| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 187 | ▶ |
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Kemenag RI 2019: Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-187 dari surat Al-A'raf ini memiliki keterkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Setelah Allah menuntaskan penjelasan mengenai tauhid, kenabian dan takdir, di ayat ini pembahasan dilanjutkan dengan topik hari kiamat. Ayat ini juga berkaitan langsung dengan peringatan di ayat sebelumnya mengenai batas usia manusia yang mungkin sudah sangat dekat.
Allah menceritakan bahwa Nabi SAW ditanya orang tentang kapan waktu terjadinya kiamat. Beliau SAW diminta menjawab bahwa yang tahu urusan itu hanya Allah SWT, yang memang sengaja dirahasiakan dari seluruh makhluk. Amat berat bagai penduduk langit dan bumi. Pada saat kedatangannya, terasa kiamat itu terjadi mendadak bagi mereka.
Mereka yang menanyakan kapan kiamat itu menduga Nabi SAW punya pengetahuan tentang itu, padahal ilmunya hanya ada di sisi Allah SWT, sedangkan kebanyakan manusia tidak tahu.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ
Makna yasalunaka (يَسْأَلُونَكَ) adalah: mereka bertanya kepadamu. Kata ’kamu’ dalam ayat ini tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan siapa yang bertanya, Ibnu Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim[1] menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat. Ada yang bilang mereka adalah kaum musyrikin Mekkah, namun sebagian lain mengatakan mereka adalah Yahudi Madinah.
Namun jika mempertimbangkan bahwa surat Al-A’raf ini sebagai Makkiyah, kemungkinan terkuat yang bertanya memang kaum musyrikin. Namun sebagaimana kita tahu bahwa mereka tidak percaya adanya hari kiamat, bagaimana mungkin mereka bertanya tentang itu?
Lafazh 'anis-sa'ah (عَنِ السَّاعَةِ) maksudnya tentang titik waktu kejadian Kiamat. Secara bahasa, as-sa’ah (السَّاعَةِ) berasal dari akar kata sa-a-ta (س ع ـة) yang berarti bagian dari waktu atau durasi yang pendek. Dalam penggunaan Arab klasik, kata ini merujuk pada satuan waktu terkecil atau saat tertentu yang spesifik. Bahasa kekiniannya adalah : detik-detik terjadinya kiamat.
Lantas bagaimana kita menjelaskan alasan kaum musyrikin Mekkah bertanya tentang waktu terjadinya kiamat, padahal mereka sendiri tidak percaya? Kalau tidak percaya, kenapa bertanya kapan waktunya?
Jawabannya bahwa pertanyaan mereka bukan lahir dari ketertarikan atau pencarian hidayah, melainkan bentuk ejekan, tantangan, dan upaya mempermalukan. Mereka bertanya untuk menguji Nabi Muhammad SAW, dengan anggapan bahwa jika beliau tidak bisa menjawab detail waktunya, maka risalah kenabiannya dianggap batal.
Mereka menggunakan topik kiamat sebagai senjata retorika untuk meragukan kebenaran rukun iman kelima yang dibawa Nabi SAW, khususnya iman kita kepada hari kiamat. Mereka mentahkan keyakinan adanya kiamat dengan berkata, ”Jangan banyak omong tentang kiamat, ditanya kapan terjadinya saja pun tidak bisa jawab. Itu berarti yang anda katakan itu jelas ngibul, alias hanya sekedar omon-omon”.
أَيَّانَ مُرْسَاهَا
Makna ayyaana (أَيَّانَ) adalah: kapankah. Secara etimologis, ayyana (أَيَّانَ) adalah kata tanya yang digunakan untuk menanyakan waktu, namun dengan nuansa yang lebih mendalam daripada mata (متى).
