Kemenag RI 2019:Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Seperti itu pula orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kamu mempunyai dalil yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka dan kamu hanya mengira-ngira.” Prof. Quraish Shihab:Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: 'Jika Allah
menghendaki, niscaya kami dan ( demikian juga) bapak-bapak kami tidak
mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apa pun. "
Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para
rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Apakah kamu
mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya
kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu
tidak lain hanya mengira-ngira.
Prof. HAMKA:Akan berkata orang-orang yang mempersekutukan itu, “Jika Allah menghendaki, niscaya tidaklah kami akan mempersekutukan, tidak (pula) bapak-bapak kami, dan tidak kami akan mengharamkan apa-apa.” Seperti itu pulalah telah mendustakan orang-orang yang sebelum mereka sehingga mereka merasakan siksaan Kami. Tanyakanlah, “Adakah pada kamu suatu ilmu yang bisa kamu keluarkan kepada Kami?” Tidak ada yang kamu ikuti kecuali sangka-sangka dan tidaklah kamu ini melainkan berdusta semua.
Mereka akan berkata, “Kalau Allah menghendaki, tentu kami tidak akan berbuat syirik, leluhur kami pun tidak, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.”
Padahal alasan semacam ini sudah berulang kali diucapkan oleh umat-umat sebelum mereka. Mereka menggunakannya untuk menolak kebenaran, hingga akhirnya azab Allah benar-benar menimpa mereka.
Karena itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mematahkan dalih tersebut dengan satu pertanyaan mendasar: ”adakah bukti dan dasar ilmu yang sah atas klaim itu?”
Sebab yang mereka ikuti sejatinya bukan petunjuk dari Allah, melainkan sangkaan belaka dan dugaan-dugaan yang mereka ciptakan sendiri.
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا
Kata sa yaqulu (سَيَقُولُ) artinya: kelak akan berkata. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata asyraku (أَشْرَكُوا) artinya: mempersekutukan Allah atau melakukan syirik, berasal dari akar kata (ش ر ك).
Yang menarik, bahkan mencolok bagi yang peka bahasa, adalah pilihan diksi Al-Qur’an ketika menyebut kaum musyrikin pada penggalan ini. Allah tidak menyebut mereka dengan sebutan al-musyrikun (الْمُشْرِكُونَ), tetapi memilih ungkapan alladzina asyraku (الَّذِينَ أَشْرَكُوا ) yaitu : orang-orang yang melakukan perbuatan syirik.
Padahal, secara rujukan sosial, yang dimaksud tetap sama: kaum musyrikin Arab Jahiliyah, khususnya para pemuka Quraisy di Makkah. Namun rasa bahasanya sangat berbeda.
Ungkapan alladzina asyraku (الَّذِينَ أَشْرَكُوا ) menekankan pada tindakan yang secara sadar dan sengaja yang mereka lakukan, yaitu menyekutukan Allah. Mereka bukan sekedar terjebak sebagai kaum yang musyrik secara garis keturunan, namun ungkapan ini menegaskan bahwa mereka melakukan syirik itu secara aktif dengan pilihan bebas dan merdeka, bukan sekedar ‘urf, bukan sekedar menjadi korban sistem.
Mereka inilah yang telah jadi batu sandungan bagi dakwah Nabi SAW, karena mereka pada dasarnya tidak pernah bisa menerima konsep aqidah dan ajaran samawi.
Walaupun lucunya mereka tetap percaya kepada Allah SWT, sebagai Tuhan dalam arti sebagai Penciptaan manusia, alam semesta, dan semua makhluk yang ada. Bahkan mereka juga mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang memberi rizki dan penghidupan bagi mereka.
Lebih dari itu bahkan mereka juga menjalankan berbagai ritual peribadatan yang mereka yakini sebagai bentuk ritual, seperti berhaji, bertawaf, berqurban, termasuk juga meyakini bahwa hidup dan mati mereka di tangan Allah SWT.
