Rumah Fiqih Indonesia
Al-A'raf 7 : 171
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 18 Juz 9 [7] Al-A'raf : 171 (ูˆูŽุฅูุฐู’ ู†ูŽุชูŽู‚ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ุฌูŽุจูŽู„ูŽ ููŽูˆู’ู‚ูŽู‡ูู…ู’ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุธูู„ู‘ูŽุฉูŒ ูˆูŽุธูŽู†ู‘ููˆุง)
[7] AL-A'RAF : 171

ูˆูŽุฅูุฐู’ ู†ูŽุชูŽู‚ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ุฌูŽุจูŽู„ูŽ ููŽูˆู’ู‚ูŽู‡ูู…ู’ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุธูู„ู‘ูŽุฉูŒ ูˆูŽุธูŽู†ู‘ููˆุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู‚ูุนูŒ ุจูู‡ูู…ู’ ุฎูุฐููˆุง ู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู‚ููˆู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ู…ูŽุง ูููŠู‡ู ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

Kemenag RI 2019

(Ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung (dari akarnya) ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Kami berfirman kepada mereka,) โ€œPeganglah dengan teguh apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu bertakwa.โ€

Prof. Quraish Shihab

Dan (ingatlah), ketika Kami mencabut sehingga terangkat gunung (Thursina) ke atas mereka seolah-olah ia naungan (awan) dan mereka yakin bahwa gunung itu akan jatuh menimpa mereka. (Ketika itu Kami firmankan kepada mereka): โ€œPeganglah dengan teguh apa yang telah Kami anugerahkan kepada kamu, dan ingatlah (amalkan selalu) apa yang terdapat di dalamnya supaya kamu bertakwa!โ€

Prof. HAMKA

Dan (ingatlah) tatkala Kami angkatkan gunung itu di atas mereka, seakan-akan sebuah atap dan mereka telah menyangka bahwa gunung itu akan jatuh kepada mereka. โ€œPeganglah Kitab yang telah Kami berikan kepada kamu dengan teguh dan ingatlah apa-apa yang ada padanya, supaya kamu bertakwa.โ€

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

Jika pada ayat sebelumnya yaitu ayat ke-170 Allah SWT memuji golongan yang konsisten dan sukarela berpegang teguh pada Al-Kitab, ayat 171 menampilkan contoh sebaliknya: kelompok pembangkang yang baru patuh setelah diperlihatkan kekuasaan fisik yang menggetarkan jiwa. Peristiwa ini menjadi peringatan keras agar mereka menerima dan mengamalkan ajaran kitab suci dengan kesungguhan

ูˆูŽุฅูุฐู’ ู†ูŽุชูŽู‚ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ุฌูŽุจูŽู„ูŽ ููŽูˆู’ู‚ูŽู‡ูู…ู’

Makna wa idz (ูˆูŽุฅูุฐู’) adalah: dan ketika. Makna nataqna (ู†ูŽุชูŽู‚ู’ู†ูŽุง) adalah: Kami angkat atau Kami cabut dari akarnya. Makna al-jabala (ุงู„ู’ุฌูŽุจูŽู„ูŽ) adalah: gunung (Gunung Sinai). Makna fawqahum (ููŽูˆู’ู‚ูŽู‡ูู…ู’) adalah: di atas mereka.

Penggalan ayat tentang peristiwa pengangkatan gunung di atas kepala Bani Israil ini memiliki kembaran yang redaksinya sangat mirip di dua tempat lain dalam Al-Qur'an, yang semuanya masih berada di dalam rangkaian kisah yang sama.

ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐู’ู†ูŽุง ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽููŽุนู’ู†ูŽุง ููŽูˆู’ู‚ูŽูƒูู…ู ุงู„ุทูู‘ูˆุฑูŽ ุฎูุฐููˆุง ู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู‚ููˆูŽู‘ุฉู

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat Gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), 'Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu dengan teguh' (QS. Al-Baqarah : 63)

ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐู’ู†ูŽุง ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽููŽุนู’ู†ูŽุง ููŽูˆู’ู‚ูŽูƒูู…ู ุงู„ุทูู‘ูˆุฑูŽ ุฎูุฐููˆุง ู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู‚ููˆูŽู‘ุฉู ูˆูŽุงุณู’ู…ูŽุนููˆุง

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat Gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), 'Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu dengan teguh dan dengarkanlah(QS. Al-Baqarah : 93)

Perbedaan kecil yang menarik adalah pada Surat Al-A'raf ayat 171 menggunakan kata nataqna (ู†ูŽุชูŽู‚ู’ู†ูŽุง) : Kami cabut dan angkat dan menyebut objeknya al-jabal (ุงู„ู’ุฌูŽุจูŽู„ูŽ) yaitu gunung. Sedangkan dalam kedua ayat di Surat Al-Baqarah, Allah menggunakan kata rafa'na (ุฑูŽููŽุนู’ู†ูŽุง) yaitu Kami angkat dan menyebut nama gunungnya secara spesifik, yaitu at-thur (ุงู„ุทูู‘ูˆุฑูŽ)  yang disebut juga Gunung Sinai. Meskipun pilihan katanya sedikit berbeda, keduanya menceritakan satu peristiwa historis yang sama persis.

Abu Ubaidah berkata bahwa kata ini berarti mencabut sesuatu dari asalnya lalu melemparkannya. Allah mencabut gunung dari akarnya, mengangkat, dan memposisikannya melayang di atas Bani Israil. Orang Arab klasik menggunakan istilah an-natq (ุงู„ู†ุชู‚) untuk tiga hal: menumpahkan isi kantong, julukan natiq atau mintaq bagi ibu yang melahirkan banyak anak, serta makna mengangkat beban dari punggung.

Penggalan ayat ini mengacu pada Gunung Sinai, yang juga sangat masyhur dikenal dalam literatur Islam sebagai Gunung Tursina. Saat ini, gunung bersejarah tersebut berdiri kokoh di Semenanjung Sinai, wilayah teritorial negara Mesir, dengan puncak tertinggi mencapai sekitar 2.285 meter di atas permukaan laut. Peristiwa terangkatnya gunung batu raksasa ini jelas merupakan sebuah mukjizat dan tanda kekuasaan Allah yang sangat nyata, sekaligus melampaui batas nalar manusia karena hukum gravitasi alamiah dilewati begitu saja demi memperlihatkan keagungan Sang Pencipta.

Allah sengaja membuat gunung tersebut melayang di udara tepat di atas kepala kaum Bani Israil bukan tanpa alasan atau sekadar unjuk kekuatan, melainkan sebagai sebuah instrumen peringatan dan penegasan yang luar biasa keras.

Momen krusial ini terjadi dalam rangka memaksa dan menundukkan hati Bani Israil yang kala itu menunjukkan pembangkangan, kekerasan kepala, serta keengganan untuk menerima dan menjalankan hukum-hukum suci yang termaktub di dalam kitab Taurat.

Di bawah bayang-bayang ketakutan raksasa itulah, Allah menuntut komitmen total mereka agar mau mengikat janji setia, patuh tanpa syarat, dan mengamalkan seluruh syariat dengan penuh kesungguhan demi menyelamatkan diri mereka dari kehancuran materi dan spiritual.

ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุธูู„ู‘ูŽุฉูŒ

Makna ka-annahu (ูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู) adalah: seolah-olah ia atau seakan-akan gunung itu. Makna zhullatun (ุธูู„ูŽู‘ุฉูŒ) adalah: naungan, awan, atau payung.

Maksudnya adalah kekuasaan Allah yang mengangkat gunung dari tempatnya hingga melayang tepat di atas kepala kaum Bani Israil, terlihat menutupi langit seperti gumpalan awan hitam atau payung raksasa.

Secara ilmiah menggunakan sains modern, jika seandainya gunung seukuran Sinai itu benar-benar dijatuhkan, maka jatuhnya massa batuan masif seberat miliaran ton dari ketinggian atmosfer akan melepaskan energi kinetik yang setara dengan ledakan bom nuklir berkekuatan megaton atau hantaman asteroid berskala sedang. Sesaat sebelum benturan, tekanan udara di bawah gunung akan termampatkan secara ekstrem, menciptakan gelombang kejut (shockwave) super-sonik yang sanggup meratakan apa pun di sekitarnya dalam sekejap mata.