Penggunaan ayyana (أَيَّانَ) dibandingkan mata (متى) dipilih karena Kiamat bukan sekadar penunjuk waktu biasa, melainkan peristiwa dahsyat yang mengguncang jiwa. Dalam retorika Arab, mata (متى) hanya digunakan untuk urusan rutin yang ringan, sedangkan ayyana (أَيَّانَ) secara eksklusif dikhususkan untuk menanyakan momen yang sangat agung, genting, dan tak terbayangkan kedahsyatannya.
Pemilihan kata ini menegaskan bahwa Kiamat bukanlah sekadar akhir dari sebuah durasi, melainkan sebuah peristiwa monumental yang berada di luar jangkauan logika manusia, sekaligus mencerminkan nada mengejek dari kaum musyrikin yang menganggap hari tersebut sangat jauh dan mustahil terjadi.
Makna mursaaha (مُرْسَاهَا) adalah: tetapnya, atau saatnya berlabuh dan tiba. Kata ini berasal dari akar kata ra-sa-wa (ر س و), yang secara harfiah berarti kapal yang berlabuh dan tertambat dengan kokoh di dermaga. Pilihan kata ini sangat spesifik dan memiliki makna filosofis yang kuat.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[2] menukil tiga pendapat yang dikemukakan oleh para ulama. As-Suddi menyampaikan pendapat pertama yang memaknainya sebagai waktu terjadinya atau berdirinya hari kiamat. Sementara itu, Ibnu Abbas mengemukakan pendapat kedua yang menafsirkan lafaz tersebut sebagai waktu kesudahan atau batas akhirnya. Selanjutnya, pendapat ketiga datang dari Al-Akhfasy yang mengartikan kata tersebut sebagai waktu kemunculan atau saat tampaknya hari kiamat.
Hari Kiamat diibaratkan sebagai sebuah kapal raksasa yang sedang berlayar di samudra kehidupan dunia. Selama dunia masih ada, kapal kiamat ini sedang bergerak menuju titik akhirnya. Mursaha adalah momen ketika kapal tersebut sampai di dermaga, berhenti total, dan menambatkan jangkarnya.
Dengan menggunakan istilah mursaha, ayat ini mengisyaratkan bahwa kiamat bukanlah peristiwa yang terjadi secara acak atau tidak teratur. Kiamat memiliki dermaga tujuan yang sudah ditetapkan oleh Allah. Segala sesuatu di alam semesta ini sedang meluncur pasti menuju titik pemberhentian tersebut.
Selain itu ketika kapal kiamat itu sudah berlabuh (mursaha), maka perjalanan sejarah manusia di dunia benar-benar berakhir. Tidak ada lagi pergerakan, tidak ada lagi kehidupan duniawi, karena semuanya telah ditambatkan oleh keputusan Allah untuk selamanya.
Ketika kaum musyrikin bertanya ayyana mursaha, mereka sebenarnya sedang menantang kepastian tersebut. Mereka ingin tahu kapan kapal itu berhenti, bukan untuk bersiap-siap turun dengan selamat, melainkan untuk meremehkan bahwa dermaga itu tidak akan pernah ada. Padahal, penggunaan istilah ini justru menegaskan bahwa pemberhentian itu adalah suatu kepastian yang tak terelakkan.
قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي
Makna qul (قُلْ) adalah: katakanlah. Potongan ayat ini berfungsi sebagai perintah tegas dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk membatasi otoritas pengetahuan manusia. Penggunaan qul (قل) : katakanlah, menetapkan Nabi sebagai penyampai pesan yang tunduk pada batasan wahyu.
Makna innamaa (إِنَّمَا) adalah: sesungguhnya hanyalah. Fungsinya sebagai pembatas eksklusif (hashr) yang menegaskan bahwa pengetahuan tentang Kiamat tidak akan pernah melampaui batas yang ditetapkan Allah.
