| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 195 | ▶ |
أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۗ قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ
Kemenag RI 2019: Apakah mereka (berhala) mempunyai kaki untuk berjalan, mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, ) mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Panggillah (berhala-berhalamu) yang kamu anggap sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku dan jangan kamu tunda lagi.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ini adalah kelanjutan langsung dari tantangan sebelumnya. Yang diajak bicara (mukhathab) adalah kaum musyrikin yang menyembah berhala, dimana Allah berbicara kepada mereka, melanjutkan argumen yang belum selesai.
Namun ketika menyebut a lahum (أَلَهُمْ، لَهُمْ), maka yang dimaksud adalah berhala-berhala itu sendiri. Sesembahan yang tadi ditantang untuk menjawab doa, kini diperinci satu per satu ketidakberdayaannya. Keempat pertanyaan itu semuanya retoris dan jawabannya sama: tidak.
Yang menarik, urutan yang dipilih bukan urutan sembarangan, kaki untuk datang, tangan untuk bertindak, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar. Ini adalah fungsi-fungsi paling dasar yang dibutuhkan agar seseorang layak disembah dan dimintai pertolongan. Dan berhala tidak punya satu pun dari semuanya.
أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا
Lafazh a lahum (أَلَهُمْ) terdiri dari huruf hamzah (أ) yang sifatnya menanyakan : apakah. Sedangkan lahum (لَهُمْ) artinya : mereka mempunyai. Mereka yang dimaksud adalah patung-patung berhala yang disembah bangsa Arab di masa itu.
Kata arjulun (أَرْجُلٌ) adalah bentuk jamak dari rijlun (رِجل) yang artinya kaki. Kata yamsyuuna (يَمْشُونَ) artinya berjalan. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya, yaitu berjalan dengan menggunakan kaki itu.
Jika kita lakukan riset sejarah kecil-kecilan atas bentuk penampakan patung-patung berhala yang disembah bangsa Arab kala itu, ternyata cukup unik. Data sejarah menunjukkan bahwa berhala Arab pra-Islam bentuknya sangat beragam, tidak semuanya berbentuk patung manusia dengan kaki yang utuh.
Malah bentuk yang paling umum justru bukan patung manusia, melainkan batu yang tidak dibentuk sama sekali, yaitu unworked stone block. Batu-batu tegak itulah yang paling dominan sebagai objek pemujaan. Menariknya sejarah menceritakan bahwa orang Arab sendiri pada dasarnya tidak memahat patung. Dengan kata lain bahwa tradisi memahat bukan kebiasaan kaum Badui. Patung-patung berbentuk manusia seperti Hubal justru didatangkan dari luar, dari wilayah Syam.
Adapun patung-patung dari Arabia Selatan yang ditemukan secara arkeologis memiliki ciri khas: bentuk dasar kubik, tubuh gempal, dengan penekanan sangat kuat pada bagian kepala. Intinya bukan figur manusia lengkap yang proporsional.
Jadi pertanyaan di ayat ini sangat relevan. Ternyata mayoritas patung berhala Arab justru hanay berupa batu tegak atau potongan tubuh bagian atas. Secara teknis kebanyakannya tidak punya kaki. Jangankan berjalan, kaki pun tidak punya.
Maka habislah dibantai dengan pernyataan sederhana tapi mematikan : sesembahan kalian bisa melakukan apa kalau kaki saja tidak punya. Pastinya tidak bisa berjalan, tidak bisa berpindah, tidak bisa bergerak, tidak bisa merespons. Tuhan macam apa yang lemah seperti itu.
أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا
Makna am lahum (أَمْ لَهُمْ) adalah: ataukah bagi mereka atau ataukah mereka mempunyai. Makna aidin (أَيْدٍ) adalah: tangan-tangan. Makna yabthishuuna (يَبْطِشُونَ) adalah: mereka memegang dengan keras atau mereka menyiksa. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya.
Riset menyebutkan bahwa negeri Syam (Levant) memiliki tradisi patung berhala yang secara anatomis paling mendekati bentuk manusia. Patung pertama yang disembah di negeri Arab namanya Hubal, ddatangkan dari negeri Syam 300-an tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW oleh Amr ibn Luhay.
Anatomi Hubal memang berupa patung berhala besar, bahkan terbesar di Mekah. Patung ini paling mirip berbentuk manusia utuh, karena pengaruh peradaban negeri Syam, sebagai wilayah yang paling langsung terpapar pengaruh peradaban Yunani, terutama setelah penaklukan Alexander Agung pada abad ke-4 SM.
Alexander memperluas pengaruh Yunani ke Syria dan wilayah Timur Dekat, membawa serta tradisi seni Yunani yang sudah sangat maju dalam merepresentasikan tubuh manusia. Ada dasar filosofisnya yang penting untuk dipahami, yaitu para seniman Yunani mempelajari anatomi secara serius dan berusaha menangkap kesempurnaan fisik, karena mereka percaya bahwa tubuh manusia mencerminkan keindahan ilahi. Dan patung adalah medium untuk mengekspresikan keyakinan itu. Ini berbeda mendasar dari tradisi Mesopotamia atau Arabia Selatan yang lebih mementingkan simbol daripada kemiripan.
