وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka (tentang) berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami kepadanya. Kemudian, dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan mengikutinya (dan terus menggodanya) sehingga dia termasuk orang yang sesat.
Dan (sampaikanlah wahai Nabi Muhammad saw.) kepada mereka (orang-orang musyrik), berita (tentang) orang yang telah Kami anugerahkan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri darinya (dan tidak mengamalkan pesan ayat-ayat itu), maka dia diikuti oleh setan sehingga dia termasuk orang-orang sesat.
Dan, bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami datangkan kepadanya ayat-ayat Kami, tetapi dia terlepas daripadanya; maka setan pun menjadikan dia pengikutnya lalu jadilah dia daripada orang-orang yang tersesat.
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Ayat ke-175 dari Surah Al-A'raf ini mengisahkan seorang lelaki yang telah dianugerahi Allah ayat-ayat-Nya. Namun para ulama berbeda pendapat apakah itu berupa nama Allah yang agung, atau sebuah kitab dari kitab-kitab Allah, atau pengetahuan mendalam tentang agama.
Sayangnya kemudian ia melepaskan diri dari semua itu dan berbalik arah. Setan pun menyusulnya dan menjadikannya bagian dari golongan orang-orang yang sesat.
Kisah ini hadir bukan tanpa sebab. Ayat-ayat sebelumnya baru saja berbicara tentang Bani Israil, khususunya tentang perjanjian mereka dengan Allah, tentang pewarisan Taurat, dan tentang generasi-generasi yang kemudian mewarisi kitab suci, namun memilih kesenangan dunia. Maka kisah lelaki ini datang sebagai contoh nyata dan paling gamblang dari apa yang baru saja dibicarakan, yaitu bahwa ancaman terbesar bagi seseorang yang berilmu bukanlah kebodohan, melainkan ketika ilmu itu ada, namun tidak lagi mampu menahan pemiliknya dari jatuh ke dalam godaan dunia.
Makna watlu (وَاتْلُ) adalah: dan bacakanlah atau kisahkanlah. Makna 'alaihim (عَلَيْهِمْ) adalah: kepada mereka. Makna naba'a (نَبَأَ) adalah: berita penting atau kisah besar.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-’Uyun[1] merinci perbedaan pendapat para ulama tentang siapakah tokoh yang dimaksud dalam ayat yang mulia ini.
Pendapat pertama menyatakan bahwa ia adalah Bal'am bin 'Aura'. Sebenarnya sosok ini diperselisihkan asal-usulnya. Ada yang mengatakan ia berasal dari Yaman, ada pula yang menyebut ia dari kalangan bangsa Kan'an, dan sebagian lagi mengatakan ia dari keturunan Sha'l bin Luth. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud.
Pendapat kedua menyebutkan bahwa tokoh tersebut adalah Umayyah bin Abi ash-Shalt ats-Tsaqafi, sebagaimana disampaikan oleh Abdullah bin Amr.
Adapun pendapat ketiga mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam kemudian bersikap munafik. Pendapat ini dikemukakan oleh Ikrimah.
Makna alladzi (الَّذِي) adalah: orang yang. Makna atainahu (آتَيْنَاهُ) adalah: Kami telah berikan kepadanya. Makna ayatina (آيَاتِنَا) adalah: ayat-ayat Kami.
Para ulama juga berselisih pendapat tentang ayat-ayat apakah yang diberikan kepada tokoh tersebut. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah nama Allah Yang Maha Agung yang dengannya doa-doa dikabulkan. Pendapat ini disampaikan oleh as-Suddi dan Ibnu Zaid.
Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah sebuah kitab dari kitab-kitab Allah, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Pendapat ketiga menyebutkan bahwa ia dianugerahi kenabian, namun kaumnya menyuapnya agar ia berdiam diri dan membiarkan mereka dalam kesesatan, lalu ia pun menerimanya. Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid. Namun pendapat ini tidak dapat diterima, sebab Allah tidak memilih seseorang untuk menyandang kenabian-Nya kecuali orang yang Dia ketahui tidak akan keluar dari ketaatan kepada-Nya menuju kemaksiatan.
Makna fansalakha (فَانْسَلَخَ) adalah: maka dia melepaskan diri atau mengelupas keluar. Makna minha (مِنْهَا) adalah: darinya (dari ayat-ayat tersebut). Ada dua pandangan ulama mengemukakan dalam memahami penggalan ayat ini.
