Kata qaala (قَالَ) artinya: Dia (Allah) berfirman. Penggunaan bentuk madhi (masa lampau) di sini menunjukkan kepastian ketetapan Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Panggilan ya muusa (يَا مُوسَىٰ) bukan sekadar sapaan, melainkan sebuah bentuk mulaathafah atau kelembutan dalam dialog langsung antara Sang Pencipta dan hamba-Nya.
Kata inni (إِنِّي) yang berarti "Sesungguhnya Aku" berfungsi sebagai taukid alias penegasan. Allah ingin menegaskan secara personal kepada Musa bahwa apa yang akan disampaikan berikutnya adalah sebuah mandat besar yang datang langsung dari otoritas tertinggi alam semesta.
Kata ishthafai-tu-ka (اصْطَفَيْتُكَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang akar katanya berasal dari huruf (ص ف و). Maknanya jernih atau murni. Dari sini lahir kata musthafa yang berarti pilihan yang terbaik dari yang paling jernih. Nabi Muhammad SAW juga bergelar al-mushthafa. Dan boleh dibilang semua nabi itu adalah orang-orang pilihan, sebagaimana hadits Shahih Muslim berikut ini :
Salah satu hadits yang paling sering dijadikan dasar adalah riwayat dari Watsilah bin Al-Asqa'. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
Sesungguhnya Allah memilih (اصطفى) dari keturunan Ibrahim: Ismail. Dan memilih dari keturunan Ismail: Kinanah. Dan memilih dari Kinanah: Quraisy. Dan memilih dari Quraisy: Bani Hasyim. Dan memilih aku dari Bani Hasyim. (HR. Sahih Muslim)
Tentu saja amanah sebagai nabi dan rasul itu bukanlah balasan apalagi imbalan atas jasa keimanan seseorang, namun semata-mata karena kehendak Allah SWT. Namun begitu para nabi dan rasul bukan hasil pilihan random dan acak, melainkan hasil penyaringan ilahiyah dari keturunan yang terbaik dari bangsa yang terbaik.
Inilah yang menempatkan Musa sebagai pribadi yang paling murni kapasitasnya untuk memimpin Bani Israil.
Kata ‘alan-naas (عَلَى النَّاسِ) artinya: di atas manusia. Penggunaan huruf 'ala di sini menunjukkan istila' atau keunggulan derajat. Dalam konteks ini, Musa diberikan keistimewaan yang tidak diberikan kepada manusia lain bahkan juga bangsa lain baik di zamannya atau pun di zaman berikutnya.
Bukankah logikanya buat Fir’aun dan bangsa Mesir seharusnya Allah SWT pilih seorang nabi atau rasul di bangsa Mesir? Lantas kenapa nabinya justru dari kalangan Bani Israil yang bukan orang Mesir sendiri?
Jawabannya memang benar Musa bukan keturunan bangsa Mesir, namun begitu beliau fasih berbahasa Mesir, mengingat sejak masih bayi Beliau dipelihara dan dibesarkan di tengah bangsa Mesir, bahkan di ruang-ruang istana Fir’aun. Sangat boleh jadi orang-orang di istana Fir’aun tidak pernah menyadari jika bayi yang mereka pelihara itu ternyata keturunan Bani Israil.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim: 4)
Untuk kasus Musa, meski Beliau bukan orang Mesir, namun secara bahasa pastinya fasih berbahasa Mesir, bahkan dikira orang Mesir betulan.
Huruf ba’ (ب) di sini bermakna sababiyah atau cara, yaitu Allah melebihkan Musa melalui dua jalur utama. Kata risalaatii (بِرِسَالَاتِي) adalah bentuk jamak dari risalah, yang artinya pesan-pesan atau misi kerasulan.
Jamak di sini menunjukkan bahwa risalah alias beban tugas yang dipikul Musa sangat banyak dan berlapis-lapis, mulai dari menghadapi Fir’aun hingga mendidik mentalitas budak Bani Israil.
Kata wa-bi-kalami (وَبِكَلَامِي) diterjemahkan secara berbeda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : ”dan dengan berbicara (langsung) dengan-Ku.” Quraish Shihab menerjemahkannya sebagai : ”dan firman-Ku”. Buya HAMKA menerjemahkannya sebagai : ”dan kalam-Ku”.
Inilah keistimewaan eksklusif Nabi Musa hingga beliau dijuluki Kalimullah. Jika nabi lain menerima wahyu lewat perantara Jibril atau mimpi, Musa mendapatkan keistimewaan berdialog langsung. Ini adalah kompensasi yang jauh lebih dari cukup atas permintaannya yang ditolak untuk melihat wajah Allah.
