Rumah Fiqih Indonesia
Ukuran Teks:
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 198
Al-A'raf 7 : 198
Mushaf Kemenag RI hal. 176

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَسْمَعُوا ۖ وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

Kemenag RI 2019: Jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Kamu mengira mereka memperhatikanmu, padahal mereka tidak melihat.”
Prof. Quraish Shihab: Dan jika kamu (para penyembah berhala) menyeru mereka (sekutu-sekutu) kepada petunjuk, mereka tidak mendengar. Dan engkau melihat mereka (sekutu-sekutu) memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat.
Prof. HAMKA: Dan, jika kamu seru mereka kepada petunjuk, tidaklah mereka mau mendengarkan dan engkau lihatlah mereka itu memandang kepada engkau, padahal mereka tidaklah melihat.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Selain itu di ayat ini Allah SWT nampak ingin memperlihatkan keindahan redaksi sekaligus kedalaman semantik bahasa Arab yang luar biasa. Ada tiga kata yang sepintas bermakna : ’melihat’ namun berbeda ungkapannya dalam bahasa Arab, yaitu tarahum (تراهم), yanzhuruna ilaika (ينظرون إليك) dan laa yubshirun (لا يبصرون)

Ketiganya diletakkan dalam satu bingkai kalimat untuk menggambarkan tingkatan persepsi visual dan kesadaran manusia. Tantangan bagi penerjemah muncul karena bahasa Indonesia sering kali kekurangan padanan kata yang secara instan mampu membedakan nuansa kedalaman dari ketiga istilah tersebut secara alami dalam satu struktur kalimat naratif.

***

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ

Penggalan ini sangat unik, karena dapat dipahami dengan dua pendekatan yang berbeda. Hal itu mengingat diksi yang digunakan memang bisa saja mewakili hal-hal yang berbeda, karena diksi-diksi itu sifatnya sangat fleksibel. Untuk lebih mudahnya, Penulis membuat tabel yang membedakan antara dua pendekatan.

PENDEKATAN

PERTAMA

KEDUA

Yang Diajak Bicara

Nabi SAW

Kaum Musyrikin

تَدْعُوا

Berdakwah = Mengajak

Memanggil = Menyembah

هُمْ

Kaum Musyrikin

Berhala-berhala

إِلَى الْهُدَىٰ

Agama Islam

Ajaran Versi Berhala

لَا يَسْمَعُوا

Tidak Menerima Dakwah

Telinga Berhala Tidak Berfungsi

Pendekatan pertama, bahwa ayat ini merupakan perkataan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Kata tad’u (تَدْعُو) adalah kata kerja, pelakunya Nabi SAW dan maknanya adalah berdakwah alias mengajak. Sedangkan objek yang diajak bicara adalah dhamir hum (هُمْ), maksudnya adalah orang-orang musyrikin Mekkah. Lalu makna ilal-huda (إِلَى الْهُدَىٰ) maksudnya kepada petunjuk dari Allah SWT. Kemudian la yasma’u (لَا يَسْمَعُو) artinya mereka tidak mendengar, maksudnya kaum musyrikin itu tidak mendengar ajakan nabi SAW.

Namun bisa juga pakai pendekatan kedua. Kata tad’u (تَدْعُو) bukan berdakwah atau mengajak, melainkan memanggil nama berhala, atau lebih mudahnya menyembah. Dalam hal ini pelakunya bukan Nabi Muhammad SAW, melainkan kaum musyrikin Mekkah. Objeknya adalah dhamir hum (هُمْ) yaitu berhala-berhala. Sedangkan ilal-huda (إِلَى الْهُدَىٰ) maksudnya agar berhala-berhala itu menurunkan atau memberikan petunjuk. Lalu kata la yasma’u (لَا يَسْمَعُو) artinya tidak mendengar, maksudnya berhala-berhala itu tidak bisa mendengar, apalagi menurunkan petunjuk.

Yang menarik jika kita baca tiga sumber terjemahan yang biasa kita gunakan, perbedaan pendekatan itu terasa sekali. Dari terjemah Kemenag RI dan Quraish Shihab dapat kita pahami bahwa keduanya nampak cenderung kepada pendekatan kedua, yaitu  khithab ayat ini ditujukan bukan buat Nabi Muhammad SAW, melainkan buat kaum musyirikin. Perhatikan terjemahan mereka berikut ini :

Kemenag RI 2019 : Jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Kamu mengira mereka memperhatikanmu, padahal mereka tidak melihat.”

Prof. Quraish Shihab : Dan jika kamu (para penyembah berhala) menyeru mereka (sekutu-sekutu) kepada petunjuk, mereka tidak mendengar. Dan engkau melihat mereka (sekutu-sekutu) memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat.

HAMKA : Dan, jika kamu seru mereka kepada petunjuk, tidaklah mereka mau mendengarkan dan engkau lihatlah mereka itu memandang kepada engkau, padahal mereka tidaklah melihat.

Jika kita baca terjemahan HAMKA, maka kita mendapatkan kesan bahwa khithab ayat kepada Nabi Muhamma SAW. Beliau nampak cenderung kepada pendekatan pertama.

***

وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

Penggalan berikutnya ini juga tidak kalah uniknya dan tetap konsisten dapat dibedah melalui dua pendekatan yang sama. Untuk lebih mudahnya, Penulis membuat tabel yang membedakan antara dua pendekatan tersebut.