Makna 'ilmuhaa (عِلْمُهَا) adalah: ilmu tentangnya, yakni pengetahuan mengenai waktu terjadinya. Makna 'inda rabbii (عِنْدَ رَبِّي) adalah: di sisi Tuhanku. Pernyataan ini menutup rapat pintu spekulasi manusia. Allah SWT menetapkan kapan waktu kejadian Kiamat sebagai rahasia mutlak ketuhanan yang tidak bisa dijangkau oleh kecerdasan, perhitungan, maupun nubuat siapa pun, sehingga menegaskan bahwa posisi hamba adalah meyakini kepastiannya, bukan membedah waktu terjadinya.
لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ
Makna laa yujalliiha (لَا يُجَلِّيهَا) adalah: tidak ada yang menyingkapnya atau menampakkannya. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa peristiwa Kiamat berada dalam kondisi tersembunyi atau terselubung, dan tidak ada satu pun kekuatan, baik malaikat maupun rasul, yang memiliki kapasitas untuk mengangkat selubung tersebut sebelum saatnya tiba.
Makna li-waqtiha (لِوَقْتِهَا) adalah: pada waktunya yang telah ditentukan. Ada ketetapan waktu yang presisi dan tidak dapat diganggu gugat.
Makna illaa huwa (إِلَّا هُوَ) adalah: kecuali Dia, yakni Allah. Ungkapan ini menutup celah bagi siapa pun untuk mengklaim atau memprediksi waktu tersebut.
Sebuah pertanyaan kritis sering kali muncul terkait hal ini: jika memang Allah tidak berkehendak memberitahukan kapan waktu pastinya, lantas kenapa banyak sekali bertebaran hadis terkait tanda-tanda kiamat? Bukankah memberikan tanda-tanda tersebut sama saja dengan membocorkannya?
Jawabannya terletak pada pemisahan yang sangat tegas antara mengetahui presisi waktu terjadinya dan mengetahui gejala kedatangannya. Keberadaan hadis-hadis yang merinci tanda-tanda kiamat sama sekali bukan sebuah "kebocoran" rahasia ilahi, melainkan manifestasi dari kasih sayang dan fungsi peringatan (tarbiyah) dari Allah bagi umat manusia. Allah memang mengunci rapat jarum jam penunjuk Kiamat, namun Dia menebarkan rambu-rambu peringatannya agar manusia tidak tiba-tiba dihantam oleh kehancuran dalam keadaan lalai.
Tanda-tanda ini berfungsi untuk menjaga ritme keimanan dan kesadaran. Ketika berbagai tanda itu bermunculan dari satu zaman ke zaman lainnya, manusia terus-menerus dibangunkan dari ilusi keabadian dunia agar segera bertobat dan memperbaiki diri. Tanda tersebut tidak dirancang sebagai instrumen untuk menghitung mundur waktu secara matematis, melainkan sebagai cambuk spiritual.
ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Makna tsaqulat (ثَقُلَتْ) adalah: terasa berat atau tersembunyi. Makna fis-samaawaati wal-ardhi (فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) adalah: di langit dan di bumi.
Ath-Thabari menuliskan dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Qur'an[3] bahwa yang dimaksud dengan terasa berat itu adalah pengetahuan tentang Kiamat itu sangat berat bagi penghuni langit dan bumi untuk bisa mengetahuinya.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[4] menuliskan tiga pendapat terkait penggalan ini:
· Menakutkan, bahwa kedatangan hari kiamat itu terasa amat besar dalam arti menakutkan bagi penduduk langit dan bumi. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan.
· Berat, terjadinya kiamat itu terasa sangat berat bagi mereka. Pendapat ini dikemukakan oleh As-Suddi.
· Dahsyat, terjadinya kiamat itu terasa sangat dahsyat bagi penduduk langit dan bumi. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Juraij.
لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً
Makna laa ta'tiikum (لَا تَأْتِيكُمْ) adalah: tidak akan datang kepada kalian. Makna illaa baghtatan (إِلَّا بَغْتَةً) adalah: kecuali secara tiba-tiba, tanpa diduga.
