| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 188 | ▶ |
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Kemenag RI 2019: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.”| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-188 dari surat Al-A’raf ini masih erat kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya, khususnya tentang pertanyan kaum kafir kepada Nabi SAW tentang kapan jatuhnya hari kiamat. Ayat ini kemudian menguatkan jawaban sebelumnya bahwa Beliau SAW memang sama sekali tidak mengetahui jawaban kapan kiamat.
Jangankan kiamat, untuk bisa mampu menarik suatu kebaikan untuk diri Beliau SAW sendiri pun tidak punya kuasa. dan tidak pula sanggup menolak keburukan darinya. Maka, bagaimana mungkin Nabi SAW bisa mengetahui kapan terjadinya hari kiamat?
Maka ayat ini merupakan perintah Allah SWT kepada Nabi SAW untuk menegaskan dua hal :
Pertama, bahwa dirinya tidak punya sedikitpun kekuasaan untuk mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat, kecuali apa yang Allah kehendaki.
Kedua, seandainya Nabi SAW mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.”
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا
Makna qul (قُلْ) adalah: katakanlah. Makna laa amliku (لَا أَمْلِكُ) adalah: aku tidak berkuasa atau aku tidak memiliki. Makna linafsii (لِنَفْسِي) adalah: bagi diriku atau untuk diriku. Makna naf'an (نَفْعًا) adalah: kemanfaatan atau manfaat. Makna wa laa dharran (وَلَا ضَرًّا) adalah: dan tidak pula kemudaratan atau bahaya.
A-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan bahwa
Ada pula yang berpendapat (maknanya): Aku tidak kuasa menentukan petunjuk (hidayah) maupun kesesatan bagi diriku sendiri.
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Makna illaa (إِلَّا) adalah: kecuali. Makna maa syaa-allaahu (مَا شَاءَ اللَّهُ) adalah: apa yang dikehendaki Allah.
وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ
Makna wa lau (وَلَوْ) adalah: dan sekiranya atau jikalau. Makna kuntu (كُنْتُ) adalah: aku. Makna a'lamu (أَعْلَمُ) adalah: aku mengetahui. Makna al-ghaiba (الْغَيْبَ) adalah: yang ghaib.
Al-Alusyi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani [2] menuliskan bahwa yang dimaksud dengan ghaib di sini bukan sekadar berita tentang masa depan, tetapi mencakup seluruh rahasia hubungan sebab-akibat yang tersembunyi dari manusia. Misalnya mengetahui secara pasti sebab-sebab yang akan menghasilkan keuntungan, serta mengetahui berbagai faktor yang akan mendatangkan kerugian.
لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ
Makna lastaktsartu (لَاسْتَكْثَرْتُ) adalah: niscaya aku menyedikitkan atau niscaya aku memperbanyak. Makna mina al-khairi (مِنَ الْخَيْرِ) adalah: dari kebaikan.
Kata khair itu punya banyak makna, salah satunya adalah harta atau rejeki.
إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
Jika seseorang meninggalkan harta, hendaklah ia berwasiat untuk kedua orang tua dan kerabatnya. (QS. Al-Baqarah : 180)
Para mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan khair pada ayat tersebut adalah harta yang banyak. Demikian pula dalam ayat yang sedang kita bahas, banyak ulama memahami ungkapan lastaktsartu min al-khair (لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ) sebagai segala bentuk kerja, bisnis, dagang, dan mencari harta atau perdagangan yang menguntungkan, termasuk juga hasil pertanian yang melimpah, dan berbagai peluang yang mendatangkan rezeki.
Seandainya Nabi SAW mengetahui perkara-perkara gaib secara mandiri, tentu beliau akan mengetahui kapan harga barang akan naik atau turun, kapan musim panen berhasil atau gagal, kapan perjalanan dagang akan untung atau rugi, dan berbagai informasi tersembunyi lainnya. Dengan pengetahuan seperti itu, beliau tentu dapat mengumpulkan keuntungan yang sangat banyak dan menghindari berbagai kerugian.
Al-Alusyi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani [3] menuliskan riwayat dari Al-Kalbi bahwa orang-orang Makkah pernah meminta Nabi SAW memberitahukan harga barang sebelum naik dan memberitahukan daerah yang akan mengalami kekeringan agar mereka bisa pindah ke daerah yang lebih subur. Seakan-akan mereka berkata, "Kalau memang engkau mengetahui yang gaib, mengapa tidak memanfaatkan pengetahuan itu untuk memperoleh keuntungan dunia?" Maka Allah SWT memerintahkan Nabi SAW menjawab bahwa beliau tidak mengetahui perkara-perkara gaib semacam itu.
وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ
Makna wa maa (وَمَا) adalah: dan tidak. Makna massaniya (مَسَّنِيَ) adalah: menyentuhku atau menimpaku. Makna as-suu'u (السُّوءُ) adalah: keburukan atau kemudaratan.
