| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 183 | ▶ |
وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
Kemenag RI 2019: Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-183 dari surat Al-A’raf ini meneruskan ayat sebelumnya, dimana Allah SWT SWT membiarkan mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui.
Di ayat ini Allah SWT tegaskan bahwa Dia memang memberi tenggang waktu kepada mereka. Mereka tidak terburu-buru dijatuhkan adzab, karean Allah SWT punya rencana tersendiri.
وَأُمْلِي لَهُمْ
Ungkapan wa umli lahum (وَأُمْلِي لَهُمْ) terdiri dari huruf wawu (و) sebagai penghubung kalimat dan kata umli (أُمْلِي) yang berasal dari tiga huruf yang menjadi akar kata, yaitu (م ل و), atau menurut sebagian ahli bahasa (م ل ي). Dari akar yang sama lahir kata al-mulwah (الْمُلْوَة) yang berarti rentang waktu yang panjang. Kata umli (أُمْلِي) sendiri adalah fi'il mudhari' dari bentuk keempat (af'ala), yaitu: (أَمْلَى – يُمْلِي – إِمْلاءً).
Secara harfiah maknanya adalah memberi waktu, memperpanjang masa, menangguhkan tindakan, atau membiarkan sesuatu berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Ungkapan amlaitu lahu al-waqta (أمليت لهم وقتا) berarti ‘aku memberinya tenggang waktu’ atau ‘aku membiarkannya hidup lebih lama tanpa segera mengambil tindakan’.
Ketika Allah SWT berfirman : (سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ), terdapat hubungan yang sangat erat antara istidraj dan imla'. Istidraj adalah proses penjerumusan secara bertahap melalui nikmat yang terus mengalir. Sedangkan imla' adalah pemberian waktu agar proses itu berlangsung sempurna. Seakan-akan Allah SWT berfirman:
"Aku tidak akan menyegerakan hukuman mereka. Aku akan membiarkan mereka hidup lebih lama, menikmati rezeki lebih banyak, merasakan keberhasilan lebih besar, sehingga kesesatan mereka semakin matang dan alasan untuk menghukum mereka semakin sempurna."
Di sinilah letak kehalusan maknanya. Orang yang terkena istidraj sering mengira bahwa penundaan hukuman merupakan bukti bahwa dirinya aman. Padahal justru penundaan itulah yang menjadi bagian dari hukuman tersebut. Ia berkata, "Sudah bertahun-tahun aku melakukan ini dan tidak terjadi apa-apa." Padahal dalam logika ayat ini, ketidakdatangan hukuman belum tentu berarti keselamatan; bisa jadi itu adalah imla', yaitu masa tenggang yang Allah SWT berikan sebelum datangnya keputusan akhir.
إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
Makna inna (إِنَّ) adalah: sesungguhnya. Kata kaid (كَيْد) sering diterjemahkan sebagai tipu daya, muslihat, atau rencana, tetapi terjemahan-terjemahan itu sebenarnya belum sepenuhnya menangkap nuansa aslinya dalam bahasa Arab. Sebab pada dasarnya istilah ini menunjuk kepada upaya yang dirancang secara tersembunyi untuk mencapai tujuan tertentu terhadap pihak lain. Di dalamnya terdapat unsur perencanaan, strategi, pengaturan langkah, dan pengelolaan keadaan sehingga hasil akhirnya tercapai tanpa disadari oleh sasaran yang dituju.
Karena itu kaid (كَيْد) tidak selalu bermakna buruk. Dalam Al-Qur'an kata ini digunakan untuk manusia, setan, perempuan dalam kisah Nabi Yusuf, bahkan digunakan pula untuk Allah SWT. Yang berubah adalah nilainya, tergantung siapa pelakunya dan untuk tujuan apa.
Ketika digunakan untuk orang-orang kafir seperti : (إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا), maknanya adalah mereka menyusun berbagai makar dan strategi untuk menggagalkan dakwah. Ketika digunakan untuk Nabi Yusuf alaihisalam (كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ), maknanya bukan ’Kami menipu Yusuf’, melainkan ’Kami mengatur dan merancang jalan keluar bagi Yusuf’ melalui skenario yang tidak disadari oleh saudara-saudaranya.
Kata matin (متين) punya akar kata (م ت ن) yang dalam bahasa Arab pada asalnya menunjuk kepada bagian yang keras, tebal, padat, dan kokoh dari sesuatu. Orang Arab menyebut sisi punggung yang kuat atau bagian tanah yang tinggi dan keras sebagai matn. Dalam ilmu hadits, ada istilah matan (مَتْن) adalah bagian isi atau teks hadits.
Ketika akar ini berubah menjadi sifat matin (مَتِين), maknanya bukan sekadar memiliki kekuatan, melainkan memiliki kekuatan yang stabil, kokoh, dan sulit digoyahkan. Ada perbedaan halus antara qawiy (قَوِيّ) dan matin (مَتِين). Sesuatu bisa saja qawiy karena memiliki daya besar, tetapi belum tentu matin. Sebuah mesin balap misalnya sangat kuat, tetapi jika mudah rusak maka ia tidak bisa disebut matin. Sebaliknya, sesuatu yang matin memiliki kekuatan yang menyatu dengan struktur dasarnya sehingga tidak mudah retak atau runtuh.
Demikian pula dalam ayat ini, ungkapan (إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ) jika diterjemahkan sebagai : Sesungguhnya tipu daya-Ku sangat kuat, terjemahan itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, karena kata tipu daya dalam bahasa Indonesia hampir selalu bernilai negatif. Yang lebih mendekati maksud ayat adalah : Sesungguhnya strategi-Ku sangat kokoh, atau : Sesungguhnya pengaturan-Ku sangat kuat, atau : "Sesungguhnya rencana-Ku sangat tak terbendung."
Konteks ayat sebelumnya berbicara tentang istidraj dan imla'. Allah SWT membiarkan orang-orang kafir memperoleh nikmat, memberi mereka waktu, tidak segera menghukum mereka, sehingga mereka mengira diri mereka aman. Padahal semua itu merupakan bagian dari kaid Allah SWT. Bukan karena Allah menipu mereka, tetapi karena Allah mengatur sebab-sebab yang akhirnya membawa mereka kepada akibat yang pantas mereka terima.
Mereka boleh menyusun rencana, mereka boleh merasa aman dengan kekayaan dan kekuasaan mereka. Namun seluruh keadaan yang mereka anggap sebagai keberuntungan itu sebenarnya berada dalam rancangan-Ku yang sangat kokoh dan tidak mungkin mereka lolos darinya.