Ketika struktur gunung seberat itu menghantam kerak bumi, getaran seismik berskala besar, mungkin mencapai magnitudo 8 atau lebih pada skala Richter, akan memicu gempa dahsyat yang meluluhlantakkan wilayah semenanjung.

Secara termodinamika, energi benturan akan langsung berubah menjadi panas ekstrem, melelehkan batuan menjadi magma instan, dan melontarkan jutaan ton debu silika ke atmosfer. Debu ini akan memblokir sinar matahari, menciptakan kegelapan total seketika, dan menyisakan kawah tumbukan raksasa yang memastikan kepunahan mutlak bagi makhluk hidup di bawahnya tanpa ada yang tersisa.

ูˆูŽุธูŽู†ู‘ููˆุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู‚ูุนูŒ ุจูู‡ูู…ู’

Makna wa zhannu (ูˆูŽุธูŽู†ูู‘ูˆุง) adalah: dan mereka menyangka atau meyakini. Makna annahu (ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู) adalah: bahwasanya ia (gunung itu). Makna waqi'un (ูˆูŽุงู‚ูุนูŒ) adalah: akan jatuh atau menimpa. Makna bihim (ุจูู‡ูู…ู’) adalah: atas mereka.

Maksudnya mereka berada dalam kondisi psikologis yang sangat ketakutan karena yakin dan tidak meragukan lagi bahwa gunung raksasa yang melayang itu sebentar lagi akan runtuh menghancurkan mereka.

Ancaman ekstrem berupa pengangkatan gunung ini dipicu oleh akumulasi watak bebal dan pelanggaran berulang yang dilakukan oleh Bani Israil. Puncaknya terjadi ketika Nabi Musa kembali membawa papan-papan Taurat dari Bukit Sinai; mereka justru enggan menerima hukum-hukum tersebut karena dinilai terlalu berat dan mengekang kebebasan hawa nafsu mereka.

Sebelum itu, mereka juga telah melakukan dosa teologis yang sangat fatal, seperti menyembah patung anak sapi emas saat ditinggal pergi Nabi Musa, serta berulang kali meragukan nikmat dan menolak perintah berjuang. Ketegaran hati untuk membangkang inilah yang membuat Allah memperlihatkan peringatan fisik yang seketika meruntuhkan kesombongan mereka.

Kelanjutan dari peristiwa menegangkan ini berakhir dengan pembatalan eksekusi alias tidak jadi ditimpakan. Ketika melihat gunung batu raksasa melayang di atas kepala dan siap menggilas mereka, nyali Bani Israil langsung ciut.

Mereka seketika bersujud meminta ampun dengan posisi wajah yang unik, satu mata menghadap ke tanah tempat bersujud, sementara satu mata lainnya cemas menatap ke atas mengawasi pergerakan gunung.

Karena mereka akhirnya menyatakan tunduk, bertobat, dan berjanji menerima Taurat dengan kesungguhan, Allah dengan rahmat-Nya mengembalikan gunung tersebut ke tempat semula tanpa ada korban jiwa.

ุฎูุฐููˆุง ู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู‚ููˆู‘ูŽุฉู

Makna khudzu (ุฎูุฐููˆุง) adalah: ambillah atau peganglah oleh kalian. Makna ma (ู…ูŽุง) adalah: apa yang. Makna ataynakum (ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’) adalah: Kami berikan kepada kalian. Makna bi-quwwatin (ุจูู‚ููˆูŽู‘ุฉู) adalah: dengan kekuatan atau kesungguhan.

Tepat di bawah bayang-bayang Gunung Thur yang terangkat dan menggantung bagaikan awan raksasa di atas kepala Bani Israil, turunlah perintah tegas ini. Sesuatu yang harus "diambil" oleh mereka adalah kitab Taurat beserta seluruh perangkat hukum dan syariat di dalamnya.