Namun ada hal yang agak sedikit mengganjal terkait dengan gelar Musa sebagai kalimullah. Di satu sisi, kita mengenal Musa sebagai Kalimullah, sosok istimewa yang memiliki hak eksklusif untuk berdialog sangat intens dengan Allah SWT tanpa perantara malaikat.
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (QS An-Nisa: 164)
Ayat ini memiliki struktur bahasa yang sangat kuat untuk menegaskan sebuah fakta sejarah yang luar biasa. Penggunaan kata takliiman di akhir ayat dalam kaidah bahasa Arab disebut sebagai mashdar muakkid, yang berfungsi untuk menghilangkan segala keraguan atau majas. Artinya, komunikasi yang terjadi antara Allah dan Musa benar-benar terjadi secara nyata, suara demi suara, bukan melalui perantara malaikat, bukan sekadar lewat mimpi, dan bukan pula melalui ilham batin semata.
Bahkan, beliau dikenal cukup banyak bicara dalam Al-Qur’an. Lihat saja bagaimana ketika Allah hanya bertanya singkat mengenai apa yang ada di tangan kanannya, Musa tidak hanya menjawab tongkat, melainkan menguraikan fungsinya dengan sangat panjang lebar. Mulai dari fungsi untuk bersandar, memberi makan ternak, hingga berbagai keperluan lainnya.
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ
"Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?" "Dia (Musa) berkata: 'Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya'." (QS Thaha: 17-18)
Namun, di sisi lain, mengapa sosok yang tampak sangat ekspresif dan komunikatif ini justru memanjatkan doa mohon dilepaskan ikatan dari lidahnya?
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS Thaha: 25-28)
Jika beliau memang sanggup berdialog panjang dengan Sang Pencipta, bukankah permohonan agar lidahnya tidak kaku ini terasa sangat kontradiktif?
Banyak narasi klasik mencoba menjawab teka-teki ini dengan kisah masa kecil Musa yang memakan bara api sehingga lidahnya menjadi cadel. Namun, mari kita jujur pada logika; jika seseorang mengalami cacat fisik berupa cadel yang parah, kecenderungannya adalah menjadi pendiam dan lebih banyak bergerak daripada berbicara. Pola komunikasi Musa yang sangat detail di hadapan Allah sama sekali tidak menunjukkan ciri seorang yang sulit bicara secara fisik.
Maka, kecurigaan yang lebih masuk akal dan jauh lebih cerdas adalah bahwa persoalan ini bukanlah masalah lisan yang tidak bisa berucap secara biologis. Persoalan sebenarnya terletak pada hambatan linguistik dan sosiokultural yang sangat mendalam akibat latar belakang hidup beliau yang unik.
Kita harus ingat bahwa Musa dibesarkan di jantung istana Mesir, dididik dengan kurikulum elit kerajaan, dan bergaul sehari-hari dengan para bangsawan. Secara fungsional, bahasa utama dan bahasa intelektual Musa adalah bahasa Qibthi atau Mesir Kuno. Beliau sangat mahir berdebat dan berorasi dalam bahasa para penguasa, itulah sebabnya beliau tidak gentar saat harus berhadapan langsung dengan Fir'aun.
Tantangan besar justru muncul ketika beliau harus kembali memimpin kaumnya sendiri, Bani Israil, yang selama ratusan tahun hidup terisolasi dalam perbudakan dengan dialek serta bahasa Ibrani mereka yang khas. Ada kesenjangan bahasa yang nyata di sana. Musa mungkin memahami substansinya, tapi beliau merasa tidak memiliki "rasa bahasa" yang sama dengan kaum yang tertindas itu.
Inilah mengapa Musa memohon agar Harun diutus mendampinginya dengan alasan bahwa Harun lebih fasih lisannya (afshahu minnii lisaanan). Harun tidak pernah meninggalkan kaumnya; ia tumbuh besar di tengah-tengah denyut nadi Bani Israil, sehingga dialek dan emosi bahasanya sangat menyatu dengan masyarakat bawah.
Musa membutuhkan Harun bukan karena ia tidak bisa bersuara, melainkan karena ia butuh "jembatan budaya" atau penerjemah ideologis. Harun bertugas mengemas visi besar kerasulan Musa ke dalam bahasa rakyat jelata agar pesan tersebut tidak hanya didengar, tapi juga meresap dan menggerakkan hati mereka.