Meskipun seluruh tanda telah terwujud sempurna di depan mata, titik pasti alias li waqtiha kapan sangkakala ditiup tetap mustahil untuk dikalkulasi. Tanda-tanda Kiamat itu ibarat awan hitam yang menggumpal sangat pekat. Kita tahu secara pasti bahwa badai akan segera datang, tetapi tidak ada satu pun makhluk atau ahli meteorologi terhebat yang bisa memastikan pada detik ke berapa kilat pertama akan menyambar dan tetes air pertama akan menyentuh bumi.
Dengan demikian, otoritas mutlak atas penyingkapan waktu Kiamat tetap terjaga eksklusif di sisi Allah, sementara manusia tetap mendapatkan manfaat utuh dari peringatannya.
يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا
Makna yasalunaka (يَسْأَلُونَكَ) adalah: mereka bertanya kepadamu. Makna ka-annaka (كَأَنَّكَ) adalah: seakan-akan engkau. Makna hafiyyun (حَفِيٌّ) adalah: orang yang tekun menyelidiki sehingga menguasai ilmunya. Makna 'anhaa (عَنْهَا) adalah: tentangnya.
Memang jika kita telaah sebegitu banyaknya pernyataan tentang tanda-tanda terjadinya kiamat dari mulut Baginda Nabi Muhammad SAW, wajar jika banyak orang mengira Beliau SAW tahu kapan terjadinya kiamat. Setidaknya orang terkesan seperti itu. Bayangkan ketika Beliau SAW bersabda :
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
"Aku dan hari Kiamat diutus (jaraknya) seperti dua jari ini." (Beliau memberi isyarat dengan mensejajarkan jari telunjuk dan jari tengah). (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka menjadi liar di kepala siapa pun yang mendengarnya bahwa kiamat pastinya segera terjadi. Dalam kesempatan lain, Beliau SAW memberikan gambaran yang membuat para pendengarnya merasa dunia benar-benar sudah berada di penghujung petang melalui sabdanya:
إِنَّمَا بَقَاؤُكُمْ فِيمَا سَلَفَ قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ
"Sesungguhnya sisa masa kalian dibandingkan dengan umat-umat sebelum kalian, hanyalah seperti jarak waktu antara shalat Asar hingga terbenamnya matahari." (HR. Bukhari)
Gaya bahasa Beliau begitu visual, spesifik, dan penuh keyakinan saat menceritakan rambu-rambu akhir zaman. Dari fenomena budak melahirkan tuannya, penggembala domba yang berlomba meninggikan bangunan, hingga deskripsi fisik Dajal yang sangat merinci. Memang wajar membuat siapa pun merasa Beliau menyembunyikan sebuah kalender pasti di benaknya.
Karena rentetan penjelasan yang begitu fasih dan hidup itulah, orang-orang bertanya kepada Beliau seolah-olah Beliau adalah seorang hafiyyun, yakni orang yang telah menyelidiki secara mendalam, menyingkap rahasianya, dan mengetahui secara persis kapan matahari peradaban ini akan terbenam.
Melalui kelanjutan ayat inilah Allah harus meluruskan asumsi liar tersebut, menegaskan bahwa kepiawaian Nabi dalam menjelaskan tanda-tanda Kiamat sama sekali bukan berarti Beliau memegang kunci rahasia kapan waktu tepatnya liwaqtiha hari itu tiba.
قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ
Makna qul (قُلْ) adalah: katakanlah. Makna innamaa (إِنَّمَا) adalah: sesungguhnya hanyalah. Makna 'ilmuhaa (عِلْمُهَا) adalah: ilmu tentangnya. Makna 'indallaaH (عِنْدَ اللَّهِ) adalah: ada di sisi Allah.
Fakta sejarah kemudian membuktikan bahwa kiamat yang seolah tinggal menunggu matahari terbenam itu ternyata tidak juga berlangsung. Ternyata matahari itu tidak segera tenggelam. Waktunya bergeser bukan hanya setahun dua tahun, tapi puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun.
