Ayat ke-16 dari surat Al-An’am ini menegaskan bahwa keselamatan dari azab di hari kiamat bukanlah hasil murni dari amal, tapi karena rahmat Allah SWT semata yang malah lebih dominan.
Siapapun orangnya yang terpilih untuk dijauhkan dari siksa pada hari itu, berarti ia telah mendapatkan kasih sayang Allah yang luar biasa. Dijauhkan dari siksa neraka di hari ketika semua orang sedang ketakutan menerima azab jelas merupakan keberuntungan dan sekaligus juga merupakan kemenangan yang tertinggi.
Tidak ada keberhasilan yang lebih besar daripada selamat dari neraka dan mendapatkan ridha-Nya.
Kata man (مَنْ) artinya : barang siapa. Kata yushraf (يُصْرَفْ) asalnya dari akar kata (ص-ر-ف) yang punya makna dasar : memalingkan, mengalihkan, mengusir, menjauhkan, atau mengalihkan sesuatu.
Kata ‘anhu (عَنْهُ) artinya : darinya. Preposisi ‘an (عَنْ) artinya : dari. Sedangkan dhamir -hu (هُ) merupakan kata ganti dari adzab.
Jadi ungkapan man yushraf ‘anhu (مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ) secara harfiah berarti : orang yang dipalingkan dari dirinya dari adzab, atau orang yang dijauhkan darinya.
Kata yauma’idzin (يَوْمَئِذٍ) artinya : pada hari itu. Maksudnya pada hari kiamat.
Kata faqad (فَقَدْ) itu terbentuk dari fa (ف) dan qad (قد). Huruf fa adalah harfu ‘athf alias huruf sambung yang bermakna : maka, menunjukkan hubungan sebab-akibat atau urutan kronologis. Kemudian partikel qad (قَدْ) merupakan tahqiq atau penegasan yang digunakan bersama fi‘il madhi atau kata kerja lampau untuk menyatakan sesuatu telah benar-benar terjadi. Jadi maknanya adalah sungguh benar-benar.
Kata rahima-hu (رَحِمَهُ) artinya : Dia telah merahmatinya. Maksudnya Allah SWT memberinya rahmat atau kasih sayang kepadanya. Kata rahima (ر ح م) ini punya arti dasar : kasih sayang, belas kasih, kelembutan.
Sebenarnya ayat ini sangat relevan dengan ayat lain yang sudah pernah kita bahas, yaitu :
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
"Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah menang." (QS. Ali ‘Imran: 185)
Kedua ayat ini sama-sama bicara tentang lika-liku perjalanan hidup seseorang yang seharusnya masuk neraka, namun Allah SWT dengan segala rahmat dan kasih sayangnya kemudian menyelamatkannya, hingga tidak disiksa dan tidak masuk neraka. Caranya dengan dipalingkan atau dijauhkan dari neraka.
Tinggal yang jadi pertanyaan, siapakah orang-orang yang diselamatkan lewat kasih sayang Allah SWT itu? Adakah amalan tertentu yang bisa membuat kita bisa diselamatkan?
Jawabannya sederhana, yaitu modalnya adalah keimanan kepada Allah SWT dan membenarkan kenabiannya. Selain itu tentu saja juga amal shalih selama di dunia, yang semuanya itu nantinya harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT.
Jika seseorang sudah beriman dan beramal shalih, namun mungkin lebih banyak dosanya dari pada pahala yang dia kumpulkan, maka dia mungkin tetap akan masuk neraka juga, biar adil dan sesuai dengan janji Allah SWT. Namun boleh jadi seseorang kemudian meminta ampunan kepada Allah SWT, memohon belas kasihan, meminta pertolongan, khususnya sejak masih di dunia, maka boleh jadi akan ada pertimbangan lain, yaitu lewat kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Tidak seorang pun di antara kalian yang akan masuk surga karena amalnya semata." Para sahabat bertanya, "Bahkan engkau juga, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Bahkan aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata dzalika (ذَٰلِكَ) artinya : itulah. Kata al-fawzu (الْفَوْزُ) punya akar kata yang terbentuk dari huruf (ف و ز). Makna dasarnya adalah menang, beruntung, selamat, berhasil meraih tujuan.
Namun dalam konteks akhirat, al-fawz mengandung makna selamat dari neraka, atau masuk surga, juga mendapatkan ridha Allah SWT serta memperoleh keselamatan abadi.
Kata al-mubin (الْمُبِينُ) artinya : yang nyata, jelas, dan tak terbantahkan. Tidak perlu dikaji panjang lebar, langsung sudah bisa disimpulkan.
Mengapa keselamatan dari azab disebut kemenangan yang nyata? Karena selamat dari azab adalah inti dari keselamatan hakiki. Sedangkan segala bentuk penderitaan dunia tidak sebanding dengan azab neraka. Berarti orang yang dijauhkan dari azab Allah, ia telah melewati ujian terberat manusia.
Pada hari kiamat, mayoritas manusia berada dalam ketakutan dan kehancuran. Hari itu penuh kengerian, ada hisab, ada neraca amal, ada saksi anggota tubuh, ada jembatan shirath di atas neraka. Maka orang yang berhasil lolos dari semua itu, tentu dia telah menang secara luar biasa.
Adapun kemenangan duniawi sebenarnya hanya kemenangan semu dan menipu, sedangkan kemenangan akhirat adalah mutlak. Banyak yang menang di dunia, tapi celaka di akhirat. Sementara orang yang dijauhkan dari neraka telah menang dalam arti paling murni dan abadi.