Dengan kacamata ini, doa Musa untuk melepaskan ikatan lidah menjadi jauh lebih relevan dan tidak lagi terasa janggal. Beliau sedang meminta kepada Allah agar segala hambatan komunikasi, baik itu perbedaan bahasa, trauma masa lalu sebagai pelarian, maupun kekakuan saat harus bicara di hadapan massa yang skeptis, dihilangkan sepenuhnya.
Ini adalah sebuah strategi manajemen dakwah yang luar biasa hebat. Musa mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran tetap membutuhkan kemasan komunikasi yang tepat. Allah memang telah memilihnya sebagai sosok yang paling murni kapasitasnya (ishthafaituka), namun Musa tetap menyadari bahwa eksekusi di lapangan membutuhkan kerjasama tim yang solid.
Seorang pemimpin besar tidak pernah malu mengakui bahwa ia memiliki keterbatasan di bidang tertentu. Dengan melibatkan Harun yang lebih ahli dalam berkomunikasi dengan massa, Musa justru menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah misi jauh lebih penting daripada ego pribadi. Pada akhirnya, risalah agung itu tersampaikan dengan sempurna bukan karena lisan yang tanpa cacat, melainkan karena strategi komunikasi yang tepat sasaran.
Huruf fa (ف) di sini berfungsi sebagai fashihatul kalam, yang memberikan konsekuensi logis: "Karena kamu sudah terpilih, maka ambillah..." Kata khudz (فَخُذْ) artinya: ambillah atau peganglah. Ini bukan sekadar mengambil barang, tapi perintah untuk berkomitmen penuh menjalankan apa yang diberikan.
Kata maa aataituka (مَا آتَيْتُكَ) artinya: apa yang Aku berikan kepadamu. Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan hanya jabatan nabi, tetapi juga lembaran-lembaran Taurat (al-alwah) yang berisi hukum-hukum konkret sebagai panduan hidup.
Kata wa kun minasy-syaakiriin (وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ) artinya: dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Pesan ini sangat tajam. Allah mengingatkan bahwa cara terbaik untuk "melihat" Allah bukanlah dengan mata kepala, melainkan dengan melihat betapa besarnya nikmat dan amanah yang sudah diberikan, lalu mensyukurinya dengan cara menjalankan amanah tersebut secara maksimal.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim[1] menjelaskan bahwa setelah Musa dipalingkan dari keinginannya melihat Allah, Allah menggantinya dengan kemuliaan dialog langsung dan pemberian syariat. Ini adalah bentuk tarbiyah bagi setiap hamba: bahwa seringkali Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan karena kapasitas kita tidak kuat, tetapi Allah pasti memberikan apa yang kita butuhkan untuk meraih kesuksesan misi hidup kita.
Analogi sederhananya, seperti seorang anak yang merengek ingin memegang api karena melihat cahayanya yang indah. Sang ayah melarangnya karena tahu itu akan menghancurkan si anak, namun sebagai gantinya, sang ayah memberikan senter yang canggih agar si anak bisa menerangi jalannya. Syukur si anak bukan dengan tetap menangis minta api, tapi dengan menggunakan senter itu untuk berjalan dengan benar.
Begitulah cara Allah mendidik Musa. Fokuslah pada alat yaitu Taurat dan tugas yaitu Risalah yang sudah di tangan, karena itulah kunci keselamatan yang nyata.
Peristiwa yang digambarkan dalam ayat ini terjadi di salah satu momen paling sakral dalam sejarah manusia, yaitu saat Nabi Musa berada di Bukit Thursina (Gunung Sinai). Kejadian ini berlangsung setelah beliau memimpin Bani Israil keluar dari kejaran Fir'aun dan menyeberangi laut Merah. Saat itulah, Musa diperintahkan untuk mendaki gunung untuk memenuhi janji pertemuan selama empat puluh malam guna menerima wahyu secara langsung.
Suasana dalam ayat ini adalah suasana "wisuda" sekaligus "pelantikan" bagi Nabi Musa. Setelah melewati rangkaian ujian mulai dari masa kecil di istana hingga pelarian ke Madyan, di sinilah puncak tarbiyah beliau. Perintah untuk menjadi bagian dari asy-syaakiriin (orang-orang yang bersyukur) di akhir ayat menegaskan bahwa cara terbaik untuk mensyukuri nikmat dialog langsung dan jabatan tinggi tersebut bukanlah dengan kata-kata semata, melainkan dengan cara menjalankan amanah Taurat tersebut secara maksimal dan konsisten di tengah kaumnya.