Pertama, bahwa ia melepaskan diri dari ilmu tentang ayat-ayat tersebut, karena Allah akan mencabut apa yang telah diberikan kepadanya akibat kemaksiatan yang ia lakukan.
Pandangan kedua menyatakan bahwa ia melepaskan diri dari ketaatan melalui kemaksiatan, sementara ilmunya tentang ayat-ayat itu tetap ada padanya, hingga dikisahkan bahwa Bal'am pernah disuap untuk mendoakan kebinasaan atas kaum Musa, namun ia terlanjur salah sehingga doanya justru menimpa kaumnya sendiri dan mereka pun binasa.
Makna fa-atba'ahu (فَأَتْبَعَهُ) adalah: lalu mengejarnya atau menyusulnya hingga berhasil menguasainya. Makna as-syaithanu (الشَّيْطَانُ) adalah: setan.
Al-Mawardi menguraikan tiga pandangan terkait penggalan ayat ini. Pandangan pertama, bahwa setan menjadikannya sebagai pengikut bagi dirinya sendiri tatkala orang itu menyambut godaan dan bujukannya.
Pandangan kedua menyatakan bahwa setan adalah sosok yang diikuti oleh manusia dalam kesesatan dan kekufurannya.
Pandangan ketiga menjelaskan bahwa setan menyusul dan menggodanya, sebab dalam bahasa Arab dikatakan ittaba'tu al-qaum bila kamu telah berhasil menyusul mereka, dan tabi'tuhum bila kamu berjalan di belakang mereka. Pandangan ini dikemukakan oleh Ibnu Qutaibah.
Makna fakaana (فَكَانَ) adalah: maka jadilah dia. Makna mina al-ghawin (مِنَ الْغَاوِينَ) : termasuk orang yang sesat.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-’Uyun[2] menyebutkan dua makna dari kata ini. Pertama, orang-orang yang binasa. Kedua, orang-orang yang tersesat jauh dari kebenaran.
Akar katanya dari (غَوَى — يَغْوِي) yang mengandung makna dasar: menyimpang dari jalan yang benar dengan kesadaran, lalu binasa akibat penyimpangan itu sendiri.
Para ahli bahasa membedakannya dari kata (ضَلَّ) yang juga berarti sesat. Yang ini maknanya tersesat karena gelap dan tidak tahu jalan, sedangkan al-ghawi (الغاوي) adalah orang yang tersesat meskipun lampu menyala.
Abu Hilal Al-'Askari bahkan mempertegas perbedaan ini dengan menyatakan bahwa jika kita menyebut seseorang sebagai fasid (فاسد), maka yang terbayang adalah kefasikan, namun jika kita menyebutnya sebagai ghawin (غاوٍ) maka yang dimaksud adalah kerusakan pada keyakinan dan jalan hidupnya.
Dikatakan bahwa sesatnya al-ghawi ini bukan sesat karena tidak tahu, melaikan sesat yang sengaja diambil sebagai pilihan hati. Maka dari itu, Allah SWT menyebut iblis yang tersesat itu dengan kata ini.
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (QS. Al-A'raf : 16)
Sebelumnya juga ada kisah Nabi Adam yang Allah SWT larang memakan buah dari pohon di surga, namun Beliau melanggar larangan itu. Dalam hal ini Nabi Adam melanggar bukan sedang terjebak karena ketidak-tahuan. Sebab ketika melarangnya, Allah SWT menggunakan kata hadzihisy-syajarah (هذه الشجرة) yang artinya : pohon ini. Nabi Adam pasti tahu dan paham bahwa pohon itu yang terlarang. Namun ketika dia akhirnya memakannya, Allah SWT katakan dia telah melakukan tindakan : ghawa.
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaha : 121)
Kesamaannya dengan iblis adalah sama-sama tahu hal itu terlarang, tapi diterjang begitu saja. Maka sosok yang lagi kita bicarakan di ayat ini pun disebut dengan ungkapan yang sama, yaitu (فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ). Dia tersesat bukan dalam arti tidak tahu, tapi dia tersesat dalam makna memang bandel, kurang ajar, brengsek, tambeng dan tidak bisa diatur.
Di dalam ayat lain Allah SWT memasangkan kata ini sebagai lawan dari muttaqin.
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ
Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. (Neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat. (QS. Asy-Syu’ara : 90-91)
[1] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)
[2] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)