Lalu tradisi itu masuk ke Syam dan bertahan lama. Kota-kota Helenistik bermunculan di seluruh Syria, yang mengharuskan pemasangan patung-patung dewa Yunani di tempat-tempat suci dan ruang publik. Patung menjadi industri, dan standar anatomisnya sudah tertanam kuat dalam budaya lokal.
Jadi ketika Amr ibn Luhay datang ke Syam dan mendapatkan Hubal, ia sedang mengambil produk dari peradaban yang sudah berabad-abad mengembangkan tradisi memahat tubuh manusia secara realistis dan detail. Bukan sekadar keahlian teknis, melainkan warisan pandangan dunia yang menempatkan tubuh manusia sebagai puncak keindahan yang layak diabadikan dalam batu.
أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا
Makna am lahum (أَمْ لَهُمْ) adalah: ataukah bagi mereka atau ataukah mereka mempunyai. Makna a'yunun (أَعْيُنٌ) adalah: mata-mata. Makna yubshiruuna (يُبْصِرُونَ) adalah: mereka melihat. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya.
Catatan sejarah kuno seperti Kitab Al-Asnam karya Ibnu al-Kalbi secara spesifik mendeskripsikan Hubal terbuat dari batu akik merah yang dipahat dalam bentuk manusia 'ala shurati insan (على صورة الإنسان).
Hubal memiliki tangan kanan yang patah, lalu kaum Quraisy menggantinya dengan tangan buatan dari emas. Ini membuktikan bahwa Hubal memiliki detail anatomi seperti lengan atau jari bukan sekadar pilar batu.
Sebagai perbandingan, berhala-berhala asli Jazirah Arab saat itu seperti Latta, Uzza, atau Manat pada awalnya hanyalah berupa bongkahan batu kasar tak berbentuk. Ini disebut dengan ansab (أنصاب), yaitu tumpukan batu atau pohon.
Beda dengan Hubal yang merupakan produk impor dari negeri Syam yang kental dengan tradisi seni Helenistik, yaitu perpaduan antara Yunani dengan Romawi. Penampakan Hubal sangat anatomis dan menonjol dibandingkan berhala-berhala lokal Makkah.
أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا
Makna am lahum (أَمْ لَهُمْ) adalah: ataukah bagi mereka atau ataukah mereka mempunyai. Makna aadzaanun (آذَانٌ) adalah: telinga-telinga. Makna yasma'uuna (يَسْمَعُونَ) adalah: mereka mendengar. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya.
Ayat ini adalah sindiran tajam yang membongkar total kelemahan fisik berhala. Allah mempertanyakan secara retoris: apakah patung-patung itu punya kaki, tangan, mata, atau telinga yang berfungsi? Jawabannya tentu saja tidak.
Inti makna ayat ini adalah menelanjangi ketidaklogisan kaum musyrik. Manusia yang menyembah justru jauh lebih mulia dan sempurna karena bisa melihat, mendengar, dan bertindak. Menjadi sangat tidak masuk akal ketika makhluk hidup yang sempurna merendahkan dirinya untuk meminta tolong dan menyembah benda mati yang buta, tuli, lumpuh, dan sama sekali tidak berdaya.
قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ
Makna quli (قُلِ) adalah: katakanlah. Makna ad'uu (ادْعُوا) adalah: serulah. Makna syurakaa'akum (شُرَكَاءَكُمْ) adalah: sekutu-sekutu kamu.
Sekilas kita membaca penggalan ayat ini, kita agak terkejut. Allah SWT secara tegas memerintahkan kaum musyrikin untuk beroda kepada berhala mereka.
Tentu maksudnya bukan memerintahkan kebatilan, melainkan penggalan ini menjadi tantangan yang sifatnya terbuka, dimana Allah SWT perintahkan kepada Nabi Muhammad agar melontarkan tantangan seperti itu kepada kaum musyrik.
Maka jangan dipahami sebagai perintah sungguhan. Tujuannya untuk mengekspos kelemahan total berhala. Nabi SAW seolah menantang mereka,”Ayo kumpulkan semua tuhan kalian, dan kerahkan seluruh kekuatan kalian untuk menghancurkanku”.
Jika berhala itu benar-benar tuhan, pasti mereka bisa mencelakai Nabi SAW. Namun nyatanya, Nabi tetap aman. Ini bukti telak bahwa berhala itu tidak punya kekuatan apa-apa.
ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ
Makna tsumma (ثُمَّ) adalah: kemudian. Makna kiiduuni (كِيدُونِ) adalah: tipu dayalah aku atau jalankanlah makar terhadapku. Makna falaa tunzhiruuni (فَلَا تُنْظِرُونِ) adalah: maka janganlah kamu menunda-nunda aku atau memberi tangguh kepadaku.
Untuk menunjukkan puncak keberanian dan keyakinan mutlak Nabi kepada perlindungan Allah. Beliau SAW diperintahkan untuk menaikkan derajat tantangannya menjadi lebih tinggi lagi.
”Lakukan hal terburuk kalian sekarang juga. Aku tidak takut dan tidak butuh waktu persiapan."
Ini adalah pukulan mental psikologis yang meruntuhkan kesombongan kaum musyrik, sekaligus membuktikan bahwa ancaman mereka dan berhala mereka hanyalah omong kosong belaka.