PENDEKATAN

PERTAMA

KEDUA

Yang Diajak Bicara

Nabi SAW

Kaum Musyrikin

تَرَاهُمْ

Nabi melihat fisik kaum musyrikin

Penyembah melihat patung berhala

يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ

Kaum musyrikin menatap sinis ke wajah Nabi

Mata patung dipahat seolah menatap penyembahnya

لَا يُبْصِرُونَ

Mata batin kaum musyrikin buta dari kebenaran

Mata fisik berhala buta total (benda mati)

Pendekatan pertama menempatkan ayat ini sebagai perkataan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Kata tarahum (وَتَرَاهُمْ) merupakan bentuk penglihatan umum, di mana pelakunya adalah Nabi SAW yang melihat fisik kaum musyrikin di hadapan beliau.

Lalu frasa yanzhuruna ilaika (يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ) menggambarkan kaum musyrikin yang sengaja memalingkan wajah dan memusatkan tatapan mata mereka secara tajam kepada Nabi SAW saat beliau sedang menyampaikan dakwah.

Namun, penggalan ini ditutup dengan paradoks tajam la yubshirun (لَا يُبْصِرُونَ) yang berarti mereka tidak melihat dengan mata batin (bashirah).

Maksudnya, kendati mata fisik kaum musyrikin tertuju kepada Nabi SAW, hati dan kesadaran mereka buta sama sekali dari menangkap cahaya kebenaran maupun esensi kenabian beliau.

Namun kita juga bisa menggunakan pendekatan kedua, di mana arah pembicaraan ayat ini ditujukan kepada kaum musyrikin itu sendiri sebagai sebuah sindiran keras alias tahakkum. Kata tarahum (وَتَرَاهُمْ) bermakna bahwa setiap individu musyrik melihat patung berhala sesembahan mereka.

Lafazh yanzhuruna ilaika (يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ) memotret kondisi di mana berhala-berhala tersebut dibuat dengan ukiran mata dari batu permata yang berkilau, sehingga seolah-olah patung itu memusatkan perhatian dan menatap balik ke arah si penyembah. Padahal faktanya, sebagaimana ditegaskan lewat kata la yubshirun (لَا يُبْصِرُونَ), berhala-berhala tersebut pada hakikatnya adalah benda mati yang buta secara fisik dan sama sekali tidak memiliki fungsi penglihatan.

Yang menarik jika kita sinkronkan kembali dengan tiga sumber terjemahan sebelumnya, konsistensi kecenderungan para penerjemah pada penggalan pertama akan terbawa hingga penggalan kedua ini. Dari terjemahan Kemenag RI dan Quraish Shihab, dapat dipahami bahwa keduanya tetap konsisten berpijak pada pendekatan kedua, yaitu menjadikan berhala sebagai objek pandangan. Perhatikan redaksi terjemahan mereka.

Kemenag RI 2019 : "Kamu mengira mereka memperhatikanmu, padahal mereka tidak melihat."

Prof. Quraish Shihab : "Dan engkau melihat mereka (sekutu-sekutu) memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat."

Adapun Buya HAMKA tetap mempertahankan gaya terjemahannya yang setia pada teks asli tanpa banyak memberikan tanda kurung, sehingga nuansa pendekatan pertama yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai lawan bicara tetap terasa sangat kuat.

HAMKA : ”dan engkau lihatlah mereka itu memandang kepada engkau, padahal mereka tidaklah melihat."

Pesona Semantik

Selain perbedaan arah pembicaraan atau khithab, penggalan ini ternyata memuat pesona semantik bahasa Arab yang unik. Kita temukan ada tiga kata berbeda dalam bahasa Arab yang secara literal jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan punya makna satu yaitu ’melihat’, yaitu tara (تَرَى), yanzhurun (ينظرون), dan yubshirun (يبصرون).

Kata tara (تَرَى) merujuk pada aktivitas penglihatan pada level paling dasar, yaitu ketika indra mata sekadar menangkap wujud suatu objek secara kasat mata. Penglihatan jenis ini tidak selalu menuntut adanya pemusatan perhatian yang mendalam; yang penting objek tersebut masuk ke dalam ruang pandang.

Kata yanzhurun (يَنْظُرُونَ) sedikit beda dari sekadar melihat wujud, kata ini mengandung unsur kesengajaan, pemusatan perhatian, dan pengarahan arah pandang secara spesifik ke satu titik tujuan. Aktivitas ini merupakan bentuk interaksi fisik yang jauh lebih intens.

Jika dikaitkan dengan narasi penolakan dakwah, kaum musyrik tidak sekadar melihat keberadaan Nabi, melainkan memelototi dan memfokuskan tatapan tajam mereka ke arah beliau. Sebaliknya, jika objeknya adalah berhala, kata ini secara brilian menggambarkan pahatan patung yang didesain sedemikian presisi, lengkap dengan tiruan anatomi mata dari batu permata yang seolah-olah aktif menatap balik para penyembahnya.

Kata yubshirun (يُبْصِرُونَ) melampaui urusan biologis bola mata karena sudah melibatkan kesadaran akal, nalar, pemahaman spiritual, serta kemampuan untuk menangkap hakikat sejati dari sesuatu yang sedang ditatap.

Tatapan mata kaum musyrik yang begitu fokus kepada Nabi sejatinya sangat kosong karena hati mereka buta dari cahaya kebenaran. Persis sama kosongnya dengan tatapan tajam mata berhala yang hakikatnya hanyalah benda mati tanpa daya sadar dan daya lihat sama sekali.

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