Jika kita hitung sejak Nabi SAW bercerita banyak tentang visualisasi kiamat hingga hari ini sudah berlalu lebih dari empat belas abad lamanya. Rentang waktu yang melampaui 1.400 tahun ini menjadi bukti empiris yang justru mengukuhkan kebenaran mutlak dari penegasan Allah dalam ayat tersebut.
Kefasihan, ketajaman, dan kedekatan analogi yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tentang akhir zaman terbukti bukanlah sebuah instrumen kalender untuk menghitung sisa hari secara matematis, melainkan sebuah metode pembinaan spiritual agar umat selalu berada dalam posisi waspada dan bersiap diri.
Inilah alasan mendasar mengapa Allah memerintahkan Beliau untuk menyuarakan kalimat innamaa 'ilmuhaa 'indallah (إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ). Kalimat ini bertindak sebagai benteng teologis untuk mematahkan setiap upaya peramalan, kalkulasi astrologi, maupun spekulasi sejarah yang berusaha menebak tanggal kedaluwarsa dunia.
Waktu yang terus merentang melewati belasan abad ini menyadarkan kita bahwa konsep dekat dalam hitungan absolut sang Pencipta dimensi waktu sangatlah berbeda dengan standar pendeknya umur peradaban manusia. Kiamat itu pasti datang dan tanda-tandanya terus tergelar di panggung sejarah, namun detik spesifik kapan semesta ini benar-benar dihancurkan adalah hak prerogatif Allah yang terkunci rapat di sisi-Nya, tanpa ada satu pun celah bagi manusia untuk mengintipnya.
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Makna walaakinna (وَلَٰكِنَّ) adalah: akan tetapi. Makna aktsaran-naasi (أَكْثَرَ النَّاسِ) adalah: kebanyakan manusia. Makna laa ya'lamuun (لَا يَعْلَمُونَ) adalah: tidak mengetahui.
Sekilas penutup ayat ini malah bikin penasaran. Kenapa disebut kebanyakan manusia tidak tahu? Bukakah terkesan bahwa yang tidak tahu itu orang kebanyakan saja? Apakah ini berarti ada orang ’khusus tertentu’ yang tahu persis kapan waktunya. Begitu kah?
Pertanyaan ini memunculkan logika kebahasaan yang sangat cerdas dan wajar. Dalam percakapan sehari-hari, ketika kita mengatakan kebanyakan orang tidak tahu, secara otomatis otak kita akan menangkap pesan tersirat, berarti ada segelintir orang elit yang tahu. Dalam ilmu keislaman, penarikan kesimpulan kebalikan semacam ini dikenal dengan istilah mafhum mukhalafah. Namun, apakah logika ini berlaku untuk memahami penutup ayat ini?
Jawabannya adalah tidak. Logika adanya kelompok khusus yang mengetahui waktu Kiamat telah digugurkan secara telak oleh potongan ayat sebelumnya. Kata innamaa (إنما) sesungguhnya hanyalah, berfungsi sebagai pembatas yang absolut dan tertutup rapat. Jika Allah sudah menyatakan bahwa pengetahuan itu hanya ada pada-Nya, maka klaim bahwa ada nabi tertentu, wali besar, atau malaikat terdekat yang ikut memegang rahasia kalender tersebut menjadi batal demi hukum.
Lalu, apa yang sebenarnya tidak diketahui oleh kebanyakan manusia itu?
Objek ketidaktahuan mereka bukanlah waktu Kiamat, melainkan mereka tidak mengetahui fakta bahwa rahasia Kiamat adalah wewenang eksklusif Allah. Mereka juga sama sekali tidak menyadari betapa besar kebijaksanaan di balik dirahasiakannya waktu tersebut. Kebanyakan orang, seperti kaum musyrikin atau Yahudi yang bertanya kepada Nabi, masih mengira bahwa pengetahuan Kiamat itu bisa diakses dengan logika, bisa dihitung dengan fenomena alam, atau mereka menyangka bahwa Nabi Muhammad SAW sebenarnya tahu namun sengaja merahasiakannya dari mereka.