Seandainya Nabi SAW mengetahui perkara ghaib secara mutlak dan mandiri, pastilah Beliau SAW dapat menghindari berbagai musibah dan kesulitan yang akan menimpanya. Namun kenyataannya kehidupan Nabi SAW justru menunjukkan sebaliknya. Beliau SAW berkali-kali mengalami berbagai ujian dan kesulitan yang tidak beliau ketahui sebelumnya.
Pada Perang Uhud beliau terluka hingga wajahnya berdarah dan gigi serinya patah. Seandainya beliau mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak, tentu secara logika manusiawi beliau dapat menghindari peristiwa itu.
Beliau dan para sahabat penah mengalami pemboikotan selama bertahun-tahun. Mereka mengalami kelaparan dan kesulitan hidup yang sangat berat. Kalau Nabi SAW mengetahui seluruh kejadian masa depan dan seluruh sebab yang tersembunyi, tentu beliau bisa mencari jalan untuk menghindari penderitaan tersebut.
Ketika berhijrah ke Madinah pun beliau tidak mengetahui secara pasti seluruh rencana dan tipu daya musuh. Beliau tetap menyusun strategi, bersembunyi di Gua Tsur, menyiapkan penunjuk jalan, dan melakukan berbagai ikhtiar sebagaimana manusia pada umumnya. Semua itu menunjukkan bahwa beliau menjalani kehidupan berdasarkan sebab-sebab yang tampak, bukan berdasarkan pengetahuan gaib yang mutlak.
Bahkan dalam urusan keluarga, Nabi SAW juga mengalami berbagai kesedihan. Putra-putra beliau wafat ketika masih kecil. Khadijah istri yang sangat beliau cintai, wafat pada masa yang sulit. Paman beliau, Abu Thalib, yang selama ini melindunginya, juga meninggal dunia. Tahun itu bahkan dikenal sebagai Tahun Kesedihan.
Semua ini termasuk bentuk as-su’ (السوء) dalam arti musibah dan kesulitan hidup yang tetap menimpa beliau sebagai manusia. Karena itu, ayat ini bukan menunjukkan kekurangan pada diri Nabi SAW. Justru ayat ini menegaskan hakikat kenabian. Beliau adalah manusia yang menerima wahyu, bukan manusia yang memiliki pengetahuan gaib secara mutlak. Apa yang Allah SWT kehendaki untuk diberitahukan kepada beliau, maka beliau mengetahuinya melalui wahyu. Adapun selain itu, beliau menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya, merasakan lapar, sakit, sedih, terluka, dan menghadapi berbagai cobaan hidup.
إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Makna in (إِنْ) adalah: tidak lain. Makna ana (أَنَا) adalah: aku. Makna illaa (إِلَّا) adalah: kecuali atau melainkan.
Ini merupakan salah satu bentuk pembatasan dalam bahasa Arab. Maknanya: "Aku tidak lain hanyalah". Dengan susunan seperti ini, perhatian pendengar diarahkan kepada tugas pokok Nabi SAW, yaitu menyampaikan risalah, bukan mengetahui segala rahasia alam semesta atau menguasai perkara-perkara gaib sebagaimana yang dibayangkan oleh orang-orang musyrik.
Makna nadziirun (نَذِيرٌ) adalah: seorang pemberi peringatan. Nabi SAW memperingatkan manusia tentang akibat kekufuran, kemaksiatan, dan penolakan terhadap petunjuk Allah SWT. Beliau mengingatkan adanya hari kebangkitan, hisab, dan azab yang menanti orang-orang yang berpaling dari kebenaran. Karena itulah dalam banyak ayat Al-Qur'an beliau disebut sebagai nadzir, yaitu orang yang membangunkan manusia dari kelalaian sebelum datangnya hukuman.
Makna wa basyiirun (وَبَشِيرٌ) adalah: dan pembawa kabar gembira. Sebagaimana beliau memperingatkan orang yang durhaka, beliau juga membawa berita yang menggembirakan bagi orang-orang yang beriman. Beliau menyampaikan janji ampunan, rahmat, keberkahan hidup, dan surga yang Allah SWT sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat. Dakwah Islam tidak hanya berisi ancaman, tetapi juga penuh harapan. Karena itu sifat nadzir dan basyir selalu berjalan beriringan.
Makna liqau-min (لِقَوْمٍ) adalah: bagi kaum atau untuk orang-orang yang. Makna yu'minuuna (يُؤْمِنُونَ) adalah: mereka beriman.
Menariknya, Allah SWT tidak mengatakan untuk seluruh manusia (لِلنَّاسِ), tetapi menggunakan ungkapan (لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَﴨ) yaitu bagi kaum yang beriman.
Bukan berarti peringatan dan kabar gembira itu hanya ditujukan kepada orang-orang yang sudah beriman. Risalah Nabi SAW ditujukan kepada seluruh manusia. Akan tetapi yang benar-benar memperoleh manfaat dari peringatan dan kabar gembira tersebut hanyalah orang-orang yang memiliki kesiapan untuk beriman.
Adapun orang yang menutup hati dan menolak kebenaran, maka peringatan tidak memberi pengaruh kepadanya dan kabar gembira tidak menarik perhatiannya.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[2] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)
[3] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)