| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 184 | ▶ |
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا ۗ مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Kemenag RI 2019: Apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Nabi Muhammad) tidak gila sedikit pun? Dia hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-184 dari surat Al-A’raf ini menjawab tuduhan kaum musyrikin Mekkah yang banyak dilontarkan kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa ajaran Islam yang menurut mereka aneh dan asing itu lantaran datangnya dari orang gila.
Tuduhan gila adalah salah satu dari empat tuduhan yang mereka lontarkan, yaitu penyihir, penyair, dan dukun.
Bahasa yang Allah SWT gunakan adalah bahwa menuduh Nabi SAW sebagai orang gila justru menunjukkan mereka sendiri yang logis dalam berpikir. Sebab jika direnungkan dengan hati yang tenang dan akal yang waras, pada dasarnya yang Nabi SAW dakwahnya hanya sebuah peringatan yang jelas.
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا
Makna a wa lam (أَوَلَمْ) terdiri dari hamzah (أ) yang merupakan hamzah istifham, maknanya : apakah. Namun pertanyaan di sini bukan untuk meminta jawaban, melainkan untuk mencela, menegur, dan menggugah kesadaran. Seakan-akan Allah SWT berkata: "Apakah mereka belum juga berpikir?" padahal semua alasan untuk berpikir sudah tersedia di hadapan mereka.
Adapun huruf wawu (وَ) adalah wawu al-'athf yang menghubungkan ayat ini dengan pembahasan sebelumnya. Seharusnya ayat ini didahului oleh huruf wawu ini, namum ternyata si penyambungnya malah diletakkan belakangan setelah hamzah istifham. Para ulama nahwu menjelaskan bahwa hamzah istifham memiliki hak mendahului (صدر الكلام). Artinya, hamzah pertanyaan hampir selalu ditempatkan di awal kalimat, bahkan mendahului huruf-huruf 'athaf seperti wawu dan fa'.
Sedangkan lam (لَمْ) adalah huruf yang menafikan perbuatan pada masa lampau yang bermakna: belum. Ketika masuk kepada fi'il mudhari', ia mengubah maknanya menjadi penafian terhadap sesuatu yang seharusnya sudah terjadi sampai saat ini.
Makna yatafakkaruu (يَتَفَكَّرُوا) adalah: mereka berpikir atau merenungkan. Karena itu gabungan semuanya yaitu (أَوَلَمْ) tidak sekadar berarti "apakah tidak?", tetapi lebih tepat dipahami sebagai: "Apakah mereka belum juga memikirkan hal ini?" atau : "Tidakkah mereka mau berpikir?", atau : "Mengapa mereka tidak menggunakan akal mereka?"
Ungkapan seperti ini sangat sering digunakan Al-Qur'an ketika mengajak manusia keluar dari kebekuan berpikir. Pertanyaannya bukan untuk memperoleh informasi, karena Allah SWT tentu mengetahui keadaan mereka, melainkan untuk mengguncang hati dan akal mereka agar mau melakukan perenungan.
Ini adalah kalimat tanya yang tujuannya menyanggah. Kita bisa memahaminya lewat logika bahasa, seolah pesan yang disampaikan kurang lebih : mereka tidak berpikir logis. Atau bisa juga : seharusnya mereka berpikir yang lurus.
مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ
Makna maa (مَا) adalah: tidak ada. Makna bi shaahibi-him (بِصَاحِبِهِمْ) adalah: pada diri sahabat mereka, yakni Nabi Muhammad SAW. Ungkapan (صَاحِبُكُمْ) atau (صَاحِبِهِمْ) yang menggambarkan hubungan Nabi SAW dengan kaumnya beberapa kali dalam Al-Qur'an. Semuanya memiliki tujuan yang hampir sama, yaitu mengingatkan orang-orang Arab bahwa Muhammad SAW bukan orang asing bagi mereka, melainkan seseorang yang telah mereka kenal sepanjang hidupnya. Dari keturunan mereka, makan, minum, berumah tangga, berketurunan sebagaimana mereka.
Namun kemudian istilah shahabat mengalami pengerucutan makna dan memperoleh makna teknis yang lebih khusus. Itu terjadi setelah berkembangnya ilmu-ilmu Islam. Dalam terminologi para ulama hadits, nantinya kata shahabi dikhususkan bagi orang yang bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan beriman dan tetap beriman sampai wafat dalam keadaan Islam.
