha’a ta’wilihi (ٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ) artinya: mencari takwil atau tafsir dan penjelasannya yang logis dan masuk akal dalam pandangan mereka.
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ
Lafazh wa maa ya’lamu (وَمَا يَعْلَمُ) artinya: tidak ada yang mengetahui takwilnya, sedangkan makna illallah (إِلَّا اللّٰهُ) artinya: kecuali hanya Allah SWT saja.
Sebagian ulama menggunakan penggalan ayat ini sebagai definisi dasar dari pengertian ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang tidak ada satu pun hamba Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW, yang mengetahui maknanya. Yang tahu hanya Allah SWT saja.
Namun sebagian yang lain tidak menjadikan penggalan ini sebagai pembatasan definitif, melainkan menjadikannya sebagai kecenderungan secara umum. Dan bahwa yang tahu hanya Allah saja itu tidak bersifat mutlak, sebab nanti di akhir ayat justru Allah SWT menegaskan ada ulul albab yang bisa mengambil pelajaran dari hal ini.
Kalau mau, kita bisa saja memilah-milah ayat mutasyabihat ini menjadi beberapa jenis, yaitu ada yang jenisnya mutlak sama sekali tidak mungkin dipahami dan hanya menjadi previlage Allah SWT semata. Dan ada juga yang bisa dipahami, tetapi harus lewat proses yang tidak mudah dan menyangkut orang-orang yang ilmunya sangat mendalam.
Contoh ayat mutasyabihat yang menurut hemat Penulis masuk ke dalam ranah tidak ada yang tahu maknanya antara lain ketika Al-Qur’an bicara tentang wujud fisik Allah SWT.
Berikut ini adalah beberapa contoh ayat yang terkait dengan sifat-sifat Allah dan wujud fisiknya:
1. Wajah Allah
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah. (QS. Al-Qashash: 88)
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (QS. Al-Baqarah: 115)
وَمَا تُنْفِقُوا إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللّٰهِ
Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari wajah Allah. (QS. Al-Baqarah: 272)
Ayat-ayat di atas ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ternyata langsung ditakwil menjadi makna yang lain.
2. Di mana Allah?
Ketika kita masih kecil dulu, sering kali kita bertanya kepada orang tua kita, di manakah Allah SWT itu berada. Jawabannya bisa macam-macam. Dan di dalam Al-Qur’an, tentang keberadaan Allah SWT, ternyata ada jawabannya.
Meskipun akhirnya kita jadi bingung sendiri, apa benar Allah SWT berada di suatu tempat? Lalu bagaimana dengan sifat Allah SWT yang mana Dia adalah Tuhan Sang Pencipta? Di manakah Allah SWT ketika belum menciptakan makhluk-makhluk-Nya?
Ayat-ayat yang menceritakan di mana keberadaan Allah SWT inilah yang juga termasuk ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat. Contohnya ayat-ayat berikut:
a. Di langit
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا
Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. (QS. Al-Mulk: 16-17)
Juga ada sabda utusan resmi dari Tuhan, Nabi Muhammad SAW, tentang keberadaan Allah SWT:
اِرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kasihanilah yang di bumi maka kamu akan dikasihani oleh Yang di langit.” (HR. Tirmidzi)
b. Di ‘Arsy
الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Yang Maha Pemurah itu berada di atas ‘Arsy bersemayam. (QS. Thaha: 5)
c. Bersama Kita
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)
Seperti ketika Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar RA di dalam gua, “Jangan kamu sedih, Allah beserta kita.” Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua.
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا
Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. (QS. At-Taubah: 40)
قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Kata ma‘a inilah yang kemudian dianggap menunjukkan tempat seseorang berada. Seolah-olah Tuhan itu ada di mana-mana. Walaupun ada sebagian kalangan yang kurang menerima hal itu dengan mengatakan bahwa “aku menyertaimu” meski pada kenyataannya tidak berduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk muraqabah atau pengawasan.
d. Dalam tubuh kita
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf: 16)
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
Lafazh war-rasikhuna fil ilmi (وَالرَّاسِخُونَ) diterjemahkan oleh Kemenag RI, Quraish Shihab dan HAMKA menjadi : orang-orang yang mendalam ilmunya.
Buya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa ar rasikhuna fil-'ilmi adalah orang yang telah rasikh ilmunya, artinya telah mendalam, telah berurat, telah dianugerahi Allah segala kunci-kunci ilmu. Maka, menurut kebiasaannya, apabila orang yang telah amat mendalam ilmunya, mengakuilah dia akan kekurangannya. Sebagaimana Imam Syafi'i yang termasuk barisan orang rasikh, pernah berkata
كُلَّمَا ازْدَدْتُ عِلْمًا ازْدَدْتُ فَهْمًا بِجَهْلِي
Setiap kali aku bertambah ilmu, aku semakin paham betapa bodohnya diriku.
يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
Mereka berkata : Kami beriman kepadanya, yaitu ayat-ayat Al Quran, karena semua itu datangnya dari sisi Allah. Apakah ayat itu bisa dipahami atau tidak, mutasyabihat atau bukan, intinya adalah mengimaninya saja dulu.
ltu pula sebabnya, ulama-ulama dan penganut Madzhab Salaf tidak mau mencari takwil atau tafsir dari ayat-ayat yang mengenai sifat Allah tadi. Misalnya tentang Allah bertangan, Allah mempunyai banyak mata, Allah bersemayam di ‘arsy.
Ketika Imam Malik ditanyai orang tentang tafsir ayat Allah bersemayam di ‘arsy itu, beliau berkata, ‘arsy itu kita tahu, arti bersemayam kita paham, tetapi bagaimana caranya Allah bersemayam itu tidaklah dapat kita ketahui. Sedang menanyakan hal yang demikian adalah haram."
Dengan demikian, dapatlah kita pahami bahwa kalau Allah menyatakan bahwa ada ayat-Nya yang muhkam yang jelas dengan sahaja yang mengerti takwilnya, bukanlah berarti bahwa Al-Qur'an ada ayat-ayat yang tidak bisa dipahamkan oleh manusia. Peringatan Allah tentang ayat mutasyabih bukanlah berarti yang mutasyabih itu tidak bisa dipelajari. Peringatan ini ialah menyuruh bersungguh-sungguh menuntut ilmu Al-Qur'an dan memohon petunjuk dari Allah, sampai menjadi orang yang berilmu rasikh.
Sebab, kalau ilmu telah rasikh, tidaklah berbahaya lagi. Yang berbahaya ialah orang yang setengah-setengah berilmu. Sebagai pepatah orang Minang "kepalang tukang, binasa kayu; kepalang cerdik, binasa negeri; kepalang alim, binasa agama".
وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Penggalan akhir ayat ini mirip sekali dengan penggalan akhir surat Al-Baqarah ayat 269. Lafazh wa ma yaddzakkru (وَمَا يَذَّكَّرُ) artinya : dan tidak dapat mengambil pelajaran. Asalnya dari kata dzikr (ر ْ ك ِ ذ) yang punya banyak arti. Ketika ketambahan dan berubah menjadi yadzdzakkar maknanya ikut berubah.
Kata ini juga kita temukan di dalam ayat lain ketika Allah SWT mengkritik Nabi SAW yang seolah engggan meladeni orang tua dan buta padahal datang untuk minta pelajaran.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (QS. Abasa : 1-4)
Makna illa (إِلَّا) adalah : kecuali atau melainkan. Maksudnya tidak ada yang dapat mengambil pelajaran itu, kecuali hanya kalangan tertentu saja, yaitu yang disebut dengan istilah ulul albab (أُولُو الْأَلْبَابِ)
Lafazh ulul albab (أُولُو الْأَلْبَابِ) terdiri dari dua kata, yaitu uluu (أُولُو) yang artinya memiliki dan al-albab (الْأَلْبَابِ) yang merupakan jamak dari tunggalnya yaitu lubb (لُبّ) yang maknanya inti atau saripati. Disebut istilah lubbuth-tha’am (لب الطعام) artinya sari pati makanan.
Ibnu Jarir Ath-Thabari di dalam tafsirnya, Jami’ Al-Bayan menjelaskan :
العَقْلُ الخَالِصُ مِنْ شَوَائِبِ الهَوَى وَالشَّهَوَاتِ
Akal yang murni adalah akal yang terbebas dari kekeruhan hawa nafsu dan syahwat.
Namun ketika diterjemahkan, nampaknya berbeda-beda. Kemenag RI tahun 2019 memilih untuk menuliskan saja apa adanya kata ulul albab dalam terjemahan. Sedangkan Prof. Quraish Shihab dalam terjemahnya memberikan keterangan bahwa ulul albab adalah orang-orang yang berakal bersih, murni dan cerah.
Adapun Buya HAMKA menuliskan bahwa makna ulul albab adalah orang-orang yang berpikiran dalam. Dan di dalam kurung Beliau menambahkan : (yang mempunyai inti pikiran).
Di dalam tafsirnya Beliau menambahkan penjelasannya, bahwa kata al-albab adalah bentuk jamak dari lubb, yaitu saripati sesuatu. Kacang-misalnya-memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai lubb. Ulul al-Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh "kulit", yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir.
Secara keseluruhan, diksi ulul-albab terulang-ulang dalam Al Quran sebanyak tujuh kali, yaitu pada surat-surat berikut ini :
§ Surat Al-Baqarah ayat 269
§ Surat Ali Imran ayat 7
§ Surat Ar-Rad ayat 19
§ Surat Ibrahim ayat 52
§ Surat Shad ayat 29
§ Surat Az-Zumar ayat 9 dan 18