Yang jadi sandungan mereka adalah semua ibadah mereka itu tidak berdasarkan wahyu yang resmi, akibat dari mereka tidak punya konsep risalah kenabian dan kitab suci samawi. Mereka menyembah Allah SWT dengan keyakinan dan pemahasan yang keliru, seperti lewat para perantara yang mereka yakini bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT.
Padahal justru di titik itulah kesalahan paling telak yang menentukan kekafiran mereka. Percuma mereka mengaku beriman kepada Allah SWT, jika mereka tidak mau mengakui kenabian dan risalah samawi. Bertuhan dengan cara improvisasi, sekedar menuruti mitos dan hayalan serta kepercayaan.
Kata law (لَوْ) artinya: seandainya. Kata sya’a (شَاءَ) artinya: menghendaki, berasal dari akar kata (ش ي أ). Kata Allah (اللَّهُ) artinya: Allah. Kata ma asyrakna (مَا أَشْرَكْنَا) artinya: tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya. Kata wala (وَلَا) artinya: dan tidak. Kata aba’una (آبَاؤُنَا) artinya: nenek moyang kami, berasal dari akar kata (أ ب و).
Ucapan ini oleh orang-orang musyrik dijadikan sebagai alasan untuk mempertahankan kesalahan mereka. Dengan kalimat itu, mereka seakan berkata bahwa apa yang mereka lakukan sah dan tidak perlu disalahkan, sebab jika Allah tidak meridhainya tentu Allah akan mencegahnya sejak awal.
Logika semacam ini tentu saja amat lemah, bayangkan jika kita mengiyakannya, berarti segala macam kejahatan itu halal dan boleh-boleh saja, sebab semua terjadi karena ridha dan kehendak Allah.
Kesalahan mereka terletak pada penyamaan antara kehendak Allah dan perintah Allah. Kehendak Allah meliputi seluruh kejadian di alam semesta, sedangkan perintah Allah hanya berkaitan dengan apa yang harus ditaati dan diridhai. Tentu tidak benar menjadikan kehendak Allah sebagai alasan untuk melanggar perintah-Nya, sebab setiap pilihan tetap berada dalam tanggung jawab manusia di hadapan Allah.
وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ
Kata wa la (وَلَا) artinya: dan tidak. Kata harramna (حَرَّمْنَا) artinya: kami mengharamkan, berasal dari akar kata (ح ر م). Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata syai’in (شَيْءٍ) artinya: sesuatu apa pun.
Di antara bentuk pengharaman yang mereka buat adalah mengharamkan sebagian hewan ternak. Mereka menetapkan jenis hewan tertentu sebagai hewan terlarang, tidak boleh dimakan oleh siapa pun kecuali orang-orang yang mereka kehendaki. Al-Qur’an mengabadikan praktik ini dalam firman Allah Ta‘ala:
Tidak berhenti pada hewan ternak, mereka juga mengharamkan sebagian hasil bumi. Hasil pertanian tertentu ditetapkan sebagai sesuatu yang “terlarang”, bukan karena nash wahyu, tetapi karena aturan adat dan keyakinan buatan mereka sendiri. Ayat yang sama menyebutkan ḥarth (hasil pertanian) bersanding dengan an‘ām, menunjukkan bahwa pengharaman itu mencakup makanan hewani dan nabati sekaligus.
Bentuk pengharaman yang lebih aneh lagi adalah pengharaman berdasarkan jenis kelamin. Mereka mengatakan bahwa apa yang ada di dalam perut hewan betina hanya halal bagi laki-laki dan haram bagi perempuan. Namun jika hewan itu lahir dalam keadaan mati, maka semuanya boleh memakannya bersama-sama. Al-Qur’an membongkar kontradiksi ini melalui firman-Nya:
Mereka juga berkata, “Apa yang ada di dalam perut hewan ternak ini khusus untuk kaum laki-laki kami dan haram bagi istri-istri kami.” Jika (yang ada di dalam perut itu dilahirkan dalam keadaan) mati, semua boleh (memakannya). Kelak Allah akan membalas ketetapan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An‘am: 139)
Selain itu, mereka juga mengkhususkan konsumsi sebagian makanan hanya untuk kelompok tertentu. Ada makanan yang hanya boleh dimakan oleh orang-orang yang mereka pilih, sementara yang lain dilarang, semata-mata berdasarkan status dan klaim keagamaan buatan. Al-Qur’an menegaskan bahwa semua itu hanyalah bi za‘mihim alias menurut anggapan mereka sendiri.
كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
Kata kadzalika (كَذَٰلِكَ) artinya: demikian pula. Ungkapan ini berfungsi sebagai jembatan makna. Artinya: demikian pula, atau dengan cara yang sama. Maksudnya, apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin Makkah ini bukanlah hal baru dalam sejarah manusia. Pola pikir, cara berdalih, dan bentuk pembangkangan mereka pernah diulang oleh umat-umat sebelumnya.
Kata kadzaba (كَذَّبَ) artinya: telah mendustakan, berasal dari akar kata (ك ذ ب). Mereka mendustakan dengan cara yang halus: mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi menolak tunduk pada aturan-Nya.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata min qablihim (مِنْ قَبْلِهِمْ) artinya: sebelum mereka.
Mereka adalah umat-umat yang telah didatangi para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW, seperti kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Musa, dan umat-umat lain yang disebut atau tidak disebut secara rinci dalam Al-Qur’an. Ciri utama mereka bukan pada nama atau zamannya, tetapi pada cara berpikir dan sikapnya terhadap kebenaran.
Kesamaan mereka dengan kaum musyrikin Makkah terletak pada satu pola besar: ketika kebenaran datang, mereka mendustakannya, lalu mencari pembenaran. Ada yang berlindung di balik tradisi nenek moyang, ada yang menyalahkan takdir, ada pula yang mengaku mengikuti kehendak Tuhan, padahal mereka sedang menolak perintah-Nya. Maka yang disamakan oleh Al-Qur’an bukan bentuk lahiriahnya, tetapi logika batin dan sikap penolakannya.
Dengan menyebut “orang-orang sebelum mereka”, Allah ingin mengatakan bahwa pendustaan kaum musyrikin bukanlah sesuatu yang unik. Mereka sedang mengulang jalan lama yang sudah terbukti berujung kebinasaan. Karena itu, penyebutan generasi terdahulu di sini sekaligus mengandung peringatan: siapa pun yang menempuh jalan yang sama, akan berhadapan dengan akibat yang sama pula.
حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا
Kata hatta (حَتَّىٰ) artinya: hingga atau sampai. Kata ini memberi kesan proses yang berjalan, penolakan dan pendustaan itu berlanjut, peringatan demi peringatan datang, hujjah sudah ditegakkan, kesempatan sudah dibuka, hingga tibalah garis akhir. Jadi kata hatta (حَتَّىٰ) di sini bukan hanya penanda waktu, tapi penanda “batas kesabaran” dalam sunnatullah: ada fase pembiaran, lalu fase keputusan.
Kata dzaqu (ذَاقُوا) artinya: mereka merasakan, berasal dari akar kata (ذ و ق) yang maknanya secara teknis adalah merasakan dengan indera, khusunya indera pengecap yaitu mencicip makanan dengan lidah. Ini pilihan diksi yang sangat hidup: azab itu digambarkan bukan teori, tapi pengalaman langsung yang kena, terasa, menyentak.
Kata ba’sana (بَأْسَنَا) artinya: azab Kami atau hukuman Kami. Kata ini berasal dari akar kata (ب أ س) yang sebenarnya punya banyak makna. Ada banyak ayat Al-Quran menyebutkan kata ini dengan berbagai macam konteks yang saling berbeda, di antaranya pada ayat-ayat berikut :
1. Perang
Kata ini bisa bermakna kondisi keras yang menekan kehidupan dan iman, fase krisis yang menuntut kesabaran nyata, sebagaimana ayat berikut ini
Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita? (QS. Al-Mukmin: 29)
Ayat yang terakhir inilah yang juga digunakan oleh ayat yang sedang kita bahas, dimana kata al-ba’s (البأس) ini dimaksudkan sebagai adzab atau bencana dari Allah SWT.