Namun, yang paling memikat untuk ditelisik adalah rahasia di balik perintah mengambilnya "dengan kekuatan" (bi quwwatin). Para ulama tafsir telah mengurai makna ini dengan begitu indah, menggabungkan dimensi fisik, mental, dan spiritual di dalam karya-karya abadi mereka.

Ath-Thabari kitab Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] menarasikan bahwa ayat ini merupakan seruan keras agar Bani Israil menerima dan mengamalkan kitab Allah tersebut dengan kesungguhan penuh, berbekal kerja keras yang nyata, serta menyingkirkan jauh-jauh segala bentuk kemalasan maupun kelalaian. Pandangan ini beliau perkuat dengan mengutip riwayat dari sahabat Ibnu Abbas dan juga Qatadah, yang menafsirkan kata "kekuatan" tersebut sebagai bentuk "keseriusan" (bi jiddin).

Seirama dengan hal tersebut, Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang masyhur, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an[2], turut memberikan penjelasan yang ringkas namun lugas bahwa frasa tersebut memang menuntut sebuah kesungguhan total dari seorang hamba dalam memegang ketetapan Tuhannya.

Al-Mawardi melalui tafsirnya An-Nukat wal 'Uyun[3] tidak sekadar membatasi pemaknaan pada keseriusan lahiriah semata. Beliau menyuguhkan dimensi batiniah yang sangat menyentuh dengan memaparkan dua wajah tafsir; selain berarti kesungguhan, "dengan kekuatan" juga bermakna keharusan untuk menerima syariat dengan niat yang benar-benar jujur serta ketaatan yang murni dan tulus dari lubuk hati terdalam.

Taurat dirasa amat berat dan kaku oleh Bani Israil, yang menjadi alasan awal keengganan mereka. Memotret realitas psikologis ini, Fakhruddin ar-Razi dalam mahakaryanya Mafatih al-Ghaib[4] dan az-Zamakhsyari di dalam tafsir Al-Kasysyaf `an Ghawamidhi Haqaiqi At-Tanzil[5] memberikan nuansa penjelasan yang saling meluruskan. Keduanya menjabarkan bahwa frasa ini adalah suntikan dorongan sekaligus tuntutan agar Bani Israil memupuk tekad baja dan kebulatan hati dalam menanggung segala beban kesulitan serta beratnya kewajiban (takalif) syariat tersebut.

Narasi tentang keengganan awal kaum Yahudi ini juga direkam secara apik oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim[6], yang kemudian ditegaskan kembali dalam analisis kebahasaan oleh Thahir Ibnu Asyur melalui kitab At-Tahrir wat Tanwir[7]. Ibnu Asyur menyoroti bahwa momen mencekam pengangkatan gunung itu adalah mukjizat sekaligus titik balik bagi mereka agar mengikat janji dengan penuh azimah atau tekad yang pantang menyerah.

ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ู…ูŽุง ูููŠู‡ู

Makna wa-udzkuru (ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง) adalah: dan ingatlah atau pelajarilah dan amalkanlah. Makna ma fihi (ู…ูŽุง ูููŠู‡ู) adalah: apa yang ada di dalamnya. Maksudnya adalah perintah Allah kepada Bani Israil untuk menerima kitab Taurat dan mematuhi hukum-hukum di dalamnya dengan komitmen total, bukan dengan setengah hati.

ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

Makna la'allakum (ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’) adalah: agar kalian atau supaya kalian. Makna tattaqun (ุชูŽุชูŽู‘ู‚ููˆู†ูŽ) adalah: bertakwa atau memelihara diri dari siksa. Maksudnya adalah tujuan akhir dari semua perintah dan peringatan keras tersebut, yaitu agar mereka menjadi hamba yang patuh, taat, dan takut akan murka Allah.  

[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)

[2] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)

[3] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)

[4] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)

[5] Az-Zamakhsyari (w. 538 H), Al-Kasysyaf `an Ghawamidhi Haqaiqi At-Tanzil, (Beirut, Darul-kutub Al-Arabi, Cet. 3, 1407 H)

[6] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)

[7] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)

๐Ÿ” Login Admin