Andaikan kebanyakan manusia itu benar-benar mengetahui kedudukan wahyu dan memiliki kesadaran teologis yang lurus, mereka tentu tidak akan membuang-buang energi menanyakan sesuatu yang mustahil dijawab. Orang yang benar-benar "berilmu" akan paham batasan akalnya; mereka akan berhenti membedah kalender akhir zaman dan mengalihkan seluruh fokusnya pada persiapan amal.
Jadi, kalimat penutup ini sama sekali bukan sedang menyisakan ruang bocoran bagi kaum elit spiritual, melainkan sedang menampar kebodohan kebanyakan manusia yang sibuk mengusik rahasia Tuhan ketimbang mengurus kewajibannya sendiri.
Muslim Tidak Akan Mengalami Huru-hara Kiamat
Di balik narasi tentang betapa mengerikannya guncangan kehancuran alam semesta, tersimpan sebuah kasih sayang Allah yang luar biasa besar bagi orang-orang beriman. Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya yang memiliki tauhid di dalam hati, sekecil apa pun itu, untuk ikut tersiksa secara psikologis maupun fisik dengan terpaksa menyaksikan runtuhnya langit dan bumi.
Huru-hara puncak Kiamat tersebut secara eksklusif dirancang sebagai bentuk azab pendahuluan di dunia yang hanya akan disaksikan dan dirasakan oleh seburuk-buruknya manusia, yakni mereka yang hatinya telah kosong dari pengakuan terhadap Tuhan.
Sebagai bentuk perlindungan pamungkas, Allah menetapkan skenario purna tugas bagi kaum mukminin di akhir zaman dengan mengutus sebuah agen kematian yang sangat damai. Rasulullah SAW membeberkan hal ini melalui sabdanya,
إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ رِيحًا مِنَ الْيَمَنِ أَلْيَنَ مِنَ الْحَرِيرِ فَلَا تَدَعُ أَحَدًا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ
"Sesungguhnya Allah mengutus angin dari arah Yaman yang lebih lembut daripada sutra, ia tidak akan meninggalkan seorang pun yang di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji sawi melainkan akan mewafatkannya." (HR. Muslim).
Setelah angin rahmat ini selesai menyapu bersih seluruh nyawa orang beriman, maka peradaban manusia yang tersisa hanyalah diisi oleh orang-orang durjana. Kepada merekalah kehancuran semesta ditimpakan, sebagaimana ditegaskan dalam hadis lain,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ
"Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada seburuk-buruknya manusia." (HR. Muslim).
Para ulama memberikan pandangan yang sangat mendalam terkait transisi pemisahan ini. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengomentari bahwa tiupan angin penyejuk tersebut adalah bentuk pemuliaan ilahiah. Ketika sistem moral dunia telah runtuh total pasca wafatnya Nabi Isa dan orang-orang kembali menyembah berhala, Allah memisahkan hamba-Nya yang beriman melalui kematian yang lembut agar mereka tidak perlu mencicipi kengerian As-Sa'ah (hari kehancuran).
Senada dengan pandangan tersebut, Imam Al-Qurthubi dalam kitab At-Tazkirah menjelaskan bahwa rentetan teror kosmik berupa gunung yang beterbangan, lautan yang mendidih, dan langit yang terbelah adalah tontonan siksaan yang sengaja dipertontonkan khusus bagi kaum kafir.
Bagi orang-orang beriman, momen Kiamat hanyalah sebuah masa istirahat yang tenang di alam barzakh, menjaga mereka dari trauma kehancuran duniawi hingga tiba saatnya dibangkitkan menuju pengadilan akhirat.
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)
[2] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)
[3] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[4] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)