Dengan pengertian itu maka Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Al-Mughirah, dan para pemuka Quraisy lainnya secara bahasa tentu pernah menjadi ’shahib’ Nabi SAW, namun dalam istilah syar'i mereka tidak pernah disebut sebagai sahabat Nabi.
Makna min jinnatin (مِنْ جِنَّةٍ) adalah: dari kegilaan. Pernyataan bahwa Nabi SAW itu tidak gila muncul beberapa kali dalam Al-Quran, antara lain :
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.(QS. An-Najm : 2)
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ
Dan kawanmu itu bukanlah orang gila. (QS. At-Takwir : 22)
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ
Kawanmu itu bukan orang gila. (QS. Saba' : 46)
Nampaknya ayat ini turun dalam rangka menjawab apa yang telah disepakati oleh para pembesar Quraisy ketika mereka berkumpul menjelang musim haji untuk menentukan propaganda terhadap Nabi SAW. Mereka memperdebatkan apakah beliau disebut kahin, penyair, penyihir, atau gila. Riwayat itu disebutkan oleh Ibn Ishaq dan dinukil oleh Ibn Hisham:
Sebagian mereka berkata: 'Kita katakan saja dia seorang dukun.' Al-Walid berkata: 'Dia bukan dukun.' Mereka berkata: 'Kalau begitu kita katakan dia gila.' Al-Walid menjawab: 'Dia bukan orang gila. Kita sudah pernah melihat orang gila dan mengenal kegilaannya.
Lalu Al-Walid menjelaskan bahwa Muhammad SAW tidak menunjukkan gejala orang gila yang mereka kenal. Akhirnya mereka sepakat memakai tuduhan sihir karena dianggap lebih efektif.
Menariknya, riwayat ini justru menjadi salah satu bukti terkuat bahwa Quraisy sendiri tahu Nabi SAW tidak gila. Mereka mendiskusikan berbagai label propaganda, lalu menolak label majnun karena tidak sesuai dengan kenyataan yang mereka saksikan selama empat puluh tahun hidup bersama beliau.
إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Makna in (إِنْ) di sini bukan inna yang berarti sesungguhnya, melainkan in an-nafiyah, yaitu huruf penafian yang bermakna tidak. Adapun huwa (هُوَ) merujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu frasa illa (إِلَّا) berfungsi sebagai alat pengecualian. Gabungan in (إِنْ) dan illa (إِلَّا) merupakan salah satu gaya bahasa Arab yang sangat kuat untuk membatasi dan menegaskan makna : "Tidaklah dia itu melainkan seorang pemberi peringatan yang jelas." Atau dengan ungkapan yang lebih tegas: "Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata."
Kata nadzir (نَذِير) berasal dari akar kata (ن ذ ر) yang pada dasarnya mengandung makna memberi peringatan terhadap bahaya yang akan datang. Dalam tradisi Arab, nadzir adalah orang yang pertama kali melihat ancaman, lalu bergegas memperingatkan kaumnya sebelum bencana itu tiba. Jadi tugas seorang nadzir bukan memaksa orang mengikuti dirinya, bukan pula menghukum mereka, melainkan menyampaikan peringatan agar mereka dapat menyelamatkan diri.
Adapun kata mubin (مُبِين) berasal dari akar (ب ي ن) yang berkaitan dengan makna kejelasan dan keterbukaan. Kata ini bisa dipahami dalam dua sisi sekaligus. Pertama, Nabi SAW menyampaikan peringatan dengan cara yang jelas, tidak samar dan tidak membingungkan. Kedua, beliau sendiri merupakan pemberi peringatan yang jelas identitas dan kebenarannya. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dalam dakwah beliau.
Menariknya, ayat ini datang setelah firman Allah SWT: (أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ) : "Tidakkah mereka berpikir bahwa tidak ada sedikit pun kegilaan pada sahabat mereka itu?". Seolah-olah setelah Allah SWT membantah tuduhan bahwa Nabi SAW gila, ayat ini menjelaskan hakikat beliau yang sebenarnya. Nabi SAW bukan orang gila, bukan penyair, bukan dukun, dan bukan pula tukang sihir sebagaimana tuduhan Quraisy. Beliau hanyalah seorang rasul yang bertugas menyampaikan peringatan dengan terang dan jelas.