Menarik untuk dicermati bahwa Allah SWT menyebut ba’sana (َأْسَنَا) dimana adzab itu langsung dikaitkan dengan nama Allah SWT. Para ulama menafsirkan bahwa bencana itu bukan hal yang kebetulan terjadi, tetapi memang sengaja Allah SWT turunkan dari sisi-Nya sebagai hukuman atas kedurhakaan.
قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ
Kata qul (قُلْ) artinya: katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah ini bukan sekadar instruksi berbicara, tetapi perintah untuk mengakhiri permainan dalih. Nabi SAW diperintahkan untuk tidak meladeni logika mereka dengan logika tandingan, melainkan dengan satu pertanyaan sederhana namun mematikan.
Kata hal (هَلْ) artinya: apakah, namun meski merupakan kata tanya, namun maksudnya bukan pertanyaan untuk mencari jawaban. Ini adalah istifham inkari, yaitu pengingkaran yang disampaikan dengan gaya bertanya. Memang begitulah salah satu metode penyampaian Al-Quran yang unik. Artinya Al-Qur’an tidak sedang berharap mereka menjawab ya, tetapi justru menuntun pendengar pada kesimpulan: tidak ada.
Kata ‘indakum (‘عِنْدَكُمْ) artinya: pada kalian atau apakah kalian mempunyai. Kata min ‘ilm (مِنْ عِلْمٍ) artinya: sebagian dari ilmu. Ungkapan bahwa orang-orang musyrikin itu tidak punya ilmu rasanya sudah berkali-kali diungkapkan. Coba kita review ulang sepanjang surat Al-An’am ini saja, maka akan kita temukan ayat-ayat yang dimaksud.
وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ
Mereka berbohong terhadap-Nya (dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai) anak laki-laki dan anak perempuan tanpa ilmu. (QS. Al-Anam : 100)
فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu (QS. Al-Anam : 108)
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kamu mempunyai ilmu yang dapat kamu kemukakan kepada kami? (QS. Al-Anam : 148)
Jika kita telaah secara menyeluruh konteks Surat Al-An‘am dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa kaum musyrikin “tidak punya ilmu”, yang dimaksud bukan ilmu pengetahuan dalam arti yang kita pahami hari ini. Ilmu yang dimaksud bukan sains, bukan kecerdasan, bukan pengalaman dan bukan pula pengetahuan empiris.
Yang dimaksud dengan ‘ilmu’ ternyata justru merupakan jalur ilmu yang sah, sumber informasi yang otentik, yaitu jalur wahyu yang resmi dari Allah SWT, yang bisa ditelusuri hingga kepada Allah SWT melalui jalur wahyu yang resmi.
Maka fakta ini perlu dicermati, bahwa tidak semua istilah ilmu dalam Al-Quran mengacu kepada pengertian ilmu yang umumnya kita pahami, yaitu intelektualitas, kecerdasan, keilmuan dan kecendikiawanan. Orang berilmu dalam konteks ini tidak identik dengan para intelektual, cendekiawan, serta orang yang punya banyak akses ke sumber-sumber pengatahuan. Tetapi mengacu kepada orang yang justru punya akses ke sumber wahyu yang resmi, baik para nabi dan rasul, atau pun juga para pengikut mereka.
Oleh karena itu pemahaman tentang Allah SWT meninggikan derajat para cendekiawan dan ilmuwan sebagaimana yang kita pahami dari ayat berikut perlu kita luruskan dan koreksi ulang.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah : 11)
Perhatikan ungkapan : utul-ilma (أُوتُوا الْعِلْمَ) yang berarti : diberi ilmu. Ada penekanan bahwa ilmu bukan dicari tapi diberikan. Dan itu lebih cocok jika yang dimaksud itu merupakan wahyu, bukan sains yang didapat lewat proses penelitian ilmiah.
