| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 196 | ▶ |
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
Kemenag RI 2019: Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an). Dia melindungi orang-orang saleh.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-196 dari surat Al-A’raf ini masih satu kalimat dengan ayat sebelumnya, dimana Allah SWT menantang kaum musyrikin agar berhala-berhala yang mereka sembah itu bisa melahirkan kecelakakan bagi Nabi SAW. Dan kalau perlu segera lakukan sekarang juga tanpa harus ditunda-tunda.
Kelihatannya seperti jumawa dan sok hebat, padahal jika dilanjutkan dengan ayat ini, maka menjadi jelaslah bahwa sebenarnya Nabi SAW diperintahkan untuk menegaskan bahwa yang menjadi wali alias pelindung dirinya adalah Allah SWT. Maka berhala mana pun tidak bisa mencelakakan Nabi SAW yang punya pelindung super kuat tak tertandingi, yaitu Allah SWT.
Allah SWT bukan hanya Tuhan Yang melindungi dari jauh, tetapi juga menurunkan kitab berisi berbagai macam petunjuk dan aturan agama yang lengkap. Kemudian sekali ditegaskan bahwa selain menjadi pelindung buat Nabi SAW seorang, Allah SWT juga jadi pelindung bagi orang-orang yang shalih.
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ
Makna inna (إِنَّ) adalah: sesungguhnya. Makna waliyyiya (وَلِيِّيَ) adalah: pelindungku. Makna allaahu (اللَّهَ) adalah: Allah.
Sebagaimana sudah beberapa kali dibahas, kata wali dalam Al-Quran memang punya banyak makna. Pembahasan tema seperti ini dalam cabang Imu Al-Quran disebut al-wujuh wa an-nazhair. Kurang lebih maksudnya satu kata banyak makna dan sebaliknya, satu makna banyak cara mengungkapkannya. Salah satu kitab yang terkenal dalam bidang ini adalah karya Abu Hilal al-Askary yaitu (الوجوه والنظائر في القرآن الكريم). Khusus pada kata wali, Beliau katakan setidaknya ada 9 makna yang berbeda. Penulis buatkan ringkasannya dalam bentuk tabel berikut :
Makna
Surah & Ayat
Teks
Anak laki-laki
Maryam: 5
فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا
Teman, Sahabat
al-Isra': 111
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِيٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ
Kerabat, Orang dekat
Hud: 20
وَمَا كَانَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ
Tuhan, Sesembahan
al-An'am: 14
قُلْ أَغَيْرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا
Pelindung, Penjaga
al-Baqarah: 257
ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
Penolong
al-Kahfi: 17
وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Pemimpin
al-A'raf: 3
وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ
Pemegang perwalian
al-Baqarah: 282
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُۥ بِٱلْعَدْلِ
Kekasih Allah
Yunus: 62
أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
Jika dikaitkan dengan siyaq alias konteks ayat ini, makna wali yang paling cocok kira-kira sebagai pelindung. Sebab di ayat sebelumnya, Allah SWT menantang orang kafir agar berhala mereka bisa melancarkan serangan yang mencelakakan diri Nabi SAW.
الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ
Makna alladzii (الَّذِي) adalah: Zat yang. Makna nazzala (نَزَّلَ) adalah: menurunkan. Makna al-kitaaba (الْكِتَابَ) adalah: Al-Kitab atau Al-Quran.
Nampak sekali ketika sedang berbicara tentang Allah SWT yang menjadi pelindung Nabi SAW, lalu diselipkan ungkapan bahwa Allah itu juga menurunkan kitab, bahwa disitulah letak titik perbedaan antara kewalian Allah dengan kewalian berhala. Berhala itu tidak bisa menurunkan kitab suci, sedangkan Allah SWT punya kitab suci yang turun terus menerus dari langit ke muka bumi.
Sedangkan patung-patung buatan tangan manusia itu tidak pernah bisa menurunkan kitab suci apapun. Dia hanya bisa diam, bengong, tidak bereaksi sedikitpun. Panas kepanasan, hujan kehujanan, bahkan lama-lama jadi usang, jelek, kumuh dan lumutan.
وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
Makna wa huwa (وَهُوَ) adalah: dan Dia. Makna yatawallaa (يَتَوَلَّى) adalah: melindungi atau memimpin. Makna ash-shaalihiina (الصَّالِحِينَ) adalah: orang-orang yang saleh.
Dalam disiplin ilmu balagah dan tafsir, gaya bahasa penutup seperti ini dikenal dengan istilah tadzyil muqarrir, yaitu pesan yang menenangkan, bahwa sudah menjadi sunatullah dan ketetapan Allah untuk selalu menolong, mengurus, dan tidak akan pernah menelantarkan hamba-hamba-Nya yang menempuh jalan kesalehan.
Imam At-Thibi memberikan catatan analitis yang sangat tajam mengenai struktur penggalan ini. Ketika Allah secara eksplisit mendeklarasikan bahwa Dia hanya melindungi hamba-hamba yang saleh, maka konsekuensi otomatisnya adalah Dia akan mencabut perlindungan-Nya, menelantarkan, dan membinasakan siapa saja yang kehilangan kesalehan akibat tenggelam dalam kesyirikan.
Ada satu catatan personal yang sangat memikat dari Al-Alusi ketika menukil tafsir ayat ini dalam kitab Ruh al-Ma'ani. Beliau membagikan kesaksian spiritualnya bahwa merutinkan bacaan ayat ini telah terbukti menjadi perisai penjagaan yang sangat ampuh dari niat jahat para musuh. Beliau bahkan menceritakan bahwa ayat ini merupakan wirid andalan yang selalu dibaca oleh ayahanda beliau di waktu-waktu sahur, sebuah amalan spiritual yang konon diijazahkan langsung oleh seorang ulama besar melalui sebuah mimpi. Kisah ini menjadi bukti betapa ulama di masa lalu tidak sekadar membedah ayat ini secara linguistik, tetapi juga meresapi dan mempraktikkan energi perlindungannya secara nyata di kehidupan sehari-hari.