فَتُخْرِجُوهُ لَنَا
Kata fa tukhrijuhu (فَتُخْرِجُوهُ) artinya: maka keluarkanlah ia, atau tunjukkanlah ia. Kata tukhriju berasal dari akar kata (خ ر ج) yang bermakna menampakkan atau mengeluarkan. Kata lana (لَنَا) artinya: kepada kami.
Jika benar pengharaman itu berasal dari Allah, sebutkan dari mana jalurnya, siapa rasulnya, dimana wahyunya?
Jangan sekadar mengklaim sepihak, tetapi jelaskan sumber dan sanadnya jika memang itu benar-benar bersumber dari Allah. Dan jawabannya sudah bisa diterka sejak awal, yaitu tidak ada alias nol besar.
Maka wajar ketika Allah perintahkan agar Nabi SAW habisi mereka yang dengan ungkapan yang amat menyakitkan, yaitu : (إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ) dan (وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ).
إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
Huruf in (إِنْ) artinya: tidak lain kecuali atau hanyalah. Kata tattabi‘una (تَتَّبِعُونَ) artinya: kalian mengikuti. Kata ini punya akar kata yang sama dengan tabi’a (تَبِعَ) yaitu berasal dari akar kata (ت ب ع) dalam bentuk dasar. Namun makna tabi’a (تَبِعَ) sekedar mengikuti secara umum, pasif, sekadar berjalan di belakang tanpa usaha khusus.
Sedangkan kata tattabi’una (تَتَّبِعُونَ) berasal dari bentuk tattabi’u (تَتَّبَعَ) yang secara morfologis, ketambahan huruf ta (ت) bertasydid dan mengandung makna mengikuti dengan sengaja, aktif, dan terus-menerus. Ada unsur kesadaran, pilihan, dan upaya di dalamnya. Bukan sekadar ikut terseret, tetapi secara sadar menjadikan sesuatu sebagai pegangan.
Yang dikritik bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi dengan sengaja menjadi pengikut militan, setia, loyal dan jadi pasukan berani mati.
Kata illa (إِلَّا) artinya: kecuali. Kata azh-zhan (الظَّنَّ) artinya: persangkaan atau dugaan. Kata zhan (الظَّنَّ) meski bermakna persangkaan atau dugaan, namun dalam kenyataannya jutru berwujud keyakinan bulat yang bersifat fanatisme. Namun keyakinan itu dibangun tanpa dasar yang sah, sesuatu yang tampak meyakinkan di permukaan, tetapi rapuh di sisi kebenaran.
وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ
Huruf wa in (وَإِنْ) artinya: dan tidaklah kalian kecuali. Kata antum (أَنْتُمْ) artinya: kalian. Kata illa (إِلَّا) artinya: kecuali. Kalian yang dimaksud tidak lain adalah orang-orang musyrikin Arab di masa kenabian.
Kata takhrushun (تَخْرُصُونَ) artinya: mereka-reka, mengada-ada, atau berkata tanpa ilmu. berasal dari akar kata (خ ر ص) yang dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut perkiraan yang dibuat-buat tanpa dasar, atau taksiran yang dipaksakan seolah-olah pasti.
Dalam penggunaan Al-Qur’an, kata ini memiliki nuansa yang lebih tajam yaitu bukan sekadar salah hitung, tetapi mengada-ada lalu dipresentasikan sebagai kebenaran.
Yang menarik, Al-Qur’an tidak mengatakan kalian mendustakan (tukadzdhibun), tetapi takhrushun. Bukan hanya menolak kebenaran yang datang dari Allah, tetapi memproduksi kebenaran tandingan, aturan halal-haram dan legitimasi syirik, lalu semua disandarkan kepada Allah seakan-akan itu wahyu.
Penggalan ini juga menjadi peringatan lintas zamanm, jika ada yang bicara tentang kehendak Allah, hukum Allah, atau agama Allah tanpa jalur wahyu yang sah, maka Al-Qur’an telah memberi istilahnya dengan sangat jelas yaitu takhrushun.